Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
08 : Rasa Yang Salah


__ADS_3

Kinan memilih keluar rumah untuk mencari udara segar dan membiarkan Rey juga papanya menangani Raihana. Sejujurnya Kinan juga sangat shock, pantas saja Dude terlihat seperti tidak memiliki istri. Rupanya istri Dude sedang sakit, pikir Kinan.


Napas Kinan masih terengah-engah. Saat itu tiba-tiba saja Dude muncul membuatnya kaget.


"Suster."


"Astaghfirullah." Kinan menyentuh dadanya sambil melebarkan mata. "Mas Dude." 


"Suster. Maaf saya bikin kaget, ya?" ujar Dude dengan sudut bibir sedikit terangkat meski agak pucat.


Kinan menggeleng. "Enggak. Maaf saya keluar karena tadi ...." putus Kinan tidak enak jika mengatakan dia sangat terkejut dengan keadaan mama Rey.


"Maaf, ya, jadi bikin Suster nggak nyaman." Dude memutus kata-kata Kinan. "Hana sakit," imbuhnya.


"Iya, nggak kok. Bu Hana sakit apa, Mas?"


Dude menghela napas panjang. "Kata dokter dia mengalami gangguan kecemasan karena sebuah trauma. Sekarang juga masih parah. Hana menderita depresi mayor, sehingga dia ketergantungan obat, saya hanya tidak tega dengan Rey," terangnya. Tapi kemudian dia menatap Kinan sekilas. "Maaf, seharusnya saya tidak seterbuka ini, maaf membuat suster tidak nyaman," tambahnya.


"Trauma?" Kinan mengernyit. "Karena apa? Ah, maksud saya, tidak apa-apa, Mas. Saya juga tidak tega dengan Rey dan mama Rey," jawab Kinan.


Dude menggaruk sebelah alisnya. Ragu ingin menceritakannya pada Kinan atau tidak. "Emmm...."


"Ah, maaf Mas. Kalau saya jadi ingin tahu, tapi kalau memang Mas nggak mau cerita nggak apa-apa, jangan di paksakan."


"Ceritanya panjang. Intinya Hana seperti itu sejak dia mengandung Raihan. Beruntung Raihan selamat. Meskipun dia harus lahir prematur."


Kinan hanya mendengarkan penjelasan Dude. "Jadi, Raihan lahir prematur?"


Dude mengangguk. "Kejiwaan Hana masih belum sepenuhnya sehat kembali. Sehingga dia harus sering melakukan kontrol. Jadi begitu ceritanya, kenapa saya sangat mencemaskan keadaan Raihan. Anak itu sejak kecil sering sakit, karena dia terlahir prematur."


Mendengar itu membuat Kinan semakin tidak tega dengan Raihan. "Baik, Mas. Saya sekarang udah sedikit paham. Terima kasih karena Mas mau cerita." Kinan tersenyum tipis. Walau dalam pikirannya bersarang banyak pertanyaan. Kenapa itu bisa terjadi? Kenapa istri Mas Dude bisa sampai mengalami trauma? Bukankah hidupnya nyaris sempurna memiliki suami seperti Dude Danuarta?


"Tentu, Suster 'kan Suster yang menjaga Raihan. Saya memberitahukan ini pada suster agar suster mengetahui kondisi anak saya." Dude membalas senyuman Kinan. Tapi Kinan kembali menundukkan pandangan.


Dude tertawa kecil. "Suster saya boleh tanya satu hal?"


Kinan mengangkat wajahnya. "Boleh," jawabnya.


"Suster kenapa selalu menunduk setiap kali saya menatap suster? Apa karena wajah saya jelek?" tanya Dude spontan. Kinan langsung menggeleng. Mana mungkin, demi apapun tidak mungkin Kinan menganggap wajah itu jelek, dia adalah laki-laki paling tampan yang pernah Kinan lihat setelah ayahnya.


"Astaghfirullah. Enggak kok, Mas. Mana mungkin, bukan karena itu. Saya nggak ada apa-apa kok," jawab Kinan gugup. Mana mungkin Dude jelek, sudah jelas setiap yang memandang akan mengatakan Dude adalah pria yang tampan. Batin Kinan.


Dude terkekeh. "Oh. Kirain karena saya jelek, Suster." Pria itu selalu santai dalam hal apapun, kecuali saat berhadapan dengan wanita bernama Raihana. Dude langsung kalut, dan terlihat sangat cemas, wajar, Hana adalah istrinya, monolog Kinan dalam hati.


"Ya ampun, Mas. Kita nggak boleh menilai jelek fisik seseorang. Siapapun itu," terang Kinan sambil melirik sekilas pria berwajah oriental itu.


Pria itu hanya mengangguk-angguk. "Suster benar. Kita tidak boleh begitu, ya. Maaf, ya."

__ADS_1


Keduanya hanya sesekali saling melempar pandangan. Selanjutnya Kinan terlihat sangat gugup, ia teringat saat ini yang ada di sebelahnya itu adalah suami orang lain. Lalu ada hati yang harus dia jaga, dia sekarang adalah pinangan pria bernama Hamzah.


"Maaf, apa ada yang bisa saya lakukan untuk Raihan? Jam kerja saya masih ada," ucap Kinan.


"Jam kerja?" balas Dude kembali tergelak. Dia menggeleng lagi.


Kinan terpaku dengan tawa renyah pria itu. Dude, kenapa dia terlalu menghipnotis Kinan?


"Aduh Suster terlalu formal. Santai saja, kalau Suster udah mau pulang, Suster boleh pulang, kok."


"Mana boleh begitu, Mas." Kinan menggeleng.


"Serius. Nggak apa-apa. Saya minta suster untuk menjadi perawat Raihan karena Raihan menyukai Suster. Sekarang Raihan sedang bersama mamanya. Kalau Suster mau pulang, biar saya antar. Kalau Suster mengizinkan."


Kinan menggeleng. "Saya nggak mungkin dianterin Mas."


"Kenapa?" balas Dude heran.


"Apa calon suami Suster marah?" tanya Dude.


"Bu-bukan gitu, tapi emang nggak boleh, Mas." Kinan malah kikuk.


"Hmm.... Gitu, ya. Saya memang belum terlalu paham dengan wanita seperti suster Kinan, tapi sejujurnya saya selalu penasaran."


"Penasaran?" tanya Kinan.


"Bukan menutup diri, kok, Mas. Hanya saja menjaga diri," dijawab oleh Kinan dengan tetap menundukkan pandangan.


"Hm, benar juga, laki-laki sering menjadi ancaman. Tapi, saya tidak ada niat buruk dengan suster," balas Dude.


Kinan mengangguk pelan. "Saya tahu, Mas. Tapi, sebaiknya saya pulang sendiri saja."


"Saya hanya ingin memastikan suster sampai dengan selamat," jawab Dude lagi, membuat Kinan membisu seketika.


Tentu saja yang dimaksud Kinan bukan tentang Kinan. Tetapi ini semua tentang status Dude yang memiliki istri.


"Ah, itu.."


Dude menggaruk keningnya. "Tapi nggak apa-apa. Saya paham. Kata Rey wanita dan laki-laki tidak boleh pergi berduaan. Bukannya begitu, Suster?"


Senyuman Kinan mengembang manis. Dude ikut tersenyum. Kinan mengalihkan pandangannya. Kenapa sekarang keduanya malah jadi saling tersenyum.


"Iya, Raihan benar. Karena itu juga sebaiknya saya nggak di antar sama Mas Dude. Waktu kemarin saya mau di antar karena menurut saya itu urgent."


"Oh gitu," angguk Dude. Entah kenapa Kinan ingin tertawa terus saat melihat Dude berbicara.


"Saya suka kalau lihat suster tersenyum." Dude begitu leluasa berkomentar. Padahal jelas-jelas Kinan sudah memiliki calon suami. Ah, begitulah Dude, selalu dengan mudah mengatakan apapun. Tidak seperti Kinan yang seolah kelu jika berhadapan dengan Dude.

__ADS_1


Kinan membulatkan matanya lalu tersipu. Ya Allah dia ngomong apa barusan, batinnya.


...****...


Hari ini Kinan kembali merasakan perasaan yang aneh. Meski sudah mengetahui bahwa Dude telah memiliki istri. Kinan masih memiliki perasaan itu, perasaan mengangumi pria yang bernama Dude Danuarta yang dia kira awalnya adalah seorang duda.


"Ya Allah, ampuni hamba," ucap Kinan sambil mengelus dadanya.


"Ki, kamu nggak makan malam?" tanya Halimah.


"Ibu. Kinan belum laper," geleng Kinan.


"Kamu lagi mikirin apa sih? Kok Ibu lihat dari tadi kamu banyak melamun?"


Kinan menggeleng lagi. "Enggak kok. Kinan cuma agak capek aja. Tadi dijalan macet banget," jawab gadis itu tidak ingin ibunya berpikir yang tidak-tidak.


Halimah duduk di tepi ranjang di samping anak perempuannya. "Ki. Tadi dokter Hamzah telepon. Dia bilang kamu kapan siap untuk fitting baju pengantin?"


"Secepat itu, ya, Bu." Kinan menjawabnya lesu. "Kinan belum mau buru-buru,"


"Loh... Gimana maksudnya, Ki? Kamu sama dokter Hamzah kan enggak pacaran. Jangan ditunda-tunda pendekatannya, takut ada setan lewat, nanti tergoda," jawab Ibunya.


Kinan menghela napas berat. "Baik, Bu. InsyaAllah minggu ini Kinan akan luangkan waktu khusus untuk itu," jawabnya yang tidak bisa menolak permintaan istrinya.


"Gitu, dong, Sayang. Ibu tahu, godaan orang mau menikah itu berat, Ki."


Ucapan ibunya menyadarkan Kinan, mungkin saja apa yang dia rasakan sekarang terhadap Dude adalah godaan dia yang mau menikah dengan dokter Hamzah.


Seharusnya Kinan bisa lebih berhati-hati. Ini sudah amat keterlaluan, apalagi Dude sudah memiliki istri. Kinan merasa sangat bersalah terhadap diri sendiri, ibunya, dokter Hamzah, terutama terhadap Allah.


"Bu, pernikahan Kinan sebaiknya dipercepat, bisa?"


"Wah, Masya Allah, beneran, Ki?"


"Iya, Bu."


Semoga pilihan Kinan ini tepat, biar bagaimana pun Kinan harus segera mengakhiri perasaan yang tidak boleh dia miliki.


"Bisa, Sayang. Nanti biar Ibu yang bicara dengan keluarga besar dokter Hamzah. Terima kasih, Ki. Kamu memang anak ibu yang paling baik,"


Halimah memeluk putrinya. Kinan tanpa sadar meneteskan air mata. Dia sekuat tenaga menghapus bayang-bayang pria bernama Dude Danuarta dari pelupuk matanya. Dia mengerjap berulang kali, ingin senyuman itu hilang dari ingatannya. "Astaghfirullah," gumamnya pelan.


... ______ ...


...maaf kalau ada typo ya. ...


...TBC... ...

__ADS_1


__ADS_2