Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
030 : Bercumbu


__ADS_3

"Maaf, Mas." Kinan menghentikan Dude dengan menutup bibir Dude menggunakan telapak tangannya.


"Ini mimpi?" tanya Kinan.


Dude menyingkirkan pelan telapak tangan Kinan, lalu menggeleng. "Enggak, Ki. Bukan mimpi. Kamu marah, ya?"


"Maaf ya, Ki." Dude lalu kembali ke posisinya sambil mengusap wajah. Kinan masih tertegun di posisinya, dia mengira apa yang terjadi barusan adalah mimpi, Dude nyaris menyentuh bibirnya.


"Saya cuman takut kamu mengira saya tidak mau menyentuh kamu. Entah ini terlalu awal atau tidak bagi kamu. Tapi saya selalu ingin melakukannya semenjak tidur berdua dengan kamu. Hanya saja tidak mau terkesan memaksa, saya tahu kamu dan saya tidak berpacaran sebelumnya."


Sepertinya perkataan Dude itu cukup membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi.


"Mas, aku nggak marah. Tadi, aku cuman kaget dan takut semua ini hanya mimpi."


"Mimpi?" Dude menoleh. Kinan mengangguk. "Iya, Mas. Takutnya Kinan hanya sedang berhalusinasi."


"Kenapa kamu sampai berpikir begitu? Saya ini normal, Ki. Saya..."


Kinan memutus kata-kata Dude dengan menutup mulut Dude menggunakan telunjuk. "Aku tahu, Mas."


Pernikahan mereka sudah memasuki minggu ke-2. Kinan berharap itu cukup untuk menunda malam pertama mereka.


"Jadi boleh, Ki?"


"Bo-boleh Mas," jawab Kinan meski dia juga sedikit takut.


Dude lalu mendekati Kinan lagi, dia menyentuh pipi Kinan, mengusapnya lembut dan perlahan sambil menatap mata Kinan yang terbuka lebar. "Kamu takut ya?"


"Em, sedikit, sih."


"Sama, saya juga takut. Saya takut menyakiti kamu," kata Dude dibalas cengiran Kinan. "Jangan ikutan takut, Mas. Nanti aku bingung kalau Mas juga takut."


Mereka tertawa bersama sebelum Dude mengecup bibir Kinan dengan tiba-tiba. Satu kecupan disusul kecupan berikutnya. Hanya kecupan yang diberikan berulang-ulang dan agak cepat hingga Kinan hanya bisa tertegun dengan mata membola.

__ADS_1


Setelah itu Dude mengecup kening Kinan, menempatkan kecupan itu agak lama di sana, beralih turun ke hidung, hingga Kinan memejamkan matanya. Dikecupnya lagi kelopak mata Kinan bergantian. Jantung Kinan berdegup kencang menerima hujan kecupan dari Dude hingga dia tidak sanggup berkata-kata.


"Kamu cantik, Kinan." Dude berbisik. Belum sempat Kinan menjawab telinganya malah di kecup pelan hingga dia merasa merinding.


"Ki, kalau saya punya masa lalu, apa kamu bisa terima masa lalu saya?"


Tiba-tiba pertanyaan itu membuat konsentrasi Kinan yang mulai fokus menjadi buyar. "Ma-sa lalu apa, Mas?"


"Masa lalu saya, karena saya pernah menyukai kamu, walau saya tahu kamu sudah dilamar oleh orang lain."


"Astaghfirullah." Kinan mengelus dadanya, hampir saja dia mengira suaminya memiliki wanita lain di masa lalu. Mungkin pikirannya sudah terkontaminasi novel romantis yang sering dia baca.



Dude mengarahkan tangan Kinan ke bahunya, lalu Kinan tertunduk dengan pipi meronanya. Pandangan matanya mulai meremang karena rasa gugup dan degup jantung yang terlampau cepat membuatnya kehilangan akal, tidak tahu harus melakukan apa.


Penuh kelembutan, Dude menyentuh lagi bibir Kinan, mencecapnya tanpa pemaksaan, sangat halus dan terasa bahwa Dude sangat menghargai Kinan.


Kemudian permainan itu baru dimulai, sebuah pengalaman pertama bagi Kinan, dan Kinan juga berharap itu pengalaman pertama bagi Dude.


Kinan menatap bengong dada bidang yang terpampang polos di depannya. Tangannya gemetar lalu bergerak menyentuh tubuh kokoh itu, mengusapnya, hingga Dude agak menggeram pelan saat Kinan menyentuh tepat di salah satu bagian sensitif tubuhnya. "Ah maaf, Mas." Kinan lalu menarik tangannya sambil memalingkan wajah.


"Sentuh di mana kamu mau sentuh."


Suara berat itu menandakan bahwa Dude mulai memanas. Sama halnya juga yang terjadi pada Kinan, gadis itu belum berpengalaman sama sekali, dia hanya merasakan kelembutan yang diberikan Dude padanya.


Telapak tangan Dude mulai meremas pelan, hingga Kinan mendesah pelan. "Ah!"


Memainkan puncaknya dan terdengar suara yang sama. "Aahhh ..."


Sepasang mata mereka bertemu lagi, dikecupnya lagi kening, pipi dan bibir Kinan. "Saya akan sangat lembut. Jangan cemas."


Kinan mengiyakan dengan anggukan pelan, dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Dude meletakkan telapak tangannya pada bagian bawah Kinan setelah menurunkan celana panjang yang dikenakan Kinan malam itu. Elusan pelan di bahwa sana membuat Kinan bersusah payah menyembunyikan suara yang menurutnya agak melakukan jika terdengar. "Bersuara, nggak apa-apa, Ki."

__ADS_1


Kinan menggeleng, tapi tidak sampai di mana satu jari suaminya menggoda lagi dan pertahanan Kinan terputus di sana. "Mas!"


...***...


Ternyata malam yang dia impikan itu terjadi juga. Walaupun begitu, Kinan masiu menyisakan rasa penasaran. Kenapa Dude hanya mencumbunya, sampai dia mendapatkan pelepasan. Tapi, Dude sendiri menghentikannya hanya sampai di situ. Kinan tidak berani bertanya, dia memang lemas setelah pelepasan pertamanya tadi. Dude hanya mengecup kening Kinan lalu pergi ke kamar mandi begitu saja membiarkan Kinan yang kelelahan tertidur.


"Kinan, maaf sepertinya tidak malam ini."


Perkataan Dude itu menutup kemesraan mereka begitu saja.


"Kenapa Mas Dude tidak melakukannya? Apa dia takut aku sakit?" ucap Kinan sambil menyisir rambutnya yang basah. "Harusnya aku nggak bilang takut, kan? Apa ini karena ucapan ku yang bilang takut itu?" tebaknya lagi, walau tidak tahu alasan pasti Dude tidak melalukan itu padanya.


Pagi-pagi sekali Dude sudah pergi, dia bilang ada pertemuan yang sangat penting dengan rekannya. Kinan hanya mengiyakan, tidak berani bertanya-tanya lebih banyak lagi. Sebelum pergi, Dude juga agak terlihat lain, dia seperti gelisah menyembunyikan sesuatu dari Kinan.


Lalu Kinan mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang memenuhi otaknya. Dia berusaha berpikir positif, mungkin Dude hanya belum siap untuk melakukan itu. Tapi terlepas dari itu, Dude sangat lembut saat menyentuh Kinan semalam. Kinan sampai mabuk, kalau teringat lagi yang terjadi padanya.


Kinan membuka tasnya, dia menatap sebuah amplop putih yang ada di dalamnya. Kinan ingat, itu amplop pemberian Diana, lalu Kinan membuka isinya.


"Diana nulis apa, ya?"


^^^Teruntuk teman baik gue, Kinan. ^^^


^^^Maaf beribu maaf karena gue tidak memiliki keberanian cukup untuk mengatakannya secara langsung. Tapi gue beneran nggak pernah ada maksud mengkhianati lo, Ki. Apalagi menusuk lo dari belakang. Panjang banget kalau diceritakan. Biar ini gue simpan sebagai kenangan pahit dan sebuah aib yang harus gue tutupi. Tapi intinya gue nggak pernah mau jahatin lo, Ki. Semua yang terjadi adalah murni sebuah musibah. ^^^


^^^Ki, Mas Hamzah nyatanya nggak mau bertanggungjawab atas anak yang gue kandung. Dia selalu bilang kalau hanya lo yang pantas dia nikahi. Padahal, lo udah jauh lebih bahagia sekarang, kan? Dan gue yakin Mas Dude lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari Mas Hamzah. ^^^


^^^Ki, maaf kalau gue bikin lo susah. Tapi, boleh nggak kalau gue minta tolong sama lo. Temui Mas Hamzah dan bilang agar dia mau menikahi gue, Ki. Hidup gue udah hancur, gue nggak mau menggugurkan kandungan ini seperti yang diminta Mas Hamzah dan keluarganya. Gue takut, Ki. Kalau gini terus, gue rasanya mau mati aja. Tapi, gue juga takut sakit. Lo bisa bantu gue kan Ki? ^^^


^^^Maaf karena mungkin lo makin kesal setelah baca ini. Tapi, kalau lo nggak mau bantu gue, mungkin hidup gue udah nggak ada artinya lagi. ^^^


^^^Makasih banyak sebelumnya, Kinan. ^^^


^^^Salam maaf yang sebesar-besarnya dari gue, Diana. ^^^

__ADS_1


...______...


...Kira-kira Mas Dude kenapa ya? Nggak mau langsung jleb? 😅...


__ADS_2