
Hamzah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Beruntung kali ini ibunya masih mau menerimanya di rumah. Walaupun tadinya orang tua Hamzah mengungsi ke luar negeri semenjak gagalnya pernikahan Hamzah dengan Kinan. Pak Asnawi, Bapak dari Hamzah hanya bisa mengelus dada dengan apa yang di alami putranya.
"Sejak awal kamu yang salah, Ham. Kamu itu dokter, kamu punya pekerjaan yang mulia dan nggak mudah kamu dapatkan. Tapi, kamu malah melakukan tindakan yang merugikan dirimu sendiri."
"Maafkan Hamzah, Pak."
"Minta ampun sama Allah, Ham. Kamu terlalu jauh darinya sekarang. Jadi, segala sesuatu yang kamu lakukan berujung petaka. Bapak tidak bisa melindungi kamu. Maafkan Bapak ya."
Hamzah menatap wajah Bapaknya, dia mulai merasa pilu. "Iya, Pak."
"Di depan ada orang yang mau ketemu kamu. Hamzah, kamu dicari polisi."
Pak Asnawi mengusap dadanya, sesak. Kalau ibu Hamzah masih ada, alangkah sedihnya hati beliau melihat putranya akan di penjara.
"Kamu tetap anak Bapak. Tapi Bapak nggak bisa melindungi kamu karena kamu memang salah."
Hamzah gemetar. Dia tidak mau di penjara. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Nyatanya dia memang salah.
"Maafkan Hamzah, Pak. Maaf atas kesalahan saya." Hamzah memeluk erat tubuh Pak Asnawi. Rasanya dia amat hancur, tapi dia sadar Diana jauh lebih hancur. Hamzah juga tidak tahu kalau Diana sampai mencoba bunuh diri karena depresi.
...***...
Beberapa waktu kemudian...
Dude dan Kinan berada di ruang persidangan. Hari ini jadwal persidangan Hamzah yang pertama. Dia benar-benar yakin bersama suaminya untuk menuntut Hamzah dengan hukuman seberat-beratnya.
Hamzah pun memasuki ruangan persidangan setelah hampir sepuluh hari di tahan. Hamzah mengenakan pakaian kemeja panjang warna putih, celana bahan hitam, dan peci berwarna putih. Hamzah terlihat lesu, kurus, matanya pun cekung seperti kurang istirahat.
Di belakang Hamzah ada Pak Asnawi. Kinan menghembuskan napas berat, melihat laki-laki yang pernah datang ke rumahnya. Melamarkan anaknya dengan sopan. Tapi sekarang Pak Asnawi harus menerima kenyataan anaknya akan dijatuhkan hukuman karena perbuatannya.
Menyusul kemudian Diana yang didorong kursi roda oleh ibunya. Diana masih belum sepenuhnya pulih.
Hamzah terkejut melihat Diana datang dengan kursi roda. Dia ingin menghampiri Diana dan meminta ampun tapi dia tidak punya keberanian yang cukup untuk melakukan itu.
Hakim memasuki ruangan persidangan melalui pintu khusus. Saat itu semua yang sudah hadir menunggu berjalannya persidangan dengan tertib dan hening. Hamzah hanya bisa pasrah menerima apapun hukuman yang akan dijatuhkan padanya nanti.
Hamzah sebagai terdakwa di persilahkan untuk duduk di kursi yang telah di sediakan.
__ADS_1
Hakim menanyakan beberapa pertanyaan pada Hamzah, tentang keadaan Hamzah, baik secara fisik maupun mental. Hamzah dalam keadaan sehat.
Saat ditanya apakah Hamzah didampingi oleh pengacara? Hamzah mengiyakan. Bapaknya menyewa pengacara untuk menemani putranya. Tapi Hamzah tidak bermaksud membela dirinya nanti. Hamzah tahu dia memang salah.
Diana sebagai korban juga dimintai keterangan dengan beberapa pertanyaan. Begitu juga Dude dan Kinan yang bertindak sebagai saksi.
Dude juga melaporkan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan Hamzah pada istrinya, Kinan Adelia.
Pak Asnawi hanya bisa menangis sepanjang hakim membacakan dakwaan terhadap Hamzah.
Hamzah dijatuhi pasal berlapis.
Pasal 289 sampai dengan Pasal 296 KUHP tentang pelecehan seksual dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.
dan
Pasal 49 UU PKDRT tentang menelantarkan istri dan merugikan pihak istri dengan ancaman hukuman 3 tahun penjara berserta denda berupa uang.
Hakim akhirnya menjatuhkan hukuman pada Hamzah dengan hukuman 8 tahun penjara dan denda uang Tiga Puluh Lima Juta Rupiah.
Diana menangis. Begitu juga dengan Kinan Adelia. Mereka berdua adalah wanita yang sama-sama pernah disakiti oleh Hamzah. Bedanya, Kinan jauh lebih beruntung karena memiliki suami yang luar biasa baik seperti Dude Danuarta.
Kinan memeluk Diana. Tidak ada air mata lagi di antara mereka. Diana sudah bisa bernapas lega. Di dalam persidangan Diana tidak sedikit pun menatap Hamzah. Diana sudah berubah menjadi sosok yang sangat membenci Hamzah setelah dia kehilangan anaknya.
"Makasih banyak ya, Kinan. Berkat lo dan juga suami lo, sekarang gue bisa dapat keadilan."
"Udah seharusnya lo dapat keadilan, Di. Gue harap lo nggak melakukan hal nekat lagi ya. Diana, anak lo tetep bahagia liat lo dari surga. Dia udah jadi tabungan buat lo nanti."
Diana tersenyum miris. "Apa iya, Kinan? Gue aja hamil duluan, gue termasuk melakukan zina. Apa gue berhak disayang sama Allah?"
Kinan mengusap pipi Diana. "Lo berhak. Semua orang berhak disayang sama Allah, Diana. Allah Maha Pengampun. Jadi, lo nggak boleh putus asa, oke?"
Diana mengangguk. Dia merasa lega, karena semula dia merasa dirinya tidak ada harganya lagi.
"Makasih Kinan. Makasih karena lo udah mau merangkul gue di saat gue terpuruk. Maafin kesalahan gue ya kalau selama gue kenal lo, gue pasti punya salah sama lo."
__ADS_1
Kinan tersenyum. "Iya Diana. Gue juga minta maaf karena setiap manusia pasti punya kesalahan. Gue cuman berharap setelah ini lo hidup dengan lebih semangat lagi. Lo pasti bisa."
"Iya, Kinan. Bismillah ya."
"Bismillah." Kinan memeluk Diana lagi.
"Gue balik dulu ya, Kinan. Sekali lagi makasih. Gue juga berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga lo."
"Aamiin, makasih Diana."
...***...
Setelah acara persidangan selesai. Diana juga sudah pulang bersama orang tuanya. Kinan menemui Pak Asnawi, ayah kandung Hamzah.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam, Nak Kinan?"
Pak Asnawi terlihat canggung sekaligus malu. Dia seperti kehilangan muka karena kelakuan anaknya. Belum lagi saat pembatalan pernikahan pun Pak Asnawi tidak menemui ibu Kinan. Pak Asnawi pergi ke luar negeri bersama kerabatnya demi menghindari malu.
"Nak Kinan ... Maafkan Bapak."
"Iya, Pak. Kinan insyaAllah sudah memaafkan. Kinan menemui Bapak sebelum Kinan pulang. Kinan hanya ingin mengucapkan maaf karena Kinan melaporkan anak Bapak ke polisi."
"Kinan tidak perlu minta maaf. Justru Bapak yang minta maaf atas nama keluarga terutama Hamzah. Maaf juga karena Bapak pengecut, Bapak kabur dan tidak meminta maaf langsung dari awal."
"Ya, yang lalu cukup dijadikan pelajaran saja, Pak. Kalau gitu, Kinan permisi. Wassalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Pak Asnawi tidak dapat berkata-kata lagi. Bukan hanya malu, dia tidak memiliki hak berkata lebih dari kata "maaf".
..._______...
...Akhirnya satu masalah selesai....
...Next cerita siapa lagi yang paling ditunggu ni?...
NOTE : Cerita kenapa Hamzah bisa dijatuhkan hukuman seperti itu, akan diceritakan di chapter berikutnya.
__ADS_1