
Matanya terfokus menatap layar laptop sejak tadi. Beberapa artikel yang membuatnya tertarik hingga menghabiskan waktu berjam-jam.
Selina. Wanita itu mulai tertarik untuk mengetahui banyak hal tentang ilmu ketuhanan.
Hal yang membuatnya terkejut adalah kedamaian yang dihadirkan Tuhan dalam kehidupan manusia.
"Apa itu benar?"
Saat dia masih fokus. Suara ketukan pintu membuatnya menoleh sebentar. "Siapa yang datang?"
Selina berjalan ke pintu, mengecek dari balik tirai kiranya siapa yang datang bertamu.
"Nathan? Dia mau apa?"
Selina tetap harus membuka pintunya 'kan? Apakah dia punya hak menolak kedatangan pemilik villa yang dia tinggali sekarang. Tentu saja, tidak.
"Hai." Selina menyapa setelah dia membuka sedikit pintunya. Selina tersenyum lalu keluar berdiri di depan Nathan.
"Hai Selina. Kamu hanya di rumah saja? Cuaca sedang cerah sekarang tapi saya tidak melihat kamu keluar."
"Hm, apa kamu nunggu aku?" ujar Selina.
Tiba-tiba saja wajah Nathan berubah kikuk. "Ah, maksudnya ... Saya hanya ..."
"Aku cuman bercanda, Nathan. Maaf tapi aku seharian sibuk belajar."
"Belajar?"
"Ya. Aku sedang mempelajari hal yang menarik." Selina tidak tahu apakah Nathan termasuk orang yang berpikiran terbuka atau justru sebaliknya. Tapi, dia juga berpikir tidak perlu banyak menceritakan tentang apa yang dia rasakan dan resah kan pada orang yang baru dia kenal.
"Oh. Pantas saja kamu betah di dalam. Baiklah, kalau memang ada yang kamu kerjakan. Saya hanya takut kamu bosan. Siapa tahu kamu butuh teman untuk jalan-jalan sekitar daerah sini. Saya siap menemani kamu, tadinya sih begitu."
Selina tertawa pelan. Rupanya Nathan orang yang lumayan menyenangkan juga. "Terima kasih. Tapi kalau kamu menawarkan, aku jadi tidak enak untuk menolak. Kalau kamu temani aku untuk jalan-jalan sekitar kebun teh, apa kamu mau?"
Nathan menampakkan seulas senyum tipis di bibirnya, dengan sedikit anggukan. "Tentu saja, dengan senang hati."
Akhirnya Hana kini sudah tidak lagi sendirian di dalam kamar bernuansa abu-abu yang di favoritkan nya. Sebuah rumah minimalis yang dihadiahkan Dude untuknya. Tadinya Hana ingin menolak, dia juga tidak enak jika Bastian merasa tersinggung nantinya. Tapi ternyata Bastian tidak marah. Baginya, itu adalah hak Hana, dan kebaikan yang ditujukan Dude pada Hana atas dSar kasih sayang terhadap saudara.
Hana bahagia, karena Bastian mau mengerti. Padahal awalnya Hana cemas, sebab dia pun belum terlalu mengenal Bastian lebih dalam lagi.
Malam itu Hana duduk di atas tempat tidur yang sudah dihias indah dengan taburan kelopak bunga mawar dan dekorasi cantik lainnya.
Bastian masuk mengetuk pintu kamar, tak lupa dengan ucapan salam.
Hana menundukkan pandangan. Ini benar-benar terasa canggung buatnya. Jantungnya berdebar kuat, dia tidak berani menatap wajah pria yang memiliki pandangan meneduhkan itu.
"Hana."
__ADS_1
"Ya."
Akhirnya Hana mengangkat wajahnya perlahan.
Bastian tersenyum. Hana juga ikut tersenyum. Teringat lagi saat tadi Bastian menyentuh puncak kepalanya di depan para tamu. Membacakan doa khusus kemudian mengecup keningnya lembut. Semua amat indah, hingga Hana hampir merasa itu hanya dalam mimpinya.
"Hm, kamu mau mandi dulu kan?"
Pertanyaan itu membuat Hana kalang kabut bingung. "Ah, iya Mas."
Bastian lalu bersimpuh di depan Hana.
"Mas bantu buka sepatunya ya, Dek."
Hana tidak sanggup menolak maupun berkata-kata. Dia hanya diam dengan tatapan malu bercampur kaget. Entah bagaimana mendeskripsikan tatapan Hana saat itu pada suaminya. Diperlakukan layaknya tuan putri. Bastian membukakan sepatunya, bahkan kaus kakinya.
"Terima kasih, Mas. Seharusnya biar Hana sendiri."
"Tidak apa-apa. Kalau butuh bantuan apapun kamu jangan segan meminta bantuan Mas ya."
Hana mengukir senyum dengan satu kali anggukan pelan. "Iya, Mas."
"Hm, kalau gitu kamu mandi duluan saja, Dek. Biar Mas nanti menyusul."
Hana mengiyakan itu. Dia juga sudah tidak tahan karena merasa gerah dengan gaun pernikahannya.
Beberapa hari setelah Kinan dan Dude kembali ke rumah mereka. Kebahagiaan Hana masih meliputi keluarga mereka. Lebih-lebih bagi Kinan karena dia baru saja mendapatkan sebuah hadiah besar dari Allah.
"Mas. Kinan mau kasih sesuatu buat Mas."
"Sesuatu? Apa itu?" jawab Dude.
"Mas tunggu di sini ya."
Dude mengangguk. Ia jadi penasaran apa yang akan diberikan istrinya padanya.
Kinan datang membawa sesuatu yang dia sembunyikan dibalik tubuhnya. Dude penasaran apa yang sedang di genggam oleh istrinya itu.
"kamu bawa apa? Kok di umpetin sih?" tanya Dude.
Kinan tercengir. "Mas tutup mata dulu ya."
"Tutup mata?"
"Iya. Ini hadiah kejutan."
"Oh jadi ini surprise?"
"Iya." Kinan terkekeh pelan. Melihat raut istrinya yang bahagia membuat Dude semakin penasaran kiranya apa kejutan yang akan diberikan istrinya.
__ADS_1
Kinan mendekati suaminya lalu mencondongkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh kening suaminya. Dude tersenyum menerima kecupan Kinan. "Kamu mau kasih kejutan apa, Sayang. Aku jadi penasaran." Dude berkomentar.
"Hm... Aku nggak tahu sih Mas bakalan seneng nggak dengan kejutan ini. Tapi kalau aku bahagia banget deh ngasihnya. Mudah-mudahan Mas juga bahagia ya." Kinan terkekeh pelan tidak sabar ingin tahu reaksi suaminya saat melihat kejutan yang dia berikan.
"Emang apa sih, Ki? Beneran aku udah boleh buka mata belum? Penasaran banget nih." Dude menyentuh pipi Kinan sambil meraba-raba. "Boleh buka mata?"
Kinan menggeleng. "Belum, bentar lagi."
Dude tersenyum penuh arti sambil mencubit pipi Kinan. "Kamu nih pakai kejutan segala. Bikin penasaran tingkat dewa."
"Hihi sekali-kali."
"Oke. Aku tunggu sampai kamu bilang buka ya." Dude tersenyum menunggu titah Kinan.
"Coba buka telapak tangan Mas deh. Dua-duanya."
"Telapak tangan? Begini?" Dude membuka dua telapak tangannya lalu memposisikan seperti ingin menerima sesuatu.
"Iya. Pegang kotak ini ya. Jangan buka mata." Kinan menaruh sebuah kotak ke atas telapak tangan suaminya.
"Oke." Dude menerima kotak pemberian Kinan.
"Hm, sekarang baca bismillah terus Mas boleh buka kotaknya. Tapi jangan buka mata ya."
Dude tersenyum lagi lalu mengangguk. "Bismillah." Seperti yang diinginkan Kinan. Dude membuka kotak itu tanpa membuka matanya lebih dulu.
Kinan menutup mulutnya. Ia semakin tidak sabar ingin mengetahui reaksi suaminya ketika membuka mata.
"Oke. Mas boleh buka mata."
Dude yang sejak tadi tidak sabar pun akhirnya langsung membuka mata. Kedua matanya terbuka lebar saat melihat benda yang ada di atas telapak tangannya.
"Ya Allah. Ini?" Dude tercengang.
"Iya, Mas." Kinan menangis haru di depan suaminya. "Alhamdulillah."
Dude pun berkaca-kaca. Ini bukan sekedar kejutan. Ini adalah anugerah. Rupanya Allah mengabulkan doa mereka.
"Kamu hamil, Sayang." Dude gemetar menyentuh benda pipih yang bercoret kan dua garis di sana.
"Iya Mas." Kinan mengambil benda itu lalu menaruhnya ke atas meja. Dengan segera ia memeluk tubuh suaminya.
"Kinan hamil, Mas."
Beberapa hari yang lalu, sebelum pernikahan Raihana dan Bastian. Kinan merasakan kepalanya seringkali terasa berkunang-kunang. Kinan juga mual-mual setiap pagi walau tidak lama. Kinan merasa aneh dengan tubuhnya. Tapi dia tidak mau langsung menyimpulkan apa yang dia rasakan itu merupakan tanda awal. kehamilan.
Kinan seorang perawat. Dia cukup tahu tanda-tanda bahwa orang itu sedang hamil. Tapi Kinan memutuskan untuk memeriksa sendiri sebelum memberitahu suaminya.
Ya Allah, aku beneran hamil.
__ADS_1