Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
Extra Part 02


__ADS_3

Meski telah cukup lama kenangan pahit itu berlalu. Terlebih saat Raihana sudaj memaafkan Bagus, lelaki yang telah menyakitinya di masa lalu. Dia juga sudah menikah dengan pria shaleh yaitu Bastian yang mencintainya begitu lembut dan tulus.


Allah Maha Pemaaf. Itu yang menjadi kekuatan Reyhan dan Hana untuk memaafkan Bagus. Meski rasanya sangat sulit. Tapi Bagus sudah tiada, hanya sisa kenangan yang masih melekat dalam otaknya. Hana berusaha sekuat tenaga menjalani hubungan yang intim dengan Bastian, suaminya. Hanya setiap kali Bastian mencoba meniduri nya, bayangan masa lalu dia yang dinodai secara paksa oleh Bagus masih saja menghantui.


Apakah Hana belum bisa sepenuhnya memaafkan Bagus?


Apakah karena masa lalunya Hana sampai saat ini belum juga hamil?


Walaupun Bastian tidak pernah memaksa Hana agar segera hamil. Bastian tahu itu semua tergantung takdir Allah, rezeki yang Allah percayakan untuk mereka. Bersabar, dan bersabar. Mereka juga sudah memeriksakan ke dokter tentang kondisi mereka berdua. t.Tapi semua baik-baik saja, tidak ada masalah.


"Bersabar, Dek sayang. Yakin saja, rencana Allah yang paling indah."


Hana tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke dada suaminya. "Maafkan Hana, ya, Mas."


"Kenapa kamu selalu meminta maaf, ini bukan salah kamu lho, Dek. Anak itu pemberian yang maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan ikhtiar. Iya, kan? Lagi pula Mas tidak mau kamu terlalu memikirkan hal yang bukan menjadi bagian kita. Jelas-jelas itu kuasa Allah, ya, kan?"


Beruntung Bastian sangat pengertian. Itu juga yang tidak pernah lupa Hana syukuri.


"Makasih Mas. Hana juga tidak bosan berdoa."


Bastian mengecup telapak tangan Hana, menatapnya dengan senyum simpul. "Ikhtiarnya apa perlu ditambah, Dek?"


Hana tersipu. "Sudah cukup lho, Mas. Kalau terlalu sering, Mas juga yang lelah."


Bastian hanya mesem-mesem. "Khumayra ku, pipinya merah sekali."


Hana menutup wajahnya. "Jangan menggoda terus, aku malu."


***


Raihan sangat menyukai anak kecil. Dia juga begitu gemas dengan Sera, putri Dude dan Kinan yang baru berusia lima bulan. Bayi gembul yang memiliki senyuman sangat manis nan menggemaskan itu selalu berhasil membuat Raihan tidak ingin pulang dan ingin selalu mengunjungi dek Sera, panggilan sayang Raihan untuk sepupunya.


"Mah, Rey boleh nggak nginep di rumah Papah Dude?"


Hana tersenyum. "Tanya sama Mamah Kinan dan Papah Dude dong, Nak."


"Boleh dong, boleh bangeeeet..." Kinan menyahutinya dengan gembira.

__ADS_1


"Boleh Rey. Kamu mau jagain dek Sera?" Dude mengusap rambut keponakannya yang tampan itu.


"Iya, Pah. Rey sayang banget sama dek Sera, habisnya gemes banget," jawab Rey.


Hana menghela napas panjang. Kenapa dia merasa bersalah dengan Rey. Seusia Rey pasti ingin memiliki adik. Tapi dia? Apakah dia bisa hamil? Sampai sekarang Hana ragu, dia merasa dia tidak bisa hamil lagi. Hal buruk yang pernah dia lakukan di masa lalu mungkin yang jadi sebabnya. Walau dokter bilang keadaanya sehat dan baik-baik saja. Tapi, Hana selalu menangis jika mengingat yang dulu pernah dia lakukan. Dia berulang kali mengonsumsi obat penggugur kandungan saat Reyhan masih di dalam rahimnya. Kuasa Allah, Rey tetap hidup, walau kesehatan Rey memburuk semenjak dilahirkan dalam keadaan prematur.


"Hana, kamu kok kelihatannya sedang memikirkan sesuatu? Kamu lagi sakit?" tanya Kinan.


"Enggak, Mbak. Hana nggak apa-apa, kok."


"Kamu jangan menyembunyikan sesuatu, Han. Kamu lagi mikirin apa? Siapa tahu dengan berbagi, perasaan kamu jadi lebih tenang." Kinan mengusap tangan Hana, berusaha menelisik ke dalam tatapan Hana, dia yakin wanita itu sedang kepikiran hal yang mengganggu.


Sementara Dude sedang bermain dengan Raihan dan juga Sera. Hana akhirnya menatap Kinan dengan mata sendu dan berkaca-kaca. "Mbak, Hana ingin sekali hamil."


Kinan terenyuh mendengar ucapan Hana. Bibir wanita itu bergetar saat mengutarakan kejujuran hatinya pada Kinan.


"Hana mau memiliki bayi dari Mas Bas."


Kinan mengerti, sangat mengerti. Kinan juga tidak bosan mendoakan adik iparnya itu agar Allah segera memberikan kepercayaan anak pada mereka.


"Sabar, Hana. Allah tahu kapan waktu yang tepat. Jangan menyerah, terus berdoa dan berusaha ya. Mbak yakin, suatu saat lagi, InsyaAllah."


Menatap Hana yang begitu dalam mengutarakan semua perasaannya pada Kinan. Membuat istri Dude itu merasa tidak tega. "Han, kamu harus rileks ya. Kalau kamu terlalu memikirkan, nantinya kamu akan stress. Itu juga mempengaruhi hormon kesuburan."


Seolah tahu apa yang dirasakan dan yang mendasari pertanyaan Hana. Kinan begitu mengerti dan memahami semua hal yang bahkan Hana sendiri belum pernah bercerita sebelumnya. "Yakin dan yakin sama Allah ya, Hana."


"Mbak benar, mungkin selama ini Hana terlalu sering memikirkan itu. Jadi, tanpa sadar Hana stress, Mbak."


Hana susah payah menganggukkan kepalanya. "Rey pernah berucap bahwa dia ingin adik seperti Sera. Dipikir-pikir umur Rey sudah sepantasnya memiliki adik. Wajar saja jika Rey berkata demikian. Itu yang membuat Hana sering merasa sedih."


Kinan mengusap tangan Hana, dia berusaha meyakinkan adiknya bahwa semua akan baik-baik saja.


"Jangan sedih, kamu harus bahagia. Oke?"


"Hm, iya, Mbak. Tapi Hana sering berpikir. Apakah semua ini sebab masa lalu Hana yang kelam?"


Kinan menggeleng. "Kamu berpikir terlalu jauh. Itu hanya masa lalu. Nyatanya kamu kini adalah muslimah yang shalehah, insya Allah."

__ADS_1


Hana memeluk Kinan, dia sendiri selalu merasa sebagai pendosa. Apakah Allah sudah mengampuninya?


"Hana, jangan terlalu membebani dirimu. Jika Allah menakdirkan kamu segera hamil, pasti Allah akan datangkan anak dalam pernikahan kamu dan Mas Bastian. Kamu jangan memaksakan dirimu ya," ujar Kinan pada Hana.


Hana mengeratkan pelukan pada Kinan, dia merasa dengan menceritakan itu pada Kinan hatinya agak tenang. Dude memperhatikan Kinan yang sedang berpelukan dengan Hana dari jauh. Dia berpikir apa yang sedang terjadi dengan adik perempuannya itu. Meskipun Dude sudah menikah dan memiliki anak, tetap saja Dude selalu mencemaskan keadaan Hana.


"Rey. Jaga dek Sera dulu ya, papah mau ke tempat mama Hana,"


"Baik, Pah." 


Dude berjalan ke arah Kinan dan Hana. Lalu dia menatap mata Hana yang basah. Benar saja adiknya itu sedang menangis. Tapi ada apa?


"Han, kamu kenapa?" tanya Dude.


Kinan melepaskan pelukannya dari Hana lalu menatap suaminya. "Hana sedang curhat, Abi."


"Curhat?" Dude mengernyitkan kening.


"Hana nggak apa-apa, kok Mas."


"Yakin? Kalau kamu ada sesuatu jangan merahasiakan dengan Mas. Kamu harus cerita, kamu udah cerita sama mbak-mu?"


"Udah kok, tadi Hana udah cerita dengan mbak Kinan. Alhamdulillah, perasaan Hana sekarang jauh lebih tenang. Terima kasih ya, Mbak udah mau dengerin keluh kesah Hana."


"Kamu jangan sungkan, kalau ada apa-apa, atau butuh teman cerita, kamu bisa cerita sama aku," kata Kinan.


Dude duduk di hadapan adiknya lalu mengusap pipi Hana yang basah karena air mata. "Kamu sebenarnya kenapa?" tanyanya dengan sangat lembut. Kinan mengusap bahu suaminya lalu berbisik. "Nanti aku ceritakan. Sekarang Hana udah merasa lega, kok, Bi."


Dude menghela napas panjang. "Jadi ini hanya boleh di ketahui oleh perempuan?"


Hana tertawa kecil. "Bukan gitu, Mas. Tapi kalau Hana cerita dari awal lagi ke Mas Dude kan lama. Mendingan nanti mbak Kinan aja yang cerita pas waktunya lebih leluasa, iya kan?"


Akhirnya Dude mengangguk pasrah. "Baiklah, kalau memang kamu baik-baik aja. Mas nggak mau adik mas satu-satunya sedih."


Hana langsung memeluk masnya. "Hana nggak apa-apa kok, Mas. Terima kasih ya, Mas udah jadi orang tua buat Hana dan juga Reyhan."


"Sudah seharusnya, Han. Kalau bukan Mas lalu siapa lagi," jawab Dude sambil mengusap punggung adiknya.

__ADS_1


Hana merasa bahagia memiliki keluarga seperti Dude dan juga Kinan. Mereka berdua tidak pernah sekalipun melupakan dirinya. Padahal keluarga kecil Dude sangat berbahagia, tapi mereka tidak lupa selalu berbagi kebahagiaan sekecil apapun kepadanya dan juga Reyhan. Berkat mereka juga Hana menjadi kuat seperti sekarang.


__ADS_2