
"Masih belum tidur, Mi?"
Kinan menggelengkan kepalanya. Pandangan wanita yang baru empat bulan melahirkan anak pertamanya itu terpaku pada bayi kecilnya yang sudah terlelap di dalam box tempat tidurnya.
"Kenapa? Kamu pasti capek, mendingan tidur, istirahat," ucap Dude sembari memijat kedua bahu istrinya pelan hingga Kinan memejamkan mata. Agaknya pijatan itu nyaman dirasakan Kinan.
"Iya, Bi. Nanti Kinan tidur, semoga aja Sera pules bobonya yah," jawabnya meski lelah tapi rasanya Kinan merasa puas bisa mengurus bayinya dengan kasih sayangnya.
"Sayang, kamu jangan memaksakan diri ya. Kalau kamu capek, aku kan udah kasih kamu pilihan buat menggunakan jasa baby sitter untuk jaga Serafina kecil kita," ujar Dude sedang terpaku melihat putri cantiknya yang diberi nama Serafina Adelia Danuarta.
"Enggak, Bi. Lagi pula aku merasa senang bisa mengurusi Sera, lihat dia juga tumbuh sehat nggak kekurangan kasih sayang,"
Dude tidak dapat melarang apa yang menjadi kebahagiaan Kinan. "Kalau gitu, Abi akan bantu ya. Kalau butuh bantuan menjaga Sera, kamu jangan merasa nggak enak meskipun Abi lagi tidur, bangunin aja,"
Wanita yang paling cantik nomor satu dihati Dude itu hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, Abi. Udah malam, Abi tidur ya."
"Umi gimana? Nggak tidur?"
"Bentar lagi, Bi. Memastikan Sera nggak terbangun minta asi,"
"Sera udah pules, dia juga udah kenyang minum asi. Sekarang waktunya Kinan yang cantik tidur, ini perintah dari suami, oke?"
Akhirnya Kinan pun tidak dapat membantah perintah itu. Tentu saja, Kinan selalu menuruti apapun perintah suaminya, karena baginya Dude adalah panutan, imam hidupnya yang harus selalu dipatuhi selama mengajak ke jalan Allah. "Baiklah, Abi..."
Suami Kinan mendekatkan kepala ke kuping istrinya. Lalu membisikkan Kinan,
"Uminya Sera paling cantik, apalagi kalau sedang tersenyum."
Kinan merona, padahal sudah sering Dude mengatakan hal itu padanya. Tapi tetap saja Kinan selalu tersanjung dan reflek malu bercampur bahagia ketika suaminya memuji seperti itu. "Terima kasih, Abi."
__ADS_1
Serta-merta Dude langsung memeluk istrinya. Mengusap punggung yang kelelahan menegakkan badan sambil memangku buah hatinya sedari tadi, menunggui Sera hingga putri kecilnya itu terlelap sambil memberikan asi eksklusif. "Abi yang terima kasih sama Umi. Terima kasih ya, sudah mau menjadi umi yang paling baik untuk Sera,"
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Q.S Ar Rahman : 13
Alhamdulillah, hidup Kinan bahagia bersama dengan Dude di sisinya.
"Umi bahagia kok," ucap Kinan sembari mengeratkan pelukan. "Tapi, Umi boleh minta sesuatu?"
Dude manatap mata istrinya lekat. "Sesuatu apa? Apapun akan Abi penuhi," ucapnya semangat. Pasalnya selama menikah Kinan tidak pernah meminta apapun pada Dude. Padahal dia ingin sekali mewujudkan apapun permintaan istrinya itu.
"Gendong aku kayak waktu malam pertama kita dulu," ucap Kinan berbisik pelan.
Dude mengangkat alisnya, tidak menyangka itu yang akan jadi permintaan Kinan.
"Gendong? Hanya itu?" tanya Dude.
"Iya," jawab Kinan dengan senyuman simpul.
Dude meraih tubuh Kinan dan langsung menunaikan apa yang diinginkan istrinya. "Apapun, jangankan menggendong kamu sampai ke ranjang. Melakukan hal yang lebih pun, aku tidak akan menolaknya."
Kinan terkekeh. "Abi udah berapa lama nggak bermesraan dengan ku?" tanyanya sontak membuat Dude terkejut dengan pertanyaan itu.
"Kenapa? Umi kan capek tiap malam nungguin Sera," ujar Dude.
"Malam ini kan Sera tidur pules, tapi terserah Abi,"
Kata-kata Kinan seperti kode untuk Dude. Memang Dude setiap malam selalu tidak tega melihat Kinan yang kelelahan mengurusi putri mereka. Sampai-sampai Dude mengesampingkan kebutuhan batinnya, yang tanpa dia sadari Kinan pun pasti memiliki kebutuhan yang serupa dengannya.
Akhirnya Dude mengerti keinginan istrinya. Pas dengan apa yang sedang dia harapkan juga. "Aku kira kamu benar. Sera kayaknya pules deh," sahutnya perlahan sambil menurunkan Kinan hingga wanita itu terbaring di atas kasur.
__ADS_1
Dude mematikan lampu hingga menyisakan cahaya dari lampu tidur yang samar-samar. Lalu ia mengusap kening istrinya perlahan kemudian mengecupnya. "I miss you," godanya.
Kinan tidak dapat menyembunyikan ukiran senyum di bibirnya. "Miss you, too..." jawabnya.
Waktu bergerak lebih lambat, itu yang diharapkan saat keduanya meluapkan apa yang menggebu dan tertahan atas nama kasih sayang dan pengertian. Begitu indah, hingga keduanya lupa bahwa waktu subuh sebentar lagi akan berkumandang.
..._______...
"Ma, Rey kangen sama papah Dude dan dek Sera, boleh nggak kita ke rumah dek Sera lagiĀ besok?"
Raihan yang baru saja memasuki sekolah menengah pertama itu sangat menyayangi sepupunya yang masih bayi dan menggemaskan. Padahal baru Minggu lalu Rey datang ke rumah Dude untuk menengok Serafina kecil yang cantik.
"Boleh, Rey. Keliatannya Rey seneng banget yah sama dek Sera, padahal Minggu kemarin loh kira baru aja dari sana," jawab Raihana sambil melipat pakaian yang baru saja dia setrika.
Raihan menyengir seraya mengecup pipi mamanya. "Kalau boleh Rey juga mau punya adik kayak dek Sera."
Deg
Seketika suasana mendadak hening. Bukan hanya itu, tangan Raihana pun berhenti melipat baju-baju yang ada di atas meja setrikaan.
Raihan sepertinya langsung sadar dengan kata-katanya. "Maafkan Rey, Ma. Bukan gitu maksud Rey, itu cuma bercanda kok," ujarnya tidak ingin kalau sampai itu menjadi beban pikiran Raihana.
Raihana sudah beberapa hampir satu tahun menikah. Dia belum juga diberikan kepercayaan dari Allah untuk hamil. Hana tidak ada niatan menunda sama sekali. Tapi memang Allah saja yang belum memberikan anak di pernikahan mereka.
"Mama, maaf kalau ucapan Rey bikin mama sedih ya." Reyhan baru pulang dari pondok pesantren. Dia liburan selama beberapa minggu dan memutuskan untuk berlibur di Jakarta. Rumah baru Raihana dan Bastian.
Bastian tinggal di Jakarta karena kepentingan pekerjaan. Bastian dipindahkan ke Jakarta, karena itu Raihana memutuskan untuk tinggal tidak jauh dari rumah Dude.
"Maafkan Mama ya. Satu permintaan Rey itu yang belum bisa Mama kabulkan. Mama juga ingin, tapi Allah belum memberikan izin" kata Hana dengan wajah sendu.
__ADS_1
Raihan memeluk Hana sambil mengusap punggung mamanya itu. "Enggak kok, jangan di anggap kata-kata Raihan. Tentu aja itu cuma keinginan Rey yang nggak perlu Mama pikirkan. Lagi pula adik Rey kan dek Sera, udah cukup kok buat Rey."
Hana tidak terasa menjatuhkan air matanya. "Mama minta maaf. Doakan saja semoga Allah segera memberikan kepercayaan itu untuk mama, ya."