Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
054 : Dunia Itu Memang Sempit, Ya


__ADS_3

"Kamu tunggu di sini ya. Jangan ke mana-mana karena aku nggak lama," ucap Selina pada supirnya.


"Baik, Nona."


Selina masuk ke rumah sakit itu, langsung menemui resepsionis. Setelah itu Selina di arahkan ke dokter umum di rumah sakit tersebut. Selina menunggu sampai akhirnya seorang perawat ke luar dari ruangan dokter yang berjaga hari itu.


Betapa kagetnya Selina melihat perawat itu adalah perempuan yang dia lihat di pesta Dude beberapa hari lalu. "Kamu?"


Dia adalah Kinan, kebetulan sekali Kinan memang bekerja di rumah sakit itu.


Kinan pun kaget, dia sampai tidak. berkedip melihat Selina berdiri di depannya. Tapi, Kinan harus bersikap profesional, dia harus melayani siapapun pasiennya. Lagi pula, kalau dia Selina memangnya kenapa? Toh dia tahu semua dari suaminya, tentang hubungan suaminya dulu dengan wanita itu.


"Silakan masuk, Dokter sudah menunggu di dalam," kata Kinan dengan senyum ramah seperti biasa.


Selina mengangguk, dia langsung masuk setelah dipersilakan oleh Kinan.


Kinan kebetulan ada keperluan dengan dokter itu tadi, tapi bukan dia yang ditugaskan untuk menjaga di sana. Padahal Kinan agak penasaran, untuk apa Selina ke dokter?


"Jessy. Pasien yang masuk tadi namanya siapa?"


Jessy adalah teman seprofesi Kinan yang ditugaskan menjaga di ruang praktik dokter umum itu.


"Oh yang cantik itu?"


Kinan mengangguk cepat. "Iya, Jes."


"Dia namanya Selina Angelin. Ada apa, Mbak Ki?"


"Ohh ..." mulut Kinan membulat, lalu dia tersenyum pada Jessy. "Enggak, dia ngapain? Maksudnya keluhan dia apa?"


"Katanya dia belakangan sering mabuk gitu, Mbak Ki. Kepalanya pusing."


Kinan langsung berpikir apakah Selina mabuk karena suaminya? Ah, Kinan segera membuang jauh-jauh pikiran itu.


"Mbak Kinan kenapa kok kayaknya penasaran sama pasien itu? Mbak kenal sama orangnya?" tanya Jessy.


"Hm, enggak, Jes. Cuman penasaran aja. Orangnya cantik banget soalnya, kayak model. Iya, kan?" jawab Kinan, dia tidak mau bercerita panjang lebar pada Jessy. Pun dia bertanya hanya untuk membunuh rasa penasarannya saja.


"Iya Mbak. Cantik banget, kayaknya mungkin dia model sih."


Kinan hanya mengangguk-angguk saja. Setiap kali melihat wajah Selina, sejujurnya perasaan Kinan tidak tenang. Betapapun suaminya sudah bilang dan menjamin tidak memiliki rasa sedikitpun lagi terhadap wanita itu.


Dari pada terus memikirkan tentang Selina, lebih baik Kinan melanjutkan pekerjaannya.


Selesai melakukan pemeriksaan dan mendapatkan resep obat. Selina langsung ke bagian apoteker untuk menebus obat. Setelah mendapatkan obat, Selina duduk sambil memperhatikan sekitar, diam-diam menunggu Kinan lewat di depannya.


Benar saja, Kinan akhirnya lewat di hadapannya. Selina pun langsung beranjak, dia menemui Kinan tanpa ada keraguan.


"Hai."

__ADS_1


Kinan menghentikan langkah kakinya saat Selina berdiri tepat di hadapannya, tersenyum menyapanya.


"Ya. Ada yang bisa saya bantu?" kata Kinan.


"Jangan terlalu formal. Kamu istri Dude kan? Masih ingat denganku? Ah, aku juga baru ingat, kita pernah bertemu di butik juga kan?"


Selina tersenyum begitu ringan, membuat Kinan jadi tidak enak jika harus mengabaikan.


"Iya, benar. Dunia itu memang sempit ya." Kinan menjawabnya dengan senatural mungkin yang dia bisa.


"Ya, sangat sempit. Aku pun heran, dari berbagai rumah sakit yang tersebar di Jakarta. Kenapa aku malah ditakdirkan menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Tempat kamu bekerja. Nama kamu?"


"Saya Kinan." Senyuman Kinan tidak memudar walau dia tidak yakin keberadaannya itu tepat sekarang. Mengobrol berdua dengan mantan pacar suaminya? Kinan hampir merasa dia begitu konyol.


"Oh, Kinan. Nama kamu sangat cantik dan anggun, sama seperti orangnya," puji Selina tanpa segan.


"Kamu lebih cantik." Kinan balik memuji, tapi itu adalah fakta, batin Kinan.


"Tidak cukup cantik untuk menaklukkan pria yang saya suka," jawab Selina, kata-kata yang mampu membuat Kinan bungkam dan membeku seketika.


Suasana berubah canggung. Kinan tidak tahu maksud Selina untuk apa berkata seperti itu?


"Kinan, bolehkah aku berteman dengan kamu?"


Kinan hanya diam, dia sejujurnya ingin cepat meninggalkan Selina saat itu juga. Tapi, bukankah itu terlalu mencolok? Selina pasti berpikir Kinan cemburu, walau pun memang iya. Kinan mulai cemburu.


"Ya, aku tertarik. Sebelumnya aku tidak pernah punya teman. Kupikir kamu perempuan baik," jawab Selina.


"Hm, tapi saya tidak sebaik yang kamu kira. Saya juga merasa kamu akan lebih mudah mendapatkan banyak teman di luar sana. Maaf, saya harus kembali bekerja. Permisi, ya. Selina."


Kinan berlalu begitu saja melewati Selina. Saat itu perasaan Selina biasa saja, dia tidak merasa tersinggung dengan sikap Kinan. Tapi, ajakannya untuk berteman tadi memang tulus. Setidaknya walau dia tidak bisa mendapatkan perhatian Dude, dia ingin mendapatkan teman yang baik. Tapi sayang, Kinan sepertinya tidak mau diajak berteman, batin Selina.



Sudah waktunya Kinan pulang. Benar saja hari ini Dude tidak datang menjemput, tapi supir yang menjemputnya pulang.


Mas Dude : Ki, kamu langsung pulang ya. Saya nggak lama kok, hanya ada urusan sebentar, saya juga akan langsung pulang. Kamu mau dibawakan sesuatu?


Kinan tersenyum lalu mengetikkan balasan pesan untuk suaminya.


Kinan : Baik, Mas. Tidak usah repot-repot, Mas. Kinan berharap Mas pulang tepat waktu saja. Nanti Kinan akan siapkan makan malam di rumah.


Lalu Kinan segera memerintahkan supir untuk jalan pulang.


Dude tidak berhenti tersenyum membaca pesan dari Kinan. Sekarang, dia sudah ada di depan sebuah rumah kontrakan kecil, menunggu seseorang datang. Orang yang sejak tadi dia tunggu-tunggu.


Dude menaruh ponselnya, lalu dia kembali berdiri tegak saat seorang laki-laki datang, dia berdiri tepat di hadapan Dude.


Mungkin laki-laki itu lupa wajah Dude? Karena terlihat dia agak bingung dengan keberadaan Dude. Pria dengan penampilan rapi, elegan, dan tidak terlihat sebagai orang yang tinggal di perumahan kumuh.

__ADS_1


"Maaf Anda siapa ya?"


Dude tersenyum. "Saya Dude Danuarta. Apa Anda lupa?"


Jantung Bagus nyaris berhenti berdetak mendengar orang itu menyebutkan nama lengkapnya.


"Saya Dude Danuarta, kakak kandung Raihana, apa Anda lupa?" ulang Dude, kali ini dia menyebut nama Hana juga.


Bagus memundurkan tubuhnya, dia gemetar, lalu dia refleks bersimpuh di hadapan Dude sambil menempelkan dua telapak tangannya serentak di depan dada, seperti sedang memohon ampun.


"Ampuni saya Pak. Saya mohon saya minta maaf."


Dude mengendurkan dasinya, lalu dia mencengkeram kuat wajah Bagus.


"Semudah itu kata maaf meluncur dari mulut kotor kamu. Untuk apa kamu muncul lagi di sini, hah!" teriak Dude dengan rahang mengeras dan wajah memerah marah.


Bagus menangis, dia memang sudah menyadari kesalahannya. Dia sadar dia pantas diperlakukan seperti itu.


"Kamu kira kamu pantas meminta maaf?"


Dude membenturkan kepala Bagus ke tembok hingga kening Bagus mengeluarkan darah. Tapi Bagus tidak menyerah dia tetap memohon ampun pada Dude.


"Saya tahu saya salah, Pak. Saya pantas mendapatkan hukuman. Tapi saya mohon ampuni saya, saya minta maaf, saya menyesali perbuatan saya."


Dude makin geram, padahal dia sudah bertekad tidak menggunakan kekerasan, tapi tetap saja kemarahannya membuncah melihat wajah Bagus tepat di depan matanya.


"Hukuman yang kamu terima tidak setimpal! Brengsek!" Dude menendang wajah Bagus hingga Bagus tersungkur dengan wajah babak belur.


Menangis pun percuma, karena Dude tidak akan pernah mengampuni Bagus sampai kapan pun.


"Kamu mungkin sudah di hukum, sudah keluar dari penjara. Tapi itu sama sekali tidak setimpal dengan penderitaan Hana, Brengsek!" Dude berteriak, kali ini kemarahannya tidak dapat ditahan lagi.


"Menjauh dan jangan pernah kamu tunjukkan wajah buruk kamu di hadapan saya, keluarga saya, apalagi Hana. Paham!"


Bagus yang sudah tidak berdaya hanya bisa merintih, berharap Dude mau memaafkan tapi ternyata bukan maaf yang dia dapat melainkan pukulan bertubi-tubi dari Dude.


Begitu amarahnya tersalurkan, Dude langsung pergi meninggalkan Bagus sendirian, merasakan sakitnya pukulan di wajah dan tubuhnya. "Ya Allah, saya pantas mendapatkan ini."


Dude menghentikan langkahnya tepat di bawah tangga, masih di sekitar rumah kontrakan Bagus. Dia memukul dadanya yang terasa sesak, sudah sejak lama Dude menahan diri, tidak marah dan menuntut keluarga Bagus, hanya memenjarakan Bagus, tapi nyatanya dia belum puas. Kalau bisa Dude ingin Bagus menderita lebih dari itu. Sebagai Kakak, siapa yang tidak sakit hati melihat adiknya dilecehkan lalu disakiti berkali-kali. Bahkan Bagus membiarkan Hana di perkosa oleh beberapa preman, di mana hati nurani Bagus saat itu?


"Arghhhh!!!" Dude memukul tembok dengan tangan telanjangnya. Hingga punggung telapak tangannya yang mengepal itu mengeluarkan darah segar. Orang suruhan Dude berlari menghampiri Dude saat melihat bosnya sedang meluapkan amarah bahkan tangannya terluka.


"Pak, Bapak tidak apa-apa?"


Dude mengembuskan napas pelan. "Ya, kita pulang sekarang."


...______...


Total keseluruhan jumlah kata untuk cerita ini insyaAllah sekitar 100rb kata. Semoga aja bisa segera aku selesaikan. Terima kasih sudah membaca sampai bab ini, semoga teman-teman terhibur. 🧡

__ADS_1


__ADS_2