Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
079 : Tanda Cinta


__ADS_3

Selama di kota hujan, Selina hampir setiap hari bersama Nathan jika dia sedang ada waktu untuk pergi ke luar villa.


Ternyata begini rasanya punya teman.


Selina menganggap Nathan adalah teman yang baik walaupun mereka belum lama saling kenal.


"Hm, ternyata udara segar memang yang terbaik. Sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana alam yang hijau. Sejuk sekali rasanya, padahal dulu saya merasa sangat asing berada di Indonesia."


Nathan menatap Selina dalam. Selina tidak sengaja melirik sekilas, tapi dia merasa tatapan Nathan kali ini sedikit berbeda.


"Kenapa?"


"Saya?" tunjuk Nathan.


Selina tertawa renyah. Nathan tanpa sadar tersenyum simpul.


"Ya, kenapa kamu menatap aku seperti itu. Apa aku terlihat sangat kasihan?"


Nathan tidak menilai dari raut wajah Selina. Tapi dia tahu bahwa kedatangan Selina ke kota itu dengan kondisi hati yang patah. Sebab setiap perkataan Selina mencerminkan hal itu.


"Tidak, wajahmu cantik. Sama sekali tidak terlihat kasihan." Nathan dengan ringan mengatakan itu. Bukankah itu sebentuk pujian untuk?


Meski agak terkejut, tapi akhirnya Selina tertawa juga. "Kamu ternyata orangnya cukup terbuka."


"Saya? Memangnya kamu kira saya ini orangnya seperti apa sebelumnya?" Nathan menggeleng pelan.


"Tidak, aku juga belum terlalu menilai yang macam-macam. Tenang saja, oke." Selina menyengir. Nathan kembali menatap Selina.


"Ya, senang bisa berteman dengan kamu, Sel."


Mereka tanpa sadar bertemu tatap satu sama lain. Hati Selina biasa saja ketika mata Nathan menyorot dalam ke matanya. Tapi, yang membuatnya agak terhenyak adalah senyum Nathan itu, menurutnya Nathan memiliki senyum yang hampir mirip dengan Dude. Senyum yang memiliki kesan tulus, lembut, walau jarang diperlihatkan ke orang lain.



Pagi hari di rumah Kinan dan Dude.


"Huweeeekkk!!!"


"Sayang! Kamu nggak apa-apa?"


"Minggir dulu Mas, Kinan mau mun—wekkkk!!"


Kinan tidak dapat mengendalikan rasa mualnya yang teramat sangat. Ia benar-benar tidak bisa berhenti mengeluarkan cairan dari mulutnya.


Setiap pagi, kisaran pukul enam sampai pukul tujuh, mual yang menjadi-jadi itu berlangsung.


Kinan sampai mengeluarkan air mata saking merasa mual yang teramat sangat. Dude tidak tega, dia mendekati Kinan yang masih berdiri di depan wastafel kamar mandi.


"Sayang kita ke dokter ya."


"Mas, Kinan lemes."


"Aku gendong kamu ya."

__ADS_1


Kinan langsung mengangguk. Tidak. biasanya, Kinan langsung setuju Dude menggendongnya. Dude sedikit tersenyum walau dia juga kasihan melihat Kinan.


Dude memindahkan Kinan ke tempat tidur. "Nggak usah kerja ya. Kamu bener-bener pucat sayang."


"Kinan boleh ambil cuti hamil, Mas?"


"Hah? Kamu tanya aku boleh apa enggak?" sahut Dude tercengang.


"Ya, Mas. Takutnya Mas keberatan."


"Hei, sejak kapan sayang. Aku tidak pernah meminta kamu bekerja oke. Kamu boleh berhenti kerja. Aku kan udah bilang kalau yang terpenting kamu bahagia, kamu sehat, kamu nyaman."


"Peluk dong Mas, Kinan mau, huweeekkkk!!!"


"Kamu mau muntah lagi?"


"I-iya Mas ...Huwekkk!!"


Dude langsung menggendong Kinan ke toilet. Di sana Kinan kembali memuntahkan isi perutnya.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang ya."


Kinan menggeleng.


"Tapi kamu muntah terus, saya cemas."


Kinan mencuci mulutnya setelah itu menatap Dude. "Memang begini Mas. Ini normal kok."


"Normal gimana sayang, kamu pucat begini. Isi perut kamu apa kalau semua kamu keluarin."


"Astaga, apa yang harus aku lakukan sayang."


"Tenang Mas. Aku nggak apa-apa kok."


"Dari mana kamu tahu kamu nggak apa-apa? Kamu aja muntah terus sayang."


Dude sampai lupa kalau istrinya itu adalah perawat.


Seketika Kinan tergelak. "Ya Allah, aku tahu lah Mas. Mas lupa kalau Kinan ini perawat ya."


Kinan menghela napas panjang. Dude tercengang sendiri, benar juga dia sampai lupa akan hal itu.


"Ya Allah aku lupa sayang."


Kinan memeluk suaminya erat. "Maaf aku nyusahin kamu. Tapi aku lemes banget."


Tanpa menunggu, Dude langsung menggendong Kinan lagi.


Padahal Dude sudah memakai kemeja, tadinya dia sudah akan berangkat ke kantor.


Kinan pun membaringkan tubuhnya. Sekarang dia mulai merasa lebih baik.


Dude memijat kaki Kinan sambil mengusap wajahnya. "Sayang, kamu aku buatkan teh hangat ya."

__ADS_1


"Jangan sayang, lebih baik air madu hangat. Eh, maaf aku ngerepotin Mas."


"Nggak merepotkan. Aku bilang bibi ya untuk buat air madu."


"Mas." Kinan menggeleng. "Maunya dibuatkan Mas Dude, bukan Bibi."


Dude refleks terkekeh. "Lucunya kamu lagi ngidam mau aku yang buatkan?"


"Iya." Kinan memasang wajah memelas. "Mas mau kan buatkan untuk aku?"


"Pasti mau. Aku kan papanya baby yang ada di sini." Dude mengelus perut Kinan yang masih rata. "Kamu sayang papa kan Nak?"


Kinan tersenyum sembari mengusap rambut Dude. "Sayang dong, Pa."


Dude mendongak menatap senyum Kinan. "Mau apapun kamu bilang ya. Aku nggak kerja hari ini."


"Ja-jangan Mas. Kalau nanti Mas nggak kerja, gimana dengan pekerjaan Mas yang belum selesai di kantor?"


"Nggak masalah. Aku takut kalau tiba-tiba kamu mau sesuatu dan harus aku yang buatkan. Gimana coba?"


"Enggak, Mas. Ini sepertinya cuman di pagi hari aja kok kayak gini."


"Aku seneng banget kamu hamil. Aku juga seneng karena kamu mau meminta sesuatu dari aku. Kamu ngidam, itu semua bikin aku merasa benar-benar dibutuhkan oleh kamu, sayang."


Kinan terharu mendengar ucapan itu dari mulut Dude. Padahal dari tadi dia merasa sangat merepotkan.


"Mungkin sekarang belum Mas. Belum merasa direpotkan oleh aku. Kalau membutuhkan, pasti yang paling aku butuhkan setelah Allah adalah Mas Dude sebagai suamiku. Ke depannya aku akan lebih banyak keluhan. Semoga Mas diberikan kesabaran ya."


"Hei, jangan nangis." Dude menyeka air mata Kinan. "Aku nggak mau kamu nangis. Aku akan selalu berusaha menjadi suami yang baik, sekarang bahkan aku sedang dilatih menjadi papa yang baik juga kan?"


"Iya, Mas. Kinan menangis terharu. Bukan karena sedih."


"Hm, Mas kira kamu mau muntah lagi sayang."


"Huweeeekkkkk! Mas jangan diingatkan dulu."


"Huwekkkk..."


Kinan berlari, tidak kuat menunggu Dude menggendongnya.


"Sayang kenapa kamu malah lari."


"Sayang aku akan panggil dokter. Kamu harus dapat vitamin agar mual. muntah kamu teratasi."


"Sayang," Kinan kembali menggeleng.


Dude hanya bisa pasrah sambil cemas melihat keadaan Kinan. Ini pengalaman pertama, dan dia tidak menyangka orang hamil akan merasakan hal yang seperti itu.


"Sayang. Orang bijak bilang ; Mual muntahmu adalah tanda cintamu pada janinmu."


Dude menatap mata Kinan, mengecup kening istrinya. "Kalau begitu aku juga akan menunjukkan tanda cintaku untuk anak kita, dan kamu."


...***...

__ADS_1


“Dan, Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya selama dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu.”


__ADS_2