Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
040 : Malam Pengantin


__ADS_3

Malam pengantin seharusnya dilewati dengan perasaan cinta berpadu kegugupan saat bertemu pandang dengan pasangan yang telah sah menjadi milik kita. Tapi, berbeda halnya bagi Diana dan Hamzah. Walau sebenarnya, Kinan juga merasakan hal yang sama, karena ulah Hamzah membuat Kinan merasakan pernikahan yang diluar nalarnya.


Selepas mengganti pakaian dengan baju tidur, Diana berbaring di atas ranjang, dia tidak menunggu suaminya menghampirinya, mencumbunya, karena dia sadar, itu tidaklah penting lagi sekarang. Cukuplah pernikahan itu menutupi aib mereka, untuk kebersamaan antar suami-istri rasanya bukan sebuah keharusan bagi mereka.


Hamzah datang dengan raut nyaris tanpa ekspresi. Diana beranjak duduk, dia agak bingung harus bersikap bagaimana terhadap Hamzah. Tapi, menikah dengan Hamzah bukan sekedar untuk menutupi aibnya, dia juga bertekad ingin menjadikan Hamzah pasangan untuk seterusnya.


"Mas, udah mau tidur?"


"Saya mau ambil bantal dan selimut. Saya akan tidur di sofa."


"Mas mau tidur di sofa?" Hati Diana mencelos mendengar ucapan Hamzah yang seolah tidak mau tidur seranjang dengannya.


"Ya, supaya tidur kamu tidak terganggu." Hamzah mengambil bantal dan selimut, lalu dia benar-benar berbaring di atas sofa kamar Diana.


Diana tidak dapat berkata-kata atau hanya sekedar melarang suaminya melakukan itu. Dia tahu, tidak ada cinta di antara mereka. Tapi, perasannya tetap saja merasa terluka.


'Sudahlah, Di. Apa yang kamu inginkan lagi? Diamlah dan tidur, kamu tidak boleh egois, kamu harus sadar diri siapa kamu, dan apa posisi mu di hatinya.'


Diam-diam Hamzah masih memikirkan Kinan, kalau saja hawa nafsu dan juga dendamnya tidak membuatnya buta, mungkin semua ini tidak akan terjadi, mungkin dia sudah berbahagia dengan Kinan sekarang.


Namun Hamzah sadar, dia harus mengubur perasaan itu. Apalagi sosok yang sedang bersama Kinan sekarang adalah Dude, seseorang yang dia kenal, orang itu memiliki segalanya, jauh di atas dia. Kinan pasti sudah bahagia sekarang, jauh lebih bahagia dibandingkan jika bersamanya.



Suasana malam yang memang sudah dingin, ditambah pendingin ruangan membuat Kinan agak menggigil. Kinan sedang duduk di depan cermin sambil menyisir rapi rambutnya. Dude masih di dalam kamar mandi, mereka baru saja tiba di kamar hotel setelah makan malam. Seharian ini Kinan menemani Dude, mulai dari ke dokter, makan siang, hingga makan malam dan mereka memutuskan untuk beristirahat.


Malam itu perasaan Kinan mendadak tidak menentu. Pikirannya terfokus pada kamar hotel yang cukup luas, tapi bukan kamarnya yang mengganggu pikirannya, melainkan apa yang akan mereka lakukan, dia dan suaminya lakukan di kamar itu. Tidak perlu dikatakan pun Kinan mengerti, dia harus membantu agar suaminya segera pulih dari ketakutan saat akan berhubungan intim. Bukankah ini terbalik? Seharusnya Kinan sebagai pihak wanita yang merasa ngeri, tapi ini malah pihak laki-laki.


"Tenang Kinan, fokus, intinya meskipun kamu juga takut, jangan sekali pun kamu mengatakan kamu takut, oke?" ucapnya pelan, dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan-lahan. "Rileks, tenangkan diri kamu dulu."


Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Kinan tersentak kaget hingga refleks berdiri tegak di hadapan Dude yang baru saja keluar dengan jubah mandinya. Senyum simpul di bibir tipis Dude, hidung mancung, rambut yang agak basah, dan Kinan terpaku pada jakun yang bergerak agak naik turun di leher Dude. Oh pikiranmu Kinan!


"Ki? Kamu kenapa?" Dude berjalan mendekat tapi Kinan malah mundur sampai-sampai kakinya terpentok ranjang hingga dia terjatuh ke atas kasur. Ya Allah, Kinan. Nggak bisa lebih tenang?

__ADS_1


Dude menyentuh tumit Kinan, refleks Kinan membulatkan matanya sangat kaget. Tapi dia merasa kesulitan bangun, sekarang Dude malah mengelus kakinya membuat Kinan merinding. "Mas, anu."


"Kaki kamu nggak kenapa-kenapa, Ki?" Pertanyaan Dude membuat Kinan membeku seketika.


Dude lalu duduk di samping Kinan yang salah tingkah, baru saja dia duduk dengan susah payah karena rasa gugupnya, padahal Dude hanya menyentuh tumit dan telapak kakinya, Kinan sudah gemetaran.


Glek.


Kinan cemas jika suara detak jantungnya terdengar oleh Dude, juga suara ia menelan ludah berulang, itu sangat memalukan, pikir Kinan.


Telapak tangan Dude menyentuh telapak tangan Kinan perlahan, kemudian dia mengecup tepat di bagian pergelangan. Kinan menatap Dude dengan dada yang kembang-kempis tidak menentu.


"Ki, apa kamu yakin mau sabar membantu saya? Ki, maafkan saya jika nanti saya tidak dapat melanjutkan seperti kemarin."


Kinan menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal, lalu dia menggenggam tangan Dude. "Jangan terlalu dipikirkan Mas. Kata dokter, Mas harus enjoy aja, kan?"


Memang seharusnya begitu, tapi seandainya Kinan tahu, sejak tadi pikiran Dude tidak berhenti memikirkan seputaran itu, dia sangat takut mengecewakan Kinan. Dia tahu pasti rasanya sangat tidak menyenangkan.


"Hm," deham Kinan, lalu pelan-pelan ia melingkarkan tangannya ke leher suaminya. "Boleh kan, kalau Kinan duduk di sini?"


Dude meneguk ludahnya keras, dia lalu mengangguk dan berusaha tetap menstabilkan debaran jantungnya yang berdentum kuat. "Boleh, kok," angguknya.


Kedua mata mereka saling menatap, Kinan berusaha semaksimal mungkin melakukan yang dia bisa. Dia mulai mengusap rahang Dude perlahan-lahan, rahang bersiku yang terasa kokoh itu pertama kalinya Kinan sentuh. Lalu sentuhan Kinan berpindah pada permulaan bibir Dude.


Kinan meneguk ludahnya lagi. Apakah dia sanggup melakukannya lebih dulu? Menciumnya?


Saat Kinan agak tertunduk, keberaniannya mulai lenyap pelan-pelan. Dude langsung meraih bibir Kinan dan menciumnya. Dunia bagaikan berhenti berputar untuk sesaat dengan sentuhan lembut di bibir Kinan. Jarum jam pun berhenti berdetak seperti yang terjadi pada jantungnya untuk kurang dari satu detik. Kinan mulai kembali bernapas di sela ciuman itu, kalau tidak dia bisa mati saking gugupnya sampai lupa menghirup udara segar.


Mereka berdua saling menatap lagi, kali ini Dude yang mengambil alih, masih di pangkuan suaminya, Kinan hanya bergeming merasakan debaran jantung dan tatapan mata Dude.


Deg.


Telapak tangan Kinan menyentuh dada kokoh Dude, dan degupan kencang lumayan dapat dia rasakan di sana. Ternyata Dude juga sama gugupnya. Untuk sejenak Kinan merasa hanya dia yang merasakan gugup luar biasa.

__ADS_1


"Mas, sejujurnya Kinan menunggu saat seperti ini," ucap Kinan sembari mengelus pelan dada suaminya.


Dude seperti kehabisan kata-kata atau dia malah berpikir tentang ketakutannya lagi?


"Ini sama sekali tidak akan menyakitkan, justru sebaliknya, apa Mas percaya?" tanya Kinan.


Dude awalnya tidak berekspresi, tapi kemudian seulas senyum tipis muncul seperti kelegaan sendiri buat Kinan.


"Apa saya udah bilang kalau kamu cantik, Ki?"


Kinan tersipu dengan polosnya dia menggeleng. "Belum deh kayaknya."


Dude tertawa pelan. "Kalau gitu saya mau bilang kamu cantik, istri saya cantik sekali."


Itulah Dude dengan bahasa formalnya, walau di awal Kinan merasa itu terkesan kaku, tapi lama-lama Kinan mulai terbiasa, justru akan terdengar aneh jika Dude berkata dengan bahasa informal seperti dia.


"Terima kasih, Mas." Kinan jadi bingung harus berkata apa, berbuat apa, seolah pujian Dude itu mengunci mulut juga pergerakannya.


"Kinan pegangan kuat, kalau nggak bisa-bisa Kinan terbang dipuji sama Mas." Kinan malah bergurau, Dude sontak tertawa lagi.


"Saya akan memuji kamu sebanyak yang kamu mau, Ki. Kamu mau berapa banyak?"


Kinan menggeleng. "Cukup satu kali aja, Mas. Kalau kebanyakan nanti Kinan lupa cara turun dari kayangan."


Gurauan mereka itu setidaknya berhasil membuat suasana tidak terlalu tegang, walau sekarang Dude mulai merasa agak panas.


Dude lalu mengangkat tubuh Kinan membuat Kinan agak tersentak, Dude membaringkan Kinan ke ranjang, lalu dia berada di atas Kinan, menatap mata gadis itu.


"Saya yakin, malam ini saya tidak akan mengecewakan."


...______...


...bersambung ya 👍...

__ADS_1


__ADS_2