
Dude Danuarta, laki-laki yang lebih banyak diam, terlihat dingin sekilas padahal memiliki kepribadian yang ramah dan hangat setelah kita mengenalnya lebih lagi.
Kinan baru saja menginjakkan kakinya lagi di rumah Dude. Sekarang terasa lebih sepi karena tidak ada Rey, anak yang ceria dan bersemangat. Sebenernya, Kinan ingin sekali merawat Hana, adik kandung Dude. Tetapi, demi kebaikan Hana, dan demi agar Hana bisa ditangani dengan yang lebih berkompeten, tentu juga dengan harapan Hana bisa pulih kembali menjadikan alasan Dude tidak memberikan izin Kinan merawat Hana di rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Mbak Kinan, kok sendirian?" tanya pelayan di rumah Dude yang menyambut kedatangan Kinan.
"Tadi Mas bilang ada telepon penting, Bi," jawab Kinan.
"Owalah, iya, ya udah ayo masuk, Mbak."
Kinan pun masuk dan langsung di antar ke kamarnya lagi.
"Mbak Kinan mau saya buat kan teh hangat?" tawar Bibi.
"Enggak usah, Bi, terima kasih. Nanti saya bisa buat sendiri, Bi."
"Jangan Mbak, nanti Pak Dude marah. Sebelum kedatangan mbak Kinan ke rumah, pak Dude bilang saya harus melayani mbak Kinan," jawab Bibi pelayan pada Kinan.
Kinan merasa tidak enak, biasanya dia selalu melakukan apapun sendiri, tidak pernah dilayani pelayan seperti sekarang.
"Kalau gitu terima kasih, ya, Bi."
"Sama-sama, kalau ada butuh apa-apa panggil Bibi saja, ya, Mbak."
"Iya, Bi, baik."
__ADS_1
Kinan duduk di tepi ranjang sambil membuka jilbabnya. "Mas Dude lama juga, ya," gumamnya setelah kerudungnya dia lepas. Lalu seulas senyum kembali menghiasi bibirnya teringat sikap manis dan tiba-tiba yang ditunjukkan Dude padanya. Kinan menyentuh dua pipinya, dia lalu berdiri di depan cermin melihat rona merah yang terlihat cukup jelas di pipi putihnya.
"Ya Allah, inikah yang namanya mulai merasakan cinta?"
Tanpa sadar Kinan tersenyum sendirian sambil memegang pipinya. Dibelakang Kinan, Dude muncul begitu saja, dia lupa mengucapkan salam, terbiasa masuk kamar langsung membuka coat-nya dan melemparnya ke atas ranjang.
Mata Kinan membulat, secepatnya dia berbalik, kikuk, karena tadi dia sedang menghalu ria sendiri.
Dude ikut kaget, bagaimana dia bisa lupa di kamarnya ada seorang gadis yaitu Kinan, istrinya.
"Eh, ya ampun, Mas lupa kalau ada kamu, Ki." Dude lalu tersenyum enteng sembari melonggarkan kerah baju.
Kinan salah tingkah, dia menyentuh rambutnya, kembali canggung, sambil sedikit menyengir. "Kinan ganti pakaian dulu, ya, Mas."
Dude tersenyum, lalu Kinan mengambil pakaian dari dalam lemarinya dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Kenapa bisa lupa, sih, kalau kamu sekarang sudah menikah," gumam Dude sambil melepaskan pakaiannya selagi tidak ada Kinan. Dia menunggu Kinan keluar sambil memainkan ponsel dengan bertelanjang dada.
"Astaghfirullah." Kinan refleks menutup matanya. Dude membulat kan mata dan langsung mengambil jubah mandinya.
"Maaf, Ki, saya nggak tahu kamu udah selesai."
Kinan melonggarkan jari-jarinya mengintip apakah Dude sudah berpakaian atau belum. Syukurlah, Dude sudah mengenakan jubah mandinya.
"Maaf, Mas, tadi refleks aku kaget," ucap Kinan untuk pertama kalinya dia berbicara tanpa menggunakan bahasa formal pada Dude.
"Saya yang salah, Ki, maaf ya." Dude lalu berjalan menghampiri Kinan membuat jantungnya kian berdegup tak terkendali.
"Hm, rambut kamu bagus," ujar Dude sambil mengelus helaian rambut panjang Kinan yang tergerai.
__ADS_1
Mata Kinan menatap mata Dude yang seolah menelisik masuk hingga membuat dia membeku di tempat.
"Saya mandi dulu, ya." Dude kemudian berlalu melewati Kinan sambil menggaruk sebelah alisnya. Kinan sendiri berdiri tanpa bergerak sedikit pun dari posisinya.
Setelah pintu kamar mandi tertutup rapat, Dude tidak dapat menyembunyikan senyumannya. "Sudah lama tidak pernah merasakan jantung berdebar," gumamnya.
"Jantung ku. Tadi, dia pegang rambut aja bikin ketar-ketir sampe kayak orang bodoh nggak bisa gerak gini, gimana melakukan yang lain," Ucap Kinan sangat pelan, dia pelan-pelan berjalan ke tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya dengan senyuman dan pipi yang merona.
Kinan lalu mengambil ponsel memainkannya sebentar. Dude keluar lagi-lagi membiarkan dada bidangnya terbuka menampakkan otot tubuhnya yang atletis di depan Kinan.
Tadinya Kinan mau menutup matanya, tapi dia malah melotot membuat Dude agak terkekeh. Tapi, Dude tidak menutupi tubuhnya, seolah membiarkan Kinan menatapnya dengan mata terbuka lebar seperti sekarang.
Dude sengaja berjalan hanya mengenakan celana panjang, tanpa memakai baju, begitu santai duduk di sebelah Kinan. Dia menatap Kinan yang masih tertegun, dan Dude tau gadis itu sedang gugup.
"Kamu mau makan siang?" tawar Dude, kebetulan waktu menunjukkan pukul sebelas dan itu waktunya makan siang.
Tapi Kinan malah bengong, tak lama dia mengalihkan pandangan dari Dude. "Mas nggak pakai baju?"
Dude malah makin iseng, dia mencolek Kinan satu kali, gadis itu makin gelagapan tidak mau berbalik.
"Ki, saya ini suami kamu loh." Dude tidak biasanya begitu, padahal kemarin-kemarin masih bersikap agak formal.
"Tapi, aku ..." jawab Kinan ragu-ragu kemudian berbalik menatap senyuman Dude yang mengembang dengan sejuta pesona yang tidak dapat dia sanggah. Tampan, menarik, dia memiliki semuanya, bahkan sekarang sepertinya Dude berhasil memiliki hati Kinan juga.
"Lucu," komen Dude lalu menyentuh pipi Kinan, mendekati gadis itu, hingga Kinan memejamkan matanya refleks.
Cup.
Satu kecupan mendarat di kening Kinan dan bertahan agak lama di sana.
__ADS_1
"Saya pakai baju dulu, ya." Kemudian Dude beranjak menuju lemari pakaian untuk memilih baju.
Kinan membeku ditempatnya duduk, merasakan sisa bibir Dude yang tadi menyentuh keningnya dengan amat lembut.