
"Sayang, jadi yang saya maksud kisi-kisi jodoh itu adalah kamu, Kinan Adelia."
Kinan masih belum berbalik dari posisinya. Dude juga makin mengeratkan pelukannya. Sekarang, di bayangan Kinan kembali hadir kejadian lalu, pertemuan dia dengan laki-laki bertopi dan masker itu. Kinan sama sekali tidak ada perasaan yang khusus saat melihat laki-laki itu. Pertemuan biasa, anggaplah seperti orang-orang pada umumnya, membantu jika ada yang menanyakan jalan.
"Ki, kamu nggak mau berbalik menatap saya? Atau kamu tidak mendengarkan saya?" Dude berbisik hingga udara hangat menelusup melewati telinganya.
Kinan meneguk saliva, memejamkan mata sepersekian detik sambil mengusap punggung tangan Dude yang melingkari pinggangnya. "Kinan, speechless."
Dude mengulas senyum tipis kemudian mengecup kecil telinga Kinan. Dada Kinan bergemuruh mendapati perlakuan lembut Dude yang mendadak itu. Pipinya memerah dengan rona yang perlahan-lahan muncul bersamaan degup jantungnya yang kian berpacu.
"Ki, menurut kamu apakah saya ini orang baik?"
Kinan tersenyum, masih membelakangi Dude. "InsyaAllah. Menurut Kinan Mas adalah orang yang baik."
"Hm, kalau saya bukan orang yang baik seperti perkiraan kamu. Apakah kamu akan kecewa?" tanya Dude lagi.
Kinan terdiam, dia kemudian agak berpikir.
Belum selesai Kinan mencerna tentang kisi-kisi jodoh yang Dude katakan tadi, sekarang laki-laki itu memberikan pertanyaan yang tidak kalah sulit untuk Kinan jawab.
"Kenapa Mas tanya gitu?"
"Saya hanya ingin tanya saja. Tiba-tiba terlintas," jawab Dude lalu menghela napas lagi.
"Setiap orang pasti memiliki sisi baik dan buruk, Mas. Bukan hanya Mas Dude saja, tapi Kinan juga sama. Jadi, tidak ada alasan kita sebagai manusia untuk merasa diri paling benar. Kinan tidak akan kecewa, kecuali Mas mengkhianati Kinan," tangkas Kinan.
Dude terhenyak mendengar jawaban Kinan, dia lalu memejamkan matanya sebentar, terlintas bayangan dirinya di masa lalu. Apakah Kinan mau menerima sisi buruknya? Atau malah Kinan kecewa nantinya.
Terdengar hela napas panjang Dude.
"Apa ada yang mengganjal di hati Mas? Boleh diungkap kan saja dari pada terus di pendam," kata Kinan lalu dia berbalik, kini menatap wajah Dude.
Dude refleks tersenyum. "Akhirnya kamu mau berbalik, Ki."
Saat itu Dude mencoba menghilangkan pikiran-pikiran jelek yang melintas. Tapi memang sejak mengenal Kinan dia banyak dihinggapi ketakutan. Takut mengecewakan orang yang dia sayang, terutama itu.
Kinan tersenyum juga, masih dengan pipi yang memerah. "Hm, mau melanjutkan obrolan? Atau Mas penasaran tanggapan ku tentang kisi-kisi jodoh yang tadi?"
Dude tertawa renyah, lalu menghela napas lagi. "Ya, saya ingin tahu tanggapan kamu. Hm, sayang..."
Deg.
Kinan ingin menutup wajahnya dengan Telapak tangannya, tapi seolah tahu akan ada pergerakan seperti itu. Dude lebih dulu menggenggam tangan Kinan lalu menempelkan ke dadanya. "Saya juga gugup.
"Aku menyukai Mas Dude saat pertama kali melihat Mas bersama Rey di mobil. Kinan waktu itu sedang di angkot, suasana macet seperti biasa. Tapi, seolah waktu berhenti, riuh suara kendaraan pun tidak terdengar untuk beberapa saat tepat di mana aku melihat wajah Mas Dude."
Dude menatap Kinan serius, dia mendengarkan dengan perasaan berdebar.
"Sedangkan tentang laki-laki yang menanyakan jalan pada Kinan dulu, sama sekali tidak ada perasaan yang aneh, biasa saja, hanya waktu Mas bertanya foto itu, Kinan teringat lagi tentang laki-laki itu."
Terdengar suara tawa pelan dari Dude. "Jadi saya lebih dulu menyukai kamu tanpa alasan, Ki."
Senyum simpul menghiasi bibir Kinan, dengan pipi merah layaknya sang Khumayra.
"Terima kasih sudah menyukai aku, Mas."
__ADS_1
Kinan lalu mengalihkan pandangan. Tapi Dude mencegahnya.
"Saya ada rencana membuat acara pernikahan untuk kita, apa kamu setuju?"
"Acara pernikahan?"
"Ya, karena rekan-rekan saya belum banyak yang tahu kalau saya sudah menikah. Lalu, saya juga berniat mengajak Hana datang bersama Rey dan orang tua angkat saya. Kamu juga bisa mengundang teman-teman kamu. Menurut saya itu perlu, supaya lebih banyak lagi yang mendoakan pernikahan kita."
Kinan malah tidak kepikiran hal itu. Baginya, menikah dengan Dude secara Sah saja sudah lebih dari apa yang dia harapkan. Pertemuannya dengan Dude yang tidak disangka-sangka akan bermuara pada sebuah pernikahan.
"Kalau Kinan setuju dan ikut saja dengan Mas Dude. Memangnya tidak repot, Mas?"
Dude tersenyum lagi, kali ini sambil mengusap-usap pipi Kinan pelan. "Kan ada jasa WO. Wedding Organizer, benar kan?"
"Ah, benar juga, Mas." Kinan setuju. Lalu dia menggigit bibir bawahnya, mulai bingung dan salah tingkah lagi.
"Kamu itu beneran belum pernah dekat dengan lawan jenis sebelum menikah dengan saya?"
"Iya. Memangnya kelihatannya Kinan berbohong, ya?"
"Hm, sepertinya kamu jarang berbohong. Tapi, bukan berarti tidak pernah berbohong, kan?"
Kinan terkekeh. "Kinan bukan malaikat Mas, jadi pasti Kinan pernah berbohong."
"Kamu kurang tepat, Ki."
"Kurang tepat? Maksudnya?"
"Kamu itu malaikat di hati saya, lho."
"Mungkin, tapi itu adalah fakta bagi saya. Kamu ibaratnya malaikat untuk saya. Kamu baik, kamu cantik, terus kamu itu lembut seperti malaikat tanpa dosa. Padahal kamu manusia biasa, hanya saya yang sepertinya terlanjur sangat terpesona."
Bukankah kata-kata itu berlebihan? Ya, untuk orang yang belum merasakan jatuh cinta pada pilihan paling tepat dalam hidupnya. Itulah yang dirasakan Dude, dia merasa Kinan adalah jodoh yang terbaik yang dihadiahkan Allah padanya.
"Mas terlalu berlebihan. Aku tidak sebaik itu."
"Tapi kamu juga mengira saya baik, kan?"
"Memang Mas baik. Mana ada laki-laki yang mau jadi mempelai pria pengganti. Padahal Mas belum terlalu mengenal aku. Bisa saja aku ini wanita yang buruk akhlaknya, dan tidak pantas kamu nikahi."
"Tapi nyatanya, kamu bahkan terlalu baik untuk saya, Kinan."
Mata Kinan hanya fokus menatap mata Dude. Dinginnya ruangan ber-AC tidak serta-merta mendinginkan suasana yang mulai menghangat, sedikit panas saat Dude makin mendekat hingga wajah mereka kini tidak lagi berjarak.
"Kamu percaya cinta pandangan pertama?tanya Dude dengan posisi bibirnya hampir menyentuh bibir Kinan. Bergerak sedikit saja, Kinan seperti akan mencium bibir itu.
Kinan meneguk ludah, dia tidak bisa bergerak. " Saya percaya, Ki. Malah saya merasakannya."
Kinan ingin berkedip tapi bulu mata lentik Dude membuatnya terpaku, bibir tipis nan merah cerah, juga hidung mancung Dude melumpuhkan geraknya saat itu. Garis alis yang tegas tapi tidak terkesan galak. Rahang bersiku dan matanya yang tidak terlalu besar, agak ke sipit, terlihat manis. Semua itu membuat Kinan mengurungkan untuk berkedip, seolah memberikan kebahagiaan tersendiri, menatap keindahan sedekat itu.
"Kinan. Should I say I love you. Will you believe it?"
Haruskah saya mengatakan saya cinta kamu. Maukah kamu percaya?
Kinan mengerjapkan matanya, mendengar ucapan itu keluar dari bibir suaminya.
__ADS_1
"M-M ...."
Kinan baru akan membuka mulutnya, ingin berucap satu kata, tapi Dude malah lebih dulu membungkam bibirnya.
Mata terpejam seiring sentuhan halus yang kian menyebar, menyatu dengan hawa dingin di ruangan kamar mereka, berubah pelan-pelan menjadi hangat.
Napas yang agak terengah-engah membuat Kinan memundurkan tubuh, ingin menenangkan jantungnya yang makin tidak menentu. "Tetap di sini, ya. Saya butuh kamu."
"Kinan cuman mau cuci muka sebentar."
"Kenapa memangnya?" Dude menanyakannya sambil mengelus kening Kinan yang agak berkeringat. "Gerah?"
Apa yang harus aku lakukan sekarang. Dia membuat aku ingin pingsan di tempat saja rasanya. Kinan, please! Ini bukan yang pertama kalinya, kenapa kamu masih saja berlebihan, norak!
"Saya bantu biar nggak gerah?"
Dude mulai agresif dan Kinan malah terlihat bodoh sambil menggeleng cepat dia menolak tawaran Dude yang hendak membuka kancing bajunya. "Kinan sendiri aja."
"Kenapa? Saya ingin membantu, boleh kan?"
"Tapi aku ...."
"Menggemaskan."
"...." Kinan bertanya-tanya sendiri.
"Tapi kamu, menggemaskan, Ki."
Hening.
"Saya mau melakukannya, akan sakit lagi tidak ya?"
Kinan tidak tahu bagaimana caranya Dude bisa se leluasa itu bertanya tentang hal yang selalu membuat Kinan malu mengutarakan nya.
"Tidak sepertinya. Saya akan menebusnya kalau sakit lagi."
Kinan mengangguk cepat.
"Jadi, kamu setuju?"
Kinan mengangguk lagi.
Dude malah terkekeh. "Kamu lucu, Ki."
Kilatan mata yang menyorot tajam tapi mengisyaratkan kelembutan memenuhi pikiran dan hati Kinan di detik itu. Malam akan berjalan panjang, bahasa tubuh mereka mengisyaratkan penyatuan yang dalam.
"I Love You, Kinan."
...***...
Di tempat yang berbeda, seorang wanita sedang terengah-engah selepas bermimpi, tapi mimpi itu terasa nyata. "I still love you."
...Semoga menghibur 😁😁...
__ADS_1
...Mau gak gantung tapi namanya juga bersambung. Suka bab yang banyak apa dikit nih temen-temen? Komen ya....