
"Terima kasih karena Mas sudah mau berubah untuk aku. Mas jauh lebih lembut sekarang."
"Ya, Diana. Sama-sama. Maafkan saya jika selama ini saya membuat kamu terus terluka."
Diana menangis, bukan karena jarum suntik yang di tusukkan ke dalam kulitnya. Tapi, mengingat percakapannya dengan Hamzah beberapa waktu lalu. Saat itu Diana amat bahagia karena Hamzah mau bersikap lembut padanya.
Betapapun banyak air mata yang jatuh membasahi pipinya. Baginya, Hamzah adalah laki-laki yang berharga di hatinya. Tapi kenapa, kenapa semua itu terlalu singkat dia rasakan. Semua berubah, semua berubah hanya karena satu nama yang kembali muncul di depan mata suaminya.
"Sakit, Mas."
Hamzah masih memegangi tangan Diana. Saat itu dia melihat istrinya merintih kesakitan, dan seolah rasa sakit itu bisa dia rasakan. "Maafkan saya Diana."
"Nggak Mas. Aku nggak akan maafkan kamu." Diana menggeleng dengan air mata bercucuran.
"Maafkan saya, Diana."
Tapi tiba-tiba saja pandangan Diana memburam saat obat bius mulai bekerja padanya.
"Istri bapak harus menjalani kuret karena janin dalam kandungannya tidak tertolong."
Hamzah mengacak rambutnya frustrasi. Semua yang terjadi pada Diana itu adalah kesalahannya. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa segila itu pada Kinan. Tapi sekarang, bayinya bersama Diana telah tiada.
"Maafkan aku Diana. Maaf karena aku telah membunuh bayi kita."
Kinan mengambil botol parfum yang tergeletak di atas meja rias nya. Dia menatap botol bening berbentuk lonjong itu. Kinan tidak menyangka, parfum itu bisa menjadi masalah sampai sebesar ini. Kinan juga tidak tahu kalau Hamzah sudah menyukainya terlalu buruk seperti itu.
"Ini semua karena benda ini!!! Argh!!!"
Kinan membanting parfum itu sampai botol itu pecah. Bibi yang ada di dekat kamar Kinan langsung berlari menghampiri Kinan.
"Non Kinan!!"
"Keluar, Bi. Kinan butuh waktu sendiri."
"Tapi Non."
"Kinan mohon Bi." Kinan berjongkok tepat di depan pecahan botol parfum itu.
"Iya, baik, Non." Akhirnya bibi keluar dari kamar Kinan.
Kinan menangis, dia memungut pecahan beling dari botol itu.
Dude baru saja sampai di rumah. Dia hendak ke kamarnya. Bibi langsung berlari ke arah Dude dengan panik
"Bi, ada apa?"
__ADS_1
"Non Kinan Tuan."
"Kinan kenapa?" tanya Dude panik.
"Tuan cepet ke kamarnya aja, Tuan," desak Bibi.
Dude pun langsung berlari menuju kamar.
"Ah."
"Kinan!!"
Kinan beranjak dari duduknya, dia langsung berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan darah yang menetes sebab jarinya terkena pecahan beling.
"Kinan sini berikan jari kamu!"
Kinan hanya menangis sambil menyembunyikan jarinya yang berdarah. Sekarang darahnya bahkan menetes ke lantai kamar mandi.
Dude langsung merebut tangan Kinan, mengaliri jari Kinan dengan air bersih.
"Kenapa bisa sampai berdarah, sayang?" Suara lembut Dude.
"Kamu kenapa?" tanya Dude kali ini dia menatap Kinan dengan mata sendu. "Jangan begini, kamu mau menyakiti diri kamu sendiri?"
"Kinan hanya tidak sengaja terkena pecahan beling, Mas." Kinan menyeka air matanya dengan tangan satunya, sebab tangan yang luka sedang dibersihkan oleh Dude dengan air.
Kinan duduk di tepi ranjang, dia kemudian mengambilkan plester untuk membalut luka Kinan.
"Ini pecahan apa, Ki?"
Kinan terdiam.
Dude mencium aroma parfum yang menguar dari lantai yang terkena tumpahan cairan. "Ini parfum ya?" tanyanya sambil menatap mata Kinan yang basah.
"Iya. Kinan udah hancurkan sesuatu yang menjadi sumber masalah." Kinan kembali menangis.
"Kinan nggak pernah sengaja ingin di sentuh oleh dia, Mas."
Kinan makin menangis. Dude kembali dihinggapi rasa bersalah karena itu semua pasti sebab dia.
"Maafkan aku, sayang." Dude langsung memeluk Kinan. "Maaf karena aku sempat nggak percaya sama kamu."
Kinan menyingkirkan tubuh Dude darinya. "Kata-kata Mas terlalu menyakitkan."
Dude menatap mata Kinan dengan memelas. "Kinan, Mas mohon maaf. Mas janji nggak akan berkata seperti itu lagi ke kamu."
"Maafkan Mas ya, sayang. Maaf sekali, Mas hanya terbawa emosi."
__ADS_1
Kinan berdiri lalu dia meninggalkan Dude sendirian di dalam kamar. Rasanya dia masih butuh waktu sampai hatinya benar-benar ikhlas untuk memaafkan tuduhan suaminya itu.
Dude menarik napas dalam-dalam, dia tahu tidak semudah itu mendapatkan maaf dari Kinan. Dude menatap pecahan beling dari botol parfum istrinya. Baru kali ini dia melihat Kinan menghancurkan barang. Ternyata Kinan bisa emosi seperti itu, sejujurnya dia juga tidak mau situasi jadi makin canggung seperti itu.
Dude meminta pelayan untuk membersihkan pecahan beling di kamarnya. Lalu Dude menyusul Kinan yang sedang duduk di ruang tengah. Kinan duduk sendirian menatap foto pernikahan yang terpampang di tembok. Dia sesekali tersenyum, teringat belum lama ini hari bahagia itu diabadikan dalam sebuah frame foto yang besar. Ada ibunya, ada juga orang tua Dude, Raihan, Reyhan. Kebahagiaan itu sangat nyata, dan dia kembali mengelus dada.
Kenapa sulit sekali memaafkan kata-kata Dude? Apa karena sebelumnya Dude belum pernah berbicara dengan nada tinggi dengannya?
Tuduhan Dude memang berawal dari kesalahpahaman dan emosi sesaat. Tapi kata-kata itu sangat membekas. Kinan bahkan tidak bisa tidur ketika mengingat kata-kata itu.
"Kinan."
Dude datang lalu bersimpuh di hadapan Kinan sambil menyentuh sebelah pipinya.
"Harus dengan cara apa agar kamu mau memaafkanku?"
Kinan tanpa terasa meneteskan air matanya lagi.
"Kata-kata ku sangat menyakitkan kamu. Aku sangat menyesalinya."
Dude masih mengusapi pipi Kinan dengan perlahan. Wanita itu hanya menatap mata Dude dengan butiran air mata yang mengaliri pipi putihnya.
"Harus dengan apa aku menebus semua kesalahanku? Aku akan terima hukuman apapun asal jangan mendiamkan aku, Kinan."
Kinan lalu menyentuh telapak tangan Dude. Bibirnya gemetar, dia mengedarkan pandangan sambil menyeka air matanya.
"Aku sedang berusaha."
Kinan menyingkirkan pelan tangan Dude lalu berbalik meninggalkan Dude lagi.
"Kinan, aku mohon, kalau yang kamu inginkan agar aku melepaskan Hamzah. Aku akan lakukan tapi jangan diamkan aku begini. Aku tidak sanggup melihat kamu menangis sendirian. Aku marah aku emosi karena aku tidak mau ada laki-laki lain yang menyentuh kamu."
Kinan berdiri dengan dada bergemuruh dan napas yang tercekat mendengar ucapan suaminya. Apakah dia sudah keterlaluan karena belum bisa memaafkan Dude?
"Aku terlalu mencintai kamu, dan tidak mau ada seorang pun mengganggu milikku."
Kinan lalu menangis tersedu-sedu di tempatnya berdiri. Dia menangis dengan suara seperti anak kecil. Dude berlari memeluk Kinan, tapi Kinan tidak bergerak, hanya terus menangis.
"Aku nggak mau kamu nangis terus. Maafin aku, Kinan."
"Apa Mas nggak percaya sama aku. Kenapa Mas sempat nggak percaya sama aku, Mas?" tanya Kinan dengan suara putus-putus sebab tangisnya yang belum berhenti.
"Aku hanya laki-laki biasa yang dapat terbakar cemburu, Kinan."
..._____...
__ADS_1
...Mungkin awalnya itu hanya kesalahpahaman aja. Tapi karena Dude selalu lembut dan gak pernah kasar sama Kinan jadi sekalinya Dude kasar dia kaget gitu kayak belum percaya suaminya tuh sempet curiga. Padahal Dude nya cemburu berat gitu loh bund 🙂 prcaya deh istri sakit banget klo suami gak percaya gitu apalagi sempet nuduh juga. 😠pernah ngalamin gak sih bund wkwkwkw...