Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
Extra Part 05


__ADS_3

Hari ini Kinan berkunjung ke rumah ibunya, Halimah. Wanita yang sudah melahirkan Kinan dan membesarkan Kinan itu kini makin renta. Garis keriput di wajahnya yang bersahaja itu kian terlihat. Kinan ingin sekali Halimah mau di ajak tinggal bersamanya. Tapi wanita itu selalu menolak. Ibu Kinan itu merasa lebih senang tinggal di rumahnya sendiri.


"Assalamu'alaikum."


"Bu, ada tamu," kata Kinan kemudian mengambil alih gendongan Sera dari Halimah. "Sini biar sama umi dulu ya, Nak. Nenek ada tamu."


"Siapa ya? Padahal nggak biasanya Ibu kedatangan tamu lho, Ki," ujar Bu Halimah.


"Hm, mungkin teman pengajian Ibu?"


"Nggak ah, mereka nggak bertamu, kalau ada perlu pasti telepon dulu."


"Ya sudah coba dilihat saja dulu, Bu. Kalau sekiranya tidak penting jangan di tanggapi," pesan Kinan.


"Ya sudah, Ibu lihat dulu ya."


Halimah membuka pintu, ternyata seorang wanita berkerudung panjang yang ada di depannya sekarang.


"Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam, ini nak Diana, kan?"


"Iya, Bu, saya Diana."


"Masya Allah, silakan masuk, Nak. Mau cari Kinan, ya?"


"Iya, Bu. Tadi udah ke rumah Kinan, tapi katanya Kinan sedang di rumah ibunya. Kebetulan, sekalian mau silaturahim sama Bu Halimah juga," jawab Diana sambil tersenyum ringan.


"Ya Allah, iya Nak. Duduk dulu ya. Kabar Diana baik, kan?"


"Alhamdulillah, Bu. Kabar Ibu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah, Nak. Kabar Ibu baik, kamu tunggu ya, biar Ibu panggilkan Kinan di dalam."


"Alhamdulillah, iya baik Bu. Terima kasih."


...***...


"Kinan, di depan ada Diana. Katanya mau bertemu kamu," ucap Halimah.


"Ya ampun, jadi yang datang itu Diana, Bu?"


"Iya, Sera mana?"


"Sera sama Mas Dude, Bu, di kamar."

__ADS_1


"Oh ya sudah, kamu temui Diana, ya. Biar Ibu yang buatkan minum."


"Baik, Bu. Kinan ke depan dulu."


Kinan tidak berhenti tersenyum, dia tidak menyangka Diana yang datang. Pasti ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh temannya itu kalau sampai menyusulnya ke tempat Ibu.


"Assalamu'alaikum, Diana."


"Walaikumsalam, Kinan."


"Kamu apa kabar?" Kinan memeluk Diana, tak lupa mencium pipi temannya itu.


"Alhamdulillah, baik, Ki. Kamu gimana? Mana anak kamu yang cantik, Ki?"


"Sera sama abinya di dalam. Dia mau tidur," jawab Kinan, kemudian dia duduk di sebelah Diana.


"Wah, alhamdulillah, aku senang dengernya kamu dan keluarga kamu semua sehat, baik-baik aja."


"Iya, Diana. Kamu kemana aja? Kamu udah nggak tinggal di rumah orang tua kamu, ya? Di rumah sakit tempat kamu kerja juga, kamu nggak ada. Aku sempat cari kamu lho."


Diana tersenyum, "maaf ya, aku nggak tau kalau kamu cari aku.."


"Hm, tadinya mau undang kamu di acara syukuran kehamilan adiknya Mas Dude, kan kemarin kita sekeluarga mengadakan acara. Alhamdulillah, sebagai bentuk syukur."


"Iya, Diana. Setelah menjalani bayi tabung alhamdulillah, Hana hamil."


"Aku ikut seneng. Maaf ya, aku kemarin belum kabari kamu kalau aku pindah. Karena emang agak dadakan. Orang tua aku juga ikut pindah. Aku juga ke sini mau kasih kabar kamu, aku akan menikah, Kinan."


"Masya Allah, kamu mau menikah?"


"Iya, Kinan. Alhamdulillah, aku juga awalnya ragu, tapi semoga saja dia memang jodoh yang Allah pilihkan untukku. Dia seorang guru di pondok pesantren yang ada di Magelang," ucap Diana.


"Ya Allah, Diana. Kamu hebat banget, bisa dapat suami seorang ustadz."


"Nggak, Kinan, aku nggak hebat. Aku malah merasa nggak pantas mendapatkan orang sebaik dia."


"Kenapa nggak pantas? Allah kasih kamu jodoh yang terbaik. Kamu nggak boleh memandang rendah diri kamu sendiri, ya, Diana." Kinan mengelus lembut tangan Diana. "Anggap ini hadiah dari Allah, kamu juga bisa mendapatkan laki-laki yang baik, yang bisa jadi imam kamu."


Diana tak kuasa menahan air matanya. Dia teringat masa lalunya yang sangat suram. Selama ini dia bersabar hidup sendirian, dia juga sempat mengubur keinginan berumah tangga. Tapi Allah datangkan seseorang yang tidak dia sangka-sangka. Laki-laki itu datang melamar, padahal laki-laki itu tau bagaimana masa lalu Diana, dan mau menerimanya.


"Aku ke sini mau berterima kasih sama kamu, Kinan." Diana menggenggam erat tangan Kinan dengan linangan air mata. "Aku merasa sangat terbantu oleh kebaikan kamu. Makasih ya."


Kinan juga ikut meneteskan air mata, lantas dia memeluk erat Diana. "Ya Allah, Diana. Udah seharusnya kita saling tolong menolong. Kamu hebat karena kamu kuat dan bisa bertahan. Semua yang kamu lalui pasti ada hikmahnya, anggaplah ini sebagai hikmah dari semua kesakitan yang kamu rasakan ya, Di."


Diana mengangguk. "Iya, Kinan."

__ADS_1



"Mama, kok Mama masih aja ngangkat berat, sih? Kan udah Rey bilang, kalau mau mindahin barang, biar Rey aja."


"Enggak apa-apa sayang, ini nggak berat, kok."


"Mama, nanti Rey bilang papa, lho?"


Hana langsung meletakkan pot bunga yang berukuran kecil itu kembali. Semenjak dinyatakan hamil, Hana sama sekali tidak pernah dibiarkan melakukan pekerjaan rumah.


Hana tidak menyangka, jika dia bisa menata kembali hidupnya yang sempat berserakan. Ternyata Allah memang Maha adil, sekarang Hana merasakan bagaimana diperlakukan seperti ratu di rumahnya sendiri.


"Makasih, Reyhan." Hana memeluk putra sulungnya, anak itu sangat bahagia saat mengetahui Hana sedang hamil adiknya.


"Jaga dedek baik-baik ya, Ma. Kalau Rey kembali ke pesantren, Mama harus janji, jaga dedek, jangan melakukan pekerjaan berat."


Hana mengangguk patuh. "Iya, Sayang."


Malam jarinya, Bastian yang baru saja pulang kerja membuat Hana kaget dengan penampakan bunga mawar merah yang sangat banyak di tangannya. Sebuah buket bunga mawar yang entah berapa kuntum jumlahnya. Intinya bunga itu sangat banyak sampai menutupi tubuh Bastian di belakangnya.


"Ya ampun, ini apa?"


Bastian memunculkan wajahnya di samping bunga mawar itu. "Buat kamu sayang,"


Hana menutup mulutnya, terkejut dengan hadiah kejutan yang diberikan suaminya. "Dalam rangka apa? ini banyak banget bunganya, Mas."


"Dalam rangka ucapan terima kasih ku untuk kamu, Dek." Bastian meletakkan bunga mawar itu ke samping Hana. "Terima kasih ya, Sayang."


Hana amat terharu, dia lantas memeluk suaminya. "Makasih juga Mas, ini manis banget. aku sampai mau nangis."


"Jangan nangis dong, aku kan mau kamu bahagia."


"Aku bahagia, Mas. Bahagia banget."


"Alhamdulillah, aku seneng kalau kamu bahagia, Hana."


Bastian mengecup singkat kening Hana, lalu membiarkan Hana menerima bunga itu. "Terima ya. Kamu suka bunga mawar kan?"


"Ya, suka banget, Mas."


...______...


Cerita yang baik itu adalah cerita yang selesai. Terima kasih sudah menjadi bagian dari penyemangatku menyelesaikan cerita ini. Maaf karna lama nggak update extra part. Aku lagi sibuk menyusun sequel cerita ini, InsyaAllah akan aku up di novel toon juga 😇😇


Masih pengin extra part? Tapi up nya nggak bisa cepat, ya.

__ADS_1


__ADS_2