Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
Extra Part 04


__ADS_3

Seperti janji Dude, dia ingin sekali mengajak Kinan ke Cappadocia, tempat yang Kinan pilih sebagai negara yang ingin dia kunjungi. Karena mereka belum sempat bulan madu, sebab Kinan sudah hamil, dan mereka juga belum ada kesempatan untuk pergi jalan-jalan karena kondisi yang belum memungkinkan sebab virus Corona yang menyebar ke seluruh dunia.


Setelah kelahiran Serafina, Dude memutuskan untuk mengajak Kinan dan bayi cantiknya berjalan-jalan. Tadinya Dude juga ingin mengajak Reyhan, tapi keponakannya itu sedang fokus pada pendidikannya di pondok pesantren.


Akhirnya Dude mengajak Raihana dan Bastian ke Cappadocia untuk berlibur di sana. Tapi, Hana menolak ajakan masnya, karena pekerjaan Bastian yang tidak memungkinkan untuk libur.



"Sayang banget ya, Hana nggak bisa ikut. Padahal Cappadocia indah banget, aku beneran nggak nyangka. Seandainya juga Ibu mau aku ajak, tapi dia malah ketawain aku, katanya aku ikutin pelakor di cerita layangan apa itu, ya ampun, ibu." Kinan menggeleng sambil menatap indahnya pemandangan di Cappadocia, Turki. Tentunya bersama dengan Dude yang sedang menggendong Sera, di sebelahnya.


"Ibu ada-ada aja, padahal aku juga ingin kita sekeluarga berlibur. Tapi apa boleh buat, ibu nggak mau, Hana nggak bisa. Ya sudah, semoga lain waktu kita bisa bareng-bareng ke sini ya," kata Dude lalu mengecup kening Kinan.


"Kita doakan saja ya, Hana juga, kan, sedang program agar punya anak. Hana sudah sangat ingin hamil, semoga Allah segera menjawab doa-doa Hana dan Bastian, juga doa-doa kita untuk mereka," tambahnya.


"Aamiin, Bi. Kinan juga berharap Allah segera memberikan keturunan untuk Hana dan Bastian." Kinan mengambil alih gendongan Sera, bayi perempuannya itu sudah terlelap setelah di gendong oleh abinya.


"Dek Sera udah bobo, pindahin ke tempat tidur aja ya. Kasian Abi, pegel pasti," ucap Kinan.


"Dek Sera tambah gembul tapi aku makin senang gendongnya. Dia cantik banget, bulu matanya lentik, kayak kamu," puji Dude sembari melingkarkan tangan ke pinggang Kinan, memeluk istrinya dari belakang.


Kinan tersenyum, lalu dia berbalik setelah memastikan Sera tidur dengan nyaman ditempat tidurnya.


"Makasih ya, Bi, udah ajak aku ke sini."


"Sama-sama sayang, aku juga senang bisa ke sini bareng kamu. Nggak ada yang lebih membahagiakan aku, lebih dari waktu aku bisa bersama kamu dan Sera, seperti ini."


Dude mengecup kening Kinan. Mata Kinan terpejam merasakan sentuhan halus menyentuhnya.

__ADS_1


Hari demi hari yang mereka lalui di penuhi banyak cerita. Mulai dadi cerita yang bahagia, mengejutkan, menegangkan sampai cerita yang menyedihkan pun ada dan itu sangat berbekas di hati Kinan.


"Kamu nggak ada rencana mau kasih dek Sera adik?" tanya Dude dengan wajah senyum-senyum sendiri.


Kinan melebarkan matanya. "Apa sih Mas? Dek Sera masih kecil. Kasihan dong, nanti dia kurang kasih sayang," katanya pada Dude.


"Nggak lah, sayang, yang ada kasih sayang double buat Sera, karena adiknya juga pasti sayang sama kakaknya, iya kan? Jadi dia bukan dedek lagi, tapi kakak," ujar Dude seolah serius ingin agar Sera segera memiliki adik.


Kinan menggeleng. "Nanti ya, kalau Sera udah tiga tahun deh minimal."


Dude terkekeh lalu memeluk Kinan. "Aku cuman bercanda sayang, aku pengin aja ngeledek kamu. Aku tahu kamu butuh waktu, untuk hamil dan melahirkan karena itu nggak mudah."


Kinan menghela napas lega. "Ya ampun sayang, aku kira kamu beneran mau kasih Sera adik buru-buru. Aku bukannya nggak mau, aku mau banget, tapi aku belum siap kalau dalam waktu dekat ini."


"Aku ngerti kok, aku ngerti banget," jawab Dude.


"Balon udara?"


"Ya, tadi kamu bilang kamu pengin ngerasain naik balon udara," jawab Dude.


"Emang boleh bawa anak kecil. Sera, gimana?"


"Nggak apa-apa, kok. Kan di gendong."


"Hm, boleh deh." Kinan makin merasa bersyukur. Allah memberikan dia suami yang sangat perhatian, dan juga pengertian padanya.


...***...

__ADS_1


Hana sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Hari ini dia akan melakukan pemeriksaan untuk kesekian kalinya. Hana dan Bastian memutuskan untuk menjalani program bayi tabung. Kalau program yang mereka jalani di Indonesia tidak berhasil, Hana akan memikirkan untuk program di luar negeri. Bastian masih terus dan setia menggenggam tangan Hana, dia tak lupa tersenyum lebar memberikan dukungan untuk Hana, meyakinkan Hana bahwa semua sudah di atur oleh sang pemilik semesta.


"Ibu Raihana dan Bapak Bastian. Silakan masuk."


Hana makin merasa gugup, dia menatap Bastian dengan tatapan ragu-ragu. "Sayang, bismillah, ya."


Hana mengangguk. "Iya, Mas. Bismillah."


Bayi tabung, alias fertilisasi in vitro (IVF), adalah salah satu dari penanganan infertilitas untuk membantu orang-orang dengan masalah kesuburan yang sulit mempunyai anak.


Secara singkat prosedur bayi tabung adalah menggabungkan sel telur dan spermaa di luar tubuh.


Kemudian, sel telur yang sudah berhasil spermaa buahi dan masuk ke dalam fase siap, akan dokter pindahkan ke dalam rahim wanita.


Hal itulah yang sedang di lakukan oleh Hana dan Bastian. Setelah mempertimbangkan semuanya, dan tidak lupa bermusyawarah dengan keluarga.


Kondisi mereka berdua sehat, hanya saja ada masalah sedikit yang dialami Hana sehingga dokter menyarankan agar mereka menjalani bayi tabung.


"Mas, menurut kamu apa tahapan terakhir ini akan berhasil?" tanya Hana pada suaminya. Mereka sekarang sudah di rumah. Setelah selesai melakukan tahapan yang terakhir dalam program bayi tabung, mereka pun di bolehkan pulang dan menunggu sampai Hana telat menstruasi, kemudian melakukan tes kehamilan seperti biasa.


"Kita serahkan saja semuanya pada Allah, jangan terlalu membebani diri sendiri. Oke sayang?" jawab Bastian dengan sangat bijak, kalaulah bukan karena kesabaran Bastian, tidak tahu apakah Hana bisa bertahan dengan kondisinya yang lemah saat ini.


"Makasih sayang, kalau bukan kamu yang ada di sisiku sekarang. Mungkin aku sudah kembali putus asa seperti dulu."


Bastian menggeleng. "Kamu harus ingat, Allah tidak suka hamba-Nya yang mudah berputus asa. Pertolongan Allah itu dekat, tergantung kita mau menjemputnya atau tidak."


Hana mengangguk. Dia kemudian memeluk suaminya. "Iya, Mas. Semoga saja Allah mengabulkan doa-doa kita, ya."

__ADS_1


"Aamiin..."


__ADS_2