
Mimpi buruk itu belum usai. Nyatanya rasa bersalah Hamzah pada Kinan belum berakhir. Ia masih merasa bersalah, bahkan amat bersalah pada wanita yang masih tersimpan di hatinya sampai detik ini.
Setiap kali dia memejamkan mata, atau tertidur tanpa sengaja, tidak pernah sekalipun ia merasa nyenyak. Terganggu rasa bersalah. Mimpi menikah dengan Kinan masih selalu muncul membuat ia terbangun dengan napas terengah-engah dan bersimbah keringat.
Mimpi buruk itu bertambah saat dia menoleh ke sebelahnya, di sana terbaring seorang wanita, tapi bukan Kinan, dia adalah Diana, istrinya.
Kini penyesalan itu makin menjadi, bahkan ketika mereka memutuskan memulai hidup baru, nama Kinan masih terpatri.
Perempuan itu mencoba yang terbaik sebisanya. Melayani suaminya dengan sebaik mungkin, layaknya seorang istri yang taat dan berusaha menjadi istri shalehah.
Namun itu tidak cukup meluluhkan Hamzah, sikap dingin masih tetap saja diterima Diana, dan dia hanya pasrah.
"Jika sedalam itu rasamu untuk Kinan. Kenapa kamu mengkhianatinya Mas?"
Hamzah tersadar dari lamunan setelah mendengar kata-kata itu dari mulut Diana. Wanita itu berkaca-kaca di depannya sambil memegang perutnya yang mulai membesar.
"Tidakkah kamu sadar, aku terluka sebagai istrimu. Tidak bisakah kamu menatapku sekali saja, bahkan kamu selalu mengabaikan ucapan ku."
Hamzah beranjak dari duduk, dia bermaksud mengindari obrolan itu.
"Kamu keterlaluan, Mas. Sekarang kamu mengabaikan aku lagi?"
Hamzah menghembuskan napas keras. Seolah ada sesuatu yang mendesak ingin dia keluarkan pada Diana, tapi semua yang dikatakan Diana tidak salah. Dia memang lemah, dia memang tidak memiliki perasaan apapun pada Diana, bahkan rasa bersalah.
"Kenapa diam, Mas? Mana janjimu ingin memulainya denganku? Kamu tahu Kinan sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Dia bahkan lebih bahagia, dari pada menikahi mu kurasa."
"Cukup."
Emosi Hamzah terpancing saat Diana membandingkannya dengan pernikahan Kinan.
"Jangan banyak bicara. Kamu tahu untuk apa kita menikah. Jangan banyak menuntut, aku lelah."
Lalu Hamzah berlalu begitu saja meninggalkan Diana.
"Ya Allah, apakah aku sanggup bertahan? Inikah hukuman yang Engkau berikan pada hamba?"
Selepas acara yang melelahkan, Kinan merebahkan tubuhnya dengan hela napas panjang. Ia menggeleng, teringat kedatangan orang-orang yang tidak terduga menjadi tamu di pesta pernikahannya.
__ADS_1
"Ya Allah, jangan Kau uji hamba dengan cinta yang lain dalam pernikahan ini. Aku secara lemah mengakui, bahwa aku tidak akan pernah siap menghadapi itu."
Kinan mengelus dada, berharap semua ketakutannya tidak akan pernah terjadi. Sambil membuka ponsel, menggulirkan layarnya. Dia terpaku menatap cuplikan video tentang drama yang sedang naik daun. Drama itu menceritakan suami yang berselingkuh.
Kinan tanpa sadar menonton video itu sampai akhir, dan dia mulai berdebar, ada rasa takut, ada rasa cemas, dia segera mematikan video lalu menaruh ponselnya jauh-jauh.
"Tidak, itu kisah orang lain, bukan kisah mu Kinan."
Belakangan memang marak terjadi, mungkin sudah sejak dulu, hanya saja Kinan yang kurang memperhatikan perkembangan. Bahwa di luar sana banyak wanita yang dikhianati oleh suaminya karena perempuan lain di pernikahan mereka.
"Ki, kamu kenapa kok bengong?"
Kinan meneguk ludah, lalu dia bergeser sedikit membiarkan suaminya duduk di sebelahnya. "Enggak, Mas."
Dude menyentuh kening Kinan, mungkin memeriksa suhu tubuh Kinan, cemas kalau-kalau istrinya sakit. "Kamu tidak demam."
"Tidak, Mas. Kinan enggak sakit kok."
"Lalu kenapa kamu terlihat lemas dan pucat sekali lho. Kamu merasa kurang sehat, kelelahan?" tanya Dude lagi. Tapi Kinan malah menggeleng dengan bibir bergetar, entahlah dia mendadak sedih, ingin menangis.
"Hei, kenapa, Ki?"
Dude tertegun, dia makin cemas karena tidak biasanya Kinan bersikap begitu. "Kalau ada masalah, kamu cerita, jangan diam saya tidak paham. Kamu memikirkan masalah Selina?"
Kinan hanya sesenggukan, lidahnya kelu untuk mengungkapkan perasaannya sekarang.
"Jangan dipikirkan, Sayang. Saya sudah jelaskan, Selina hanya bagian masa lalu saya."
Kinan lalu menegakkan tubuhnya, menatap Dude dengan banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan, masih tersimpan dalam otaknya, belum mampu mengungkapkan.
"Sebenarnya seberapa jauh hubungan Mas dengan Selina dulu?"
Wajah Dude mendadak berubah, ada raut bingung yang tergambar jelas. Dia menggaruk tengkuk, lalu menatap ke atas seolah mencari-cari sesuatu, tidak tahu apa. Mungkin menemukan jawaban yang tepat untuk membungkam rasa penasaran Kinan tentang masa lalunya.
"Kenapa kamu bertanya tentang itu, Ki? Apa kamu mulai meragukan saya?"
Tentu bukan karena itu. Tapi, apakah Kinan tidak berhak mengetahui. Walau dia tahu, masa lalu tetap masa lalu, apapun itu.
"Apa Kinan tidak berhak bertanya Mas jika Kinan hanya ingin tahu?"
__ADS_1
Dude menghela napas berat. "Kamu sudah pernah bertanya pada saya kemarin, Ki. Jawaban saya, tidak baik membicarakan ini karena saya tidak tahu pendapat kamu nanti seperti apa. Kalau kamu bisa menerima, kalau tidak, mungkin kamu akan terluka."
"Kenapa? Kenapa ada kemungkinan aku terluka, Mas?"
Dude berdekham pelan. Kemudian dia mengusap pipi Kinan. "Saya hidup dengan kebebasan, sebelum mengenal Reyhan dalam hidup saya sesudahnya. Sebelum kejadian Hana dinodai sampai hamil, saya hidup sebagai laki-laki yang bebas di Amerika, Ki. Apa kamu paham sampai sini? Atau kamu merasa jijik dengan diri saya yang sekarang ada di depan kamu?"
Jantung Kinan berdegup kencang, seolah ada bom yang meledak. Tapi bukankan dia yang mendesak agar Dude berterus terang. Nyatanya, itu amat menyakitkan mendengar penjelasan Dude, jadi apa maksudnya dari semua perkataan Dude itu?
"Sejauh apa Mas?"
Kinan masih saja ingin bertanya, seolah belum cukup yang dijelaskan oleh Dude barusan.
"Sejauh yang tidak kamu bayangkan sebelumnya. Tapi saya, tidak pernah menodai wanita lain, apa kamu percaya sama saya, Ki?"
Kinan mencoba mencerna kata-kata suaminya.
"Jadi, maksud Mas? Mas dengan Selina dulu berpacaran cukup jauh?"
"Ya, sebaiknya tidak perlu diperjelas, Ki. Saya tahu kamu akan sedih."
Itulah uniknya perempuan. Dia selalu mencari tahu, mengulik itu hingga ke dalam, mencari tahu hingga merasa puas, tidak peduli jika itu nantinya akan menyakitkan nya.
Kinan menyingkirkan perlahan tangan Dude yang sedang menetap di sebelah pipinya. Tapi secepat kilat Dude menarik tubuh Kinan kemudian memeluknya.
"Jangan marah, saya sudah berterus terang pada kamu. Saya harap jangan kamu tidak menjauhi saya karena itu, Ki. Sebab di hati saya hanya ada kamu, saat ini dan selamanya."
Tapi Selina cantik parasnya, bagus postur tubuhnya, lemah lembut tutur katanya, dan dia juga terlihat cerdas seolah tidak memiliki cela. Kinan mengukur pada dirinya, siapa dia? Bukan tidak mungkin nantinya Dude akan menatap Selina lagi seperti dulu?
"Mungkin banyak laki-laki di luar sana yang kurang ajar, tidak menghargai perasaan wanita yang tulus mencintainya, berkhianat dan bertindak bodoh. Tapi, saya tidak ingin menjadi seperti itu, Ki. Saya ingin menjadi laki-laki yang baik untuk kamu."
Kinan melemah, tangannya mulai meraih tubuh Dude dan mengeratkan pelukan. Dia tidak mungkin marah dan menjauhi suaminya karena sebuah cerita di masa lalu.
"Maafkan Kinan, Mas."
Dude menggeleng. "Bukan salah kamu, Sayang. Saya mengerti perasaan kamu."
...Pembaca paham kan maksud Dude tidak pernah menodai? menodai di sini artinya tidak merenggut keperawanannya ya....
__ADS_1
...Semoga terhibur. Terima kasih 💛 ...