Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
069 : Aku Tidak Rela, Kinan.


__ADS_3

Terluka tapi tak berdarah ...


Kini hal itu yang sedang dirasakan oleh Kinan Adelia. Setelah kata-kata Dude terasa amat menyakitkan menghujam jantungnya. Dia tidak pernah menyangkal, Dude bisa semarah itu bahkan menuduhnya melakukan tindakan keji.


Kinan masih mendiamkan Dude. Setelah kejadian di malam itu, Kinan memutuskan untuk pulang. Dia pulang bersama Dude, tapi dia terus mendiamkan suaminya tanpa menatapnya.


"Kinan, maafkan aku."


Kinan pergi. Setiap kali Dude mendekatinya, Kinan menjauh.


Bukan karena membenci Dude. Karena Kinan tidak pernah bisa membenci laki-laki itu. Tapi perkataan Dude terlalu menyakitkan.


Apa yang kamu perbuat dengan Hamzah?


Oh, kamu sengaja supaya bisa berduaan dengan dia?


Kata-kata itu terus terngiang. Kinan tak tahu harus bagaimana agar kata-kata itu menghilang dari ingatannya.


Bahkan keesokan harinya pun tetap sama. Kinan tetap saja belum bisa berbicara dengan Dude.


"Sayang, sampai kapan kamu akan mendiamkan aku?"


Kinan masih diam.


"Aku tahu aku salah. Kata-kata ku menuduh kamu melakukan hal yang tidak kamu lakukan membuat kamu sakit."


Kinan menatap langit-langit kamar, dia mencoba menahan agar tidak menangis.


"Sayang, aku sudah meminta pengacara untuk menangkap Hamzah."


Kinan langsung menatap Dude dengan tajam. "Apa?"


"Kenapa? Dia sudah melakukan tindakan tidak menyenangkan terhadap kamu, Sayang."


Kinan menggeleng, dia tidak setuju dengan tindakan suaminya.


"Kasihan bayi yang ada di dalam perut Diana, Mas."


"Apa? Kamu masih memikirkan orang lain? Kamu mengasihani Hamzah?"


"Astaghfirullah, Mas! Kapan Kinan bilang Kinan kasihan sama dia? Kinan bilang Kinan kasihan dengan bayi di kandungan istrinya. Bagaimana dia tumbuh jika ayahnya di penjara?"


Dude menghela napas berat. "Tapi aku nggak terima dia sudah melecehkan kamu, sayang. Dia sakit jiwa, dia bahkan memamerkan aroma parfum kamu pada ku."


Kinan kembali merasa jijik jika mengingat itu. Tapi, dia juga tidak tega jika Diana harus menderita lagi.


"Kinan mohon, jangan lakukan itu."


Dude menggeleng. "Aku nggak tahu kamu terlalu baik, atau kamu tidak peduli dengan perasaan ku?" ujar suami Kinan itu.

__ADS_1


"Maksud Mas apa? Kinan nggak peduli gimana? Mas yang habis-habisan menuduh Kinan, kenapa jadi Kinan juga yang Mas salahkan?"


"Kinan, aku udah meminta maaf sama kamu. Tapi aku mohon biarkan aku memenjarakan Hamzah! Tidak ada tapi-tapi, kali ini aku sangat marah dengan sikap laki-laki itu! Kalau dibiarkan terus dia akan melakukan hal yang lebih lagi Kinan!"


Kinan terdiam. Lagi-lagi suaminya menatapnya dengan tatapan marah. Kinan hanya bisa menundukkan wajahnya, lalu dia berbalik membelakangi Dude. Dia masih berbaring di tempat tidurnya, tidak. bergerak, dia menangis tanpa Dude tahu.


"Maaf kalau kali ini aku tidak mengikuti kata-kata kamu."


Dude kemudian pergi begitu saja keluar dari kamar meninggalkan Kinan sendirian.


"Ya, tolong segera buat surat permohonan penahanan. Untuk orang yang bernama Hamzah. Ya, saya akan kirimkan detailnya. Baik, terima kasih."


Dude mematikan panggilan dengan pengacara pribadinya. Kali ini dia benar-benar tidak bisa mengikuti permintaan Kinan untuk tidak melaporkan Hamzah.


"Kamu tidak tahu betapa marahnya aku. Waktu aku dengar dia bilang kamu memeluknya dan wangi parfum kamu menempel di pakaiannya. Demi Allah aku tidak rela, Kinan."


Di dalam kamarnya, Kinan masih memikirkan kata-kata Dude yang akan melaporkan Hamzah. Dia tahu Hamzah bersalah, kelakuan laki-laki itu kali ini sudah keterlaluan.


Malam itu bahkan ketika Dude ada di kamar hotel bersama Kinan. Hamzah masih terus menguntit Kinan. Saat Dude hendak keluar dari kamar hotel. Hamzah mengendap-endap dan Dude tidak sengaja melihat itu.


Akhirnya Dude memutuskan untuk memeriksa CCTV. Dia sangat terkejut karena Hamzah terus menciumi baju yang katanya memiliki aroma parfum Kinan tepat didepan kamar hotel Kinan.


Kalau mengingat itu rasanya Dude ingin membunuh Hamzah dengan tangannya sendiri.


Kinan sendiri tidak habis pikir kenapa Hamzah sampai seperti itu padanya? Padahal Diana sangat tulus menyukainya.


"Maafin gue, Diana, gue nggak bisa menepati janji untuk tidak melaporkan suami lo."


Kinan, ini gue Diana. Gue dah tau semua nya. Semua yang dilakukan oleh suami gue ke lo. Maafin dia Kinan, dia mungkin terobsesi sama lo. Gue juga sakit sebagai istrinya. Tapi gue nggak bisa berbuat banyak. Gue hamil, gue nggak bisa apa-apa tanpa dia. Gue mohon, jangan laporin suami gue ke polisi ya Kinan. Gue harap lo ngerti perasaan gue. Makasih Kinan, gue tahu lo orang baik.



Kinan memutuskan untuk pulang dan tidak menyelesaikan acara yang di adakan rumah sakit. Begitu juga dengan Hamzah. Sejak kejadian itu Diana juga hanya diam saja, tidak banyak berkata-kata dengan Hamzah.


Namun bukan hanya Diana yang diam. Hamzah lebih diam lagi dari sebelumnya. Padahal semula sikap Hamzah perlahan mulai berubah. Tapi, semua itu karena Kinan, pikir Diana.


"Mas. Kenapa kamu diam saja?" tanya Diana.


Bahkan setelah sampai di rumah pun Hamzah tetap mendiamkan Diana.


Diana kembali mengurut dadanya miris. Susah payah dia pelan-pelan mengubah sikap dingin semuanya. Tapi hanya dengan kehadiran Kinan yang tidak disengaja semuanya kembali berantakan.


"Mas, Diana mohon jangan kembali seperti dulu. Mas sudah mulai berubah padaku, kenapa sekarang Mas kembali mendiamkan aku?"


Hamzah menatap Diana dengan sorot mata tajamnya.


"Karena kamu bukan Kinan, Di."


"Kinan? Jadi ini semua karena Kinan?"

__ADS_1


Hamzah diam.


"Jadi karena parfum yang menempel di baju kamu itu Mas? Karena itu parfum Kinan, iya? Astaga Mas, kamu bener-bener sakit jiwa ya!" teriak Diana, dia kali ini tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.


"Ya, mungkin." Hamzah tidak peduli seperti apa kemarahan Diana, yang ada di pikirannya masih tentang Kinan.


"Sini biar aku bakar baju itu! Kamu nggak boleh gini terus Mas Hamzah! Sadar Mas! Kinan nggak mumgkin lagi sama kamu!"


Diana mengambil baju yang sengaja di simpan oleh Hamzah di dalam. tasnya. Hamzah merebut baju itu dengan cepat dan sekuat tenaga. "Kamu nggak boleh mengambilnya Diana!"


"Berikan padaku, Mas Hamzah! Kamu bisa gila kalau seperti ini terus!"


Hamzah tetap tidak mau memberikan baju itu pada Diana. Seolah baju itu adalah Kinan, Hamzah melindunginya.


"Saya sehat, Diana! Saya tidak gila! Saya sadar saya tidak bisa menghapus Kinan dalam hati dan pikiran saya!" teriak Hamzah.


Detik itu Diana merasakan perutnya keram luar biasa.


"Kamu tidak akan bisa menggantikan Kinan di hati saya!"


Diana menangis sambil memegang perutnya. Dia bahkan mengerang kesakitan. "Argh sakit, Mas!"


"Kamu tidak perlu mengurus saya, Di. Percuma kamu berusaha agar saya berubah, saya tidak bisa!"


"Aku sakit Mas, tolong ..." rintihnya. Tapi Hamzah tidak peduli.


"Tolong Mas, jangan begini. Perutku sakit sekali." Diana menjerit. "Sakit Mas Hamzah!"


Barulah saat itu Hamzah tersadar mendengar jeritan Diana. "Diana kamu kenapa? Diana sadar Diana!"


Diana setengah tidak sadar, dia mulai melemah. Dari kedua kakinya mengalir darah. Hamzah panik.


"Diana kamu berdarah Di!"


"Mas, sakit sekali." Diana merintih, tenaganya sudah habis untuk meneriaki Hamzah tadi.


Hamzah langsung menggendong Diana untuk segera membawanya ke rumah sakit.


"Diana kamu bertahan. Saya bawa kamu ke rumah sakit."


Diana menggeleng. "Biarkan saja aku mati, Mas."


"Tidak Diana! Jangan bodoh!"


"Aku memang bodoh karena mencintai kamu."


Diana tersenyum walau sambil meneteskan air mata. Hamzah menatap Diana dengan mata melotot, dia menggeleng mendengar ucapan Diana tentang cinta.


"Jangan cintai saya, Diana."

__ADS_1


"Tapi aku sudah terlanjur mencintaimu, Mas."


Hamzah tidak mendengarkan Diana, dia langsung memasukkan Diana ke dalam mobil. "Jangan banyak bicara, saya akan bawa kamu ke rumah sakit."


__ADS_2