
Kinan seperti biasa, pagi itu menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tapi ada yang berbeda di pagi ini dari pagi kemarin. Kinan bahagia karena Dude mulai lebih santai saat bersamanya, seperti yang terjadi semalam.
Kalau kemarin Dude ragu-ragu memulai, tidak untuk tadi malam, semuanya berjalan secara alami tanpa hambatan.
"I love you, Kinan."
Mata bening Kinan menelusuri tatapan pria yang baru saja mengucapkan mantera cinta padanya. Tanpa disangka-sangka akan secepat itu cinta tumbuh di hati keduanya.
"Saya tidak meragu mengatakannya, Ki. Mungkin terlalu cepat saya mengutarakan. Tapi, saya mengagumimu tanpa sadar sudah cukup lama, kamu sendiri sudah tahu itu, kan?"
Kinan termangu, seolah lidahnya kelu tak sanggup menjawab apapun. "I love you, too."
Dude tersenyum lalu mengecup bibir Kinan. Degup jantung mereka tidak dapat dikendalikan lagi, terbawa suasana dan perasaan panas yang mulai menguar ke sekujur tubuhnya. Ada rasa ingin melakukan lebih dan lebih lagi dari sekedar itu.
Dude melepaskan perlahan ciuman itu, lalu menatap mata Kinan yang menyorotkan kata-kata, seolah tidak ingin berhenti.
Sentuhan-sentuhan kecil mengawali percintaan mereka malam itu. Gerakan mengecup bahu polos Kinan setelah dia menurunkan pakaian yang menutupi tubuh istrinya. Satu demi persatu Dude melepaskan kaitan kancing baju Kinan hingga itu teronggok di lantai sekarang.
Kinan bersemu saat membayangkan hal yang terjadi padanya semalam. Seumur hidupnya, baru pertama kali dia merasakan sentuhan yang amat memabukkan seolah tidak ingin mengakhirinya, dan saat berada di akhir, dia ingin mengulangnya.
"Selamat pagi, Ki." Dude datang membuat lamunan Kinan pecah, dia refleks batuk saking kagetnya.
"Kenapa, Ki? kamu kayak kaget gitu." Dude duduk di kursinya, seperti biasa dia mengambil secangkir kopi buatan Kinan lalu meminumnya dengan santai.
"Tidak, Mas." Kinan lalu ikut duduk di hadapan Dude. Dia merasa kikuk dan malu kalau sampai ketahuan melamunkan hal yang terjadi semalam.
"Ki, nanti sore sepulang kerja, kamu dijemput oleh supir untuk mencoba baju pengantin kita ya."
"Lho emangnya jadi bikin pesta Mas?" tanya Kinan sambil mengoleskan selain di atas roti, lalu menaruhnya ke piring Dude.
"Terima kasih," jawab Dude menerima roti pemberian Kinan. "Pasti jadi, Ki, insyaAllah. Saya sudah bicarakan ini sama orang kepercayaan saya. Kamu hanya tinggal beres saja. Minggu depan Hana dan Rey, juga orang tua angkat saya akan datang. Mereka sangat senang karena saya mengadakan acara ini."
Kinan mengangguk dengan senyum ikut bahagia. "Alhamdulillah kalau gitu, Mas."
"Iya, tapi maaf nanti sore saya tidak bisa ikut menemani kamu mencoba bajunya. Kamu tentukan saja yang kamu suka, ya. Maaf banget karena tiba-tiba ada klien penting yang meminta bertemu."
"Iya, Mas. Nggak apa-apa, kok. Kinan ngerti," jawab Kinan.
Dude mengusap puncak kepala Kinan lalu melanjutkan sarapannya.
Sepulang kerja Kinan benar dijemput oleh supir menuju butik di mana dia akan melakukan fitting gaun pengantin. Kalau diingat, pernikahan mereka memang belum banyak diketahui orang karena mereka menikah mendadak. Kinan tersenyum, dia tidak dapat melupakan kejadian itu seumur hidupnya. Takdir mempertemukan dia dengan Dude, sangat unik dan tidak disangka-sangka. Begitu juga saat laki-laki itu menikahinya bukan dengan cara yang normal seperti pernikahan pada umumnya.
__ADS_1
"Hm, kalau dijadikan judul sinetron mungkin lucu. Takdir Cinta Kinan," gumamnya lalu tertawa pelan sambil menggeleng menatap ke luar jendela mobil.
Sesampainya di butik, Kinan langsung disambut oleh pekerja wanita yang ditugaskan menemaninya memilih beberapa gaun yang akan dicobanya.
Kinan bingung memilih gaun yang di perlihatkan padanya, menurutnya semua terlihat indah dan mewah.
"Nona Kinan, Tuan Dude bilang apapun yang Nona inginkan untuk modelnya, warna dan lain-lain cukup katakan saja dan kami akan sediakan sesuai keinginan Nona," kata pekerja wanita itu.
Kinan tersenyum ramah, lalu mengajak pegawai itu bersalaman. "Nama kamu siapa?" tanya Kinan.
Pegawai itu agak tersentak mendengar suara lembut nan ramah Kinan. Jarang-jarang ada pelanggan yang sangat sopan dan ramah seperti Kinan bahkan mengajaknya berkenalan, pikir pegawai itu.
"Saya Bunga," jawab pegawai itu.
"Baik, Mbak Bunga. Terima kasih, tapi saya sebenarnya menginginkan gaun yang sederhana saja, tidak terlalu banyak hiasan rumit tapi tetap terlihat elegan. Apa ada?" ucap Kinan.
"Ada kok, Nona. Sebentar ya." Bunga langsung pergi ke suatu tempat untuk mengambilkan beberapa pilihan gaun seperti yang Kinan inginkan.
Kinan lalu duduk di sofa yang tersedia sambil menunggu Bunga kembali.
Ternyata Bunga cukup lama mengambil gaun itu, mungkin Bunga masih mencari gaun yang terbaik, pikir Kinan. Kemudian dia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar butik itu sambil melihat-lihat. Saat dia tengah melihat beberapa gaun yang terpanjang di sana. Seorang wanita tidak sengaja menabrak Kinan hingga Kinan terjatuh. "Ah." Kinan meringis karena tangannya terkena ujung meja yang agak runcing sehingga agak sakit.
"Oh God! I'm sorry." Wanita itu membantu Kinan berdiri. "Are you okay?"
"Sorry, are you okay?" tanya wanita itu lagi.
Kinan langsung mengangguk. "Ya, saya nggak apa-apa."
Wanita itu tersenyum ramah, terlihat agak menghela napas. "Saya melamun jadi tidak sadar ada orang di depan saya," ujar Kinan.
"No. It's my fault." Wanita itu menggeleng lalu menyentuh tangan Kinan. "Tanganmu merah, aku benar-benar minta maaf," ulangnya lagi, dia terlihat sangat menyesal.
Kinan mendadak kagum pada wanita itu. Menurutnya bukan hanya cantik parasnya, tapi kepribadiannya juga sangat cantik.
"Tidak apa-apa, sungguh." Kinan menggeleng lagi.
"You're so beautiful." Wanita itu malah memuji Kinan, padahal sejak tadi Kinan mengagumi kecantikan wanita itu.
"Ah, Anda yang cantik sekali, Nona," balas Kinan ramah.
"No, kamu lebih cantik. Terima kasih sudah mau memaafkan ku. Kalau gitu semoga kita bisa bertemu lagi ya."
Kinan mengangguk. "Iya."
__ADS_1
Lalu wanita itu melambaikan tangan pergi keluar butik. Kinan masih terpesona dengan kecantikan wanita itu, belum lagi tubuhnya yang ramping dan tinggi membuat wanita itu terlihat anggun bak seorang model profesional.
"Nona Kinan, maaf menunggu lama. Mari saya antar," ujar Bunga.
"Baik," jawab Kinan lalu Bunga mengajak Kinan ke sebuah ruangan khusus VIP. Di sana sudah di sediakan tiga pilihan gaun agar Kinan bisa memilihnya leluasa.
Wanita yang tidak sengaja bertemu Kinan tadi masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan butik.
"Sudah menemukan yang cocok Nona?"
"Belum. Aku lupa, bahkan aku tidak tahu Dude suka jas yang berwarna apa. Takut yang kuberikan untuknya tidak cocok nanti," jawabnya pada supir.
"Beruntung sekali laki-laki bernama Dude itu," jawab supirnya yang terlihat masih muda, mungkin mereka seumuran.
Dia tersenyum. "Kamu tidak seperti supir. Kamu masih muda sekali."
Supir itu tersenyum juga. "Apakah ada yang melarang anak muda menjadi supir?"
Dia menggeleng. "Tidak ada. Kamu benar. Panggil aku Selin, kita akan sering bertemu setiap hari selama kamu menjadi supirku."
"Baik Nona Selin."
"Tidak pakai Nona, hanya Selin saja."
Supir itu merasa tidak enak. "Kalau begitu akan sungkan nantinya. Apa Nona juga akan memanggil saya dengan nama?"
Selin agak berpikir sebentar. "Ya, siapa nama kamu?"
"Nama saya, Bagus, Nona."
"Hm, oke, Bagus. Kamu bisa leluasa panggil Selin, tidak perlu sungkan. Aku tidak suka yang terlalu formal."
"Kalau begitu, baik, Selin."
Mereka saling melempar senyum lalu melanjutkan perjalanan mereka.
..._____...
...Aku sengaja nggak kasih visual biar pembaca memikirkan sendiri Visual sesuai imajinasi masing-masing ya....
...pada suka bab banyak. doakan aja biar aku ngetik dan ngehalu nya lancar yaaa 😆...
...selamat liburan buat semuanya. 😇...
__ADS_1