Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
061 : Merasa Tidak Pantas


__ADS_3

Kehidupan Kinan dan Dude bisa dibilang harmonis dalam rumah tangga mereka. Saling percaya, saling menerima dan terbuka satu sama lain menjadikan mereka sepasang suami istri yang melengkapi.


Tapi ada hal yang membuat Dude resah, ini tentang Hana.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Kinan.


Dude terlihat menghela napas.


"Minum kopinya dulu."


Kinan memberikan secangkir kopi tanpa gula, seperti biasa.


"Besok kita ke Jogja ya, Ki. Kita naik pesawat malam. Semoga paginya kita bisa langsung mengikuti acara lamaran Hana."


"Hm, oke Mas. Tapi, kenapa aku perhatikan Mas murung. Sepulang dari Bandung, setelah menerima telepon, Mas jadi sering diam," kata Kinan.


"Maaf ya, Ki. Saya sebenarnya kepikiran tentang Hana."


"Hana kenapa Mas?"


"Jadi waktu kita di Bandung, Hana telepon. Dia menangis, saya belum cerita ke kamu karena saya sibuk sekali sewaktu di Bandung. Kamu tahu sendiri, menemani kamu saja saya tidak sempat, sampai kamu harus jalan-jalan sendirian."


Kinan mengusap punggung tangan suaminya, sambil tersenyum tipis. "Tidak apa, Mas. Lalu ada apa dengan Hana? Apa yang terjadi dan kenapa dia menangis?"


"Hm, Hana bilang dia tidak mau menikah."


"Hana bilang gitu, Mas? Tapi Hana kasih alasan nggak?"


"Hana bilang dia tidak enak menolak lamaran laki-laki itu. Tapi, dia sendiri tidak berkeinginan untuk menikah. Rasa trauma nya mungkin sudah mulai berkurang, dia sudah mulai mengikhlaskan semuanya. Tapi, dia takut memulai rumah tangga. Dia tidak ingin mengecewakan laki-laki itu karena dia merasa rendah diri." Dude menjelaskan sambil merasa sesak sendiri. Sekarang adiknya itu malah tidak percaya dengan diri sendiri.


"Ya Allah, kalau gitu nanti boleh tidak kalau Kinan coba bicara dengan Hana? Mungkin saja Hana mau mendengarkan, menerima masukan dari Kinan, Mas."

__ADS_1


Dude tersenyum, dia akhirnya bisa sedikit bernapas lega. "Boleh, Sayang. Saya ingin meminta kamu, tapi takut kamu keberatan."


"Kenapa keberatan? Hana adik Mas, berarti adik Kinan juga. Walau segi usia, Hana lebih dewasa dibanding Kinan."


Dude mengusap puncak kepala Kinan. "Kamu tetap mbaknya Hana, Ki."


"Ya, Mas. Nanti Kinan coba berbicara. Kasian Hana, seharusnya dia tidak begitu. Dia memiliki keistimewaan, karena itu ada laki-laki yang benar-benar tulus mencintainya. Tapi, Hana mungkin hanya masih belum yakin, perlu sedikit di yakinkan," kata Kinan.


"Ya, Ki. Saya harap Hana mau mendengarkan, saya ingin dia juga bahagia. Ada yang menjaganya, Reyhan juga pasti ingin memiliki sosok ayah."


Kinan tersenyum mengusap pipi Dude. "InsyaAllah nanti Kinan juga sambil berdoa yang terbaik untuk Hana."


...***...


"Kedatangan saya ke dan pakde saya ke sini, bermaksud menyambung obrolan awal pada bulan lalu. Saya, Bastian Pratama berniat serius ingin melamar Ibu Raihana." Bastian mengatakannya dengan sikap yang tenang, berusaha tidak gugup walau dalam kenyataannya dia memang gugup.


Hana hanya tertunduk. Ini pernah ada di impiannya. Seorang laki-laki baik datang, mengutarakan niat baiknya untuk melamar. Semua itu yang tidak pernah dia dapatkan dulu. Sekarang, laki-laki baik itu benar datang mengutarakan keinginan mempersuntingnya.


"Saya memang bukan pria yang sempurna. Tapi, saya ingin menjadi seseorang yang sebaik mungkin, sebisa saya untuk membersamai Hana, baik dalam suka dan duka. Saya sudah pernah menikah, tapi istri saya meninggal dunia, semua berjalan singkat. Tidak mudah bagi saya menyusun kembali keinginan untuk menikah. Tapi, saat melihat Hana, keinginan itu muncul cukup kuat dalam diri saya."


Jantung Hana berdentum kuat. Kata-kata itu, kenapa begitu dalam. Bagaimana bisa? Padahal dia dan Bastian belum lama bertemu. Apa ada yang seperti itu? Sedangkan dulu hubungannya dengan Bagus yang berjalan cukup lama saja tidak berujung bahagia.


Bapak angkat Hana hanya tersenyum mendengar kata-kata Bastian.


Begitu juga dengan pakde Bastian yang lebih banyak diam, membiarkan Bastian mengungkapkan maksudnya lebih dulu.


"Terima kasih Nak Bastian. Saya selaku Bapaknya Hana, menyerahkan semuanya pada Hana. Tapi, saya sangat salut dengan Nak Bastian karena begitu lantang mengutarakan niat baik. Kalau Bapak boleh menyarankan pada Hana, bisa dipertimbangkan keinginan dan niat baik Nak Bastian ini," tutur Pak Rahman.


Semua yang ada di sana, termasuk Dude dan Kinan hanya menunggu jawaban yang diberikan Hana.


"Saya hanya menyambung ucapan Bastian saja, sebagai pakde-nya. Saya juga butuh pendapat dari keluarga Nak Hana yang lain, jadi keluarga Nak Hana apakah semuanya sudah menyerahkan keputusan pada Nak Hana?" tanya Pakde dari Bastian yang bernama Pakde Hasan.

__ADS_1


Dude terbatuk pelan. Dia kemudian menatap Bastian dengan senyum tipisnya. "Saya adalah saudara kandung Hana, saya Mas-nya. Saya hanya ingin bertanya pada Bastian, apakah sudah yakin ingin melamar adik saya? Menerima segala kekurangan dan kelebihannya, menjaga dia dengan sepenuh hati nantinya, dan saya tidak mau kamu setengah-setengah," ucap Dude menegaskan bahwa dia tidak mau hal yang pernah di alami Hana, terjadi lagi.


Bastian membalas senyum Dude. Dia mengangguk yakin.


"Saya siap dan saya akan berusaha sebaik mungkin, saya tulus ingin menikahi Hana. Saya tahu, setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Saya ingin Hana juga tahu, saya memiliki banyak kekurangan.Tidak ada gading yang tak retak, begitu pun dengan saya. Tapi, saya melihat Hana begitu tegar, saya merasa kagum pada Hana. Saya ingin banyak belajar dari Hana, dan saya ingin menjaganya."


Dude mengangguk, dia merasakan ketulusan Bastian. "Terima kasih."


"Untuk Hana, Mas hanya ingin kamu percaya, bahwa setiap orang berhak bahagia. Tidak terkecuali untuk kamu. Jadi, lakukan apa yang kamu rasa, itu adalah hal yang paling baik untukmu, dan kamu bahagia menjalaninya." Dude menatap Hana, adiknya itu tersenyum kaku, lalu dia mulai mengangkat wajahnya menatap semua orang, satu per satu, yang ada di hadapannya.


"Terima kasih. Mas Bastian, saya sangat tersanjung karena kedatangan dan niat tulus Mas. Saya merasa siapa saya, kenapa harus saya, dan apa bagusnya saya?"


Hana menyentuh ujung matanya, dia tanpa sadar menangis.


Kinan yang ada tepat di sebelah Hana, mencoba menenangkan Hana. Kinan mengusap punggung tangan Hana, tersenyum ke arahnya, mengangguk satu kali mengisyaratkan bahwa Hana pasti bisa mengikuti kata hatinya sendiri.


"Hana ingin tanya satu hal pada Mas Bas, apa boleh?"


Bastian langsung mengangguk. "Tanya saja, tidak apa-apa."


Hana mengangguk, dia menatap Reyhan, lalu menyeka kembali air matanya.


"Mas Bas sudah tahu tentang masa lalu saya?"


Bastian sudah tahu Hana akan bertanya tentang itu. Sejak tadi, dia juga tahu apa yang membuat Hana kelihatan sedih.


..._____...


...Bersambung ya. Biar penasaran jawaban Bastian. Dan apakah Hana akan menerima lamaran Bastian nanti?...


...Sambil nunggu kelanjutannya. Boleh mampir ke karya baru aku gak? judulnya Mantan Suami Terbaik....

__ADS_1



__ADS_2