
Wajahnya pucat. Tatapan matanya kosong. Diana hanya berbaring di atas tempat tidur. Di kamarnya. Dia sudah sampai di rumah orang tuanya.
Air mata mengaliri pipinya tanpa bisa dicegah. Rasa sakit setelah kehilangan bayi yang tidak berdosa, bayi yang pernah hidup di rahimnya, seolah tidak akan pernah habis menjadi sebuah penyesalan.
Kenapa? Kenapa harus bayinya? Untuk apa dia selamat? Kenapa dia tidak ikut mati saja?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hilang dalam otaknya. Diana menatap sepiring apel merah di atas lemari rias nya. Di sebelah piring itu ada sebilah pisau buah. Tangannya gemeteran, tapi dia ingin sekali bisa menyusul bayinya.
"Mama akan bersama kamu, Nak."
Diana tersenyum. Dia mengambil pisau itu dan memandangi nya penuh arti. Air mata masih mengalir, bahkan sekarang makin deras.
Pelan-pelan Diana menempelkan pisau yang lumayan tajam itu ke nadinya. Semula itu yang dia takut kan. Diana takut melukai dirinya sendiri. Diana takut mati. Tapi seakan-akan ketakutan itu sudah ikut mati bersama janin yang hilang dari rahimnya.
Diana mengiris nadinya dan tak lama kemudian dia lunglai menatap buram seluruh ruangan kamar hingga tidak terdengar apapun lagi. Darah bercucuran mengenai seprai putih di ranjangnya. Mamanya menjerit melihat putrinya tidak sadarkan diri dengan darah yang menetes hingga ke lantai.
"Dianaaaaa!!!!"
...***...
"Apa Mas? Jadi Diana dan Hamzah berpisah?"
"Ya sayang, katanya istrinya mengalami keguguran."
"Astaghfirullah." Kinan tidak kuasa hingga menangis miris membayangkan apa yang sedang di alami oleh temannya, Diana.
"Jahat banget kamu Mas Hamzah, padahal Diana sampai memohon ke aku, agar aku tidak memenjarakan Mas Hamzah." Kata Kinan.
"Aku sudah memutuskan akan tetap memenjarakan Hamzah, Sayang. Semoga kali ini kamu tidak melarang." Dude mengusap lembut sebelah pipi Kinan sambil sibuk menghubungi pengacaranya.
Kinan menunggu sampai Dude selesai menelepon. Dia memang tidak akan melarang suaminya lagi sekarang. Yang di beratkan oleh Kinan selama ini adalah Diana dan bayinya. Tapi Hamzah sudah keterlaluan. Untuk alasan apa lagi Kinan membela Hamzah?
Kinan mengikuti suaminya yang sedang serius menelepon. Dia menunggu tidak sabar ingin tahu perkembangan tentang Diana.
Sampai akhirnya raut wajah Dude berubah.
"Innalillahi! Di rumah sakit mana!"
Jantung Kinan berdegup kuat melihat suaminya menyebut rumah sakit. Siapa yang sakit?
__ADS_1
"Oke. Saya dan istri saya akan ke rumah sakit."
Setelah Dude menutup telepon itu. Kinan langsung memegang tangan suaminya, menatap dengan tanya.
"Siapa yang masuk rumah sakit Mas?"
Dude memeluk Kinan erat. "Diana melakukan percobaan bunuh diri, Sayang."
"Astaghfirullah. Ya Allah Diana!" Kinan mendadak lemas, dia menangis di pelukan suaminya.
"Tapi sekarang Diana sudah ditangani di rumah sakit. Kamu mau kan menemani aku ke rumah sakit?"
"Mau Mas. Kinan mau melihat keadaan Diana." Kinan masih shock dia benar-benar tidak menyangka Diana sampai putus asa begitu. Terlebih lagi Dude, dia sudah pernah menghadapi adiknya yang depresi karena perbuatan laki-laki.
Melihat Diana seperti itu membuat Dude seolah terbawa ke masa lalu lagi. Ingatan tentang Hana pun muncul lagi.
Kinan dan Dude akhirnya sampai di rumah sakit tempat Diana dirawat.
Ketika itu Kinan tidak tahu harus berkata apa. Dengan mata yang basah dia menggandeng suaminya menuju ruangan Diana.
Kinan memang belum pernah bertemu dengan orang tua Diana. Sebab dulu hubungan pertemanannya dengan Diana hanya sebatas rekan kerja yang cukup dekat. Kinan tidak pernah berkunjung ke rumah Diana, begitu pun sebaliknya.
"Assalamualaikum. Ibu, saya teman Diana. saya benar-benar sedih liat Diana." Kata Kinan.
Ibu Diana padahal belum pernah bertemu Kinan, tapi dia langsung memeluk Kinan. "Kamu Kinan yang diceritakan oleh Diana ya, Nak?"
Kinan mengangguk, dia menggetarkan pelukan ibu Diana. Umur Ibu Diana kira-kira sama seperti ibunya, Halimah.
Dude juga menyalami ayah Diana. Mereka benar-benar sangat bersedih dan terpukul.
"Kenapa Diana bisa sampai melakukan itu, Bu?" tanya Kinan sambil sesekali menyeka air matanya. Dude menghela napas, dia mengambil sapu tangan, lalu menghapus air mata Kinan.
Ibu Diana masih sesenggukan seolah kesulitan menjelaskan semuanya.
"Begini, Nak Kinan dan Nak Dude. Diana mengambil pisau buah, lalu tiba-tiba mengiris nadinya. Sehingga dia sampai ada di sini," tutur ayah Diana. Laki-laki tua itu juga menangis.
Kinan ikut menangis. Separah itu luka yang ditorehkan Hamzah. Detik itu juga Kinan menggenggam tangan suaminya. Kinan menatap mata Dude, seolah tahu maksud Kinan. Dude mengangguk.
__ADS_1
"Saya akan meminta pengacara saya untuk memenjarakan Hamzah."
Bapak dan Ibu Diana terkejut mendengar ucapan Dude.
"Apa benar Nak Dude bisa?" tanya Ayah Diana semangat. "Anak saya sudah bersabar sampai dia nyaris tidak dapat di selamatkan, Nak."
"Kita juga salah karena membebaskan Diana. Tapi kita sebagai orang tua tidak menyangka bahwa Diana akan disakiti sampai seperti ini, Nak."
Kinan tertunduk. Dia merasa bersalah. Sebab perbuatan Hamzah itu bermula karena Hamzah menyimpan rasa untuknya.
"Maafkan saya ya, Bu. Ini semua salah saya." Kinan mengangkat wajahnya pelan-pelan. Dia menatap satu persatu wajah Ayah dan Ibu Diana.
"Karena Hamzah terobsesi dengan saya. Dia akhirnya ..."
Dude meremas pelan jari-jari Kinan. Dia tidak mau istrinya menyalahkan diri sendiri.
"Ini bukan salah kamu." Dude menatap mata Kinan. "Hamzah memang bukan laki-laki baik. Dia sudah cukup diberikan kesempatan. Tapi, dia mengulangi lagi kesalahan dengan lebih buruk. Dia tidak benar-benar sadar."
Kinan mengatur napasnya sendiri. Dia sejak tadi tidak berhenti merasa bersalah pada Diana. Tapi dia juga memang tidak berniat menggoda Hamzah sama sekali. Bahkan karena Diana juga, Kinan berusaha untuk bersikap biasa saja pada Hamzah. Ternyata semuanya tetap saja berakhir menyedihkan. Diana sampai kehilangan anaknya, dan sekarang hampir mengakhiri hidupnya sendiri.
"Nak Kinan jangan menyalahkan diri sendiri." Kata Ibu Diana.
"Benar, ini semua bukan kesalahan Nak Kinan." Ayah Diana ikut berkomentar. "Memang Hamzah yang keterlaluan. Padahal Diana tulus mencintainya."
...**...
Saat ini Kinan berada di hadapan Diana yang belum sadarkan diri. Wajahnya sangat pucat. Bagian pergelangan tangannya sudah dibalut oleh perban yang cukup tebal. Kalau saja tidak segera di bawa ke rumah sakit. Terlambat sedikit saja, Diana tidak akan selamat.
Kinan menyentuh kening Diana pelan. Hatinya merasa teriris. Betapa hancurnya hati dan perasaan Diana diperlakukan tidak adil oleh orang yang dia cintai.
"Diana sadar. Lo berharga."
"Diana. Lo nggak boleh melakukan itu lagi."
Air mata Kinan menetes membanjiri pipinya. Dia masih ingat saat Diana berkata ingin menjadi istri yang baik untuk Hamzah.
Kinan benar-benar marah. "Gue akan cari keadilan buat lo, Di."
..._____...
__ADS_1
...Menurut bunda, Hamzah sebaiknya di penjara apa gak nih bund? komen ya. ...