Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
078 : Kesabaran Seorang Suami


__ADS_3

“Barang siapa menggembirakan hati istrinya, maka seakan-akan ia menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah akan memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Saat suami memegang telapak tangan istri, maka bergugurlah dosa-dosa suami istri itu lewat sela-sela jari mereka.” (Diriwayatkan dari Maisarah bin Ali)


...***...


"Alhamdulillah ya Allah." Dude langsung menciumi Kinan mulai dari kening, hidung, pipi hingga ke bibirnya.


"Kapan kamu tes, Sayang?" tanya Dude yang begitu kaget.


"Kemarin Mas. Tapi, aku nggak kasih tau Mas karena Mas lagi fokus ke urusan kerjaan yang numpuk sepulang dari Jogja. Hari ini saat aku lihat kamu udah lebih tenang. Aku baru kasih tahu Mas."


"Ya Allah, Sayangku. Seharusnya kamu kasih tahu mas dari kemarin. Mas seneng banget. Ini berkah yang luar biasa dalam pernikahan kita."


"Iya Mas. Kinan juga kaget, pantesan belakangan ini Kinan sering mual, kadang lemas."


"Masa, Ki? Kenapa kamu nggak kasih tahu aku?"


"Aku nggak mau bikin Mas kepikiran. Lagi pula Mas juga pasti capek banyak kerjaan di kantor." Kinan melesakkan wajahnya ke dada suaminya.


"Jangan gitu, Sayang. Kamu kalau merasakan keluhan apapun harus kasih tau aku ya. Aku nggak mau sampai aku nggak tahu apa-apa. Apalagi sekarang kamu lagi hamil."


"Iya Mas." Kinan mengangguk.


Keduanya amat bahagia. Nikmat yang luar biasa pemberian Allah bagi pernikahan mereka.


"Mulai sekarang kamu nggak boleh capek-capek. Kamu janji?"


Jadi ini rasanya. Kinan selalu penasaran jika dia melihat pasien atau teman-teman yang sedang hamil. Suami mereka akan berubah sangat perhatian, dan juga lebih waspada dari sebelumnya.


Kinan dulu sering membayangkan bagaimana jika dia menikah. Apakah dia akan merasakan di sayang suaminya berlipat-lipat saat sedang hamil?

__ADS_1


"Sayang, kok kamu malah bengong?"


Kinan terkesiap dia lalu memeluk Dude dengan perasaan amat bahagia. "Nggak. Tadi aku cuman bayangin dulu. Aku sering kepikiran kalau nanti aku menikah, terus hamil, apa suamiku bakal perhatian sama aku."


"Pasti dong. Kalau bukan aku lantas siapa? Aku yang bakalan jaga kamu. Makasih ya sayang, karena kamu mau jadi ibu buat anak-anak ku."



"Alhamdulillah. MasyaAllah tabarakallah. Selamat ya, Mas. Hana ikut senang."


Maafkan mas ya Dek karena mas nggak bisa nganterin Reyhan ke pondok.


Hana tersenyum ke arah laki-laki yang ada di sampingnya. Hana sedang berseri bahagia menerima telepon dari Dude.


"Iya, Mas Dude juga harus jaga mbak Ki dengan baik ya. Nggak apa-apa, Mas. Rey ke pesantren di antar sama Papanya."


Alhamdulillah kalau gitu. Rey sendiri yang minta mau pondok ya, Han?


Semoga Rey betah di pondok. Titip salam untuk Bastian dan Reyhan ya, Hana.


"Aamiin. Baik, kalau gitu mas jagain mbak Ki, ya. Nanti insyaallah Hana dan Mas Bas ke Jakarta kalau waktunya udah memungkinkan."


Iya Hana. Tidak usah dipaksakan. Kamu yang terpenting harus ingat pesan Mas. Jadi istri dan ibu yang baik. Kuncinya kamu harus bahagia dulu, ya. Kamu nggak boleh sedih lagi. Kamu sekarang punya seseorang untuk tempat kamu berbagi. Kamu nggak sendiri lagi. Oke sayang? Udah dulu ya. Assalamu'alaikum.


"Iya, InsyaAllah Hana akan ingat pesan Mas Dude. Waalaikumsalaam."


Hana menaruh ponselnya kembali. Sudah satu minggu sejak dia sah menjadi istri Bastian. Dengan sabar, Bastian tidak memaksakan Hana untuk melakukan kewajibannya sebagai istri. Bastian tahu, pasti Hana butuh waktu. Mereka sekarang seperti sedang berteman. Bastian menjadi teman Hana bercerita, mengobrol santai di rumah. Bahkan mereka tidak melakukan kontak fisik lebih dari sekedar Bastian mengecup kening Hana setiap sebelum tidur.


"Ada kabar apa dari Mas Dude? Kamu sepertinya sangat bahagia. Pasti Mas Dude ada kabar yang membahagiakan kamu, kan, Dek?" tanya Bastian.

__ADS_1


Hana tersenyum. "Mbak Kinan hamil, Mas."


"Wah, masyaAllah. Alhamdulillah. Semoga mbak Kinan diberikan kesehatan, begitu juga dengan bayinya, sehat sampai melahirkan. Aamiin."


"Aamiin. Iya, Mas. Baru kali ini Kinan merasakan nikmat yang bertubi-tubi diberikan Allah. Ternyata, Allah sangat baik dengan Hana dan keluarga. Kami berdua khususnya. Aku dan Mas Dude, kami ditinggal orang tua dan sejak itu aku sebagai adik hanya bisa mengandalkan Mas Dude. Hingga hidupku yang tadinya normal, seketika hancur karena sebuah dosa besar yang aku lakukan tanpa pertimbangan."


Memang Hana sekarang tidak lagi menangis saat menceritakan tentang masa lalunya. Tapi tetap saja, luka walaupun sudah sembuh pasti akan membekas. Setiap kali teringat bekas luka itu, membuat Hana sulit untuk lupa betapa sakitnya itu dia rasakan dulu.


Bastian menggenggam tangan Hana. Dia mendekati Hana lalu memeluknya. "Semua ada hikmahnya, Dek. Kenangan memang tidak bisa kamu lupakan. Selama Allah masih memberikan kamu ingatan. Tapi kenangan memberikan banyak pelajaran, meski kenangan itu buruk sekali. Kamu harus tetap kuat, semangat, ingat Allah selalu bersamamu."


Hana merasa lega. Setiap kali pria yang memeluknya itu berbicara. Tatapan matanya meneduhkan, senyumnya sangat teramat tulus. Menurut Hana, senyuman Bastian adalah senyuman yang hangat dan membuatnya rindu. Hana selalu ingin melihat senyum itu.


"Mas, maafkan Hana karena Hana belum bisa melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan pada suaminya."


Kata-kata Hana membuat Bastian agak terkejut. "Jangan dijadikan beban. Aku sama sekali tidak keberatan menunggu sampai kamu siap, Dek."


Pria itu memeluk Hana dengan begitu halus, lembut, sopan sekali. Hana merasa seperti amat dilindungi oleh nya. "Terima kasih, Mas. Hana hanya sedang menyesuaikan diri, dan butuh waktu untuk ..."


"Ssttt..." Bastian menutup bibir Hana dengan telunjuknya. "Nggak perlu minta maaf, tanpa perlu kamu jelaskan. Insyaallah Mas akan selalu sabar dan memahami maksud kamu. Jangan pernah memaksakan sesuatu, lakukan jika kamu benar-benar siap."


...***...


Wanita digambarkan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Sifat ini tak bisa dimungkiri. Maka, jangan sekali-kali seorang lelaki memaksakan kehendaknya kepada wanita. Karena jika ia bersikeras meluruskannya, tulang tersebut akan patah. Namun, jika seorang lelaki memilih jalan nabi, bersabar dan menerima segala kekurangannya, maka wanita akan menjadi partner hidup yang sempurna. Sadari dan terima kekurangan, kelemahan akal dan perangainya serta kebengkokan-kebengkokan lainnya.


Dengan menyadari kondisi wanita secara psikologis tersebut, mudahlah seorang lelaki untuk menyesuaikan diri. Untuk bersikap terbaik, berusaha mengejar akhlak mulia yang dicontohkan Sang Baginda SAW.


Janganlah para lelaki membenci semua yang ada pada wanita bersebab pada kelemahan yang ada padanya. Bisa jadi seorang wanita memiliki kekurangan. Amat mungkin banyak kekurangan. Namun, di balik kekurangan, pastilah terdapat kelebihannya. Mari, sekali lagi kita simak anjuran Nabi SAW. "Janganlah seorang mukmin laki-laki memarahi seorang mukminat. Jika ia merasa tidak senang terhadap satu perangainya, maka ada perangai lain yang dia sukai." (HR Muslim).


...____...

__ADS_1


Tinggal lihat perkembangan Selina dan juga Kehamilan Kinan ya. Raihana dan Bastian pastinya juga ❤


kalau ada typo ingetin ya. makasih ❤


__ADS_2