
Bastian yang semula berencana datang bersama keluarganya pun mengurungkan niatnya. Dia justru datang ke acara doa bersama yang di adakan keluarga Hana untuk mendoakan Bagus, yang belakangan dia tahu bahwa almarhum adalah papa Reyhan.
Banyak misteri yang belum Bastian tahu tentang Hana. Cerita masa lalu Hana yang membuatnya penasaran, apakah sepahit itu jalan yang dihadapi Hana di masa lalu, hingga mentalnya sempat terganggu. Ketegaran itulah yang membuat Bastian kagum terhadap sosok Hana, makin membuatnya membulatkan tekad, dan terus berdzikir, berharap Hana mau menerima lamarannya nanti.
"Pak Bas, Terima kasih sudah mau datang ke acara doa bersama untuk papa Reyhan," ucap Rey tak lupa menyalimi Bastian dengan sopan.
"Sama-sama Rey. Bapak turut berbelasungkawa ya. Semoga Allah mengampuni segala dosa papa Rey, dan menerima papa Rey di sisi Allah, di tempat yang terbaik, Aamiin."
Reyhan mengamini doa Bastian, dia bersyukur karena Bastian mau datang. Selama ini Rey belum pernah menceritakan tentang papanya, karena Rey sendiri baru mengenal papanya di akhir hayat papanya. Memilukan kalau di ceritakan, tapi Rey begitu tegar, dia tidak menyimpan dendam, meski dia tahu bahwa papanya yang membuat hidup mamanya hancur di masa lalu. Kini Hana berusaha memungut puing-puing impiannya yang berserakan, mulai mengisi lembaran-lembaran kosong dengan kehidupan yang lebih baik.
Beberapa hari berlalu. Kinan dan Dude juga sudah kembali ke Jakarta setelah memastikan keadaan Hana dan Rey baik-baik saja. Masa lalu Hana sudah dikubur dalam-dalam bersama jasad Bagus. Hanya tersisa Rey sebagai bukti cintanya, yang akan Hana jaga sekuat tenaga, demi Rey lah, Hana bertahan selama ini.
Baru saja Kinan dan Dude sampai di rumah mereka. Reyhan kembali menelepon, Rey mengatakan bahwa bulan depan keluarga Pak Bastian akan datang untuk melamar Raihana.
Meskipun Hana masih belum memutuskan akan menerima lamaran itu nanti atau tidak, tapi Rey terdengar yang paling antusias, sebab dia senang dengan sosok Bastian yang menurutnya baik hati.
"Mas, bagaimana menurut kamu tentang laki-laki yang akan melamar Hana itu?" tanya Kinan.
Mereka sedang duduk santai di balkon sambil menikmati udara malam yang dingin di tambah cahaya rembulan dan bintang-bintang kecil yang menghiasi langit gelap.
"Kalau saya ikut bahagia asalkan Rey dan Hana bahagia. Lagi pula Hana juga berhak mendapatkan cinta yang tulus. Kita harus datang bulan depan, supaya kita tahu bagaimana kepribadian laki-laki itu. Sejujurnya saya juga belum terlalu mengenal, sekedar tegur sapa waktu acara kemarin aja, Ki."
Kinan menghembuskan napas panjang, sambil tersenyum. "Jalan hidup tidak ada yang bisa menebaknya. Benar ternyata, akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagiaan setelah air mata, asalkan kita mau sabar menerima semuanya, dan tetap ingat pada Yang Maha memberi ujian tersebut. Kinan banyak belajar dari kisah hidup Hana, dia benar-benar tegar, Hana berhasil melewati semuanya dan inilah akhirnya, Hana dapat memetik buah dari kesabarannya. Kinan harap Hana bahagia, Mas," kata Kinan dengan sepenuh hatinya.
Dude memeluk Kinan, sesekali sambil mengecup keningnya. "Seperti bahagia saya saat mendapatkan kamu, padahal saya semula tidak ada keinginan untuk menikah. Tapi Allah Maha mem bolak-balik kan hati manusia. Saya selalu merasa bersalah jika saya bahagia, sementara adik saya tidak. Rasanya tidak adil bagi Hana. Saya juga sempat takut menyentuh wanita semenjak kejadian yang menimpa Hana. Tapi di balik itu ada hikmah, karena kejadian itu saya jadi takut berlaku semena-mena dengan perempuan, Ki. Saya tidak sembarang menyentuh perempuan, berawal karena ketakutan saya, takut menyakiti mereka. Semua itu karena kejadian Hana," tutur Dude.
Kinan tersenyum lega, dia juga sempat mengira butuh waktu lama menyembuhkan trauma suaminya. Ternyata tidak, sekarang Dude malah hampir setiap hari ingin menyentuhnya, kalau saja Kinan tidak mengeluh dengan alasan lelah.
"Asalkan jangan coba bermanis-manis dengan wanita lain, ya." Kinan cemberut. "Di sekeliling Mas banyak wanita cantik soalnya."
Dude menggeleng sambil mengusap rambut Kinan. "Kalau saya mau sudah dari dulu saya lakukan lho Ki. Tapi saya tidak berminat."
"Lho itu kan karena dulu Mas takut menyakiti wanita, sekarang Mas sudah tidak lagi trauma, kan?"
Dude menghembuskan napas panjang, lalu mengapit kedua pipi Kinan. "Itu hanya berlaku saat saya ada di dekat kamu, hanya dengan kamu, tidak dengan yang lain. Apa yang harus saya lakukan untuk meyakinkan kamu, hm?"
Pertahanan Kinan runtuh seketika saat menatap mata Dude yang menatapnya dalam seperti sekarang.
"Hm, kalau Mas berbohong dan mengkhianati Kinan, saat itu Kinan tidak akan pernah memaafkan Mas lho."
__ADS_1
"Mas juga tidak akan memaafkan diri mas sendiri, Ki. Tapi, jangan sampai itu terjadi. Sebab hidup saya tidak akan lengkap tanpa kamu."
Kinan tersenyum bahagia lantas mengeratkan pelukannya pada Dude. "Lagi viral cerita perselingkuhan yang di angkat menjadi drama. Di luar sana, termasuk teman-teman aku di rumah sakit banyak yang mulai mengawasi suaminya, takut kalau suami mereka melakukan hal seperti, 'selingkuh' begitu, Mas."
Dude hanya menanggapinya dengan tawa ringan. "Kalau kamu mau mengawasi saya juga boleh. Ikut ke kantor boleh, mau ke mana lagi, kamu boleh memeriksa ponsel saya kalau kamu mau. isi ponsel saya seperti ponsel baru yang belum di apa-apakan lho Ki, saking saya jarang menyimpan apapun di dalamnya selain nomor klien penting dan masalah pekerjaan."
Kinan menyengir, lalu mengecup pipi Dude. "Alhamdulillah seperti itu lebih baik, Mas. Tapi Kinan percaya sama Mas Dude, tidak perlu sampai mengawasi berlebihan seperti itu. Bagi Kinan saling percaya itu jauh lebih penting."
"Syukurlah, Ki. Kalau urusan Hana selesai, kita berlibur ke luar negeri bagaimana, kamu mau, Ki?"
"Ke luar negeri?"
"Iya. Kamu ada destinasi ingin ke mana gitu? Ke negara mana? Saya akan luangkan waktu, dan kamu juga saya harap bisa luangkan waktu. Gimana?"
"Hm, gimana ya."
Kinan agak berpikir, tapi dia tiba-tiba kepikiran negara yang sedang sering di sebut-sebut, katanya sangat indah.
"Gimana kalau Cappadocia?" saran Kinan.
"Cappadocia? Turki?"
"Ya, katanya di sana bagus, tapi Kinan belum pernah. Pertama kali Kinan ke luar negeri itu waktu menemani Ibu umroh, Mas. Itu sekitar tiga tahun lalu," ujarnya.
"Beneran Mas?"
"Iya, apapun saya usahakan buat kamu."
Kinan tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Makasih ya, Mas."
"Only for you."
Dude tiba-tiba saja mengelus permukaan perut Kinan, sambil menatapnya agak lama ke bagian perut Kinan.
"Mas, kamu ngapain ngelus perut aku?"
"Hm, nggak, saya berharap segera muncul Kinan atau Dude junior di sini."
Kinan juga berharap begitu, tapi di pernikahannya sudah memasuki bulan ke empat, Kinan belum merasakan tanda-tanda apapun.
__ADS_1
"Sabar ya, Mas. Kinan juga maunya segera, tapi bukan Kinan yang kuasa memberikan itu ke dalam sini," kata Kinan sambil mengelus punggung tangan Dude yang menetap di atas perutnya.
"Jangan kamu pikirkan ya. Ini hanya harapan saya, karena saya hanya ingin memiliki anak dari kamu."
"Ya, kalau bukan dariku, dari siapa memangnya?" sahut Kinan cemberut.
"Kamu nih ya. Selalu aja memancing saya. Maksud saya kamu jangan ada pikiran macam-macam. Saya tidak sedang menuntut kamu, ataupun memaksa kamu begitu maksud saya Ki."
"Iya iya, aku ngerti. Kita banyak-banyak doa aja ya, Mas. Semoga Allah segerakan."
"Aamiin... Buatnya sudah semangat, tapi kamu benar tidak merasakan sakit lagi kan? Jujur lho sama saya Ki."
Mendadak wajah Dude jadi serius. Kinan pun berniat mengerjai suaminya.
"Sebenernya agak sakit lho Mas. Apalagi kalau Mas melakukannya setiap hari." Kinan memasang raut memelas, seperti sedang sedih.
Wajah Dude makin tegang. "Kamu serius Ki? Sakit?"
Kinan mengangguk pelan. "Iya, sakit lho Mas. Sakit rasanya."
Dude makin kelihatan panik dan Kinan ingin tertawa. "Jangan setiap hari ya. Supaya nggak sakit."
"Maaf ya, Ki. Ini semua kesalahan saya."
Wajah Dude makin serius dan Kinan tidak tahan lagi akhirnya tertawa.
"Mas Dude ih, kenapa sih terlalu serius banget. Aku cuman bercanda lho Mas."
Dude membulatkan matanya sambil mencebikkan pipi Kinan. "Kamu bercanda! Astaga Kinan!"
Kinan makin terkekeh. "Ya Allah Mas Mas."
"Kinan kenapa kamu malah bercanda, saya lagi serius menanggapinya. Saya merasa bersalah."
Kinan menggelengkan kepalanya gemas pada suaminya. "Santai aja Mas ku sayang. Enggak kok, nggak sakit. Kan Kinan menikmati," bisik Kinan malu-malu.
Dude pun hanya bisa menggeleng sambil memijat kening. "Kinan Kinan kamu senang ya mengerjai suami kamu ini."
"Seneng bangeeet soalnya Mas lucu banget kalau wajahnya serius kayak tadi. Tegang-tegang gimana gitu," kata Kinan sambil terkekeh geli.
...______...
__ADS_1
...Selamat tahun baru 2022 temen-temen. Semoga di tahun yang baru, semua harapan kita yang belum terwujud bisa terwujud ya. Dan di tahun ini kita diberikan kebahagiaan dan berkah yang melimpah. Aamiin 🍒...