
Hamzah hanya bisa menatap wajah istrinya yang masih terpejam di ruang rawat rumah sakit. Terbaring lemah setelah prosesi kuret selesai dilakukan.
Dendam di hati Hamzah sudah hilang pada Diana. Kini malah berganti rasa bersalah. Diana, wanita itu sudah berusaha menebus kesalahannya di masa lalu yang sebenarnya tidak seberapa. Justru sekarang Hamzah merasa telah jahat pada Diana karena menghancurkan wanita itu berulang-ulang.
Kalau saja dia tidak mengikuti nafsu, semua ini tidak akan terjadi. Masalah yang datang tidak ada habisnya. Diana menjelma sebagai korban dari kebiadabannya yang sungguh nyata.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri! Kamu puas susah menyakiti anak saya, Hamzah!"
Pria yang berdiri setelah melayangkan satu tamparan di pipi kanan Hamzah itu adalah papa dari Diana.
"Hamzah apa salah Diana sama kamu? Kenapa kamu tega bikin dia sampai kehilangan anaknya?"
Hamzah hanya bisa menunduk saat papa dan mama Diana memarahinya. Siapa yang terima kalau putrinya di sakiti berulang-ulang. Di awal mungkin mereka memaklumi, karena kehamilan Diana sebab salah mereka berdua. Tapi sekarang Hamzah sudah sangat keterlaluan.
"Maafkan saya." Hanya kata maaf yang bisa Hamzah ucapkan. Dia malu, dia juga tidak memiliki alasan untuk membela diri.
"Kami akan bawa Diana pulang ke rumah. Kamu mulai sekarang bukan lagi suami Diana. Ceraikan anak saya!" tegas papa Diana.
Bukankah itu yang memang diinginkan oleh Hamzah? Bisa bercerai dari Diana, wanita yang tidak pernah dicintainya.
Petir menyambar begitu dekat hingga ia mengedipkan matanya refleks. Suhu makin terasa dingin di Kota Hujan. Rasa dingin sudah mencapai ke tulang, meski tidak sedingin saat salju turun di Amerika.
Langkahnya terhenti saat sepatu hak tingginya tersangkut di aspal yang tak rata. Selina menghembuskan napas berat, menatap sepatunya itu. Dia menggeleng, perlahan mengambil sepatunya yang tersangkut.
Namun saat dia berdiri, seseorang berbadan tegap membuatnya mematung. Laki-laki, bertubuh tinggi sekitar 182cm dengan wajah yang meneduhkan.
"Butuh payung?" tawarnya.
"Ah, tidak." Selina menggeleng cepat.
"Tapi hujan deras sekali. Nona bisa sakit."
"Siapa kamu?" tanya Selina.
Laki-laki itu tersenyum tipis. "Aku pemilik villa yang Nona tinggali ini."
"Astaga. Maafkan aku, Tuan. Aku tidak tahu." Selina merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Jangan panggil Tuan, sepertinya kita seumuran. Namaku Nathan."
Selina tersenyum ragu. "Oke, Nathan. Kamu juga hanya perlu panggil aku dengan nama. Kenalkan, Selina."
"Senang bertemu dengan kamu, Selina."
Rupanya niat awal Selina ke kota Bogor untuk menenangkan diri, malah membuatnya bertemu dengan orang itu. Selina menerima uluran tangan Nathan yang suka rela memberikannya payung.
Setelah merasakan sesak yang luar biasa setiap kali tidak sengaja melihat Dude dengan istrinya. Selina juga tidak tahu, kenapa dia harus tidak sengaja berpapasan dengan Dude, meski Dude tidak pernah menyadarinya. Akhirnya Selina memutuskan untuk mencari udara segar di kota Bogor. Dia menginap di sebuah villa yang berada di dekat kebun teh nan hijau.
__ADS_1
"Terima kasih Nathan atas payungnya."
"Sama-sama. Kalau butuh apa-apa, kamu bisa cari aku di sana."
Nathan menunjuk pada sebuah rumah yang ada di seberang villa.
"Oh, baiklah." Selina tersenyum lagi.
Nathan pun berlalu meninggalkan Selina.
...**...
Kinan terduduk tanpa suara di kamarnya. Dude baru saja datang membawa secangkir teh hangat untuk menenangkan Kinan yang baru selesai menangis habis-habisan.
Kinan masih tertunduk, tidak menatap Dude.
"Minum dulu, Sayang."
Kinan menerima secangkir teh dari tangan Dude. Masih mengendalikan sesenggukan nya, juga sisa emosinya karena kejadian beberapa waktu yang lalu.
Dude mengusap rambut Kinan, duduk mendekati Kinan dan mendekapnya.
"Kamu sudah memaafkan aku, kan?"
Kinan mengangguk pelan.
Diperlakukan begitu, makin membuat Kinan sedih, akhirnya dia menangis lagi.
"Lho kok malah nangis lagi. Sudah jangan nangis terus, mata kamu sudah sangat bengkak," kata Dude.
"Maafin Kinan ya, Mas."
"Kamu enggak salah, sayang. Kalau pun kamu punya salah, aku yang lebih salah."
Kinan mendongak menatap Dude. "Kenapa bisa gitu?"
"Karena wanita selalu benar kan?" ucap Dude sambil tercengir.
"Kamu lagi mengejek aku?" ucap Kinan cemberut.
"Bukan gitu, tuh kan. Aku pasti salah lagi," kata Dude.
Kinan memeluk Dude. "Maafkan aku ya, Mas. Tadinya aku berniat mendiamkan mu tiga hari. Karena marah tidak boleh lebih dari tiga hari, kan."
"Lama sekali, sayang. Aku bisa lumutan," ujar Dude.
Kinan terkekeh pelan. "Soalnya aku sangat sedih karena kata-kata kamu. Kenapa kamu bisa menuduhku seperti itu. Sakit sekali rasanya, Mas. Aku juga tidak mungkin melakukan hal itu."
Dude juga merasa bersalah. Karena kejadian itu di luar kendalinya. Dia juga tidak tahu, kenapa dia bisa semarah itu. Yang dia tahu, dia sangat marah dan ingin menghabisi laki-laki bernama Hamzah.
__ADS_1
"Maaf maaf beribu maaf sayang." Dude mengecup tangan Kinan berulang-ulang.
"Aku juga salah, karena mendiamkan kamu." Kinan berbalik mencium tangan suaminya.
"Intinya kita sama-sama belajar dari kesalahan. Aku juga masih butuh banyak belajar untuk menjadi suami yang baik."
"Aku juga, masih harus belajar menjadi istri yang baik."
Mereka saling memeluk lagi.
"Lalu bagaimana dengan rencana kamu melaporkan Hamzah, Mas?"
"Menurut kamu gimana? Kamu yakin tidak mau dia di penjara?"
"Tidak Mas." Kinan menggeleng. "Kasihan anak Diana nanti."
Tapi dia tidak mencintai istrinya. Dia mencintai istriku, batin Dude.
"Ya sudah, asalkan kamu janji untuk tidak pergi apalagi menginap sendiri lagi ya."
"Iya, aku janji."
Dude menghela napas lega, setelah dia bersitegang dengan Kinan tadi akhirnya mereka kembali saling memaafkan.
"Mas, aku ngantuk."
"Kalau gitu kamu tidur ya."
"Tapi kamu jangan kemana-mana. Peluk aku terus sampai aku tidur?"
"Iya sayang."
Akhirnya Dude memeluk Kinan, membiarkan istrinya terlelap di pelukannya. Hatinya masih belum ikhlas karena dia cemas kalau Hamzah tidak dibuat jera. Tapi bagaimana lagi, itu keinginan Kinan. Dude sudah berjanji akan melakukan apapun yang Kinan minta asalkan Kinan tidak mendiamkannya lagi.
Tidak butuh waktu lama, Kinan pun sudah terlelap. Pelan-pelan Dude membaringkan Kinan di bantal, lalu dia menyingkirkan dirinya mengambil ponsel yang terus berdering sejak tadi.
"Ya, ada apa?"
Kening Dude mengerut. Dia kaget mendengar kabar dari pengacaranya.
"Jadi istrinya mengalami keguguran, begitu?" ucap Dude pelan, dia tidak mau kalau Kinan mendengarnya.
"Ya Tuhan, kalau gitu tolong kamu atur jadwal agar saya bisa bertemu dengan istrinya."
Dude mengusap bibir, dia kaget bercampur miris.
"Istrinya akan dibawa pulang ke Jakarta oleh orang tuanya? Baiklah, atur saat dia sudah di Jakarta. Kamu tetap awasi laki-laki yang bernama Hamzah."
Ini semua demi kebaikan Kinan dan semuanya. Laki-laki seperti Hamzah tidak bisa dibiarkan. Apalagi bayi yang di cemaskan Kinan sudah tidak ada karena perbuatan laki-laki itu. Tidak ada lagi kata ampun, batin Dude.
__ADS_1