Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
041 : Saya Sayang Kamu


__ADS_3

Malam itu cahaya kamar dibuat temaram, tidak gelap tapi juga tidak terang benderang. Kinan membuka matanya perlahan, disampingnya sudah terlelap pria berhidung mancung dengan bulu mata lentiknya. Kinan ingin mengusapnya, tapi dia cemas akan membuat wajah itu terbangun dari tidur.


"Pasti dia lelah."


Kejadian tadi tidak akan pernah Kinan lupakan seumur hidupnya. Pertama kali dia merasakan tubuhnya kaku, jujur terasa amat sakit, seperti ada robekan yang membuatnya ingin meringis, hanya ingin, karena dia tidak sampai benar-benar meringis, dia takut itu merusak konsentrasi suaminya yang mulai stabil.


Setelah percobaan ketiga. Ya, sebab yang pertama dan kedua gagal. Dude tidak berhasil membangun rasa percaya diri melakukannya, menggauli Kinan. Mereka memutuskan rehat sejenak, saling menyentuh ringan, berharap konsentrasi itu kembali. Dude hampir putus asa dan agak terlihat frustrasi dengan dirinya, tapi Kinan tidak menyerah. Pikir Kinan hal itu tidak boleh dia biarkan terus, semua akan berlarut-larut jika terus didiamkan.


Mas pasti bisa, Mas. Tenanglah, jangan terburu-buru, aku akan selalu bersama Mas, menemani di sini, tidak peduli waktu berjalan, kita bisa berhenti sebentar dan mengulanginya lagi sampai Mas siap melakukannya.


Dude menghela napas panjang, menatap Kinan dengan wajah yang lemas, bukan karena lelah bercumbu, tapi ada gurat kecemasan yang begitu besar. Beruntung, Kinan begitu sabar, hingga Dude tidak menyerah lagi seperti waktu yang lalu.


Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


Malam itu pun akhirnya terjadi, segala yang mereka berdua upayakan, berharap sebuah kebaikan datang pada rumah tangga mereka. Kinan, meski merasa kesakitan, dia sekuat tenaga menahan rasa itu. Saat suaminya bertanya; 'Apakah sakit?' Kinan secepatnya menggeleng dan menjawab; Tidak sama sekali. InsyaAllah.



...Pagi ini saya melihatnya tersenyum. Padahal saya yakin dia tidak merasa nyaman karena semalam. Dude ~...


...***...


"Ini kopinya, Mas." Kinan menaruh secangkir kopi tanpa gula, seperti biasa itu adalah kopi favorit Dude.


Dude duduk di sebelah Kinan, wanita itu tersenyum lebar tapi wajahnya agak pucat, duduknya pun tidak terlihat nyaman. Dude kemudian meremas jari-jari Kinan dengan lembut, menatap mata Kinan yang agak sayu seperti kurang tidur. "Kamu baik-baik saja, Ki?"


"Ya, memangnya aku kenapa, Mas?" jawab Kinan, dia kira dia begitu lihai menutupi semuanya dari Dude, padahal itu tidak benar sama sekali karena Dude bisa melihatnya cukup jelas.


"Maafkan saya, ya. Pasti semalam rasanya sakit."


"Tidak, kok." Kinan menggeleng. "Mas jangan memikirkan itu, Kinan bahagia."


Masih menghela napas berat, Dude lalu memeluk Kinan. "Terima kasih ya, dan juga maafkan saya kalau saya menyakiti kamu."


Kinan tersenyum, tapi kali ini dia agak tertawa pelan. Menurutnya, Dude sangat menggemaskan, kalau dia hitung entah susah berapa kali Dude mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Mungkin sekitar dua puluh kali terhitung dari semalam sampai pagi.


"Kamu kok ketawa?" tanya Dude sambil mengerutkan keningnya heran.


"Enggak, cuman lucu aja."


"Apanya yang lucu?" tanya Dude kembali, dia mengusap pelan pipi Kinan yang bersemu. "Pipi kamu sampai merah begini. Lucu ya liat saya cemas?"


Kinan makin tidak dapat menahan tawanya. "Maaf, Mas. Tapi serius Mas ngegemesin, lucu aja."


"Astaghfirullah, Ki, saya sampai sekarang belum tenang lho," ujar Dude lalu mencubit pelan pipi Kinan. "Kok kamunya malah nyantai banget?"

__ADS_1


"Emang apa yang harus di cemaskan, Mas? Everything okey? Aku bahagia aku merasa jauh lebih lega, aku menikmati prosesnya, dan pelan-pelan trauma itu akan benar-benar hilang, aku yakin."


Dude menghela napas lagi. "Kenapa lagi, Mas? Udah jangan kepikiran terus, nanti jadi Kinan yang trauma, gimana? Mau?" ucap Kinan menakut-nakuti Dude.


"Jangan, Ki. Ya Allah, saya aja, kamu jangan." Dude segera menggeleng. Kinan malah tertawa.


"Ya udah, hari ini Kinan izin, tadi mau masuk kerja, cuman..."


"Cuman kenapa?"


"Ini kaki Kinan, eh, bukan—duh gimana bilangnya, ya." Kinan menyengir. Dude mengerutkan kening.


"Kenapa?" tanya Dude makin penasaran.


"Tapi, janji jangan minta maaf atau bilang terima kasih lagi, ya. Nanti aku ketawa lagi," ujar Kinan. Dude malah ikut tertawa.


"Emangnya kamu kenapa?"


"Ini aku merasa agak ngilu, perih, gimana ya..."


"Astaga." Dude meringis sendiri. "Tuh, saya juga bilang apa, pasti kamu berbohong bilang tidak apa-apa. Nyatanya sakit, kan?"


"Bukan sakit, Mas. Hanya agak perih aja." Kinan masih menyangkal.


"Hayo, mau bilang maaf lagi? Sekali lagi Mas bilang maaf dapat doorprize lho."


Dude langsung mencubit gemas pipi Kinan. "Saya tebus rasa sakit kamu, ya."


Kinan agak berpikir, tebusan apa yang dipikirkan Dude?


"Gimana nebusnya Mas? Udah nggak usah ditebus kayak kupon berhadiah aja ditebus." Kinan malah bercanda, tapi itu berhasil merenggangkan otot wajah Dude yang sempat kaku.


"Saya sedang serius lho. Saya benar-benar akan menebusnya dengan suatu kebaikan."


"Kebaikan?" Kinan berpikir lagi, tidak disangka suaminya itu sangat penuh dengan kejutan.


"Ya, saya akan menggendong kamu seharian, kemana pun kamu mau pergi. Entah itu ke toilet, ke dapur, atau ke taman sekali pun."


Kinan terkejut, matanya membulat, hanya untuk beberapa detik sebelum dia tertawa lepas. "Ya Allah, Mas! Apa Mas bilang? Gendong aku? Seharian?" ulang Kinan merasa itu sangat lucu dan menggemaskan.


"Kamu tidak percaya saya sanggup melakukannya?"


Kinan langsung menutup mulutnya seketika. "Mas seriusan? Ya ampun Mas! Nggak usah ih, aku kan berat. Ya masa aku liat Mas gendong aku terus seharian? Nggak mau, Mas. Itu namanya aku ngerepotin Mas Dude," geleng nya menolak tegas.


Dude mengapit dua pipi Kinan, menggembungkan nya dengan gemas. "Enggak, kamu enteng, yang berat itu apa ya?"

__ADS_1


Bibir Kinan mengerucut saat Dude seolah tidak mengizinkan Kinan menyela omongannya. "Yang berat itu perasaan suka saya ke kamu."


Deg.


Sekarang mata Kinan makin membulat mendengar perkataan Dude itu.


"Jadi? Kamu mau ke mana setelah sarapan ini? Saya akan gendong kamu."


Kinan malah terdiam, dia terngiang ucapan Dude yang berkata suka padanya tadi.


"Kinan Adelia? Kenapa kamu malah bengong?"


Kini tangan Dude sudah melepaskan pipi Kinan. Wanita itu masih saja terbengong sendirian.


"Ki?"


Kinan mengerjap, dia menatap Dude dengan perasaan berdebar-debar. "Mas bilang suka sama aku kan barusan?"


Dude dengan santainya mengiyakan. "Iya saya suka sama kamu, Ki. Kamu istri saya, jadi saya menikahi kamu, sudah pasti karena saya menyukai kamu."


Jadi Dude menyukainya, padahal Kinan mengira itu hanya belas kasihan saja. "Beneran?"


Sekarang bibir Kinan malah mencebik dan agak bergetar. Matanya juga mulai berkaca-kaca.


"Hei, kok kamu malah cemberut? Terus ini kenapa? Kamu malah nangis?" tegur Dude sambil mengusap ujung mata Kinan.


"Kinan nggak menyangka kalau Mas Dude menyukai Kinan."


"Apa?" Dude malah heran. Mungkin saja budaya dia yang masih terbawa budaya barat, bebas mengutarakan perasaan dan lebih blak-blakan. Dia lupa, ini Indonesia, dan istrinya asli Indonesia.


"Jadi, Mas juga menyukai aku?"


Dude terkekeh. "Iya, apa saya perlu bersumpah?"


"Enggak, nggak usah sumpah, kan nggak boleh dalam agama," geleng Kinan.


"Oke kalau saya sekarang bilang ke kamu gini, kamu percaya nggak ya?"


"Bilang apa?"


"Hm, Kinan, saya sayang kamu."


..._____...


...Senyum kan? Ngaku deh 😅😛...

__ADS_1


__ADS_2