
"Mas. Hari ini Mas janji mengantar aku ke dokter, kan?"
Tatapan itu masih dingin, tidak pernah berubah sedikit pun.
"Apa kamu benar-benar tidak bisa berangkat sendiri? Saya banyak sekali kerjaan."
Diana meringis pilu. "Apa benar karena kerjaan? Atau karena kamu memang enggan mengantarku, Mas?"
Hamzah terdiam, sikapnya yang konsisten itu selama pernikahan dengan Diana, hampir membuat wanita yang tengah mengandung empat bulan itu meradang, tapi ia mencoba untuk bertahan.
"Diam lagi. Aku terkadang lelah, Mas. Sampai kapan rumah tangga kita seperti ini? Apa aku harus menyerah saja dan melepaskan mu. Iya? Apa itu yang kamu mau?" tanya Diana dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.
Helaan napas Hamzah entah pertanda apa. Diana ingin tetap berpikir positif agar bayi kandungannya tidak terpengaruh oleh perasaannya yang sejujurnya sakit, ingin menyerah dengan keadaan suaminya yang tidak pernah menatapnya.
"Saya tidak tahu sampai kapan akan seperti ini. Hati saya belum bisa berubah, Di."
Diana mencengkeram kuat dua telapak tangannya. Lalu dia memberanikan diri menantang tatapan Hamzah. "Lihat aku, Mas! Cukup lihat aku, hanya lihat aku jangan lihat yang lain!" tekannya.
Hamzah mengangkat wajahnya, menatap mata Diana, tapi sorot mata itu malah membuatnya langsung tertunduk. "Maafkan saya, Di. Saya tidak bisa."
Namun tidak berhenti di situ. Diana menggenggam erat telapak tangan Hamzah lalu menempatkannya di bahunya. "Sentuh aku, Mas."
Hamzah membulatkan matanya, dengan tangan gemetar dia menatap Diana lagi. Wanita itu menangis di hadapannya dengan bibir gemetaran. "Sentuh aku, lakukan. Coba sentuh aku dan biarkan aku menjadi istri yang sebenarnya buat kamu, melayani kamu, kumohon."
Ya, selama pernikahan mereka yang memasuki bukan keempat, Hamzah sama sekali tidak pernah menyentuh Diana.
"Aku ingin kamu melakukannya. Apa kurangnya aku untukmu? Bukankah waktu itu kamu juga tergoda oleh ku?"
Tangan Hamzah mencengkeram kuat bahu Diana, tapi kemudian dia lepaskan. "Jangan buat saya semakin tidak menginginkan kamu, Di. "
"Kalau begitu bunuh saja aku Mas! Kamu kira aku kuat seperti ini! Bunuh saja aku dan biarkan aku mati!!"
"Jangan katakan itu, Di. Kamu tidak akan berhasil, apapun yang kamu lakukan. Kalau kamu ingin kita berpisah, saya akan lakukan setelah anak itu lahir. Seperti janji saya pada dua orang tua kamu, untuk menjaga kamu selama kamu hamil.".
Diana menangis, dia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Dia sudah tidak kuat, selama ini dia berusaha menjadi istri yang baik untuk Hamzah, sampai dia tidak pernah membiarkan Hamzah melakukan pekerjaan rumah sedikit pun. Diana selalu meladeni Hamzah untuk urusan sandang dan pangan. Tapi, tidak untuk nafkah batin. Karena mereka tidur pun terpisah, hanya sesekali Hamzah menemani Diana tidur ketika perut Diana terasa keram. Itu pun hanya tidur saja, tidak melakukan apapun.
Diana tidak tahu harus bagaimana lagi cara membangkitkan suaminya. Dia bahkan sudah mencoba memakai pakaian seksi, berpenampilan semenarik mungkin, tapi jangankan menyentuh, menatap Diana saja Hamzah tidak mau.
Sampai akhirnya barang yang dipesan oleh Diana dari internet datang. Walau itu menurunkan harga dirinya sekali pun, Diana akan melakukannya demi bisa membuat suaminya mau menyentuhnya.
Diana meremas bungkusan paket yang baru saja sampai itu. Di dalamnya ada satu botol kecil berisi cairan pembangkit gairah. Hatinya teriris pedih, bahkan untuk suaminya sendiri Diana harus melakukan hal itu. Bagaimana pilunya dia, setiap malam tidur sendiri, padahal dia memiliki suami. Bahkan suaminya tidak mau menatapnya, padahal suami tetangganya saja sering coba menggoda dia, karena dia cantik dan menarik. Diana tidak mau menunjukkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain, karena itu dia memutuskan mengenakan niqab ketika di luar rumah.
"Maafkan aku Mas. Tapi, aku benar-benar tidak sanggup lagi, kenapa kamu seperti orang yang tidak normal. Apa aku begitu menjijikan bagimu?"
Diana menuangkan beberapa tetes cairan dari dalam botol kecil tadi, ke dalam segelas minuman yang akan dia suguhkan kepada Hamzah. Minuman itu sengaja dia suguhkan malam, selepas salat Isya.
__ADS_1
"Mas, silakan di minum." Diana duduk di samping Hamzah dengan pakaian tidurnya. Pakaian tidur yang biasa dia kenakan setiap kali di dekat suaminya.
Seperti biasanya juga, Hamzah menerima apapun yang disuguhkan Diana, tanpa banyak bertanya dan tidak pernah juga menolak untuk meminumnya. Hamzah langsung meneguk habis minuman berwarna merah itu, sejenis sirup stroberi.
Raut wajah Hamzah berubah, dia agak mengerutkan kening, kenapa Diana memberikan dia segelas sirup malam-malam begini, tapi dia hanya membatin. Rasa sirup itu tidak berubah, karena cairan yang di masukkan oleh Diana memang tidak mengubah rasa sama sekali.
"Mas, minumannya enak?" tanya Diana dengan senyum tipisnya. Hamzah hanya mengangguk pelan lalu dia bermaksud berdiri tapi Diana mencegahnya.
"Mas apa boleh kalau Diana minta dipijat bagian kaki? Kaki Diana merasa agak pegal, katanya efek kehamilan yang makin membesar."
Hamzah mengangguk lagi, baginya itu sebagai bentuk perhatian Hamzah, walau hanya sekedar itu, jangan harap Hamzah akan melakukan hal yang lebih. Batinnya.
Diana tersenyum lagi, dia lalu merebahkan tubuhnya ke atas sofa, memposisikan kakinya agar bertumpu ke atas pangkuan Hamzah.
Kaki Diana yang halus dan terbuka, sudah ada di hadapan Hamzah. Aneh, Hamzah merasa aneh saat menyentuh kulit halus Diana, kenapa dia juga merasakan panas, ingin terus menyentuh, bukan memijat, tapi lebih ke mengelus-elus pelan.
Hati Diana bersorak. Dia berharap dan dia yakin apa yang dilakukannya tidaklah salah. Lagi pula mereka pasangan suami-istri, mereka boleh melakukan itu. Pikir Diana.
Hamzah masih mengelus kulit halus Diana, hingga wanita itu mengeluarkan suara-suara pelan serupa *******.
Saat itu Hamzah menatap Diana. "Apa yang kamu berikan padai minuman saya, Di!"
Suara Hamzah agak serak tapi juga seperti marah yang tertahan.
"Mas, kamu kenapa?"
Saat itu waktu baru berjalan sepuluh menit dari jarak Hamzah meminum minuman yang diberikan Diana, tapi dia mulai merasakan panas ditubuhnya.
"Mas, aku tidak ..."
Hamzah langsung bangun saat merasa keanehan itu makin menjadi. Lalu Hamzah masuk ke dalam kamar mandi. Diana menggedor pintu kamar mandi saat Hamzah menutupnya rapat.
"Mas, sebenarnya Mas kenapa?"
Diana tidak menyangka, bahkan obat penyulut gairah pun tidak bekerja pada suaminya.
"Mas, kenapa Mas jadi begini?" tanya Diana lagi masih sambil menggedor pintu kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Hamzah hanya terus mengendalikan diri, dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya tiba-tiba mengeras dan mendesaknya, dia kaget, dia tidak mungkin ingin meniduri Diana begitu saja kan?
"Apa yang Diana masukkan ke minuman saya, ini benar-benar aneh."
"Mas Hamzah, jangan begini Mas. Diana bingung. Ada apa dengan Mas? "
Suara-suara Diana itu malah makin membuat Hamzah tidak dapat mengendalikan dirinya. Hingga dia pun membuka pintu kamar mandi dan melihat Diana ada di depan pintu sambil berdiri menatapnya.
__ADS_1
"Mas? Kamu kenapa?"
Hamzah melangkah satu langkah ke hadapan Diana. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, bibirnya terkatup seperti menahan sesuatu. Giginya agak menggertak hingga napasnya yang memburu tidak dapat dia tutup-tutupi lagi.
Persetan dengan apa yang diberikan Diana, gairahnya tidak dapat dikendalikan lagi saat ereksinya makin menguat ke batas maksimal.
Hamzah meraih tubuh Diana, memeluknya, menciumi ceruk lehernya. Diana terkejut, walau dia tau semua itu karena efek obat tapi dia sempat mengira suaminya bahkan tidak terpancing.
"Mas ..."
"Kamu yang melakukannya kan? Jadi, jangan larang saya."
Diana hanya bisa diam menerima sentuhan Hamzah yang mendominasi. Bibirnya tidak berhenti dicium habis hingga bagian tubuh lainnya. Seolah tidak terkontrol lagi, mereka pun melakukannya tanpa segan satu sama lain. Diana bahagia, walau itu disebabkan obat, tapi dia merindukan sentuhan itu.
Semalaman penuh Hamzah melakukannya pada Diana. Bahkan tanpa sadar ketika Diana terpejam, Hamzah seolah membabi buta. Diana lemah tidak berdaya dengan tubuh rapuhnya. Tapi, memang itu yang dia harapkan. Paginya, Hamzah masih terkulai lesu di atas tempat tidur. Hamzah masih terpejam nyenyak. Sementara Diana sudah rapi dan baru saja selesai membuat sarapan untuk suaminya.
"Mas, bangun yuk. Aku sudah buatkan sarapan untuk Mas."
Suara lembut Diana membuat jantung Hamzah berdegup kencang, dia lantas bangun menegakkan tubuhnya. Hamzah mengusap kasar wajahnya dengan seribu penyesalan atas apa yang dia lakukan semalam pada Diana.
"Saya tahu kamu yang sengaja memberikan saya obat. Iya, kan, Di?"
"Maksud Mas Hamzah apa?" jawab Diana masih berusaha menyembunyikan semuanya. Tapi, apakah setelah ini Hamzah akan marah?
"Mengaku saja Diana." Hamzah memijat kepalanya, dia sadar sepenuhnya yang dia lakukan semalam.
Di depannya, Diana hanya bisa meremas jari-jari, merasa bingung apakah dia harus mengakuinya atau tidak.
Kemudian Hamzah beranjak langsung ke kamar mandi. Diana duduk di tepi ranjang sambil berdiam diri. Sepertinya Hamzah benar-benar akan lebih mendiamkannya lagi setelah ini.
Tidak lama kemudian, Hamzah kelaur dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Lalu membuka lemari dan berpakaian.
Diana masih duduk di tepi ranjang sambil tertunduk. "Maafkan aku Mas."
Hamzah tidak menjawab. Dia lalu pergi ke meja makan.
Diana makin pedih melihat sikap Apatis Hamzah padanya.
Beberapa detik setelah itu, Hamzah masuk lagi ke dalam kamar. Dia menarik tangan Diana. Hingga Diana kebingungan. "Mas mau apa?"
"Kita sarapan."
Diana tercengang dengan ucapan Hamzah itu. Apakah baru saja suaminya itu mengajaknya sarapan bersama?
__ADS_1
..._______...
...Semoga Terhibur. 🧡...