Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
065 : Kinan, Tunggu!


__ADS_3

Setelah acara lamaran waktu itu. Hana juga sudah memutuskan untuk menerima lamaran Bastian. Mereka akhirnya sepakat untuk melakukan pernikahan dalam waktu tiga bulan lagi. Tadinya pihak keluarga Bastian ingin agar pernikahan dipercepat saja. Tapi, Hana meminta waktu tiga bulan.


Menurut Hana, waktu tiga bulan itu dibutuhkan Hana untuk mempersiapkan segalanya. Bukan hanya kesiapan batin, tapi Hana juga ingin mendalami ilmu tentang rumah tangga terlebih dahulu sebelum memulai rumah tangga dengan Bastian nanti.


Bastian tidak keberatan, selama itu untuk kebaikan bersama. Dia akan menunggu tiga bulan agar bisa menjadikan Hana wanita yang akan menemaninya seumur hidup, InsyaAllah.


Mulai saat itu Hana aktif dalam kegiatan pengajian yang di adakan di tempatnya. Dia juga mengajak serta ibunya, Fatimah. Perubahan Hana sangat terlihat, terutama sekarang Hana terlihat jauh lebih segar, wajahnya berseri dengan jilbab cantik menutupi rambutnya, juga niqab yang semakin menambah anggun penampilannya.



"Mas, Kinan masuk dulu ya."


Dude mengantarkan Kinan sampai ke depan hotel di mana Kinan akan menginap malam ini.


"Acaranya di mana Ki?"


"Acaranya di hotel ini juga, Mas. Jadi, ada sekitar seratus perwakilan dari berbagai rumah sakit gitu kalau digabung."


"Seratus orang?"


"Iya, kurang lebihnya segitu Mas."


"Banyak juga ya. Kamu hati-hati ya, Ki. Aku seperti tidak tega melepas kamu dua malam tidur sendiri tanpa aku."


"Sayang, ini hanya dua malam. Tidak. apa-apa."


"Apa kamu nggak akan kangen?"


Kinan tertawa lalu memeluk suaminya. "Kangen, tapi kan ini pekerjaanku, Mas."


"Hm, kalau gitu hubungi aku setiap kali kamu akan melakukan sesuatu."


"Hah? Gimana maksudnya?"


"Kalau kamu mau makan, hubungi aku. Mau mandi, hubungi aku, mau tidur juga, beritahu aku dulu. Oke deal?"


"Ya Allah Mas Mas. Oke, deal deh. Asalkan kamu nggak kepikiran ya."

__ADS_1


"Pasti kepikiran, aku kesepian nanti malam."


"Kan kita bisa teleponan, video call, jangan cemas dong," kata Kinan.


"Ya, baiklah, aku akan coba untuk tidak cemas. Tapi, tetap saja cemas. Sejak semalam aku kepikiran. Tapi sudahlah, aku yakin nggak akan gimana-gimana. Mungkin aku aja yang sudah terlanjur bucin sama kamu, Ki."


Kinan terkekeh. "Ya ampun, iya Kinan juga bucin sama Mas. Tapi nanti bucin nya di lanjut lagi, kalau Kinan sudah di rumah ya. Oke, Kinan masuk dulu ya. Mas juga jangan lupa kasih kabar Kinan."


"Iya sayang, pasti aku akan mengabari kamu."


...***...


"Mas jadi ini hotelnya?" ucap Diana. mereka baru saja sampai di hotel itu. Hotel tempat Hamzah akan menginap, dia sengaja mengajak Diana karena tidak mau kalau Diana sendirian di rumah nanti.


"Iya, Di. Kamu pasti lelah ya? Kita langsung ke kamar hotelnya saja ya. Kebetulan saya sudah dapat kamarnya."


"Iya Mas."


Mereka berdua langsung menuju kamar hotel.


"Nindy, kabar baik alhamdulillah. Gimana kabar lo, Nin?"


"Baik, puji Tuhan gue baik banget malah, Ki. Gue dateng bareng suami gue. Kenalin, ini Mas Christ suami gue," kata Nindy.


"Hei, Christ."


"Wah, iya kenalin, Kinan."


"Sorry ya Ki, waktu itu gue nggak datang ke acara nikahan lo. Soalnya gue lagi ribet sama nikahan gue. Tapi gue nggak ngundang temen di Indo, soalnya gue nikah di Aussie."


"Selamat ya Nindy, gue doakan kalian jadi keluarga yang bahagia selalu ya."


"Makasih Kinan. Btw mana suami lo? Kenapa nggak di ajak?"


"Eh seriusan gue kaget. Emangnya boleh ajak suami ya?" tanya Kinan pelan. Suami Nindy terlihat asyik mengobrol dengan teman-teman Nindy yang laki-laki di sebelah mereka.


"Lho kok emang nya kenapa nggak boleh? Boleh kali, kan lo sama suami lo bukan pacar lo. Ya, kalau ada acara suami lo nggak ikut, tapi kan buat nemenin tidur, masa lo sendirian Kinan?"

__ADS_1


Mendadak Kinan merasa bersalah pada suaminya. Kinan tidak tahu kalau ke acara itu boleh membawa serta pasangannya.


"Ya Allah gue beneran nggak tahu lho Nin." Kinan makin menyesal.


"Ya udah, ini acara udah mau mulai, nanti kalau udah waktunya rehat lo hubungi suami lo biar nyamperin lo ke sini. Lumayan ada temannya kan. Daripada lo tidur sendiri."


Kinan mengiyakan kata-kata Nindy. Karena sudah waktunya berkumpul Kinan pun langsung menuju tempat perkumpulan bersama teman-temannya.


Saat mendengarkan MC membacakan serangkaian acara yang akan berlangsung. Kinan malah terus kepikiran suaminya. Dia juga mengirimkan pesan pada Dude tapi suaminya itu malah belum membacanya. "Duh Mas Dude kemana ya. Apa dia sedang sibuk di kantor?"


Dude memang sibuk di kantor sampai dia lupa membawa ponselnya yang dia letakkan di atas meja kerjanya. Dude harus melayani beberapa klien penting, banyak juga meeting dadakan yang harus dia lakukan. Berhubung nanti malam Kinan tidak di rumah, Dude memutuskan untuk mengambil kerja lembur saja.


Saat Kinan mulai meletakkan ponselnya dan fokus mendengarnya. Kinan dikejutkan dengan sosok Hamzah, ya dia tidak salah, laki-laki itu adalah Hamzah.


"Astaghfirullah. Kenapa nggak kepikiran kalau Mas Hamzah juga kan seorang dokter. Dia pasti akan di undang juga ke acara ini. Tapi, apa Mas Hamzah datang bersama Diana?" gumam Kinan.


Tak sengaja Hamzah pun menoleh ke arah Kinan, hingga mata mereka saling bertemu. Hamzah terlihat sangat terkejut, sementara Kinan hanya tersenyum berusaha bersikap biasa.


Hamzah juga ikut tersenyum taoi kemudian dia mengalihkan pandangan.


"Dia Kinan? Kenapa saya masih berdebar-debar?" Hamzah berkata pelan. Dia menyentuh dadanya, dan debaran itu masih belum berubah.


Kinan kembali fokus pada materi yang disampaikan. Memang kenapa kalau itu Hamzah? Mereka sudah fokus pada hidup masing-masing sekarang, pikirnya.


Apa kamu harus meminta maaf lagi pada Kinan. Kenapa rasanya saya masih sangat bersalah pada dia. Saya tahu hidup dia sudah jauh lebih baik. Tapi, seperti yang saya lakukan waktu itu terlalu jahat padanya. Saya juga harus menemui Ibunya dan meminta maaf, kalau tidak saya akan hidup dengan rasa bersalah terus. Kata hati Hamzah saat itu.


Selesai acara pertama di hari itu. Kinan langsung menuju kamar hotel untuk beristirahat sebentar.


"Kemana sih kamu Mas? Katanya aku harus terus memberikan kabar, tapi handphone kamu bahkan nggak bisa dihubungi?" kesalnya, sudah berulang kali dia mencoba menelepon suaminya. Tapi jawabannya tetap saja sama, panggilan itu tidak dijawab.


"Kinan, tunggu!"


Kinan langsung berbalik. Dia mendengar suara laki-laki dan dia ingat jelas itu suara Hamzah. Mendadak Kinan ingat terakhir kali dia bertemu dengan Hamzah juga saat di tangga seperti sekarang dan Kinan amat ketakutan.


Tapi kali ini Kinan sudah lebih bisa mengendalikan dirinya tidak seperti itu. Dia ingat kata-kata Diana, bahwa Hamzah mau menerima Diana sebagai istri dan mereka sudah akan memulai hidup baru.


"Ya," jawab Kinan, dia akhirnya berbalik menatap Hamzah dan tersenyum ramah.

__ADS_1


__ADS_2