
"Are you drunk! Don't touch me!"
"Hey, sayang. Galak banget sih. Cantik dari pada minum sendiri, lebih baik kita minum sama-sama, gimana?"
"Stop! Jangan dekat-dekat, you jerk!"
"Nona Selina!!"
Bagus yang merasa tidak tenang karena Selina belum juga keluar setelah tiga puluh menit di dalam, akhirnya menyusul masuk dan terkejut melihat Selina sedang didekati oleh laki-laki.
"Apa yang lo lakuin sama dia woy!" tekan Bagus sambil membiarkan Selina berlindung di belakangnya. Sementara di hadapan Bagus sekarang seorang laki-laki yang kelihatan sangat mabuk sedang tertawa meremehkan.
"Dia pinjam HP gue, Bro. Terus gue cuman mau sentuh tangannya doang. Gitu doang dia marah." Laki-laki itu sambil tertawa mengatakan itu pada Bagus.
"Nona kita pulang sekarang okay?"
"No aku menunggu seseorang datang menjemput ku." Selina menggeleng.
Laki-laki tadi langsung berjalan mendekati Selina. "Lebih baik kamu bersamaku, sayang."
"Jangan sentuh!" sentak Selina geram.
"Lepasin dia!" perintah Bagus. Tapi orang itu tidak mau melepaskan tangannya pada Selina.
"Lo cuman supir dia, kan? Malu sama seragam lo bego!" cela orang itu pada Bagus.
Selina sendiri terlihat sudah mabuk dan tidak sadarkan diri, dia tergeletak di pelukan laki-laki tadi. "Lo liat majikan lo yang deketin gue!"
"Brengsek lo anjing!" Bagus langsung memukul laki-laki itu, dan keributan pun tidak dapat dihindari.
"Nona, kita pulang sekarang ya. Nona udah mabuk," ajak Bagus. Kemudian Bagus menggendong Selina. "No! Aku menunggu seseorang! Apa kamu tidak dengar ucapan ku!"
Laki-laki yang mabuk tadi, masih sanggup berdiri tanpa diduga langsung menghajar Bagus dari belakang hingga Bagus jatuh, begitu juga dengan Selina.
"Lo berani ngehajar gue brengsek lo! Ayo kita ribut sekalian!" sungut laki-laki itu.
Bagus hanya bangun, dia sadar posisinya tidak mungkin menang, karena dia hanyalah seorang supir. "Saya tidak mau cari keributan di sini."
Lalu Bagus pergi bersama Selina. "Aku nggak mau pergi. Aku nunggu orang yang aku sayangi!"
Bagus membiarkan Selina mengatakan apapun, tapi dia tetap membawa Selina pulang.
"Woy jangan lari lo! Sini ribut sama gue!" teriak orang tadi, tapi Bagus tidak mempedulikannya sama sekali.
"Nona sebenarnya siapa orang itu? Lalu kenapa Nona harus meminjam HP orang lain?" tanya Bagus, Selina malah tersenyum. Ya, dia sudah terlalu mabuk.
"Nomorku sudah di block olehnya," kata Selina.
Bagus terdiam.
"Aku sangat mencintainya." Selina tanpa sadar menangis saat mengatakan itu.
"Sangat cinta."
Bagus menghela napas berat. "Apa dia laki-laki yang sudah memiliki istri yang Nona bicarakan?"
Selina terkekeh. "Ya. Aku menyedihkan. Wanita itu anggun dan terlihat sangat luar biasa. Mana mungkin aku bisa bersaing."
Bagus menggeleng. "Lupakan saja laki-laki itu, Nona."
Selina menatap Bagus lalu tersenyum. "Apa kamu pernah jatuh cinta?"
Bagus langsung menghentikan langkah kakinya. Sekarang dia sudah berada di depan mobil. Bagus menurunkan Selina, wanita itu masih bisa berdiri walau agak sempoyongan. Bagus membuka pintu mobil lebar-lebar lalu mempersilakan Selina untuk masuk.
__ADS_1
"Hei, aku belum tahu jawabanmu. Apa kamu pernah jatuh cinta?"
"Cinta?" Bagus agak meringis. "Saya tidak pantas mendapatkan itu, Nona," imbuhnya bersama sekelebat ingatan masa lalu yang muncul.
Lalu Selina tertidur begitu saja di dalam mobil. Tanpa disadari oleh Bagus, ada mobil lain yang mengikuti mobil Selina dari belakang.
...***...
Dahinya mengerut membaca pesan dari orang suruhannya. Rupanya Selina sudah dibawa pulang oleh Bagus. Seperti perintah Dude, orang suruhannya mengikuti kemana Bagus pergi untuk tahu di mana tempat tinggalnya. Tapi, untunglah Dude tidak mengikuti kata-kata Selina, sebab Dude tidak mau menanggapi ucapan orang yang sedang mabuk.
"Kamu belum berubah, Sel."
"Mas? Kamu sedang apa?"
Dude mengerjap saat suara Kinan membuatnya kaget. Sambil berbalik, tidak lupa ia tersenyum simpul, tidak mau kalau Kinan merasa aneh nantinya.
"Tidak, Ki. Tadi saya tidak bisa tidur, jadi saya cari angin sebentar," jawab Dude, ia memberikan setengah senyum. Kinan pun mengangguk, lalu mendekati suaminya itu.
"Kenapa nggak bisa tidur, Mas?" tanya Kinan.
Dude mengembuskan napas berat. Ia harus jujur, tidak boleh menutupinya dari Kinan. "Maaf, Ki. Sebenarnya saya kepikiran tentang Bagus. Barusan saya minta orang suruhan saya untuk mengawasi Bagus."
Prangg!!
Suara gelas pecah membuat Kinan dan Dude terkejut dan langsung cepat berbalik menatap ke arah suara itu.
"Astaghfirullah. Hana?"
Ternyata tanpa mereka sadari Hana sedang berdiri membawa gelas kosong, lalu gelas itu jatuh saat mendengar Dude menyebut nama Bagus.
"Ya Allah, Han! Kamu nggak apa-apa?" ucap Dude langsung menghampiri Hana yang terdiam dengan posisi berdiri, dan wajahnya terlihat memucat.
Kinan hendak mengumpulkan pecahan kaca, tapi Dude melarang. "Jangan di sentuh, Ki. Biar saya yang bersihkan. Kamu ajak Hana duduk, kasih dia minum."
"Hana, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Kinan. Hana menggeleng, tapi kemudian dia menggenggam erat tangan Kinan seperti orang ketakutan. Dude masih mengumpulkan pecahan-pecahan kaca lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Mbak, Hana takut. Bagus dia ada di Jakarta? Bagus udah keluar penjara, Mbak?" Air mata berkilauan di matanya. Hana gemetaran, dia terlihat sangat ketakutan. Kinan langsung memeluk Hana, mengusap punggungnya. "Nggak ada apa-apa, Hana. Kamu jangan takut, jangan cemas. Dia nggak akan berani macam-macam dengan kamu. Tenang, ya."
Hana mengangguk-angguk, tapi dia kemudian menangis tersedu-sedu. "Hana nggak mau melihat dia, Mbak. Hana takut."
Dude baru saja selesai membereskan Kaca-kaca tadi, dia langsung menghampiri Hana, mengusap kepala adiknya. "Hana, jangan takut. Ada Mas, tidak akan ada yang bisa menyakiti adik Mas lagi."
Hana melepaskan pelukannya dari Kinan perlahan, lalu dia menatap Dude. "Jangan cari dia, Mas." Hana menggeleng, dia memohon pada Dude sambil memegang erat tangan Dude. "Jangan cari dia, jangan usik dia, terserah dia mau apa, tapi jangan dekati dia, Mas."
Dude memeluk Hana, dia menatap mata Hana, mengapit kedua pipi adiknya, sambil menegaskan sesuatu. "Mas hanya ingin memberitahu dia, bahwa dia tidak bisa menyentuh hidup kamu barang sedikit pun. Sebelum dia ada niat untuk mencari kamu, Dek."
"Dia nggak akan cari Hana, Mas. Dia nggak peduli dengan Hana."
Dude mengelus pipi adiknya, mengecup keningnya. "Siapa yang butuh kepedulian dia, Dek. Kamu bisa menjadi orang yang lebih baik. Tapi dia, hidup dia hancur, karir dia hancur, setimpal dengan yang dia lakukan pada kamu. Kalau kamu mau, Mas bisa buat hidup dia lebih menderita dari ini. Sekarang dia cuman jadi seorang supir. Itu pun pasti supir tanpa izin resmi, karena dia seorang mantan narapidana."
"Hana tidak mau Mas yang celaka, biarkan dia dengan hidupnya. Hana tidak peduli lagi, Mas. Hana sudah cukup bahagia memiliki Mas dan Rey. Hana juga bahagia sudah ada keluarga yang menyayangi Hana, tidak mau terpuruk seperti dulu lagi."
Kinan mengelus dadanya, dia agak merasa lega. Setidaknya dia bersyukur Hana tidak kembali kambuh setelah tahu bahwa Bagus mulai berkeliaran lagi.
"Ya, kamu harus tetap semangat. Kamu hidup untuk diri kamu, untuk Reyhan, anak kamu. Iya, kan?"
Hana menganggukkan kepala, lalu memeluk Dude lagi. "Syukurlah kalau kamu sudah lebih kuat, Han."
Bagus langsung pulang ke rumah kontrakan yang dia tinggali. Tempatnya kecil, jauh dari kesan mewah, bahkan bisa di bilang dia tinggal di sebuah kontrakan yang agak kumuh karena sewanya murah.
Setelah keluar dari penjara, Bagus tidak tahu harus tinggal di mana. Dia tidak memiliki muka untuk pulang ke rumah orang tuanya setelah mencoreng nama baik keluarganya. Pernikahannya dengan wanita dari keluarga terpandang pun batal karena dia harus di tahan atas kasus pemerkosaan.
__ADS_1
"Cinta?"
Bagus meringis miris, penyesalannya tidak habis setelah dia meringkuk dibalik jeruji besi. Rasanya ia ingin bersujud di kaki wanita yang sudah dia sakiti, dan dia hancurkan masa depannya. Tapi dia sadar, itu mustahil, jangankan bersujud di kakinya, menemui wanita itu saja Bagus tidak berani, karena dia tahu diri siapa dia dan apa yang telah dia perbuat pada wanita itu.
"Hana, maafkan saya, Han."
Setelah mendapatkan alamat Bagus, orang suruhan Dude tidak lupa langsung memberitahu Dude dengan segera. Dude yang menerima pesan itu, hanya menghela napas lalu menaruh ponselnya. Dia berbaring di samping Kinan yang terbangun karena tidak ada dia, lalu kejadian Hana memecahkan gelas pasti membuat Kinan tidak bisa tidur sekarang.
"Ki, maafkan saya, ya. Kamu jadi bangun dan sekarang tidak bisa tidur lagi."
Kinan tersenyum lalu memeluk Dude. "Mas Dude benar-benar sosok Mas yang menyayangi adiknya. Kinan bangga sama suami Kinan."
Dude tersipu mendengar ucapan Kinan yang serupa pujian untuknya. "Jangan lupa, Ki. Saya juga tidak mau kamu membersihkan pecahan kaca, bukannya itu keren?"
Kinan mendongak lalu tersenyum lagi menatap suaminya. "Itu juga, so sweet banget, Mas. Nggak bohong."
Dude tertawa kecil lalu mengeratkan pelukannya. "Saya akan melindungi orang-orang yang saya sayangi sekuat tenaga saya, Ki. Kamu, Hana, Reyhan, kalian adalah orang-orang yang berarti dalam hidup saya."
"Oh iya, orang tua angkat saya, orang tua kamu, mereka juga akan saya lindungi sebisa saya," tambah Dude.
Kinan menatap Dude lalu mengelus pipinya perlahan. "Makasih ya, Mas. Kinan juga bersyukur karena Hana jauh lebih kuat sekarang."
"Ya. Hana bisa seperti itu karena doa dari orang-orang sekitarnya, terutama doa Reyhan."
"Hm, iya, Mas betul. Alhamdulillah Kinan punya suami idaman banget," ucap Kinan lalu tersenyum.
"Kamu salah, justru saya yang mendapatkan istri idaman."
Kinan tersipu, lalu dia menggeleng. "Udah ah, malu tahu."
"Kamu jadi nggak bisa tidur? Ini masih malam lho," kata Dude sembari mengusap rambut Kinan.
"Iya, tadi Kinan terbangun karena sewaktu Kinan mau peluk Mas, kok Mas nggak ada di samping Kinan."
"Kamu kangen? Baru saya tinggal sebentar."
Kinan mendengkus, bibirnya mengerucut. "Bukan gitu ih!"
"Saya aja kangen lho, Ki. Baru sebentar nggak lihat wajah kamu, saya kepikiran."
"Gombaaaaalll ...." Kinan memukul-mukul pelan dada suaminya.
Dude terkekeh sambil memeluk Kinan. Ia mencubit pipi Kinan gemas, mengecupnya bergantian. "Sekarang saya di sini, kamu tidur lagi ya."
Kinan menggeleng cepat. "Makin nggak bisa tidur. Gimana, dong?"
Dude terkekeh pelan. "Biar tidur harus saya gimana in?"
"Hm, gimana ya. Nggak tahu!" Kinan langsung menutup wajahnya dengan selimut tebal.
Dude gemas, dia membuka selimut yang menutupi wajah Kinan. "Hei jawab dulu, biar tidur mau saya gimana in?"
Lalu Kinan hanya senyum-senyum tanpa kata. Dude tiba-tiba mendaratkan ciuman di bibir Kinan. Awalnya Kinan tidak mau merespon, tapi lama-kelamaan Kinan merespon juga.
"Tidak ada larangan melakukannya setiap hari, kan?"
Pertanyaan Dude itu membuat Kinan membeku, tidak mau menjawabnya karena malu.
...________...
...Semoga terhibur 😁...
...Jangan lupa kasih komentarnya ya. makin banyak komentar aku makin semangat updatenya ☺...
__ADS_1