
"Kenapa tiba-tiba kamu minta resign, Gus? Apa gaji yang aku berikan kurang untuk kamu?"
"Tidak, Nona. Sama sekali tidak. Gajinya sudah sangat cukup dan saya berterima kasih," jawab Bagus.
"Lalu kenapa kamu ingin berhenti?"
"Saya akan pindah Nona."
"Pindah? Pindah ke mana?"
"Ke tempat yang jauh, saya belum tahu ke mana, yang jelas saya akan menjauh dari Jakarta, dan kota-kota besar, mungkin saya akan tinggal di pedesaan," jawab Bagus sambil meringis memegangi lebam di wajahnya.
"Wajah kamu kenapa luka begitu? Kamu berkelahi?" tanya Selina.
Bagus tersenyum. "Ini hukuman buat saya, Nona. Saya pantas mendapatkannya."
"Hm, kamu ini misterius sekali ya, Gus. Aku kecewa kamu harus berhenti. Padahal aku itu berencana untuk belajar tentang agama sama kamu lho."
Bagus makin meringis. "Saya tidak pantas mengajari Nona Selin. Apalagi tentang agama, saya itu banyak dosa Nona."
Selina makin bingung dengan ucapan Bagus yang lebih mirip bentuk pengakuan dosa itu. "Bukannya setiap manusia memang penuh dosa. Ya, aku tidak terlalu mengerti esensinya, tapi yang ku tahu, dosa manusia itu tidak bisa terhitung banyaknya. Bukan hanya kamu, manusia seluruhnya, pasti punya dosa. Iya, kan?"
Bagus mengangguk. "Tapi kesalahan saya merugikan orang, Nona. Saya sudah menghancurkan hidup orang lain."
Selina agak mengerutkan kening.
"Ah, maaf saya malah jadi berbicara terlalu jauh. Intinya saya berterima kasih karena Nona sudah mau menerima saya sebagai supir. Tapi maaf saya harus berhenti, saya mau pamit, Nona."
Selina sebenarnya tidak mau kalau Bagus berhenti. Tapi dia sadar kalau dia tidak berhak melarang.
"Baiklah. Ini ada pesangon buat kamu."
Selina memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Bagus.
"Pesangon? Ya Allah saya bahkan belum satu bulan bekerja dengan Nona Selin. Tidak usah Nona. Gaji yang Nona bayar di muka saja sudah lebih dari cukup."
"Kamu bekerja denganku selama dua puluh lima hari. Anggap saja itu satu bulan. Ini uang dariku, dan aku harap kamu tidak menolak. Kamu tolong aku waktu aku mabuk, dan itu sangat tidak mudah. Intinya aku berterima kasih, Terima ya." Selina memberikan uang itu ke tangan Bagus. "Terima saja."
"Baik Nona. Terima kasih banyak." Bagus akhirnya menerima uang itu.
"Ya, semoga kamu bisa mendapatkan hidup yang lebih baik."
"Aamiin. Semoga Nona juga selalu bahagia, ya."
"Ya, semoga," jawab Selina.
Setelah itu waktu berjalan seperti biasa. Meski agak berbeda rasanya, karena Selina harus segera mencari supir baru, untung saja Selina segera mendapatkan pengganti. Ya, dia memutuskan untuk menetap di Indonesia, lagi pula orang tuanya tidak terlalu mempermasalahkan dia tinggal di mana, selama dia nyaman dan bahagia di tempat itu.
Selina memang kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Bahkan sampai sekarang, tapi dia tidak langsung putus asa, dia yakin tidak ada yang tahu jodoh selain Tuhan. Ya, benar. Belum lama ini Selina juga mulai mempelajari berbagai agama, dan dia mulai menekuni nya, mulai mempercayai keberadaan Sang Maha Pencipta. Dia sadar semesta tidak mungkin tercipta dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.
Tiga bulan berjalan, pernikahan Kinan dan Dude makin hari makin bertambah mesra. Meski keduanya sama-sama bekerja dan sibuk setiap senin-jumat. Tapi di akhir pekan mereka menyempatkan waktu untuk menghabiskan waktu berdua.
"Mas tolong ambilkan minyak goreng boleh?"
"Boleh dong sayang."
Dude mengambilkan minyak goreng lalu memberikannya pada Kinan. Tak lupa satu kecupan didaratkan ke pipi Kinan selama istrinya itu memasak.
"Servis untuk koki kita." Dude tersenyum lagi, lalu memeluk Kinan dari belakang.
__ADS_1
"Kalau gini aku nggak bisa masak dengan serius, aku jadi nggak fokus dong."
"Ya, biarkan saja. Kalau kamu tidak. masak juga tidak masalah, kita bisa delivery."
"Kamu lebih suka masakan delivery dibanding masakan buatan ku?"
"Hei, bukan begitu. Saya hanya tidak mau kamu lelah, hari libur seharusnya kamu di manjakan bukan harus sibuk masak."
Kinan terkekeh. "Ini menyenangkan, apalagi kalau lihat Mas dengan lahap makan masakan ku, itu rasanya nikmat yang luar biasa banget."
Dude melingkarkan tangannya ke pinggang Kinan menyusuri permukaan perut Kinan, mengelus nya, lalu berbisik di telinga Kinan.
"Apapun yang kamu masak, kamu lakukan untuk saya, saya pasti suka."
Kinan lalu berbalik, dia menatap mata Dude sebentar, tapi tetap saja dia tidak mampu bertahan lama. Kinan selalu bersemu, lalu berpaling cepat.
"Kamu kenapa?" tanya Dude lalu mengelus pipi Kinan.
"Nggak, aku juga nggak tahu, kenapa aku nggak bisa menatap mata kamu lama-lama Mas."
Dude terkekeh. "Kok bisa gitu? Emangnya ada apa di mata saya?"
Kinan juga tertawa kecil. "Mungkin ada cinta."
Dude makin gemas lalu mengecup bibir Kinan. "Sudah pasti ada cinta. Di mata kamu, apa ada cinta untuk saya?"
Mereka berdua saling menatap. "Kalau tidak ada mana mungkin aku terlena setiap kali menatap mata Mas."
Ciuman yang tadi pun berlanjut, hingga mereka lupa untuk apa di dapur tadi.
Hana yang sekarang tidak sama dengan Hana yang dulu. Hana yang sekarang sudah bermetamorfosis menjadi wanita yang kuat, mandiri dan jauh lebih tegar. Untunglah, lingkungan tempat Hana tinggal cukup mendukung. Tidak ada yang membahas masa lalu Hana, bagaimana Hana dulu ketika depresi. Malah para tetangga bersyukur dan ikut senang karena Hana bisa pulih seperti sekarang itu seperti keajaiban.
Lagi-lagi tetangga yang di undang ke rumah mereka merasa takjub dan suka dengan rasa kue buatan Hana. Sampai akhirnya Hana menghubungi Dude, mengatakan ingin sekali membuka usaha kue sendiri.
Tentu saja Dude sangat mendukung, tidak perlu waktu lama, toko kue ReyHana Cake and Bakery pun siap untuk dijalankan olehnya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, mau cari kue apa, Pak?"
Karena toko kue Hana cukup ramai dikunjungi, kebetulan mereka buka di sekitaran Malioboro tempat yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Hana mempekerjakan dua karyawan untuk menjaga toko, dan dua karyawan lain untuk membantunya di dapur.
"Saya cari pemilik toko kuenya, apakah ada?"
"Maksudnya Ibu Hana?"
"Ya, benar. Bisa saya minta tolong bilang ke beliau kalau saya ingin bertemu?"
"Boleh, Pak. Silakan duduk. Tapi sebelumnya ini dengan bapak siapa ya?"
Karyawan itu langsung menemui Hana yang sedang mengontrol bagian dapur. Bagian dapur ada di belakang toko kue. Hana harus memastikan kue yang dibuat semuanya baik dan siap untuk di kemas dan dijual.
Wanita bertudung panjang itu tidak pernah marah sekali pun, dia sangat sabar mengajari karyawannya yang masih butuh di bimbing.
"Bu Hana, di toko ada yang ingin bertemu dengan Ibu Hana."
"Bertemu saya? Siapa?"
"Namanya Bapak Bastian. Katanya dia guru BK putra Bu Hana, dek Reyhan."
__ADS_1
"Pak Bastian?" Hana agak berpikir sebentar, mengingat nama itu. Ah, baru Hana ingat, Bastian yang pernah datang ke rumah sakit jiwa mengunjunginya bersama Reyhan.
Tapi ada apa Bastian mencari Hana?
"Baik, saya akan ke toko ya."
"Baik, Bu Hana."
Hana masuk ke tokonya lewat pintu belakang. Dia melihat Bastian sedang melihat-lihat etalase kuenya bersama dengan para pembeli lain. Hana lalu menghampiri Bastian, tapi laki-laki itu agak pangling dengan penampilan Hana. Dia agak tercengang memperhatikan Hana seperti orang terkejut.
"Assalamu'alaikum, Pak Bastian?"
"Wa-Waalaikumsalaam. Bu Hana? Ini benar Bu Hana?" tanya Bastian seolah tidak percaya melihat wanita anggun di depannya itu adalah Hana, ibu Reyhan, muridnya.
"Ya, saya Hana, Pak. Apa kabar?" tanya Hana dengan sangat ramah.
"Masya Allah, Ibu Hana benar-benar bikin saya pangling. Alhamdulillah saya baik, bagaimana kabar Bu Hana?"
"Alhamdulillah baik sekali, jauh lebih baik dari sewaktu Pak Bastian melihat saya pertama kali." Hana masih dengan senyuman ramahnya.
Mereka saling memandang satu sama lain sebentar, sebelum Hana kembali menundukkan pandangan.
"Maaf ada keperluan apa Pak Bastian ke sini mencari saya? Apa mau memesan kue mungkin?" tanya Hana.
Bastian agak menggaruk kening, lalu tersenyum kecil pada Hana. "Sebenarnya saya hanya ingin menemui Ibu Hana, karena beberapa hari lalu Reyhan datang ke ruangan saya, dia curhat gitu."
"Oh, ya? Reyhan curhat apa? Tentang saya?" tanya Hana penasaran dengan curhatan putranya.
"Ya, tentang Ibu Hana. Katanya dia senang karena Bu Hana sekarang sudah benar-benar pulih bahkan memiliki toko kue sendiri. Saya penasaran, ingin melihat apakah benar Bu Hana memiliki toko kue sendiri? Ternyata benar dan saya ikut senang melihatnya, Bu."
"Silakan duduk dulu Pak Bastian. Mengobrol sambil duduk saja, mau saya buatkan minum?"
"Ah jangan, Bu. Merepotkan saja nanti." Bastian menolaknya halus.
"Tidak merepotkan, saya malah senang kalau guru Reyhan mau berkunjung ke toko saya ini. Sebentar ya. Saya buatkan minum dulu."
"Baiklah, terima kasih."
Hana pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Saat itu tanpa sadar jantung Hana berdegup kencang saat melihat Bastian. Ada apa ini? Sudah lama sekali Hana tidak merasakan perasaan seperti itu. Tapi buru-buru Hana menghilangkan perasaan itu karena dia tahu itu tidak boleh dia pelihara. Siapa dia pantas memiliki perasaan seperti itu? Hana mungkin sudah berubah, tapi dia tetap tidak bisa melupakan kejadian masa lalunya, siapa dia dan sekotor apa dirinya.
Hana kemudian membawa secangkir teh dan sepotong kue coklat ke tempat Bastian duduk menunggu.
"Silakan di minum, Pak."
"Terima kasih, Bu. Maaf saya sudah merepotkan," kata Bastian.
Hana kembali duduk. "Tidak merepotkan. Saya berterima kasih karena Pak Bastian mau menjaga Reyhan selama saya sakit. Reyhan sering cerita, kalau Pak Bastian menjaga Reyhan di sekolah, saat teman-temannya banyak yang merundung nya."
"Itu memang kewajiban saya sebagai guru, Bu. Lagi pula Reyhan itu anak yang baik, dia juga taat beribadah, pintar mengaji, saya merasa bangga memiliki murid seperti Reyhan, walau saya hanya sebagai guru BK nya saja."
"Alhamdulillah. Saya juga senang karena di sekolah sekarang ada guru bimbingan konseling, walaupun Reyhan masih sekolah dasar, jujur itu sangat membantu Reyhan yang tumbuh tanpa perhatian orang tua. Apalagi Reyhan hanya memiliki orang tua tunggal," kata Hana kali ini dia agak berkaca-kaca. Tapi, Hana segera mengendalikan dirinya, dia tidak mau menunjukkan raut kesedihan di hadapan orang lain.
Bastian sesekali menatap Hana, meski kuat dan tegar, tetap saja hati Hana pasti sangat rapuh. Entah kenapa dia selalu ingin tahu apa yang dirasakan wanita itu, dibalik senyumannya, Bastian ingin sekali menjadi teman dekat Hana. Meski dia tahu itu tidaklah mudah, bisa berbincang berdua seperti sekarang saja Bastian tidak menyangka nya.
"Silakan di minum, Pak. Jangan lupa di cicipi ini cake coklat yang jadi best seller di toko kue saya."
"Oh, ya. Luar biasa Ibu Hana. Pasti sangat pandai membuat kue. Kalau guru saya cicipi ya."
Bastian pun menyeruput teh hangat buatan Hana dan mencicipi sedikit kue coklat yang di suguhkan untuknya. "Wah, ini enak sekali, Bu."
"Alhamdulillah, terima kasih. Syukurlah kalau rasanya cocok di lidah Bapak."
__ADS_1
Melihat Hana tersenyum membuat Bastian bergetar. Tapi, kalau dia makin mendekati Hana, dia takut Hana malah merasa tidak nyaman.
Ya Allah, tanpa sadar saya ikut bahagia melihat senyuman itu. Apakah saya benar-benar jatuh hati pada Hana? Tapi, apa dia mau menerima perasaan saya ini?