Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
051 : Apa Yang Harus Saya Lakukan?


__ADS_3

Perasaan Selina sedang tidak baik-baik saja sekarang. Tatapan dingin Dude membuatnya terus terbayang, dia tidak menyangka bahwa laki-laki itu akan menatap dingin ke arahnya. Dulu, Dude selalu tersenyum ramah dan hangat padanya, tapi dia lupa, hubungan itu sudah berlalu cukup lama, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar.


Sepuluh tahun Selina masih menyimpan perasaan yang sama untuk laki-laki itu, tidak pernah sekalipun berubah. Sambil menatap ke luar jendela mobil, Selina teringat kembali waktu Dude mengakhiri hubungan dengannya sepuluh tahun yang lalu.


"Kenapa? Kenapa harus putus? Aku siap menunggu kamu, Babe."


"Tidak, Selina. Saya tidak akan kembali ke Amerika."


"Ya, no problem. Aku bisa menyusul kamu ke Indonesia. Itu bukan masalah."


"Tolong jangan, Sel. Biarkan saya fokus dengan masalah yang sedang menimpa saya dan keluarga saya."


Selina menggenggam erat kedua telapak tangan Dude, menatap matanya. "Ada apa? Apa kamu tidak mau cerita sama aku. Kita sudah cukup lama bersama-sama."


Namun Dude melepaskan tangan Selina pelan. "Kamu masih muda, Sel. Kamu baru delapan belas tahun. Saya juga baru akan menginjak dua puluh satu tahun. Kita masih sama-sama muda sekarang. Hubungan yang selama ini kita jalani, anggap saja sebagai cerita di masa muda kita. Maafkan saya, maaf karena saya tidak bisa bersama kamu lagi."


Saat ini, sepuluh tahun kemudian, Selina terkejut melihat Dude bersanding dengan wanita lain dan terlihat bahagia.


"Apa kamu tidak mau bersamaku, karena aku tidak percaya Tuhan?" ucap pelan Selina sambil menyeka bulir bening yang menetes tanpa sadar.


"Nona Selina, kita mau ke mana?" tanya Bagus, supir Selina.


"Ke Bar saja."


"Bar?"


"Jangan banyak tanya dan antar aku ke sana."


"Baik, Nona."


Selina masih menangis, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tetap semangat menjalani hidup karena dia yakin suatu saat nanti dia akan bertemu dengan Dude dan mereka bisa bersama lagi. Untuk apa jika bukan demi cintanya pada Dude, di umur 29 tahun, dia masih saja belum menikah. Sekarang Selina memutuskan tidak akan menikah karena laki-laki yang ingin dia nikahi, sudah menikahi wanita lain.

__ADS_1


"Bagus. Apa menurut kamu salah kalau aku menyukai laki-laki yang sudah menikahi wanita lain?"


Bagus yang masih fokus menyetir langsung tersentak mendengar pertanyaan bosnya itu.


"Memangnya Nona menyukai suami orang lain?"


"Jawab saja, salah atau tidak," ucap Selina lagi.


"Hm, jika posisinya di balik. Apakah Nona mau, kalau suami Nona di sukai wanita lain, bahkan wanita itu berharap untuk bersama dengan suami Nona?"


Selina langsung menatap Bagus. Dia memikirkan ucapan Bagus itu. "Maksud kamu?"


"Maaf Nona. Tapi istri dari laki-laki yang Nona sukai itu pasti akan terluka jika Nona menginginkan suaminya. Untuk masalah benar dan salah, saya rasa Nona bisa menyimpulkan nya sendiri."


Selina langsung terdiam. Yang dikatakan Bagus memang benar, apalagi dia melihat istri Dude sangat baik, bahkan mungkin lebih baik dari dirinya. Mungkin saja, alasan Dude tidak memilihnya, karena untuk urusan agama, Selina tidak punya, dia sejak awal dilahirkan dari keluarga yang berbeda keyakinan. Selina sendiri memutuskan untuk tidak percaya Tuhan (Atheist).


"Terima kasih untuk jawaban kamu, Bagus."


Bagus hanya tersenyum.


Kinan susah tertidur dengan nyenyak setelah mendapatkan penjelasan yang dia inginkan. Tapi sebaliknya, Dude tidak bisa tidur memikirkan keberadaan Bagus yang ada di Jakarta, dia sudah keluar dari penjara. Sementara Hana sedang berada di sini, di rumahnya. Bagaimana jika Hana tidak sengaja melihat Bagus, apa yang akan terjadi, Dude sangat kepikiran.


Tidak lama kemudian ponsel Dude berdering. Sebuah panggilan masuk dari orang suruhannya, Dude pun langsung menerimanya dengan cepat.


"Halo. Ya, ada informasi apa?"


Saya melihat Bagus pergi ke Bar bersama seorang wanita. Sepertinya Bagus menjadi supir wanita itu, Pak.


"Apa? Ke Bar?"


Iya, Pak. Mereka ke Bar di daerah Kembangan. Jadi apa saya tetap mengikuti mereka, Pak?

__ADS_1


Dude mondar-mandir sambil memperhatikan wajah Kinan yang sudah tertidur.


"Ya, kamu tetap awasi mereka. Ikuti ke mana mereka setelah itu. Kalau kamu sudah tau di mana alamat Bagus, kamu segera kabari saya."


Baik, Pak.


Dude tidak bisa tidur kalau belum menemui Bagus. Dia tahu kejadian itu sudah berlalu, dan Bagus sudah menjalani hukumannya. Berulang kali keluarga Bagus coba meminta maaf pada Dude dan Hana, tapi Dude tidak pernah mau membukakan pintu maaf sama sekali. Luka Hana tidak akan sembuh sampai kapanpun. Hana bisa sadar seperti sekarang saja adalah keajaiban. Jika bukan karena pertolongan Allah, tidak mungkin adiknya bisa sembuh.


Dude keluar dari kamarnya, lalu memeriksa kamar Hana. Dia membuka pelan-pelan pintu kamar adiknya dan bernapas lega setelah melihat Hana sudah tidur bersama dengan Reyhan.


Dude duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah Hana dan Reyhan. Tangannya mengusap kening Hana perlahan-lahan, tidak ingin membangunkan adiknya. Dude berjanji tidak akan membiarkan siapa pun merusak mental adiknya lagi.


Dude mendadak ingin menangis, saat teringat kebebasannya dulu di Amerika. Apakah ini balasan perbuatan dia, karena dulu dia sangat bebas saat bergaul dengan perempuan tanpa memandang norma seperti di Indonesia.


Dude memacari Selina yang umurnya hampir sama dengan Hana, adiknya, hanya berbeda satu tahun saja. Tapi sebebas-bebasnya Dude, dia tidak pernah menodai perempuan, dia masih menjaga itu. Ternyata adiknya malah dilecehkan bahkan di rusak mentalnya oleh laki-laki brengsek.


"Maafkan Mas, Hana."


Dude lalu keluar dari kamar adiknya. Dia tidak mau jika nanti Hana terbangun. Sebagai tulang punggung keluarga, Dude tidak mau abai seperti dulu lagi. Dulu mungkin pikirannya hanya untuk bersenang-senang, dengan harta peninggalan orang tuanya yang cukup lumayan. Tapi sekarang, pola pikir Dude sudah banyak berubah, terutama semenjak Reyhan lahir, anak itu tumbuh menjadi anak yang cerdas padahal Reyhan adalah anak yang lahir prematur. Reyhan juga yang sedikit-sedikit mengajari Dude untuk beribadah dan mengenal Tuhan lebih dekat.


Ponselnya bergetar lagi. Tapi kali ini bukan panggilan yang masuk melainkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal.


Dude bisakah kamu jemput aku? Aku mabuk Dude. Selina.


"Selina? Dia pakai nomor siapa?"


Pesan lain pun datang.


Dude, tolong aku, aku mabuk. Antar aku pulang. Kamu bisa kan. Kamu jahat! Kamu laki-laki jahat!


Yang ada di pikiran Dude sekarang adalah Bagus, apa yang akan dia lakukan pada Selina? Bagaimana kalau pikiran bejatnya masih sama seperti dulu? Apakah Bagus akan melakukan hal jahat terhadap Selina?

__ADS_1


Tapi, kalau Dude menjemput Selina, itu tidak benar, dia harus menjaga perasaan Kinan.


"Astaghfirullah. Apa yang harus saya lakukan?"


__ADS_2