
"What are you sayin, Babe? Aku nggak mau kita mengakhiri hubungan kita!"
Gadis berambut blonde dengan kulit putih yang membuat penampilannya terlihat seperti asli orang Amerika. Selina Angelin, dia keturunan Indonesia-Amerika, orang tuanya menetap di LA, karena itu hidupnya lebih cenderung mengikuti gaya Barat dibandingkan gaya orang Melayu.
"Sorry, Sel. But i really can't." Dude melepaskan perlahan genggaman tangan Selin. "Saya harus pulang ke Indonesia, keadaan di sana kacau, saya tidak bisa fokus dengan hubungan ini."
Selin menatap mata Dude, tapi pria itu berpaling cepat. Selin menggeleng, dia terlanjur menaruh hati pada Dude, walau hubungan mereka bermula hanya sebatas teman kuliah saja.
"There's no need to break up, right? We can have long distance relationship, I can also come with you to Indonesia?"
Kita tidak harus putus, kan? kita bisa menjalani hubungan jarak jauh, aku juga bisa bersamamu ke Indonesia?
"No. This is complicated, please, aku mohon kamu mengerti, Sel."
Selina menatap luar jendela pesawat. Dia menghela napas lalu menutup matanya perlahan. "Aku datang, tapi kenapa kamu malah menikah dengan wanita lain, De."
Kinan menelungkupkan wajahnya ke atas meja kerjanya. Pertanyaannya semalam tentang Selina masih menjadi misteri, karena Dude tidak mau menjawabnya.
Bukan saya tidak mau membahas tentang dia. Tapi, bagaimana jika dibahas itu malah membuat hubungan yang baru kita bina jadi merenggang?
Kenapa bisa sampai merenggang?
Ya, karena saya tidak tahu nantinya reaksi kamu seperti apa, jika saya ceritakan tentang dia. Meskipun itu hanyalah masa lalu, Ki. Saya harap itu tidak menganggu kamu, dan jangan berpikir saya masih akan membawa nama dia dalam rumah tangga saya.
Kinan tahu yang dikatakan suaminya itu memang benar. Masa lalu tetap masa lalu, hanya tinggal cerita, yang bisa untuk dikenang, tidak mungkin dilupakan begitu saja. Lalu bagaimana jika nantinya Selina hadir kembali dalam hidup Dude di saat dia sepenuhnya menjadi milik Dude.
"Istighfar Kinan, jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi!" sentaknya cepat melupakan semua pikiran negatif yang bersarang di otaknya.
"Suster Kinan, permisi, diluar ada yang nungguin Suster Kinan."
"Siapa, Na?" Nara adalah rekan kerjanya, Kinan sibuk memikirkan Selina sampai tidak menyadari kehadiran Nara.
"Hm, dia itu, Diana, Suster."
Nara mendekati Kinan, lalu berbisik. "Diana beda banget sekarang, Suster. Tadi saya sampai nggak mengenalnya di awal, baru ngeuh pas dia manggil nama saya."
__ADS_1
Kinan kaget, tapi dia lebih ke bingung, untuk apa Diana datang lagi menemuinya setelah terakhir kali Kinan menolak menemui Hamzah seperti yang diinginkan temannya itu. "Ya udah, saya temui dulu, ya."
Nara mengangguk. "Tapi, suster hati-hati ya. Dia itu kayaknya bukan orang baik, deh. Sok polos aja padahal ...."
"Ssttt! Kamu nggak boleh gitu, Nara." Kinan menggeleng. "Saya keluar dulu ya."
Kinan membuka pintu dan langsung dikejutkan dengan pemandangan berdirinya seorang wanita dengan hijab panjang yang dia kenakan. Dia memakai gamis berwarna hitam dengan kerudung panjang menutup dada.
"Assalamu'alaikum, Kinan."
"Wa-waalaikumsalaam. Diana?"
"Iya, Ki. Ini gue, Diana. Kamu apa kabar?"
Mata Kinan masih membulat, tapi dia menunduk sebentar lalu mengangkat wajahnya lagi, kali ini dengan senyuman tipisnya. "Baik, Diana. Lo bikin gue nggak ngenalin lo. Tapi, gue seneng liat lo pakai kerudung."
Diana tersenyum. "Iya, Ki. Baru mulai, baru belajar. Lo ada waktu sebentar? Ini udah jam makan siang, bisa kita ngobrol? Di cafe depan, boleh?"
Tidak ada alasan untuk Kinan menolak ajakan Diana. Menurutnya melihat dari raut wajah Diana kali ini sudah jauh berbeda dengan raut wajah Diana yang bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Walau begitu, tetap saja Kinan masih marah, kalau teringat lagi kejadian yang sudah berlalu itu.
"Hm, hanya sebentar ya, Di. Soalnya gue masih ada kerjaan habis ini."
Mereka berdua duduk berhadapan. "Lo mau pesan apa, Ki?"
"Apa saja," jawab Kinan masih merasa agak canggung.
"Suasananya jadi beda ya, Ki. Dulu, kita selalu bercanda bareng, lo temen yang paling baik buat gue, Ki. Sekali lagi sorry banget, gue beneran minta maaf karena kejadian yang udah-udah. Gue sadar itu salah gue juga. Sorry, dan gue nggak apa-apa kalau lo nggak maafin gue. Gue juga Ngerti banget pasti lo sebel sama gue, Kinan. Sekarang lo ada di depan gue, pasti cuman karena nggak enak sama gue."
Kinan menghela napas, dia lalu mengambil buku menu, memanggil pelayan yang ada di seberang mereka. "Saya pesan ya, Mbak. Dua lemon tea, sama nasi goreng seafood."
Diana melihat Kinan masih saja berbaik hati padanya, bahkan Kinan masih ingat menu yang sering mereka pesan di cafe itu. Ah, benar. Mereka belum lama masih berteman, kalau saja kejadian laknat itu tidak merusak semuanya.
"Thanks Ki, lo masih inget makanan yang sering kita pesan."
"Gue udah maafin lo. Meski banyak banget pertanyaan yang belum terjawab, tapi gue nggak nunggu jawaban itu lagi dari lo. Bagi gue udah nggak penting dan gue cuman berharap lo jadi lebih baik setelah semua yang udah terjadi. Gue sendiri anggep ini jalan yang ditakdirkan buat gue." Kinan tersenyum, dia tidak tahu apakah setelah ini hubungan mereka bisa kembali seperti dulu.
Diana menangis, dia menghampiri Kinan, memeluk dengan erat sambil terisak. "Lo beneran baik banget, Ki. Gue udah nikah sama Mas Hamzah, walau semuanya hanya demi bayi di kandungan gue. Penyesalan itu nggak akan bisa hilang, tapi gue coba buat terima resiko dan jalan ke depan, gue pengin jadi wanita yang lebih baik, meski gue nggak akan bisa jadi sebaik lo, Kinan."
__ADS_1
Kinan yang semula tidak menangis, jadi ikut meneteskan air mata. "Syukurlah kalau lo udah menikah dengan dia. Gue berdoa semoga lo bahagia, dan bisa jadi lebih baik lagi. Gue juga manusia biasa, banyak dosa dan salah," jawab Kinan.
...***...
Dude menutup laptopnya, dia memutuskan untuk pulang lebih cepat. Seharian meeting dengan klien penting seolah tidak ada habisnya. Baru beberapa jam saja tidak melihat senyum Kinan, dia seperti kehilangan sesuatu yang paling manis dalam hidupnya.
Dude : Ki, saya mau pulang. Kamu mau saya jemput? Kita makan malem diluar ya.
Dude menaruh ponselnya lalu mengenakan jasnya, dia mengambil kunci mobil, tak lupa memasukkan ponselnya ke dalam saku. Saat keluar dari ruangannya, Dude dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang tersenyum ke arahnya.
"Surprise!! Baby!!"
"Astaga, Selina?"
Selina datang dengan penampilan glamour nya. Rambutnya tidak lagi berwarna blonde sekarang, tapi hitam dan panjang. Selina mengenakan dress hitam dan outer putih, tak lupa riasan makeup yang tidak terlalu tebal tapi tetap membuat kesan profesional makeup. Wedges yang cukup tinggi membuat postur tubuh rampingnya makin menawan.
Selina tersenyum lalu ingin memeluk Dude serta-merta. Tapi Dude secepatnya menghindar. "Sel, apa kurang jelas yang saya katakan beberapa waktu lalu? Kamu sedang apa di sini? Untuk apa menemui saya?"
"Dude! Kamu secepat itu berubah? Hei, kenapa kamu juga makin kaku saja, hm?" Selina menggeleng, dia berdecak kesal, padahal sudah jauh-jauh dia datang dari Amerika, tapi begitu sambutan mantan kekasihnya.
"Saya tidak mau membahas ulang yang sudah pernah saya katakan. Permisi, saya harus menjemput istri saya."
Dude meninggalkan Selina begitu saja. Janjinya menjemput Kinan jauh lebih penting, dibandingkan dia harus bertemu dengan Selina.
"Istri? Jadi itu bukan candaan?" gumam Selina, dia tidak merasa malu, dia merasa berteman juga tidak masalah, kan? Walaupun Dude sudah menikah.
Kinan : Iya, Mas. Kinan baru selesai. Baik, Kinan tunggu, ya.
Dude tersenyum menatap layar ponselnya, membaca balasan chat dari Kinan. Tapi dia juga cemas karena kehadiran Selina. Dia sangat paham watak Selina yang tidak mudah di tangani itu. Pasti nanti Selina tetap akan menemuinya lagi.
Lalu Dude menelepon petugas yang berjaga di perusahaannya agar tidak membiarkan wanita bernama Selina untuk datang ke kantornya lagi.
"Saya sudah bilang kita sudah berakhir, tapi kamu keras kepala, Sel."
Kinan tersenyum-senyum sendiri sambil membaca chat dari suaminya. Lalu Kinan membuka kotak berwarna merah pemberian Diana, di dalamnya ada sebuah pin hijab berbentuk peri, kata Diana itu adalah kenang-kenangan untuk Kinan. Diana berpamitan, dia dan Hamzah akan pindah ke luar kota mencari suasana baru dan ketenangan. Diana bilang, Hamzah akan mencoba menerima Diana sebagai masa depannya. Kinan pun lega mendengarnya.
"Alhamdulillah, coba aku pakai, deh." Kinan lalu memakai pin jilbab berbentuk peri yang diberikan Diana itu. "Cantik banget."
__ADS_1
...****...
...Kalian paling nunggu momen apa nih di cerita ini? Komen ya, siapa tau aku kabulin di part berikutnya. Terima kasih udah mau baca ya. 😇...