
"Mas, menurut Kinan, pertanyaan dan syarat yang diajukan Hana itu sangat keren."
"Keren gimana?" tanya Dude sambil mengacak pelan rambut istrinya.
"Iya, kalau saja dulu aku di lamar oleh Mas Dude, aku juga ingin mengajukan syarat seperti itu," jawab Kinan.
"Kamu boleh ajukan sekarang, saya akan jawab," kata Dude, yakin.
"Ih, emangnya Mas mau melamar Kinan ulang?"
"Ya, boleh juga. Nanti saya temui kembali ibu Halimah," sahut Dude.
Kinan terkekeh. "Ada-ada saja Mas ini."
Dude lalu merangkul Kinan, menatap Mata Kinan.
"Saya juga tidak sanggup berpoligami, Ki."
"Kenapa?" Kinan masih tersenyum, menatap mata Dude yang menyorot serius padanya.
"Karena saya tidak yakin bisa mencintai wanita lain, selain kamu."
"Ihhhh itu jawaban gombal kah?" Kinan memukul dada suaminya sambil tertawa.
"Saya serius, kenapa kamu malah tertawa. Benar, Ki. Saya tidak bisa mencintai wanita lain, mencintai kamu saja saya tidak menyangka."
"Tidak menyangka?"
"Ya. Karena sejak kejadian yang menimpa Hana, saya cenderung dingin."
"Dingin kayak kulkas?"
Sekarang Dude yang terkekeh. "Kamu nih ya. Suamimu lagi serius. Udahlah, intinya saya tidak akan poligami."
"In Sya Allah. Ingat, Mas. Tidak ada sesuatu yang pasti." Kinan mengingatkan.
"Iya, InsyaAllah sayang."
Kinan tersenyum lega. "Kinan harap juga gitu. Karena Kinan tidak akan sanggup berbagi suami."
"Memangnya saya ini apa dibagi-bagi." Dude cemberut. "Saya ini bukan barang lho. Saya suami Kinan Adelia."
"Iya iya suami Kinan Adelia. Raden Mas Dude Danuarta tersayang. Iya kan?" ujar Kinan.
"Nah, itu baru benar."
"Mas semakin tampan kalau tersenyum. Kinan senang sekarang Mas kelihatan lebih ceria."
Dude lalu mencubit gemas pipi Kinan. "Jangan puji saya tampan, saya malu Ki."
__ADS_1
"Kenapa? Mas memang tampan. Masa tidak boleh memuji suami sendiri. Apa Kinan harusnya memuji suami orang lain?"
"Eits, jangan coba-coba Ki. Atau suami kamu ini berubah jadi monster."
"Duh, takut," ledek Kinan.
Dude langsung memeluk Kinan, menyentuh pinggangnya dan Kinan tergelak saat Dude mulai mengelitikinya.
"Ampun Mas, geli!" pekik Kinan bercampur gelak tawa karena ulah Dude.
"Kamu nggak percaya saya bisa jadi monster?" tatap Dude dengan serius.
"Coba tunjukkan, gimana monster Dude beraksi?" tantang Kinan.
"Benar? Oke, jangan minta ampun ya." Dude lalu mendorong tubuh Kinan hingga istrinya itu terjatuh tepat di atas tempat tidur.
Dude melepaskan piama tidurnya, lantas Kinan menutupi wajahnya. "Ampun Mas. Kok jadi gitu monster nya? Ngapain buka baju?"
"Monster di tempat tidur, kalau sama kamu. Sama saja, kan? Saya bisa menghabisi kamu, mau?" bisik Dude. Kinan langsung menggeleng. "Ampun Mas! Kinan kan lagi menstruasi."
"Hah? Yang bener aja, Ki?"
Kinan mengangguk cepat. "Beneran Mas. Kinan nggak boong."
Dude langsung menepuk kening. "Ya ampun, padahal sudah dua hari lho Ki, kan semenjak di Jogja kita nggak begitu."
Kinan menahan tawanya. "Sabar ya, Mas ku."
Kinan lalu bangun, memeluk suaminya. "Pakai lagi ya bajunya. Nanti dingin lho."
Dude mengangguk nurut, dia lalu mengenakan lagi pakaian tidurnya.
"Sabar, orang sabar disayang Kinan."
Dude refleks terkekeh. "Bisa aja kamu."
"Terima kasih ya, Ki."
"Terima kasih untuk apa, Mas?"
"Karena kamu mau mengajak Hana berbicara, akhirnya pikiran Hana mau lebih terbuka. Saya sangat senang, saya lega, saya bahagia melihat dia bisa memutuskan puluhan nya yang paling baik."
Kinan ikut tersenyum lega, dia juga merasakan hal yang sama mendengar jawaban Hana.
"Iya, Mas. Kinan juga bahagia untuk Hana. Kinan harap keputusan yang Hana ambil adalah yang terbaik."
"Aamiin." Dude mengangguk lalu memeluk Kinan.
__ADS_1
Kemarin, di hadapan keluarga. Raihana memutuskan untuk menjawab lamaran Bastian padanya.
Kini, dia yakin, dan dia berharap apa yang dia putuskan adalah yang terbaik.
"Bismillah, dengan izin Allah, dan restu keluarga. Saya, Raihana, menerima lamaran Mas Bastian. Semoga Allah memudahkan langkah kami ke depannya. Aamiin."
Bukan hanya Bastian yang terkejut dan bersyukur. Tapi juga seluruh keluarga. Apalagi Reyhan dan Dude, yang benar-benar berharap kebahagiaan menghampiri Hana. Belasan tahun hidup Hana diliputi kepedihan. Wanita itu sanggup bertahan hingga sekarang. Bertahan hidup demi dirinya dan juga Reyhan. Itu semua adalah hal terberat yang harus dilalui Hana.
"Alhamdulillah. Alhamdulillah. Terima kasih, Hana. Terima kasih karena sudah mau menerima lamaran saya." Bastian terlihat sangat bahagia.
Kinan dan Dude sampai menangis saking terharunya. Apalagi Reyhan, di langsung memeluk mamanya.
"Rey harap Mama bahagia ya, Ma."
Hana mengusap air matanya lalu mengecup pipi putranya. "Aamiin. Terima kasih, Reyhan. Mama melakukan ini demi Reyhan juga."
"Iya, Ma. Terima kasih banyak. Reyhan sangat bahagia. Alhamdulillah."
Setelah keputusan yang membahagiakan itu. Hana dan Bastian hanya tinggal membicarakan masalah tanggal dan waktu untuk menyelenggarakan pernikahan.
Hal itu Hana serahkan pada pihak laki-laki. Karena keluarga Hana akan menyetujui keputusan pihak laki-laki.
"Untuk masalah mahar, Hana ingin mahar dalam bentuk apa?"
Hana bingung, dia sama sekali tidak memikirkan masalah mahar. Tapi, Hana memang belakangan sedang belajar agama, terutama mengaji. Hingga muncul secara tiba-tiba keinginan mengajukan mahar berupa satu surah dalam al-quran.
"Maaf kalau tidak memberatkan, apakah Mas Bastian mau memberikan saya mahar berupa satu surah Ar-Rahman?"
Semuanya tercengang dengan permintaan yang diajukan oleh Hana. Kinan sampai takjub, dia menutup mulutnya, tidak henti terkagum pada permintaan Hana itu.
"InsyaAllah, Hana. Saya tidak keberatan. Tapi, harus ada mahar berupa benda, bukannya begitu?" kata Bastian.
Hana tersenyum. "Masya Allah. Terima kasih Mas. Nilai surah Ar-Rahman begitu tinggi dibandingkan nilai maskawin berupa perhiasan atau uang. Tapi, jika memang tidak merepotkan boleh dengan cincin apapun itu, tidak harus dari emas, jika itu terlalu memberatkan Mas Bas."
"Insya Allah tidak memberatkan. Baik, saya akan memberikan mahar cincin untuk Hana."
"Alhamdulillah." Hana menyentuh dadanya. Dia sama sekali tidak membayangkan bahwa dia akan menikah. Harapan itu memang ada, dulu sekali. Tapi semua harapan itu dihancurkan berkeping-keping. Setelah dia melalui semua hal yang amat berat dalam hidupnya. Hana mencoba memungut kembali kepingan harapan yang telah hancur itu.
Namun siapa sangka. Akan ada hadiah luar biasa untuk Hana.
Dude menghampiri adiknya, dia memeluk Hana dengan erat sambil meneteskan air mata.
"Alhamdulillah, Dek. Mas bahagia, karena kamu bisa mendapatkan kebahagiaan kamu. Terima kasih karena Hana mau bertahan dan berjuang untuk bangkit. Terima kasih, Hana, kamu adalah adik Mas yang sangat kuat."
Hana juga menangis. Hal yang membahagiakan adalah ketika orang lain bisa merasakan kebahagiaan saat kamu bahagia. "Hana terlalu banyak menyusahkan Mas selama ini. Maafkan Hana, ya. Mas adalah orang tua Hana yang luar biasa."
...______...
...Kisah siapa lagi yang pembaca tunggu? Aku bingung kasih konflik rada gatega sebab mereka udh pada bahagia. 😅...
__ADS_1
...Ya udah aku lanjut mikir dulu ya, alias ngehalu. ...