
Jangan lupa kasih semangat aku dengan like dan komen kalian ya. Makasih banyak and Happy reading! 🍒
...***...
"Mama, hari ini Rey sengaja datang bawa seseorang, dia baik banget sama Rey. Dia ini guru baru di sekolah. Mama kenalan ya? Namanya pak Tian, guru BK di sekolah. Dia mau ikut liat kondisi Mama," ucap Rey lalu menatap guru yang bernama Pak Tian, guru BK yang belum lama ini sering dikunjungi oleh Rey karena Rey yang curhat tentang ibunya.
"Assalamu'alaikum, Ibu Hana. Kenalkan, saya Bastian, guru BK di sekolah Reyhan."
Hana tidak menatap Bastian, dia hanya mau menatap Rey, tapi itu adalah kemajuan yang luar biasa bagi Hana.
"Pak Tian, Mama baru saja mau menatap Rey, tapi Mama belum mau menatap orang lain, bahkan mbah uti dan mbak tung aja nggak ditatap sama mama," komen Rey saat melihat Bastian yang didiamkan saja oleh Hana.
"Tidak apa-apa, Rey. Mama kamu sedang bahagia menatap anaknya, menatap wajah kamu. Rey harus tetap semangat, jaga mama Hana sampai mama Hana sembuh," sahut Bastian sambil mengusap puncak kepala Rey pelan.
"Pasti, Pak. Terima kasih juga karena Bapak mau menemani Rey jenguk Mama. Padahal teman-teman Rey semua meledek. Rey tidak masalah diledek oleh teman-teman, tapi Rey tidak terima kalau mereka meledek Mama, Pak."
Bastian tersenyum lagi, sambil menganggukkan kepalanya. "Bapak mengerti. Jangan dimasukkan ke hati setiap ucapan teman-teman kamu. Mama Rey tetap prioritas, Rey sekolah supaya jadi anak cerdas agar bisa membanggakan mama kan?"
Rey mengangguk cepat. "Iya, Pak."
Hana masih diam sambil menatap Rey, dia belum mau menoleh barang sedikit pun.
"Rey." Hana memanggil Rey, mendengar suara Hana memanggil anaknya membuat Bastian merinding sekaligus terpaku.
"Rey, Mama mau pulang."
Reyhan terkejut, sangat terkejut. Pertama kalinya Rey mendengar mamanya mengajaknya berbicara, bahkan mengajukan sebuah permintaan.
"Mama mau pulang? Mama bilang sama Rey mau pulang?"
"Ya, Rey. Pulang. Mama pulang bersama Rey." Hana mengulang kata-katanya. Lalu Hana mulai menoleh, menatap Bastian, guru BK yang datang bersama Reyhan.
"Salam kenal Pak Guru."
Rey dan Bastian sama-sama terkejut, bahkan Hana tersenyum saat mengatakan itu.
"Mama udah sembuh! Rey yakin Mama udah sembuh! Alhamdulillah, ucap Alhamdulillah, Mah! Ya Allah ...." Rey langsung memeluk Hana.
"Alhamdulillah," ucap Hana.
Rey masih tidak menyangka mamanya sudah jauh berkembang. Sementara Bastian terpaku menatap senyuman Hana, dia merasa wanita itu bukan hanya kuat, tegar, tapi Hana juga sangat cantik dan mempesona.
"Rey akan bilang papa Dude ya, Ma!"
__ADS_1
Hana menggeleng. "Jangan, biarkan papa Dude bersama istrinya."
"Mama inget istri papa? Tante Kinan?"
"Ya, maafkan Mama, Rey." Hana menangis, lalu menyeka lagi air matanya. "Maaf Pak Guru, saya membuat Rey malu dan bermasalah di sekolah. Saya dengar Rey cerita kemarin. Saya ingin menguatkan anak saya, tapi saya belum yakin saya bisa. Terima kasih kedatangan bapak membuat saya lega, karena Rey di sekolah tidak sendirian," tuturnya dengan pelafalan yang sangat jelas, dan mimik wajah yang pas. Reyhan masih sangat takjub, seolah ini adalah keajaiban yang luar biasa dari Allah yang terjadi pada Hana.
Bastian tersenyum. "Saya yang berterima kasih pada Rey, karena Rey mau mengajak saya ke sini. Saya juga sangat beruntung bisa berkenalan dengan Ibu Hana."
...***...
Pagi ini, Kinan bangun dengan perasaan lega dan bahagia. Dia mungkin agak kaget mendengar tentang trauma yang dialami suaminya. Tapi, Kinan sadar dia menikah dengan Dude, bukan hanya untuk menerima kelebihannya, tapi juga kekurangannya dan semua kelemahannya. Kinan juga sadar dia juga memiliki banyak kekurangan, mulai dari sering overthinking, sensitif dan terkadang bersikap emosional.
Walaupun Kinan selalu menelepon ibunya setiap hari, tapi Kinan tidak mau menceritakan masalah rumah tangganya. Setiap rumah tangga pasti akan menghadapi ujian, Ki.
Ucapan ibunya itu membuat Kinan sadar, dia harus tetap kuat menerima semua takdir dari Allah. Kinan yakin sebentar lagi Mas Dude akan segera pulih.
"Ki, kamu udah mau berangkat ke rumah sakit?"
"Iya Mas. Hari ini pasien di ruang mawar akan menjalani pengobatan pertamanya, dia mau latihan jalan."
"Latihan jalan? Dia emangnya kenapa, Ki?" tanya Dude penasaran.
"Dia lumpuh, Mas."
"Masih kecil, Mas. Baru enam tahun, namanya Luciana, dipanggil Lucy. Tapi dia kuat banget, dia juga bisa mengetahui perasaan orang yang ada di dekatnya hanya lewat wajahnya. Aku kemarin di beri semangat sama dia, aku yakin dibalik kekurangan Lucy, dia punya banyak kelebihan."
Dude mengangguk setuju, dia tersenyum. "Kamu benar, Kinan. Semoga Lucy segera sembuh ya."
"Aamiin."
Tidak lama kemudian ponsel Kinan berdering, ternyata telepon dari orang rumah sakit. "Halo Assalamu'alaikum."
Kinan terdiam, mendadak matanya berubah merah dan membulat. Dude melihat mata Kinan dan tangan Kinan yang gemetar membuat Dude terkejut.
"Ya Allah, innalillahi, Lucy. Nggak mungkin, itu Lucy?" Kinan menutup mulutnya menahan sesak di dadanya.
Tak lama kemudian Kinan menaruh ponselnya ke atas meja, lalu Dude menghampiri. "Ki, kamu kenapa?"
Kinan langsung memeluk Dude dan menangis sesenggukan. "Lucy meninggal, Mas."
"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un." Dude mengelus punggung Kinan, istrinya itu kelihatan sangat bersedih. "Kamu doakan Lucy aja ya, insyaAllah ini yang terbaik buat dia."
"Lucy bilang dia mau menikah, Mas. Lucy... baru kemarin bilang itu ke Kinan."
__ADS_1
"Iya, Ki, itulah rencana Allah. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Kamu harus doakan Lucy ya. Terus kamu mau ke rumah sakit?"
"Lucy udah dibawa ke rumah duka, Mas. Dia dibawa ke kampung orang tuanya."
"Sayang sekali, jadi kamu nggak bisa lihat Lucy?"
"Iya, Mas. Kinan langsung lemes, mau berangkat kerja Kinan malah lemas dan pusing begini," kata Kinan.
Dude memapah Kinan duduk ke sofa, lalu mengusap air matanya. "Kamu izin dulu kalau kamu nggak kuat kerja, Ki. Gimana?"
"Nggak enak, Mas. Kemarin udah cuti, masa sekarang Kinan izin," jawab Kinan.
Dude terdiam sejenak.. "Ki, kamu suka pekerjaan kamu?"
Kinan mengangguk. "Iya, Mas."
"Kalau saya minta kamu berhenti kerja, fokus di rumah, kamu akan sedih?"
Kinan mendongak menatap wajah Dude
"Bukan maksud saya melarang kamu kerja, tapi saya sebagai suami kamu, insyaAllah sanggup membiayai semua kebutuhan kamu, membahagiakan kamu, memenuhi apa yang kamu inginkan sebisa saya. Tapi, kalau pekerjaan itu kamu sukai, membuat kamu terhibur tidak apa. Cuma saya nggak mau kamu kecapekan."
Mendengar itu Kinan langsung tersenyum. Reaksi Dude sangat menggemaskan, padahal Kinan hanya mengeluh lemas karena baru mendengar kabar duka dari pasien yang dia kenal. Tapi, Dude langsung berkata agar dia tidak bekerja.
"Kok kamu malah senyum, Ki?"
Kinan menggeleng. "Nggak apa-apa, Mas. Kinan tahu kok, suami Kinan bisa kasih apapun yang Kinan mau. Tapi, Kinan merasa pekerjaan ini Kinan butuhkan untuk membunuh rasa bosan di rumah, emang agak melelahkan, tapi juga membahagiakan, Mas. Kalau boleh, Kinan masih ingin bekerja di rumah sakit, Mas. Kecuali kalau nanti Kinan ha—" putus Kinan.
"Ha? Ha-apa Ki?"
"Bukan apa-apa kok, Mas." Kinan menggeleng lagi.
Kinan lupa, kalau suaminya sedang mengalami masalah serius. Kalau dia berkata tentang kehamilan, pasti Dude akan sedih.
"Hm, ya sudah kalau itu kemauan kamu, Ki. Tapi, jangan dipaksakan kalau kamu lelah ya. Oh iya minggu depan kamu temani saya ya ke rumah sakit. Saya benar-benar ingin fokus mengurus masalah saya, Ki. Saya ingin segera sembuh."
"Iya Mas, minggu depan pas Kinan libur ya. Kinan pasti akan temani Mas, InsyaAllah."
"Makasih Kinan," ucap Dude lalu dia mengecup sebelah pipi Kinan.
Kinan jadi tersipu, untunglah ada Dude, kalau tidak mungkin dia akan terus menangis karena sedih akan kepergian anak yang bernama Lucy. Terima kasih Lucy, sebelum kamu pergi kamu udah kasih kata-kata yang membekas di hati suster. Kalau nanti Allah kasih kesempatan suster bisa hamil, suster mau punya anak perempuan seperti Lucy.
Mas aku ingin sekali hamil anak kamu. Kata hati Kinan.
__ADS_1