
"Ma, Rey mau minta pendapatnya boleh?"
"Boleh, Rey. Pendapat tentang apa?" jawab Hana.
Mereka berdua sedang duduk di teras rumah. Seperti biasa menikmati secangkir teh untuk menemani mereka mengobrol.
"Rey kasih hadiah apa ya, untuk papa dan tante Kinan, Rey bingung."
Hana tersenyum lalu mengusap puncak kepala Rey. "Kasih doa yang terbaik, yang paling tulus yang Rey bisa kasih ke mereka."
Rey memeluk Hana, sejak Hana membaik, tak ada yang lebih Rey syukuri dibandingkan keadaan sekarang. Hana sudah bisa tertawa lepas dan terlihat bahagia.
"Mama pasti akan jadi hadiah terbesar untuk papa Dude dan tante Kinan. Mereka pasti bahagia, melihat mama yang sekarang," kata Reyhan.
Beberapa waktu setelah kepulangan Hana dari rumah sakit jiwa, wanita itu masih belum seperti sekarang. Hana masih sering melamun, terlihat menyendiri dan kadang menangis tanpa berkata apapun.
"Mama. Rey mau naik andong. Mama mau kan temenin Rey jalan-jalan?"
Raihana tersenyum sembari mengusap anak laki-laki di dekatnya. "Rey tidak malu?"
"Malu?"
Helaan napas Hana terlihat amat berat, dia memegangi dadanya, sesak.
"Mama Rey bukan seperti Mama yang lain. Mama ini pernah depresi, Rey pasti malu, punya Mama seperti...,"
Rey menggeleng lalu menggenggam tangan Hana.
"Rey bangga sama Mama. Kata Papa Dude, Mama itu wanita yang kuat dan luar biasa. Mama berjuang sendiri demi aku bisa terlahir ke dunia ini. Mama luar biasa, Rey bangga sama Mama."
Mendengar itu justru Hana semakin sedih. Ia teringat lagi sosok pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Bahkan saat dia mengetahui bahwa dia hamil, dia sangat mengutuk kehamilan itu. Hana ingin sekali anak di dalam kandungannya mati.
Makin dia berusaha mendekati Rey, semakin dia merasa terluka, ia teringat masa lalunya. Tapi Hana berusaha keras meyakinkan dirinya, bahwa Rey anaknya, bukan anak Bagus. Laki-laki brengsek yang tidak pantas dia tangisi.
10 tahun. Apa pria itu akan mati di penjara? Aku ingin dia tersiksa. Batin Hana.
"Rey sayang Mama."
"Mama juga, Mama juga sayang sama Reyhan."
"Hati-hati ya, Ki. Ingat jangan lupa titipkan salam Ibu untuk keluarga Nak Dude di Jogja ya. Maaf Ibu nggak bisa ikut ke sana. Insya Allah nanti bertemu di Jakarta saat acara resepsi kalian berdua ya."
Mereka berdua akan ke Jogja untuk menjemput keluarga Dude ke Jakarta menghadiri acara resepsi pernikahan mereka yang akan digelar tiga hari lagi. Dude juga ingin melihat kondisi Hana dengan mata kepalanya sendiri.
"Iya, Bu. Nanti Kinan sampaikan. Tapi ingat, Ibu jangan capek-capek yah. Jangan terima pesanan kue terlalu banyak. Minta orang bantu ibu yah,"
"Iya, kamu tenang aja."
"Kami berdua berangkat ya, Bu. Assalamualaikum." Dude mencium punggung tangan ibu mertuanya, disusul Kinan.
"Hati-hati ya kalian."
Perjalanan ke Jogja cukup singkat dengan menggunakan pesawat. Siang itu juga mereka sudah sampai di rumah orang tua angkat Dude. Saat itu Kinan melihat Rey sedang duduk di sebuah taman kecil di depan rumah orang tua angkat Dude.
"Assalamualaikum."
Rey mengangkat wajahnya. Lalu ia kaget, saat melihat Kinan dan Dude sedang berdiri di hadapannya.
"Waalaikumsalaam, Tante Kinan, Papa!" Senyuman Rey mengembang. Dia langsung menghambur ke pelukan Dude.
"Rey lagi ngapain? Kok sendirian, mana Mama Hana?" tanya Dude.
"Mama Hana di dalam. Papa dan Tante Kinan kok nggak bilang kalau mau datang? Rey kangen, Rey seneng lihat Tante Kinan dan Papa kesini."
Kinan ikut terharu melihat Dude dan Rey benar-benar lebih mirip papa dan anaknya dibanding om dan keponakannya.
Rey sangat senang melihat kedatangan Dude dan Kinan. Dia rindu dengan papanya, juga mama barunya, Kinan. Rey langsung memeluk Dude erat, saat itu Kinan ingin ikut menangis saja rasanya melihat Rey yang langsung menangis tersedu-sedu di pelukan Dude. Tapi, kali ini Kinan melihat tangisan Rey itu amat sesak.
__ADS_1
"Rey udah sabar. Seperti yang Papa minta. Rey udah sabar, Pa. Alhamdulillah, akhirnya Mama bisa pulih lagi, Pa. Rey bahagia."
Dude juga ikut menangis sambil memeluk Rey, dia seolah kehabisan kata-kata, dia bahagia tapi juga merasa sesak teringat penderitaan Hana selama ini.
"Nduk, temui Hana di dalam ya." Ibu angkat Dude seperti ingin membiarkan Rey bersama dengan Dude berdua saja. Kinan mengerti, dia langsung mengangguk menuruti permintaan wanita paruh baya itu. "Iya, Bu."
"Hana. Ini ada istri Mas-mu."
Hana yang semula sedang berbaring, langsung beranjak duduk. Kinan tersenyum pada Hana, wanita itu tidak lagi terlihat kurus, saat ini dia sudah terlihat lebih berisi, daripada kala pertama kali Kinan melihatnya.
"Assalamualaikum." Kinan mengucap salam.
"Waalaikumsalaam, Mbak." Hana menjawabnya dengan senyuman simpul.
Kinan merasa lega. Sepertinya di sini Hana memang sudah semakin tenang dari sebelumnya. Hana mulai terlihat jauh lebih baik, tatapannya tidak lagi kosong. Senyuman di bibirnya mulai terlukis cantik.
Hana memang cantik, wajar saja jika dulu banyak lelaki yang menyukainya. Tapi nasibnya sungguh memilukan. Membayangkannya saja, Kinan langsung tidak tega.
"Alhamdulillah. Apa kabarnya?" tanya Kinan duduk di samping Hana.
"Baik, Mbak. Mbak datang bersama Mas Dude?" tanya Hana. Dia terlihat santai, lemah lembut.
"Iya. Mas Dude lagi ngobrol dengan Rey," jawab Kinan.
"Ibu lanjutin masak dulu ya. Biar kita bisa makan sama-sama." Orang tua angkat Dude sangat baik, Kinan saja tidak mengira bahwa wanita itu bukan orang tua kandung Dude. Beliau sangat hangat, sepeti orang tua sendiri.
"Nggih, Bu." Kinan dan Hana mengangguk.
Kinan mengusap punggung tangan Hana. Saat itu ia masih teringat cerita dari suaminya tentang bagaimana masa lalu Hana. Kinan merasa tidak tega, tapi dia tahu bahwa Hana tidak ingin dikasihani orang.
"Sudah merasa lebih baik? Hana terlihat jauh lebih segar, cantik." Kinan memujinya.
"Alhamdulillah. Hana merasa lebih tenang berada di sini, Mbak." Hana masih mengulum senyum tipisnya. "Alhamdulillah berkat Rey, Hana bisa semangat, dan karena Allah, Hana bisa sembuh."
Kinan amat terharu, dia meneteskan air matanya tanpa sadar.
"Syukurlah. Kinan merasa beruntung bisa bertemu dengan Hana. Hana luar biasa dan Kinan mengagumi Hana. Kinan cuma mau bilang, bahwa Hana tidak sendiri, banyak yang sayang dengan Hana. Kinan juga bersedia kok, jadi teman Hana." Kinan mengusap-usap punggung tangan wanita di sampingnya. Hana mulai berkaca-kaca. Dia teringat dulu ada seseorang yang juga sama, mengatakan hal itu padanya. Bahwa dia bersedia jadi temannya, tapi orang itu malah merusak Hana, sampai benar-benar hancur.
Bukan salah Kinan berkata seperti itu. Kinan berniat baik, Hana tahu itu. Tapi kata-kata itu sama persis seperti yang diucapkan Bagus padanya dulu.
Kinan terhenyak. Kenapa Hana mendadak dingin, apa dia salah mengucapkan sesuatu? Kinan menjadi tidak enak. Hana langsung berbaring membelakanginya.
"Hana, apa Kinan salah bicara?"
Hana menggeleng. "Enggak kok. Maafkan Hana, ya. Mbak Kinan juga pasti lelah, nanti Hana akan keluar sekalian menemui Mas Dude."
Kinan mencoba mengerti, walau Hana sudah sembuh tapi luka pasti masih ada. Ini berat bagi Hana, apalagi Kinan adalah orang baru di keluarga mereka.
"Baiklah, Kinan keluar ya. Hana istirahat, jangan memikirkan yang bukan-bukan. Kinan sayang kok, sama Hana."
Hening. Tidak ada tanggapan dari Hana. Kinan pun langsung keluar dari kamar Hana. "Semoga aku nggak salah ngomong deh."
Tak lama kemudian Dude masuk ke kamar Hana. Dude langsung memeluk adiknya, saking rindunya, dan tidak sabar ingin menatap mata indah yang sudah bisa tersenyum sekarang.
"Hana, kamu beneran udah sembuh, kan?"
Hana memeluk erat Dude sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Mas."
"Ya Allah, Han. Mas senang sekali. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah."
Mereka berdua menangis dengan air mata penuh syukur dan kebahagiaan.
...***...
"Ki. Kamu mikirin apa? Kok melamun?" tanya Dude sambil mengusap pucuk kepala istrinya.
"Enggak, Mas. Kinan cuma merasa bahagia, melihat Rey akhirnya bermain ditemani Hana," jawab Kinan yang sedang berbaring di atas ranjang. Dude ikut berbaring menghadap istrinya.
Kinan juga kepikiran dengan Hana yang sepertinya agak tersinggung dengan ucapannya.
__ADS_1
"Mas, apa Hana baik-baik saja sewaktu Mas menemuinya?"
"Ya, dia baik-baik saja. Tapi, dia sempat bilang tolong sampaikan ke kamu, tadi sikap dia mungkin membuat kamu salah paham. Hana bilang, kata-kata kamu agak mirip dengan ucapan laki-laki yang sangat dia benci."
Kinan tersentak, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan. Jadi karena itu wajah Hana berubah, sikap Hana juga berubah di depannya.
"Nggak apa-apa, Ki. Hana bilang itu bukan salah kamu. Dia sangat senang kamu mau mengajaknya ngobrol, dia akan bicara sama kamu lagi besok. Jangan sedih ya."
Kinan mengangguk pelan. "Kinan sama sekali tidak ada maksud, Mas."
"Iya, saya tahu. Lagi pula besok kita semua kembali ke Jakarta. Kamu bisa banyak mengobrol dengan Hana di sana."
"Iya, Mas. Semoga Hana mau berteman dengan Kinan ya."
Dude meraih jari-jemari Kinan, meremas nya halus lalu mengecupnya.
"Kamu baik, Ki. Saya beruntung punya istri yang mau menerima keluarga saya seperti kamu. Hana dan Rey, mereka berdua adalah keluarga kandung saya yang tersisa. Ibu dan Bapak awalnya hanyalah pelayan di rumah kami. Tapi kasih sayangnya sangat tulus. Sehingga saya sangat mempercayainya."
Pantas saja, rupanya orang tua angkat Dude dulunya adalah pelayan keluarga Danuarta.
"Alhamdulillah. Keluarga Mas Dude kan, keluarga Kinan juga."
Dude mengusap pipi istrinya. Wanita di hadapannya itu sangat sabar, tidak banyak menuntut, menerima apa adanya yang dia berikan.
Malam ini melihat senyuman Kinan membuat Dude ingin menyentuh wanita itu. "Ki."
"Ya?" sahut Kinan dengan menatap tepat ke mata Dude yang begitu intens memandangnya.
"Ada apa, Mas?"
"Maafin Mas ya, Ki. Bagaimana kalau malam ini, lagi?"
"Lagi? Kan baru semalam, Mas." Kinan melengos, dia memerah.
"Hm, emang kenapa? Tapi kalau ada di dekat kamu, saya jadi ingin melakukannya. Kamu mau, kan?"
Pertanyaan Dude begitu blak-blakan. Kinan sendiri sampai malu menjawabnya.
Dia hanya mengangguk sekali, lalu memejamkan matanya. Tatapan Dude mengintimidasinya, menawannya, membuatnya gila.
Dude yang merasa sudah diperbolehkan tidak lagi ragu. Bibirnya menyentuh bibir Kinan yang tipis dan manis. Kinan mulai menyentuh rahang suaminya, hingga ciuman itu semakin dalam. Kedua mata Kinan terbuka, seulas senyum Dude membuat pipi merahnya memanas.
"I love you, Ki." Tepat di telinga Kinan, Dude berbisik. Kata-kata yang kembali meluncur dari bibir suami Kinan untuknya. Ungkapan cinta yang selalu berhasil membuat jantung Kinan berdegup kencang.
Napasnya menggebu menatap mata pria yang wajahnya bagai lukisan bagi Kinan. Mahakarya Allah yang luar biasa, suaminya sangat tampan.
"Love you, too. Mas," jawab Kinan, tidak akan berubah.
Dude kembali memagut bibir Kinan, sambil menyentuh bagian tubuh istrinya yang lain. Tak dia lewatkan barang satu inci pun, Dude begitu mengangumi Kinan baik lahir maupun batin.
"Kamu cantik," puji Dude dibarengi bacaan doa sebelum dirinya benar-benar memulai masuk.
Kinan pun berdoa sambil meringis, ternyata masih agak perih. Tapi dia ingat, jangan membuat suara seolah kesakitan, kalau tidak, konsentrasi Dude akan buyar dan kembali merasa sudah menyakitinya.
"Sakit?"
"Enggak kok." Kinan menggeleng cepat.
Saat itu Dude langsung mengecup bagian tubuh Kinan yang sensitif, hingga rasa perih itu pun mulai berganti dengan perasaan nikmat. "Mhhh..." desah Kinan.
"Kamu udah nggak sakit, kan?"
Kinan mengangguk dengan pipi memerah. Dia ingin suaminya melakukan seperti tadi. Tapi, dia malu mengatakannya.
Seolah tahu, Dude pun melakukan lagi aksinya yang tadi hingga Kinan mendesah hebat dan ia tersenyum senang. Rupanya itu berhasil, batin Dude.
Malam itupun menjadi malam yang panjang bagi keduanya, lagi dan lagi. Perasaan cinta itu semakin nyata mereka rasakan seiring berjalannya pernikahan mereka.
Bercinta ibarat candu bagi mereka yang saling menerima satu sama lain. Bukan sekedar melepaskan hawa nafsu sesaat, tapi saling menjaga dan mengeratkan hubungan satu sama lain. Begitulah kiranya yang dirasakan Kinan dan Dude. Cinta yang mulai tumbuh membuat mereka selalu ingin memadu kasih tanpa persyaratan apakah sehari satu kali, dua hari sekali. Tapi, kapan pun mereka mau melakukannya.
__ADS_1
...______...
...Bersambung......