Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
072 : Aku Milik Kamu


__ADS_3

Kinan membuka matanya. Tanpa sadar dia sudah tidur cukup lama. Sekarang waktu menunjukkan pukul 15.00. Kinan menyipitkan mata, melihat suaminya juga tertidur di sampingnya.


"Mas, bangun yuk, udah waktunya salat ashar."


Kinan menepuk pelan pipi Dude, lalu laki-laki itu membuka matanya pelan. "Hm, aku ketiduran."


"Iya, kamu lelah karena semalam nggak tidur 'kan Mas?"


"Iya, kamu juga semalam pasti nggak tidur." Dude bangun lalu mengecup kening Kinan.


"Mas ambil wudhu dulu ya, kita salat berjamaah."


"Iya," angguk Kinan.



Malam harinya, tepat saat waktu makan malam. Dude kelihatan sedang gusar sendirian. Entah sudah berapa kali Kinan melihat Dude bolak-balik menatap layar ponsel seperti ada yang sedang ditunggu.


"Nunggu pesan dari siapa, Mas??" tanya Kinan sembari menaruh segelas air di depan Dude.


"Bukan siapa-siapa, sayang." Dude tersenyum lalu mengambil segelas air putih di depannya, meminumnya lalu menaruh ponselnya.


"Udah aku matikan teleponnya," kata Dude.


Kinan tersenyum. "Oke. Makan dulu yuk."


Mereka pun makan malam.


Selesai makan malam, seperti biasa Kinan dibantu bibi membersihkan piring kotor. Dude tidak menyentuh ponselnya lagi, tapi dia langsung masuk ke kamarnya.


"Non Kinan, biar bibi aja yang lanjutin."


"Terima kasih ya Bi," kata Kinan lalu dia menyusul Dude ke kamar.


Di kamar ternyata Dude terlihat sedang menelepon seseorang dengan ponselnya yang lain.


"Nanti saya telepon lagi." Dude lalu menaruh ponselnya saat dia melihat Kinan masuk ke kamar.

__ADS_1


"Sayang kamu udah selesai?" tanya Dude.


"Udah, Mas. HP kamu yang tadi kenapa? Kok kamu telepon pakai ponsel yang lain?"


"HP ku yang itu lowbet sekalian aja aku matikan. Ini telepon penting, Sayang. Makanya aku ke kamar ambil HP ku yang lain," jelas Dude.


"Oh, oke. Yang nelepon kamu, cewek atau cowok?" tanya Kinan.


Dude agak kaget mendengar pertanyaan Kinan tapi dia lalu tertawa kecil. "Laki-laki sayang, pengacara ku."


"Oh. Okey, tapi jangan dibahas ya Mas. Aku tahu kamu bisa menyelesaikan masalah kamu. Malam ini aku nggak mau bahas yang berat-berat. Kepalaku pusing banget," ujar Kinan lalu memeluk Dude.


"Oke, nggak usah membahas yang bikin pusing. Aku kangen kamu," sahutnya sekilas mengecup puncak kepala Kinan. "Kangen banget, sayang."


Kinan mendongak sambil melukiskan senyum tipisnya. "Masa sih?"


"Iya masa aku bohong." Dude lalu mengecup bibir Kinan sekilas. "Udah lama nggak mesra-mesraan sama kamu."


"Maaf ya, pasti karena kemarin-kemarin kita berantem, terus jauh-jauhan." Kinan cemberut sambil mengusap pipi suaminya.


"Iya. Padahal cuman dua hari, tapi serasa dua tahun." Dude ikut cemberut.


"Lagi dong."


Mereka masih berdiri tepat di dekat ranjang. Kinan tidak berhenti tersenyum, masih memegangi pipi suaminya. Lalu dia mengecup lagi satu kali tepat di bibir Dude.


Namun niat awal hanya kecupan malah ditanggapi sebagai ciuman yang panjang oleh Dude. Pelan-pelan ciuman itu makin mendalam. Kaki Kinan bergerak mundur sampai akhirnya dia mentok mengenai ranjang.


Dude menggenggam dua bahu Kinan, mengusapnya perlahan dengan lembut. Kemudian didorong nya pelan tubuh Kinan hingga tubuh istrinya itu kini sudah berbaring tepat di atas kasur yang empuk.


Mata bulat Kinan menatap lurus mata Dude yang tidak berkedip menatapnya. Sebuah ciuman kembali mengawali kebersamaan mereka di malam itu. Hingga ciuman itu makin dalam dan beralih ke bagian lain.


Dengan deru napas yang kian menggebu, mereka masih berpagut hingga ciuman Dude beralih ke ceruk leher jenjang Kinan.


Tatapan mereka beradu lagi, kali ini dengan senyum kecil.


"Miss you, sayang." Dude mulai melepaskan satu persatu kancing baju Kinan.

__ADS_1


Kinan merasakan getaran di sekujur tubuhnya ketika mendengar suara bisikan suaminya tepat di telinganya. Suara napas hangat benar-benar membuat tubuhnya bereaksi cepat.


Elusan perlahan Dude membuat kesadarannya tersisa sedikit saja. Gairah mulai menggelenyar di antara mereka berdua.


Dude meremas tubuh mungil Kinan menariknya ke pelukan hingga menempel ke dada telanjangnya.


Denyut gairah membuat suara-suara di malam itu memenuhi ruangan kamar dengan pandangan mulai meremang seiring dimatikan nya lampu utama kamar. Kini hanya bersisa cahaya redup lampu tidur saja.


Kinan membenamkan dirinya lebih dekat ke pelukan Dude ketika sentuhan itu makin membuatnya kalut.


"Kamu suka?"


Mata Kinan berkilat sambil mengambil napas di sela ciuman yang tak usai.


"Iya." Suara serak Kinan terdengar makin menambah irama percintaan yang panjang malam itu.


Akhirnya Dude merasakan jemari mungil menyentuh pinggang, punggung, beralih halus ke bahunya.


"Kumohon ..." rayu Kinan meminta untuk segera.


"Sabar, sayangku."


Dude mengecup kening Kinan. Dia ingat pertama kali menatap mata yang lembut itu. Menurutnya Kinan yang paling berbeda dari sekian banyak perempuan yang pernah dia lihat. Keanggunan, tutur kata dan tingkah laku yang mencerminkan tingginya harga gitu wanita itu.


Tak pernah sekali pun Dude menceritakan pada Kinan bahwa dulu dirinya sering bermesraan dengan wanita lain sebelum bertemu Kinan, saat dia masih di Amerika.


Semoga saja Kinan tidak marah jika nantinya Kinan tahu secara tidak sengaja. Tidak, karena dia sudah berusaha berterus terang walau tanpa dia jelaskan secara terperinci.


Tatapan Mata Dude tertunduk dengan posisi berada di atas Kinan. Perasaan Kinan mulai bertanya-tanya, apa suaminya kembali merasa trauma? Tidak, sudah beberapa kali mereka bercinta dan suaminya tidak pernah ketakutan lagi, kan?


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kinan sembari mengusap rahang kukuh suaminya. Menatap mata yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Jangan berpikir apapun saat sedang seperti ini sayang." Kinan meluruskan tatapan Dude hanya ke arahnya. "Ingat? Rileks."


Dude lalu mencium bibir Kinan. "Maaf."


"Ingat juga kamu nggak perlu minta maaf. Oke?" Kinan kembali menegaskan dengan teramat lembut. "Aku milik kamu."

__ADS_1


Setelah mendengarnya, Dude merasa tidak ada yang perlu dia takutkan lagi. Malam itu mereka tidak berhenti sebelum suara puji-pujian terdengar. Bahkan rasa kantuk seolah tidak datang menghinggapi mereka. Hanya ada rasa ingin selalu bersama. Menyentuh satu sama lain dengan halus dan penuh cinta.


Aku akan tunjukkan betapa perkasanya Muhammad-mu malam ini, wahai Khumayra ku. Tidak akan kubiarkan kamu terlelap sebelum suara indah menggema menyebutkan namaku dalam setiap irama napas yang menggetarkan syahdu. Keheningan malam selalu jadi saksi bisu percintaan kita yang dicintai Sang Maha Cinta. Kelembutan ini hanya ku tunjukkan padamu, tidak pada yang lain. Seperti cincin yang hanya akan ku sematkan di jari manis mu seorang. Tidakkah kah kamu inginkan malam ini berhenti, hanya kita yang berjalan, bersama saling bercinta. Sehingga pagi tidak buru-buru datang. Aku mencintaimu, Kinan Adelia ~


__ADS_2