
Keheningan malam menambah sakral acara yang sedang Selina tonton dari tayangan youtube. Entah kenapa belakangan ini Selina suka sekali melihat video tentang pernikahan. Bukan pernikahan mewah, melainkan pernikahan islami..
Ya, Selina memutuskan untuk memeluk agama setelah sekian lama dia tidak percaya Tuhan. Tidak disangka, Nathan lah yang membantu niat baiknya itu.
Menurut Selina yang sekarang. Manusia harus percaya Tuhan, entah apa agamanya. Meski agamanya berbeda, intinya orang itu harus tetap percaya bahwa Tuhan itu ada.
Selama tiga bulan di kota hujan. Selina berteman dengan laki-laki bernama Nathan. Laki-laki yang baik, tulus, dan lembut padanya.
Namun, ada satu hal yang membuat pikiran Selina agak terganggu. Nathan mengungkapkan perasaannya pada Selina. Sementara Selina hanya menganggap Nathan sebagai teman.
Kemarin sore tepatnya. Setelah mereka pulang dari acara pengajian yang diadakan daerah sekitar villa tempat Selina tinggal. Selina mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan baju kurung senada. Selina tampak anggun dengan busana tertutupnya.
"Selina, bisakah kita berbicara berdua?" tanya Nathan. Wajahnya berubah serius sekarang.
"Hm, bicara berdua? Kita sekarang juga bukannya sedang berdua?" sahut Selina dengan senyum tipisnya. "Ada apa memangnya?"
"Iya, tapi ini pembicaraan yang serius berbeda dengan yang biasanya." Nathan lagi-lagi masih terlihat tegang, sangat serius, memang berbeda dari biasanya.
"Oh, oke. Mau bicara di mana?" kata Selina, dia tahu mungkin ini obrolan yang agak sensitif, begitu? pikirnya.
"Hm, di warung bakso langganan, gimana? " tawar Nathan.
Ya, semenjak berteman dengan Nathan juga hidup Selina lebih sederhana dari sebelumnya. Dia bahkan sebelumnya tidak pernah duduk di warung bakso kecil, lebih-lebih terpencil.
"Boleh, kebetulan aku juga lapar." Selina mengiyakan ajakan Nathan.
Mereka makan di warung bakso langganan mereka. Kemudian langsung memesan dua porsi bakso.
"Nathan, aku kali ini mau makan mie ayam saja," kata Selina.
"Oke." Nathan pun pergi ke tukang bakso, mengubah pesanan yang semula dua porsi bakso urat menjadi seporsi bakso urat, dan seporsi mie ayam.
Dua gelas es teh manis datang lebih dulu sebelum bakso datang. Selina menyesap minuman dingin dan sesederhana itu Selina tersenyum. Dulu, di rumahnya lebih banyak minuman beralkohol yang dia habiskan. Ke mana pun dia pergi, dia tidak pernah absen meminum minuman itu. Menurut kepercayaannya tidak ada sesuatu yang buruk yang dia lakukan. Hanya melakukan apa yang menurutnya membahagiakan. Walaupun sebenarnya Selina tidak pernah merasa bahagia.
"Kamu selalu senyum kalau minum es teh manis." Nathan tidak pernah sekalipun melewatkan senyuman Selina.
"Ah, iya. Ini enak dan luar biasa. Aku baru sadar ada minuman seenak ini."
Nathan menggeleng sambil tertawa. "Enak karena manis?"
__ADS_1
"Iya, ini manis."
"Ada yang lebih manis dari pada es teh manis ini." Nathan tersenyum penuh arti.
"Apa? Boleh deh nanti aku pesan juga," kata Selina.
"Hm, tidak bisa di pesan, tapi kamu sudah punya."
"Aku? Aku punya? Minuman apa itu?"
"Bukan minuman." Gelengan Nathan makin membuat Selina bingung.
"Lantas apa?"
Nathan tersenyum lagi. "Senyuman kamu, Sel."
Selina langsung menatap Nathan dengan tatapan terkejut. Tapi tidak lama, setelah itu Selina kembali tertawa.
"Ya Allah, Nathan. Aku kira kamu serius, ada minuman yang lebih manis lagi."
"Itu juga aku serius, Sel. Kata siapa tidak serius." Nathan masih menatap Selina intens.
"Alhamdulillah. Enak banget, Nathan. Kita makan dulu yuk."
Nathan mengangguk. "Iya."
Selina dan Nathan langsung fokus pada mangkuk masing-masing. Tapi pikiran Selina tidak lepas memikirkan setiap kata-kata yang di ucapkan Nathan sejak tadi. Arah pembicaraan Nathan, gesture nya semua menandakan ke suatu tujuan.
Selina sudah cukup berpengalaman tentang pria. Meski yang baru dipacarinya hanya Dude. Tapi dia tahu jika pria seperti Nathan itu pasti memiliki perasaan khusus padanya. Ah, tapi bagaimana jika lebih dari itu. Bagaimana jika Nathan ingin membuat pengakuan cinta hari ini padanya? Memikirkan itu saja membuat Selina hampir tersedak.
"Uhuk!"
"Sel."
Nathan dengan cekatan membuka botol air mineral. "Minum dulu. Air putih aja kalau es teh manis nanti kamu nggak nyaman tenggorokannya."
Sampai segitunya, batin Selina. Benar, semua perhatian Nathan selama ini memang agak berlebihan.
"Makasih, Nath."
__ADS_1
Selina meneguk air mineral pemberian Nathan. Tapi dia masih tidak tenang, dia takut Nathan benar-benar akan membuat pengakuan sebentar lagi. Lalu bagaimana reaksi Nathan jika tahu selama ini dia hanya menganggap Nathan sebagai teman, tidak lebih.
Selina tidak mau membuat hubungan pertemanan yang mereka jalin selama tiga bulan jadi merenggang Pasti akan terasa aneh.
Di sana, di warung bakso langganan mereka. Selina untuk pertama kalinya merasakan canggung berada di dekat pria. Kenapa, apa dia benar-benar tidak nyaman ketika tahu Nathan sepertinya akan mengatakan cinta padanya?
Selesai mereka menyantap bakso dan mie ayam. Tukang bakso juga sudah membereskan mangkok mereka selepas mereka pergi meninggalkan meja itu.
Sekarang Nathan dan Selina duduk di bangku panjang, di dekat kebun-kebun. Ada pohon stroberi yang ditaruh di dalam pot-pot kecil. Juga kebun sayuran, seperti sawi dan lain-lain.
"Nathan, kamu mau ajak aku ngomong serius. Kamu memangnya mau ngomong apa?" tanya Selina.
Nathan menarik napas dalam-dalam, lalu dia agak menegakkan tubuhnya menatap lurus ke arah Selina.
"Iya, Sel. Tapi aku harap semuanya nggak akan mengubah fakta bahwa kita berteman. Maksudku, apapun yang aku katakan, aku harap kamu tetap menganggap aku sebagai teman kamu ya."
Selina mengangguk ragu. Jadi sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh Nathan?
"Selina, pertama kali aku bertemu kamu, aku kira kamu sombong dan tidak ramah sama sekali."
Selina terkejut, tapi dia kembali melempar senyum tipis. Dia memang tidak terlalu baik, walau tidak begitu buruk juga, batinnya.
"Tapi ternyata kamu orang yang ramah, baik, dan juga sopan."
Apakah begitu? Selina menggeleng. Padahal dia merasa dirinya itu kurang sopan selama ini. "Lalu?"
Tatapan mata Selina sempat membuat Nathan ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Sel, aku menyukai kamu."
Selina terpaku di posisinya sekarang. Dia hanya menatap Nathan, tanpa bisa berkata-kata. Tapi Selina memang sudah menduga, Nathan akan mengatakan itu.
"Aku menyukai kamu, menurutku kamu wanita yang baik. Lama-lama aku perhatian padamu, tapi aku kira itu hanya sebentuk perhatian terhadap teman saja."
Selina tertunduk. Dia mendadak gugup. Nathan terlalu baik, apa dia tega menolaknya?
"Tapi aku tahu, kamu tidak menyukai aku. Maksudku kamu tidak menyukaiku seperti aku menyukai kamu."
Selina menatap mata Nathan kembali. Dia mendadak sedih mendengar kata-kata Nathan. Apakah Nathan bisa melihat perasaannya. Apakah itu terlalu jelas?
__ADS_1
"Sel, sebentar lagi aku akan menikah."