Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
062 : Sebuah Pertanyaan & Syarat


__ADS_3

"Setiap orang punya masa lalu. Termasuk saya, dan saya juga yakin Hana memiliki masa lalu. Bagi saya masa lalu itu tidak bisa dilupakan, tapi bisa dijadikan pembelajaran. Kehidupan berputar layaknya roda. Tidak selalu di bawah, ataupun di atas. Hidup itu bergerak, naik turun. Jadi, saya harap Hana tidak berat memikirkan masalah masa lalu. Saya menerima masa lalu Hana, apa pun itu."


Beberapa waktu yang lalu. Sebelum Bastian datang bersama dengan pakde-nya. Kinan masuk ke kamar Hana. Seperti janjinya pada Dude, Kinan berusaha untuk berbicara dengan Hana.


"Hana, aku boleh masuk?" Kinan mengetuk pintu kamar Hana.


Hana memang sedang gusar sendiri, dia sejak tadi bingung harus berbuat apa, sebentar lagi laki-laki baik akan datang melamarnya. Dan Hana memutuskan untuk menolak lamaran itu. Tetapi, entah kenapa Hana masih meragu, ada sebersit keinginan yang dia sendiri tidak tahu mengarah ke mana.


"Masuk aja, Mbak Kinan," sahut Hana dari dalam.


Kinan pun masuk. "Sedang apa?" tanyanya lalu duduk di samping Haja, di tepi ranjang.


"Nggak Mbak, cuman lagi menyendiri saja." Hana tersenyum kaku.


"Jangan menyendiri, lebih baik berdua. Sama aku, nggak apa-apa ya aku temani?" ujar Kinan, merayu. Itu triknya, berharap Hana membolehkan.


"Iya, Mbak. Makasih udah mau menemani Hana."


Langkah pertama Kinan berjalan lancar. Dalam hati Kinan terus berdoa, berharap diberikan kemudahan saat berbicara dengan Hana. Sebab Kinan tahu, Hana adalah pribadi yang agak sulit di dekati.


"Hana, bagaimana perasaannya? Maksud Mbak, tentang lamaran ini. Apa Hana sudah memutuskan menerima atau tidak lamaran laki-laki itu?" tanya Kinan.


Pertanyaan Kinan membuat Hana seolah tidak dapat menahan dirinya lagi, menyimpan beban di dadanya sendiri.


"Apa Mas Dude sudah cerita ke Mbak Kinan?"


"Cerita tentang apa, Han?"


"Tentang Hana yang memutuskan tidak akan menikah." Hana menjawabnya sambil gemetaran, dia memainkan ujung kukunya, gugup.


Kinan tersenyum. "Kinan tahu, Hana pasti bingung dengan apa yang harus Hana putuskan. Kalau Hana yakin, pasti sekarang Hana tidak merasa gelisah."


Hana menatap Kinan dengan mata berkaca-kaca. "Hana merasa tidak pantas menikah, Mbak. Hana terlalu kotor."

__ADS_1


"Kotor? Hana sayang, Kinan sangat mengagumi Hana. Jujur dari dalam hati Kinan. Hana, menurut Kinan Hana adalah wanita yang tangguh, kuat, dan baik. Kenapa Hana malah merasa diri Hana kotor? Kinan juga tidak bersih, banyak dosa. Tapi, apa kita tidak berhak bahagia?"


Hana menunduk lagi. Kinan kemudian menggenggam telapak tangan Hana. "Tangan Hana dingin sekali. Apa ini benar-benar sulit?"


Ibu kandung Reyhan itu mengangguk. "Sangat, Mbak."


"Tapi, apa Hana merasa laki-laki yang akan melamar Hana itu orang baik?"


Hana menatap Kinan lagi, lalu mengangguk. "Dia baik, dia menyayangi Reyhan. Dia tidak menjauhi Reyhan saat tahu bahwa ibu Reyhan mengalami depresi."


"Kalau begitu, Hana tidak boleh menolak laki-laki baik seperti itu. Dia mungkin saja adalah jawaban dari doa-doa Reyhan, dan juga orang-orang yang sayang sama Hana. Allah ingin Hana juga bahagia."


"Tapi, Hana bahagia kok walau tidak menikah," jawab Hana, tapi Kinan melihat keragu-raguan di mata wanita itu.


"Yakin? Hana, Mas Dude, Reyhan, Bu Fatimah, Pak Rahman. Mereka semua ingin ada yang menjaga Hana. Apalagi kalau ada laki-laki baik yang bisa menyayangi Hana dengan tulus."


Sorot mata Hana makin menunjukkan keragu-raguan. Entah ragu dengan keputusannya, atau ragu dengan laki-laki itu?


"Hana takut, kejadian di masa lalu Hana terulang lagi, Mbak."


Hana hanya dia mendengarkan ucapan Kinan.


"Sudah salat istikharah?"


"Sudah, Mbak." Hana mengangguk.


"Lalu apakah ada sedikit saja di dalam hati Hana, keinginan menerima lamaran laki-laki itu?"


Hana tidak menjawab. Tapi Kinan merasa Hana memiliki keinginan itu.


"Hana, Mbak harap, jangan memutuskan sesuatu yang Hana belum yakin betul, itu yang terbaik. Boleh jadi, apa yang Hana ragukan, yang Hana takutkan, hanya sebuah rasa was-was semata. Was-was itu datangnya dari setan, Han."


Hana menghela napas berat.

__ADS_1


"Putuskan dengan hati yang tenang ya. InsyaAllah Kinan yakin, Hana akan mendapatkan jawaban yang terbaik. Ikuti kata hati Hana, bukan karena rasa takut apalagi was-was semata."


...***...


Jawaban yang dilontarkan Bastian sama dengan yang dikatakan oleh Kinan pada Hana sebelumnya.


Kini, dia diharapakan sejauh pilihan. Antara menolak atau menerima lamaran Bastian.


Laki-laki itu, tersenyum dengan tulus. Mengusap puncak kepala Reyhan dengan lembut. Berkata baik, tidak mudah tersinggung. Hana merasa Bastian sosok yang sederhana, tawadhu, dan bijaksana.


Semua yang ada di ruangan itu sedang menunggu, selepas Bastian menjawab pertanyaan Hana, apa yang akan Hana katakan lagi.


"Bagaimana Nak Hana? Apa masih ada yang ingin ditanyakan kepada Nak Bastian?" tanya Pakde Hasan selaku wali dari Bastian. "Jangan ragu untuk bertanya apa saja, supaya hati lebih yakin."


Reyhan juga ada di sebelah Hana. Putranya itu sejak tadi terus menggenggam tangan mamanya. Sejak awal dia memutuskan semua terserah mamanya, mau menerima ataupun tidak. Reyhan sudah merasa bahagia, dengan keadaan Hana yang sangat baik sekarang. Tapi, kalau boleh meminta, Rey memang ingin Hana menikah dengan gurunya. Karena menurut Reyhan, Bastian adalah sosok yang baik.


"Hana ada satu pertanyaan lagi. Tapi ini seperti sebuah syarat, apa boleh?" ujar Hana pada Bastian.


"Boleh, silakan." Bastian tanpa ragu membiarkan Hana menanyakan apapun. Syarat? Jika dia bisa memenuhinya, maka Bastian tidak keberatan sama sekali.


"Baik. Jikalau Hana bertanya. Apakah dalam hati Mas pernah ada keinginan untuk berpoligami, apa Mas akan jawab iya, atau tidak?"


"Tidak." Bastian menjawabnya cepat. dan penuh keyakinan.


"Kenapa? Bukankah itu diperbolehkan?" tanya Hana lagi.


"Memang poligami diperbolehkan, bagi yang mampu. Sementara saya tidak mampu, saya yakin saya tidak mampu."


Semua orang yang ada di sana tersenyum mendengar pertanyaan Hana dan juga jawaban Bastian.


"Baik, lalu. Jika Hana mengajukan syarat. Hana tidak mau dipoligami, apakah Mas Bas sanggup?"


"InsyaAllah. Saya memang tidak berniat untuk melakukan poligami, Hana. Satu saja, belum ada. Kalaupun saya menikah, tangung jawab saya besar untuk mendidik pasangan saya. Berat jika melakukan poligami, karena itu saya menyanggupi itu, jika Hana mengajukan syarat tidak ingin dipoligami."

__ADS_1


..._____...


...Bersambung lagi, akan aku up di jam 13.00 ya. ...


__ADS_2