
"Maafkan Mas, Ki."
Mendadak Dude berubah mellow. Padahal mereka baru saja sampai di Jakarta.
"Kenapa Mas? Kok Mas kayak sedih?"
"Mendadak saya insecure dengan calon suami Hana."
"Lho, kok tiba-tiba insecure?" tanya Kinan, sebab setahu dia Dude tidak pernah begitu. Apalagi Dude kelihatan murung. Lucu sih, Kinan malah gemas melihatnya.
"Bastian menyanggupi permintaan Hana untuk membacakan surah dalam Al-quran. Sedangkan saya, baca doa dalam perjalanan saja baru belajar dari kamu, Ki."
Kinan makin gemas, jadi karena itu suaminya merasa insecure?
"Mas, jangan begitu. Bagi Kinan Mas adalah suami yang terbaik. Walau sebenarnya, menurut Kinan Mas hanya sedikit kaku."
"Kaku? Kaku bagaimana Ki?"
Kinan menggeleng. "Tidak jadi, Kinan takut Mas Dude tersinggung."
"Tidak, Ki. Saya bukan tipikal orang yang mudah tersinggung," jawab Dude kemudian dia menyengir. "Katakan saja."
Kinan tersenyum lagi. "Mas bisa nggak coba untuk mengubah panggilan 'saya' menjadi 'aku'? Menurut Kinan akan terdengar lebih nyaman kalau Mas mencoba mengubahnya. Tapi, kalau bisa, kalau tidak bisa juga tidak apa-apa."
Dude terdiam sesaat mendengar kata-kata Kinan. Tapi kemudian dia malah tergelak. "Astaga. Jadi karena itu kamu mengatakan saya kaku, Ki?"
"Nah, tuh kan. Memang tetap saja terdengar kaku, Mas." Kinan menghela napas panjang. "Sudahlah, apapun keadaan Mas, bagi Kinan tetaplah Mas suami yang terbaik. Tidak perlu menjadi orang lain, cukup jadi diri Mas sendiri. Masalah ibadah seseorang bukan patokan orang itu pandai membaca Al-Quran lantas ibadahnya yang paling baik. Hanya Allah yang tahu, mengagumi boleh, iri juga boleh jika dalam hal kebaikan. Asal tidak membuat Mas jadi tertekan sendiri."
Dude menatap Kinan lalu melebarkan senyum. "Aku akan coba menjadi lebih lembut dan tidak kaku lagi ya. Makasih karena kamu mau menerima ku apa adanya."
Kinan melebarkan matanya, dia kaget mendengar ucapan Dude.
"Kenapa? Apa aku nggak pantas berkata seperti ini? Hm, mungkin aneh?"
Kinan lalu menyentuh pipinya, tidak percaya bahwa hanya dengan mengubah kata saya menjadi aku saja membuat kata-kata Dude berubah lebih manis dari sebelumnya.
"Manis banget, Mas. Kinan sangat suka dengan gaya bicara Mas yang baru ini."
"Oh ya? Hm, jadi sesederhana itu bikin kamu kagum ya, Ki. Maafin aku ya, kalau selama ini aku terdengar kaku saat berbicara dengan kamu."
Kinan mengangguk cepat. "Iya, Mas. Kinan udah pernah bilang, Kinan sayang Mas pake banget belum sih?"
__ADS_1
"Hm, kayaknya sih belum. Coba kamu katakan. Saya, eh, aku tunggu."
Kinan langsung memeluk suaminya. "Mas lucu banget. Kinan sayang Mas pake banget, banget, banget,"
"Aku juga sayang kamu pake banget. " Dude mencium kening Kinan dengan senyum yang tidak memudar sedikit pun.
"Kita mulai dari awal, aku dan kamu menjadi lebih santai. Tidak ada lagi Dude yang kaku, gimana?"
"Aku cuman mau kamu nggak kaku saat di depan ku aja Mas. Kalau di depan orang lain tetaplah kaku seperti Dude Danuarta yang dingin. Itu lebih baik, apalagi di hadapan wanita lain. Tolong jangan paksa Kinan untuk berdiskusi, agar Mas bisa berbicara sesantai ini, oke?"
"Oke oke, aku ngerti. Siap bos! Laksanakan!"
"Kamu sudah makan, Di?" tanya Hamzah. Diana kembali terkejut mendengar ajakan makan Hamzah. Beberapa hari ini, Hamzah memang terasa agak lebih lembut padanya. Padahal Diana menyesali perbuatannya yang telah memberikan obat penyulut gairah padanya.
"Belum, Mas." Diana bergeser dari tempat duduknya, dia membiarkan Hamzah duduk di sampingnya. "Ada apa, Mas? Apa Mas butuh sesuatu?" tanya Diana.
"Hm, tidak. Begini, Di. Saya harus pergi ke Jakarta, ada pertemuan yang diadakan rumah sakit. Seluruh dokter di sini di undang untuk ke acara itu. Apa kamu mau ikut? Atau kamu mau di sini?"
Barusan itu, apa Hamzah sedang mengajaknya? Pikir Diana.
"Hm, ya. Kalau kamu mau, Diana."
Diana tersenyum. "Terima kasih, Mas. Diana pastinya mau."
"Baguslah, kalau gitu kamu siap-siap ya. Kita berangkat malam ini."
"Malam ini?"
"Ya."
Diana segera beranjak dari duduknya. "Oke Mas, Diana akan siapkan semuanya sekarang."
"Di, kamu sebaiknya makan dulu baru menyiapkan itu."
"Ah, benar juga. Kalau gitu apa Mas mau menemani Diana makan?"
"Oke, saya temani."
Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Diana saat itu. Dia pastinya merasa senang, karena suaminya akhirnya mau berlaku manis padanya.
__ADS_1
Diana sempat mengira suaminya akan marah berkepanjangan, atau malah semakin membencinya karena obat perangsang yang dia berikan waktu itu. Tapi ternyata ketakutannya tidak terjadi, malah sekarang Hamzah mulai berubah.
Setelah bersiap, malam itu juga mereka berangkat ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Diana terus bersyukur, Hamzah benar-benar mulai berubah. Hamzah mulai berani menunjukkan perhatian-perhatian kecil padanya seperti memberikan bantal leher atau aromaterapi untuknya.
"Mas, nanti di sana apa cuman perkumpulan dokter saja, atau ada perawat juga?" tanya Diana.
"Sepertinya dengan perawat juga. Karena bukan hanya dokter saja, tapi yang berkaitan dengan tenaga medis."
Diana menghela napas berat. "Oh begitu ya."
"Kenapa? Apa kamu cemas jika saya bertemu dengan Kinan?"
Mata Diana membulat lebar. "Ti-tidak, Mas."
"Tenang saja, Di. Saya dan Kinan kan sudah tidak mungkin."
Diana terdiam. Yang dikatakan Hamzah memang benar. Lagipula Kinan sudah berbahagia dengan suaminya sekarang.
...***...
"Ki, apa kamu harus menginap di hotel?" tanya Dude pada istrinya yang sedang menyiapkan beberapa pakaian dan perlengkapan untuk acaranya dari rumah sakitnya besok.
"Iya, Mas. Karena diharapkan semuanya datang ontime untuk serangkaian acara. Jadi, mau dekat atau jauh tetap harus menginap, sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit khusus yang memang dijadwalkan ikut ke acara itu," terang Kinan.
"Hm, jadi besok malam aku tidur sendiri?"
"Kenapa memangnya? Hanya dua malam saja kok. Beruntung ini dekat masih di dalam kota bukan di luar kota, Mas."
"Mas pasti kangen sama kamu, Ki."
"Ih Mas ya, berlebihan banget. Cuman dua malam, kecuali kalau Kinan menginap dua minggu, atau dua bulan, atau dua tahun?"
"Mau apa kamu selama itu menginap Ki. Kalau dua tahun namanya bukan menginap tapi kamu meninggalkan aku."
Kinan langsung terkekeh. "Iya, tenang aja Mas. Tidak ada perpanjangan waktu, hanya dua hari."
"Hm, oke. Tapi kalau aku kangen, aku akan mengunjungi kamu ke hotel itu. boleh nggak ya?"
"Nggak boleh dong sayang. Ini kan urusan pekerjaan. Sabar, hanya dua malam, oke?"
"Ya baiklah, aku akan coba untuk bersabar." Dude mencoba menutupi perasaan cemas nya. Sebenarnya dia merasa tidak enak hati membiarkan istrinya menginap dua malam. Entah kenapa, padahal itu jelas urusan pekerjaan. Dude hanya berharap perasaan tidak enaknya itu bukan pertanda apapun. Itu pasti hanya perasaan yang tidak berarti apa-apa.
__ADS_1