
Tadinya Dude cemas dengan keadaan adiknya yang baru saja pulih dari trauma masa lalunya. Dia takut kalau kemunculan Bagus, laki-laki yang sudah menghancurkan hidup adiknya itu akan membuka luka lama itu kembali.
Namun ternyata Hana sangat kuat sekarang. Dia baik-baik saja dan berusaha ikhlas. Hidupnya sekarang hanya fokus pada putranya, Reyhan.
Selepas acara resepsi pernikahan Dude dan Kinan. Hana, Rey, beserta orang tua angkat Dude kembali ke Jogjakarta. Di sanalah tempat yang paling nyaman untuk Hana melanjutkan hidup, membiarkan Dude dan Kinan membangun rumah tangga nya di Jakarta berdua.
"Kinan masuk dulu ke dalam ya, Mas. Terima kasih sudah mengantar Kinan bekerja," ucap Kinan tidak lupa menyalimi tangan suaminya.
"Iya, nanti pulang kerja kamu di jemput supir nggak apa-apa, kan?" sahut Dude.
"Hm, memangnya Mas ada kerjaan lembur?"
"Bukan, Ki. Saya ada urusan sebentar, takutnya kalau menunggu saya yang menjemput nanti kelamaan."
"Oh gitu. Baik, Mas. Kinan nggak masalah kok. Naik angkut—" putus Kinan, Dude menutup mulut Kinan dengan telunjuknya.
"No. Kamu nggak boleh pulang naik angkutan umum lagi, Ki. Kamu udah janji lho sama saya," tegas Dude.
Kinan terkekeh pelan. "Iya-iya, oke kalau gitu nanti Kinan tunggu jemputan supir ya."
Dude pun pergi ke kantornya setelah memastikan istrinya selamat sampai tempat kerjanya.
Di kantor, Dude seperti biasa, begitu duduk di mejanya sudah disuguhkan banyak berkas yang harus dia cek satu-persatu.
Baru saja Dude hendak menyentuh berkas-berkas itu. Suara ketukan pintu membuatnya urung melanjutkan. "Masuk."
Seorang sekretaris masuk bersama dengan wanita yang membuat Dude terkejut.
"Siapa yang mengizinkan dia masuk?" ujar Dude dengan sedikit penekanan terhadap sekretarisnya.
"Maaf, Pak. Tapi Nona Selina ini salah satu calon kandidat terkuat yang akan bekerja sama dengan project terbaru perusahaan kita," terang sekretaris Dude itu.
Selina hanya tersenyum ringan. Dude tidak dapat berkelit, dia memang belum tahu siapa saja yang akan menjadi klien pentingnya hari ini. Tapi ini Selina? Sejak kapan wanita itu tertarik dengan bisnis?
"Baik, kamu boleh keluar," perintah Dude pada sekretarisnya.
"Permisi Pak."
Akhirnya sekarang hanya tinggal Selina dan Dude saja yang ada di ruangan itu. "Silakan duduk," titah Dude.
Selina pun duduk dengan anggun. Dia tidak berhenti tersenyum sejak tadi pada laki-laki yang ada di depannya sekarang.
"Jadi sejak kapan kamu tertarik dengan bisnis?" tanya Dude, dia tidak mau terlalu memperhatikan wajah Selina, Dude memilih langsung mengurus berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Apakah sopan jika berbicara dengan klien, tapi Anda tidak menatap klien itu?" ucap Selina.
__ADS_1
Dude mengangkat wajahnya. "Saya belum tentu menerima Anda menjadi rekan bisnis atau klien saya, Nona." Penegasan dari Dude itu membuat Selina tertawa kecil.
"Ya, tapi apakah Anda yakin akan membuang kesempatan mendapatkan klien yang Royal seperti saya?"
"Klien saya semuanya Royal dan loyal, jadi Anda tidak perlu terlalu baik."
Lagi-lagi penegasan Dude bukan membuat Selina mundur, malah makin membuat Selina tertarik.
"Miss you, Dude. Really, i miss you so bad."
Dude meletakkan penanya sambil mengembuskan napas berat. "Cukup, Selina. Saya tidak menerima klien yang seperti Anda. Silakan keluar karena saya masih banyak kesibukan."
"But why?? Apa karena kamu sudah menikah? Kita masih bisa menjalin hubungan. Apa bedanya? Kamu bisa berhubungan denganku tanpa ketahuan istrimu kan?"
Dude menggeleng. Dia tidak heran melihat pemikiran sekuler Selina, karena dulu dia pun sama, memiliki pemikiran yang bebas dan plural Seperti itu.
"Tidak. Jangan samakan pandanganmu dengan pandangan saya Sel. Saya mencintai istri saya dan menghargainya dengan serius. Jadi, percuma yang kamu lakukan ini, tidak akan berhasil."
Selina mulai berkaca-kaca. Lalu dia menyerahkan ponsel yang berisi foto-fotonya dulu bersama dengan Dude. "Bagaimana jika aku berikan foto ini kepada istrimu, apa dia akan tetap mau bersama kamu, Dude?"
Dude membulatkan matanya, dia tidak menyangka bahwa Selina akan melakukan itu padanya.
"Kenapa kamu melakukan ini pada saya Selina? Apa saya merugikan mu? Kejadian yang sudah berlalu tidak akan ada habisnya jika kamu ungkit terus. Saya sudah memiliki kehidupan baru dengan wanita yang saya cintai, saya harap kamu juga bisa menemukan orang yang lebih baik lagi, Sel."
"No! Because i love you! Only you!"
"Kamu sudah berubah, Dude. Kamu tidak seperti yang aku kenal. Kenapa? Apa karena aku tidak percaya Tuhan, kamu mengabaikan aku selama sepuluh tahun ini. Kamu melupakan aku, benar-benar lupa, Dude! Apa salahku!"
"Cukup, Sel. Saya sudah katakan kamu tidak salah. Hanya hubungan kita tidak bisa diteruskan, semuanya sudah berakhir. Cobalah kamu terima semua kenyataan ini. Jangan begini, Sel. Ini hanya akan menyiksamu."
Selina menangis sambil menahan amarahnya. Dia juga malu mengemis cinta pada Dude, tapi hatinya tidak dapat berpaling dari laki-laki itu. Lalu sekarang dia sudah ditolak mentah-mentah. Apa lagi yang bisa dia lakukan?
"Silakan keluar, saya tahu kamu tidak tertarik dengan bisnis. Tidak perlu melakukan hal yang hanya akan membuang waktu kamu Selina."
Meski dia merasa sakit dengan semua perkataan Dude. Tapi sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, hingga dia memilih untuk pergi.
Saat Selina keluar dari ruang kerjanya, Dude menyuruh orang suruhannya untuk melihat apakah Selina datang bersama dengan supirnya yang biasa, yaitu Bagus.
"Astaga. Kenapa dia bisa sedekat itu. Kalau Kinan lihat foto itu, apa Kinan akan marah? Tapi, saya sudah jujur pada Kinan tentang masa lalu saya yang bebas. Apa Kinan masih akan tetap marah?"
Selina tidak langsung pulang, dia memilih berjalan mencari tempat di mana dia bisa menangis. Tapi sejauh matanya memandang dia tidak menemukan tempat yang tenang, semua tempat dipenuhi hiruk-pikuk kendaraan dan lalu lalang orang-orang dengan aktivitas nya.
Hanya saat matanya tertuju pada sebuah gedung, tempatnya sepi, saat itu baru pukul sembilan tepat.
Selina berjalan ke arah gedung itu, lalu dia masuk dan duduk di halamannya yang cukup luas. Dia melihat Bagus sedang ada di sana, di dalamnya melakukan hal yang tidak asing, tapi juga tidak akrab dalam penglihatannya. Bagus sepertinya sedang menunaikan salat.
__ADS_1
"Dia ibadah apa? Bukannya waktu ibadah umat muslim terbagi menjadi lima, dan ini belum waktunya orang muslim beribadah 'kan?" Selina bergumam sendiri sambil memperhatikan Bagus yang sepertinya sangat serius melakukan ibadah itu.
Dari pada terus penasaran, Selina pun memutuskan berjalan mendekati Bagus. Tepat saat Bagus selesai melakukan ibadahnya. Selina membuat Bagus terkejut dengan duduk di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan, kamu sedang ibadah?" tanya Selina.
"Ya Tuhan, Nona. Saya kira siapa. apa Nona sudah selesai? Maaf saya tinggal ke masjid sebentar. Saya salat dhuha dulu, Nona."
"Dhuha? Itu apa?"
Bagus tersenyum sambil merapikan kembali sajadah yang baru dia pakai, meletakkannya ke dalam tempat penyimpanan hingga tersusun rapi.
"Salat dhuha itu salat sunnah yang dilakukan di waktu jam segini, sebelum salat dzuhur."
"Sunnah?" Selina makin merasa asing dengan istilah itu.
"Nona Selina muslim?"
Selina menggeleng.
"Hm, kalau begitu Nona itu Non Muslim?"
Selina menggeleng lagi.
"Jadi Nona?"
"Aku tidak punya Tuhan."
Bagus memang tahu ada segelintir orang yang menganut kepercayaan seperti itu. Jadi, Bagus hanya tersenyum, bagaimana pun dia harus tetap menghargai kepercayaan orang lain, apapun itu.
"Oh, baiklah, Nona." Bagus menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke luar masjid.
Selina terlihat menghela napas berulang kali, seperti ada beban di dalam hatinya.
"Kenapa Nona ke sini? Kenapa tidak menunggu di mobil?" tanya Bagus.
"Saya mencari ketenangan, di mana-mana ramai, hanya di sini yang sepi," jawab Selina.
"Belum masuk waktu salat wajib, jadi sepi, Nona. Kalau gitu sekarang kita mau ke mana?"
"Kamu bisa antar aku ke rumah sakit?"
"Nona sakit?"
"Ya, sepertinya kepala saya pusing. Mungkin efek mabuk semalam."
__ADS_1
"Oh benar. Kalau gitu saya antar Nona ke rumah sakit terdekat saja ya."
Selina mengangguk, dia lalu berjalan menuju mobilnya. Walau di benaknya sekarang muncul pertanyaan tentang ibadah yang dilakukan Bagus beserta keyakinannya. Apakah agama dan Tuhan memberikan ketenangan dalam hidup? Selina merasa penasaran.