
Dude menyiram lukanya dengan air mineral, lalu membalutnya memakai sapu tangan. Dia masih dalam keadaan sangat marah, tapi sebisa mungkin tidak membawa kemarahan itu ke rumahnya.
Kinan tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Dia sudah berdiskusi dengan bibi di rumahnya, juga dengan orang tua angkat Dude, tentang makanan kesukaan Dude. Malam ini Kinan sengaja memasak makanan kesukaan suaminya.
"Sup ayam, udang balado, tempe goreng. Ah, tempe goreng sih kesukaan aku, nggak apa-apa lah ya. Untung aja Ibu ngajarin masak waktu itu. Ya, jadi nggak terlalu bodoh banget liat dapur dan penggorengan." Kinan bermonolog sambil merapikan piring-piring di meja makan.
Tak lama kemudian, suara mobil Dude terdengar. Kinan langsung melepaskan celemek, tidak lupa merapikan rambut dan pakaiannya. Lalu dia tersenyum berjalan ke pintu untuk menyambut kepulangan suaminya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Kinan langsung menyalimi suaminya, tapi dia terkejut melihat tangan Dude yang dibalut sapu tangan, di sana terlihat kemerahan seperti ada luka dibaliknya.
"Astaghfirullah. Ini kenapa Mas? Kok sampai luka? Mas berantem?" tanya Kinan dengan raut panik.
Dude malah tersenyum lalu masuk ke rumahnya. "Nggak apa-apa, Sayang. Wah kamu masak apa nih, wangi banget." Sepertinya Dude tidak mau membahas itu sekarang. Kinan mencoba untuk sabar. Padahal dia yakin tidak mungkin Dude begitu saja mendapatkan luka kalau tidak bertengkar atau berkelahi dengan seseorang. Atau mungkin itu hanya insiden yang tidak di sengaja? Tapi kenapa Dude tidak langsung bercerita, jika itu hanya karena ketidaksengajaan?
"Sini biar Kinan bawakan tasnya."
Dude memberikan tasnya, lalu duduk di meja makan setelah membuka jasnya. "Jasnya sekalian ya, biar Kinan simpan di kamar."
"Makasih sayang." Dude tersenyum lagi.
Kinan membawa jas dan tas suaminya ke dalam kamar. Lalu saat dia hendak menggantungkan jas milik Dude, selembar kertas jatuh begitu saja membuat Kinan penasaran lalu mengambilnya.
"Ini alamat siapa?" Kinan menatap tulisan yang berupa alamat tersebut, sambil menerka-nerka, untuk apa suaminya menyimpan alamat di selembar kertas? Biasanya suaminya menyimpan kartu nama, ini agak berbeda, pikirnya.
"Hm, jangan berpikir macam-macam Kinan. Sebaiknya kamu kembalikan itu ke dalam saku jas suami kamu. Jangan overthinking, oke?" ucap Kinan pada dirinya sendiri.
Kinan mencoba mengimbangi sikap dewasa suaminya, meski jarak usia mereka memang lumayan jauh, tapi bukan berarti itu menjadi alasan baginya untuk bersikap kekanakan lagi.
"Udah selesai sayang. Kamu belum makan? Yuk kita makan sama-sama," ajak Dude.
"Iya, Mas." Kinan langsung mengambilkan nasi dan juga lauk-pauk untuk Dude. Meski rasa penasaran mendesaknya untuk bertanya ada apa? Kenapa suaminya sampai terluka?
"Makan yang banyak ya, Mas. Kinan sengaja masakin buat Mas. Kata Ibu ini makanan kesukaan Mas Dude." Kinan tersenyum lalu meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya.
"Masya Allah, makasih sayang. Iya, ini semua makanan kesukaan saya. Kalau gitu kamu juga makan dong."
Kinan mengangguk lalu ikut makan bersama Dude.
Perasaan Dude mulai lebih tenang saat melihat Kinan, dilayani dengan sederhana, menatap senyum wanita yang belum lama hadir dalam hidupnya itu. Kehadiran Kinan di dalam rumah membuat perasaannya jauh lebih damai dari sebelumnya. Itulah yang selalu didambakan Dude, dan dia bersyukur ada Kinan dalam hidupnya.
"Gimana, Mas? Enak nggak? Kinan belum jago masak, itu juga di ajari Ibu Halimah, bawel banget Bu Halimah tuh kalau ngajarin Kinan," katanya sambil tertawa kala teringat pesan-pesan ibunya tentang cara memasak yang baik dan benar.
Dude pun ikut tertawa. "Masa sih? Tapi ini enak banget loh. Udah gitu saya makan ini kayak ada manis-manisnya gitu."
"Masa sih, Mas?" Kinan agak terkejut. "Padahal Kinan nggak menaruh gula loh, kecuali di udang balado, itu juga dikit aja. Sesuai arahan Ibu."
Dude terkekeh. "Beneran ini manis banget, tahu nggak kenapa bisa manis?"
"Kenapa?" balas Kinan serius ingin tahu.
"Karena manisnya itu dari kamu."
Kinan langsung tersipu, dia tertawa lagi. "Bisa aja sih. Aku kira masakan ku kemanisan."
"Iya bener dong. Saya nggak bohong. Lihat kamu semua rasa jadi tambah manis. Makasih ya sayang."
Kinan mengangguk malu. "Iya, sama-sama."
Setelah makan malam selesai. Dude langsung membersihkan diri, tidak lupa dia membersihkan juga luka di tangannya. Kinan mondar-mandir didepan kamar mandi, menunggu suaminya keluar.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, Kinan melebarkan mata melihat dada telanjang Dude. "Kamu ngapain Ki?"
"Ah, anu, enggak Mas. Kinan cuman mau lihat luka ditangan Mas." Kinan malah gelagapan, padahal seharusnya dia biasa saja melihat pemandangan itu.
"Oh, ini nggak apa-apa kok. Saya pakai baju dulu ya."
Kinan mengangguk, dia duduk di sofa tepat di depan televisi. Di kamar mereka memang disediakan televisi. Walau mereka belum pernah menonton TV bareng.
Dude kemudian duduk di samping Kinan, dia mengembuskan napas berat, terlihat lelah. "Kinan ambil kotak obat dulu ya."
__ADS_1
"Iya." Dude hanya tersenyum lalu menyalakan televisi untuk membunuh keheningan.
Kinan datang bersama kotak obat. Tanpa membuang waktu, Kinan langsung melihat luka ditangan Dude. "Sudah tidak apa-apa, kan? Kamu saja yang terlalu cemas, Ki."
Kinan mengambil cairan alkohol lalu mulai mengoleskan pelan-pelan. "Ssttt... perih juga ya."
Kinan mendengkus. "Ya, karena ini luka, Mas. Kenapa bisa sampai luka? Kamu nggak mau cerita?"
Kinan masih mengoleskan luka itu dengan alkohol dengan sangat hati-hati, baru kemudian dia memberikan cairan antiseptik.
"Hm, tadi saya tidak sengaja menonjok tembok."
Kinan tertegun sebentar. "Menonjok tembok?"
Dude menghela napas, dia bingung apakah dia harus cerita kalau dia menemui Bagus?
"Ya, biasalah urusan laki-laki." Dude tercengir santai.
"Kamu berkelahi?"
"Bukan. Saya habis memukuli orang, Ki."
"Astaghfirullah. Kok bisa Mas?"
"Ya karena orang itu pantas saya pukul. Kalau membunuh tidak berdosa, mungkin saya sudah membunuhnya."
Kinan terdiam hanya mendengarkan, dia mengambil selembar kain kasa lalu membalut luka itu.
"Saya minta maaf ya, Ki. Karena saya tidak bisa mengontrol emosi saya."
Setelah luka itu selesai dibalut, Kinan menatap mata Dude. "Kenapa minta maaf? Kinan percaya, Mas melakukan segala sesuatu pasti dengan pertimbangan."
Dude lalu membaringkan kepalanya ke pangkuan Kinan. Meski Kinan agak tersentak, tapi dia hanya tersenyum sambil mengusap puncak kepala Dude pelan-pelan.
"Bicara dengan kamu selalu menenangkan. Saya sering berpikir kalau dulu bukan saya yang menjadi suami kamu, pasti saya akan menyesalinya."
Kinan hanya sedikit tertawa menanggapi ucapan Dude itu.
"Emangnya Mas menyukai Kinan sejak kapan? Bukannya setelah kita menikah? Kejadian dulu tentang tanya alamat, itu Mas belum tahu siapa aku, kan?"
"Pandangan pertama? Kapan itu?"
"Waktu saya dan Rey bertemu kamu pertama kali di rumah sakit."
"Hah? Beneran Mas?" Kinan terlihat kaget.
"Iya. Kamu gak percaya, Ki."
"Kok bisa, Mas? Kan baru pertama kali." Kinan masih terheran dengan pengakuan suaminya.
"Intinya saya suka melihat kamu, merasa ada ketertarikan untuk mengenal kamu. Saya selalu tertarik dan penasaran dengan wanita yang tertutup. Menurut saya mereka itu unik, anggun dan penuh kelembutan."
Seulas senyuman muncul di pipi Kinan, tidak lupa lesung pipi kecil yang menambah cantiknya.
"Semua perempuan seperti Kinan atau hanya Kinan?"
Dude mendongak menatap Kinan. "Hanya Kinan, bukan perempuan yang seperti Kinan. Saya ralat ya. Nanti kamu mengira saya menyukai semua wanita yang mirip dengan kamu lagi."
Kinan terkekeh. "Oh gitu. Kirain Mas menyukai semua perempuan yang penampilannya mirip dengan Kinan."
"Tidak, saya hanya menyukai kamu."
Kinan kembali tersipu. "Makasih ya Mas sudah menyukai Kinan."
Dude mengelus pipi Kinan dengan posisi masih berada di pangkuannya. "Saya yang berterima kasih karena kamu mau menerima saya."
Kinan mengusap perlahan pipi Dude, lalu memberanikan diri mengecup keningnya.
Dude agak terkejut, tapi dia terlihat senang, lalu bangun menegakkan posisi duduknya. "Hm, Mas mau dibikinin minum?"
Dude menggeleng "Enggak, Ki."
__ADS_1
Kinan jadi salah tingkah, dia lalu pura-pura menonton televisi.
"Ki, tidak apa-apa ya kalau saya belum mau menceritakan kenapa saya sampai terluka?"
"Iya nggak apa-apa, Mas. Kinan akan tunggu sampai Mas siap menceritakannya ke Kinan. Asalkan bukan tentang wanita lain 'kan Mas?"
"Ya Allah, Ki. Saya tidak memikirkan wanita lain, untuk apa juga. Saya sudah memiliki kamu yang luar biasa."
Tentang Selina yang datang ke kantornya, Dude pikir Kinan tidak perlu tahu hal itu. Lagi pula Dude tidak menanggapi Selina sama sekali.
"Sebenarnya tadi Kinan bertemu Selina di rumah sakit."
Dude langsung menatap Kinan saking kagetnya. "Mau apa dia, Ki?"
"Kenapa? Kok Mas kaget gitu?"
Dude menggaruk tengkuknya, lalu menggeleng. "Nggak, hanya saya tidak mau kalau dia menganggu kamu."
"Tidak kok. Dia kebetulan sedang memeriksakan diri. Katanya dia sering pusing, kalau temanku bilang dia sering mabuk, Mas."
Dude tidak heran, bagi Selina pasti itu adalah hal yang biasa. Hanya kalau sampai memeriksakan diri ke dokter, berarti Selina sudah terlalu berlebihan mengonsumsi alkohol tersebut.
"Kehidupan Selina memang bebas, Ki."
Kinan mendadak ingin tahu, sedekat apa dulu Dude mengenal Selina, tapi dia takut mendengar itu malah membuatnya sakit hati. Akhirnya Kinan memilih untuk diam, urung bertanya tentang hal itu terlalu jauh.
"Ki."
Dude menggenggam tangan Kinan menatapnya lekat-lekat. "Kamu mau janji satu hal?"
"Apa Mas?"
"Percaya saya lebih dari kamu percaya orang lain ya, Ki."
"Hm, kenapa tiba-tiba Mas bilang gitu?"
"Saya takut kalau-kalau nanti ada ucapan atau sesuatu yang bikin kamu tidak percaya sama saya, Ki. Entah itu tentang masa lalu saya, atau apapun. Saya harap kamu harus percaya sama saya ya."
Walau Kinan agak bingung, tapi dia sudah janji pada dirinya sendiri sebelum itu, dia akan percaya penuh pada suaminya. "Iya, Mas. Insya Allah."
"Terima kasih, Kinan. Kepercayaan kamu adalah yang terpenting bagi saya."
Kinan lalu memeluk Dude. "Sama-sama Mas. Suami-istri itu harus saling percaya, yang terpenting tetap terbuka, jangan ada yang ditutup-tutupi."
"Tapi Selina itu cantik, Mas. Dia ..."
Dude menghentikan kata-kata Kinan. "Jangan diteruskan, bagi saya kamu yang paling cantik."
Kinan membeku, dia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Wanita selalu seperti itu. Membandingkan dirinya dengan wanita lain. Tapi saya harap kamu jangan begitu ya Ki. Bagi saya kamu yang paling spesial."
Mereka saling menatap sebentar, lalu Dude mengangkat tubuh Kinan memindahkannya ke pangkuan.
"Kamu mau punya anak berapa Ki?"
"Anak?"
"Ya. Saya pengin punya anak."
Kinan terkekeh. "Itu tergantung pemberian Allah aja Mas."
"Semoga Allah kasih kita kepercayaan itu ya."
Kinan hanya mengangguk malu.
Dude mulai mengusap permukaan bibir Kinan dengan halus dan perlahan. Lalu makin mendekat untuk memberikan kecupan kecil berulang-ulang di sana.
"Kamu lelah?" tanya Dude.
Kinan menggeleng. "Mas lelah?"
__ADS_1
"Saya juga tidak."
Kemudian senyuman keduanya mengembang. Malam itu mereka tidak langsung tidur membiarkan perasaan dan sentuhan lembut bertahan semalaman.