Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
036 : Bolehkah Aku Mencium Kamu?


__ADS_3

"Mama, ini foto siapa? Coba tebak?" tanya Reyhan pada Hana yang sedang menatap kosong tanpa ekspresi.


"Ini foto Rey sama papa Dude. Mama kangen nggak? Papa Dude sayang banget sama Mama Hana lho. Sampai-sampai dia baru menikah padahal umurnya udah tua." Rey menyengir layaknya anak-anak, padahal Hana hanya terdiam tidak memberi respons.


"Kalau Rey udah besar, Rey akan lindungi Mama lebih dari ini. Pokoknya Rey akan menjaga mama supaya nggak ada yang bisa jahat sama mama lagi."


Saat itu untuk pertama kalinya, Hana menoleh pada Rey, lalu seulas senyum melingkar di bibir putih Hana.


"Mama senyum?"


Hana masih tersenyum, lalu mengangguk satu kali.


"Alhamdulillah, Mama dengerin Rey dari tadi?"


Hana mengangguk lagi.


"Ma, seumur hidup Rey, belum pernah sekali pun Mama sebut nama Rey, Ma. Boleh nggak kalau Rey minta mama sebut nama Rey? Rey-han."


Hana awalnya hanya diam, pelan-pelan bibirnya terbuka, lalu dia mulai menggerakkan bibir dan lidahnya. "Rey ..."


Reyhan sangat terharu, dia menangis sesenggukan mendengar mamanya menyebutkan namanya. "Reyhan, Ma."


"Rrey-rey-haan ..."


"Alhamdulillah, mama udah bisa sebut nama Rey. Ya Allah, Rey senang banget, terima kasih ya Allah."


...***...


Dude dan Kinan baru saja sampai di rumah. Karena Kinan masih belum bisa berjalan, Dude menggendong Kinan, kali ini Dude menggendong Kinan seperti menggendong seorang putri membuat Kinan jadi terpaku sendiri.


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam, ya ampun mbak Kinan? mbak Kinan kenapa?" tanya bibi pelayan di rumah Dude, dia kaget karena begitu pulang Kinan sudah di gendong, padahal tadi dia baik-baik saja saat berangkat kerja.


"Bi, tolong siapkan air hangat, handuk kecil, dan minyak angin ya."


"Baik, Pak."


Kinan langsung dibawa masuk oleh Dude ke kamarnya. Kakinya masih sakit saat digerakkan sedikit saja, sehingga pelan-pelan Dude menurunkan Kinan ke ranjang, lalu memposisikan kaki Kinan lurus dan senyaman mungkin.


"Ini Pak untuk air hangat dan handuk, ini minyak anginnya. Biar saya saja, Pak, yang memijat," ucap Bibi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bi. Biar saya saja, Bibi boleh keluar, terima kasih ya, Bi."


"Terima kasih, Bi," ucap Kinan juga.


"Baik, kalau gitu Bibi keluar dulu ya."


Dude pun mulai mengompres bagian kaki Kinan yang terkilir dengan air hangat, membiarkan rasa sakitnya agak berkurang, baru setelah itu Dude pelan-pelan memijatnya dengan minyak angin.


"Ah, sakit!" Kinan berdesis sambil menahan nyeri saat Dude mulai memutar pergelangan kaki Kinan pelan-pelan.


"Sekali aja ya, Ki. Ini akan mengejutkan sedikit, tapi semoga saja setelah itu tidak akan sakit lagi."


Kinan mengangguk ragu, dia memejamkan mata saat Dude mulai memutar agar kuat pada pergelangan kakinya sampai berbunyi 'krek'.


"Aaahhh! Astaghfirullahalazim Mas!"


Dude lalu pelan-pelan menggerakkan lagi pergelangan kaki Kinan. "Gimana? Sekarang udah mendingan?"


Kinan membuka matanya pelan, lalu dia merasakan kakinya mulai bisa digerakkan lagi tanpa rasa nyeri seperti tadi.


"Alhamdulillah, iya Mas udah nggak sakit."


"Syukurlah, ini hanya terkilir tidak sampai luka dalam, Ki."


"Sama-sama, Kinan. Em, maafkan saya, ya. Karena sikap saya kamu jadi salah paham. Saya akui, saya sudah bersikap tidak dewasa kemarin."


Kinan hanya mendengarkan tanpa berkata-kata, dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang membuat Dude bersikap aneh kemarin.


"Ki, kalau saya memiliki kekurangan, yang kamu tidak sangka-sangka, mungkin orang lain tidak dapat melihatnya, kalau saya tidak beritahu. Apakah kamu tetap akan bersama saya, Ki?"


Kinan makin bingung dan penasaran. "Mas, sebenarnya apa yang Mas alami? Kekurangan apa itu? Sebuah pernikahan bukan mencari kesempurnaan karena tidak ada yang sempurna, Mas. Kinan akan berusaha menerima kekurangan Mas Dude."


Dude lalu menggenggam tangan Kinan. Dalam hidupnya yang sekarang, dia tidak pernah mau mengulang kesalahan yang pernah dia lakukan di masa lalu. Setelah kejadian yang menimpa adiknya, juga setelah dia menikahi Kinan, Dude bertekad ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi.


"Saya mungkin tidak sebaik yang kamu kira, Ki. Tapi saya berusaha jujur meski ini sangat sulit. Ini masalah nafkah batin yang belum saya berikan pada kamu, Kinan."


Deg.


Kinan langsung terdiam setelah mendengar kalimat itu dari mulut Dude.


"Saya kemarin ke dokter. Saya heran kenapa saat saya ingin berhubungan, saya mampu dan saya merasa bergairah, hanya saja saya tidak bisa melanjutkannya, dalam artian kamu tahu kan? Kemarin saya mengakhirinya dengan tidak jelas, Ki. Saya sangat takut kamu marah dan kecewa, saya terus memikirkannya seharian, dan bersikap aneh dikarenakan memikirkan itu."

__ADS_1


Kinan yang memaku di tempatnya, hanya bisa membulatkan mata, tanpa sadar air matanya mengalir lagi.


"Ki, saya memiliki trauma saat Hana menceritakan dia kesakitan sewaktu di perkosa oleh laki-laki jahat yang menghancurkan hidupnya. Sehingga ketika saya melihat kamu takut, kamu sakit, saya ragu melanjutkan, bahkan kepala saya pusing dan saya juga mual."


Penjelasan Dude itu sangat mengejutkan bagi Kinan, karena dia sama sekali tidak berpikir tentang hal itu.


"Ini hasil pemeriksaan saya. Takutnya kamu mengira saya tidak jujur, Ki." Dude lalu menyerahkan sebuah amplop panjang berwarna coklat pada Kinan. Dengan seksama Kinan membaca surat itu, dan semua yang dikatakan Dude itu benar.


"Ki, kamu nangis, pasti kamu kecewa sama saya ya?"


Kinan menatap wajah suaminya sambil menghapus jejak air mata yang refleks keluar begitu saja. "Enggak, Mas. Kinan hanya kaget, dan juga sedih, karena Mas mengalami hal sulit ini sendirian, sementara Kinan tidak tahu sama sekali."


"Jangan menangis, Ki. Ini bukan kesalahan kamu, saya yang salah karena saya tidak jujur sama kamu, saya terlalu takut, takut kamu kecewa dan marah."


Kinan menggeleng pelan. "Ini ujian dari Allah, Mas. Kinan yakin Mas akan bisa kembali normal, kok. Hanya saja Mas harus mulai percaya, bahwa Mas tidak sedang menyakiti Kinan, pelan-pelan saja, aku akan bantu sebisa ku," jawab Kinan secara mengejutkan membuat Dude tertegun.


"Kamu benar-benar mau menerima kekurangan saya, Ki?"


"Iya, Mas. Kinan juga punya banyak kekurangan, selagi kita sama-sama saling terbuka, dan saling menjaga, insyaAllah ujian ini bisa kita lewati sama-sama," angguk Kinan.


Dude refleks memeluk Kinan, kelegaannya kini tidak bisa digambarkan oleh apapun. Sedari kemarin dia terus kepikiran, dia bahkan tidak selera makan karena takut Kinan akan meninggalkannya. "Terima kasih, Ki. Saya benar-benar mau memulai semua bersama kamu, hanya kamu, Kinan."


Kecupan lembut mendarat di kening Kinan cukup lama, hingga mereka saling menatap satu sama lain.


"Mas? Boleh Kinan minta sesuatu?"


"Apa, Ki?"


"Bolehkah aku mencium kamu, Mas? "


"Cium saya?"


"Hm, iya, boleh?" angguk Kinan dengan tekat kuat yang mendorongnya mengatakan itu, walau sejujur dia juga sangat malu mengatakannya.


"Boleh, Kinan." Dude tersenyum dengan perasaan kaget, gugup menjadi satu.


Kinan lalu mendekat mengapit lembut kedua pipi Dude, barulah sebuah ciuman di bibir Dude menjadi kali pertama Kinan mencium seorang pria dalam hidupnya. Lalu pipinya memerah, dia melepaskan ciuman itu pelan-pelan, menatap Dude lagi.


"Aku menyukai Mas Dude."


...____...

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2