Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
045 : Kisi-kisi Jodoh


__ADS_3

Suatu hari, Dude sedang mencari alamat, tapi dia belum hafal rutenya. Dude bingung harus bertanya pada siapa. Sampai dia melihat seorang gadis yang baru saja turun dari angkutan umum. Sepertinya dia memang tinggal di sekitar perumahan itu. Dude pun menghampiri gadis itu, ternyata gadis itu juga sepertinya tahu bahwa Dude sedang mencari alamat. Gadis itu langsung berjalan mendekati Dude tanpa sungkan.


"Permisi, boleh saya tanya alamat ini?"


Gadis itu mengenakan kerudung berwarna putih, kalau dilihat, dia masih muda, umurnya pasti jauh dibawah Dude. Gadis itu tidak menatap wajah Dude, kebetulan Dude juga memakai masker, sama seperti gadis itu yang memakai masker. Dia hanya menatap kertas yang bertuliskan alamat di tangan Dude.


"Oh, ini masih jauh, Pak. Bapak lurus terus, belok kiri setelah itu lurus lagi, nanti ketemu pertigaan, nah ada rumah cat putih, Bapak lurus lagi, di gang kecilnya, duh. Berkelok-kelok, Pak."


Gadis itu bingung saat Dude bertanya tentang jalan yang dia juga belum terlalu hafal rutenya. "Nah! Bentar ya, Pak. Ada tetangga saya, nanti Bapak ajak dia aja, dia tahu kok jalannya," kata gadis itu.


"Nih, Pak. Masih kecil gini dia hafal kok jalanan sini," terang gadis itu setelah meminta tolong pada anak kecil yang dia bilang tetangganya. Dude pun merasa sangat terbantu waktu itu.


Dude mengangguk cepat sambil tersenyum. "Baik. Terima kasih banyak ya sudah mau membantu."


Baru sekarang Dude sadar, bahwa gadis yang mengenakan masker itu adalah Kinan Adelia, istrinya. Kejadian itu baru dia sadari saat ini, Kinan mengajak Dude ke rumah ibunya untuk berkunjung.


"Mas, kok kamu malah bengong?" tanya Kinan sambil menaruh secangkir kopi di ruang tamu ibunya.


"Ki, foto kamu yang ini, kamu inget nggak kapan di ambilnya?" tanya Dude menunjuk foto yang tertempel di dinding rumah Kinan.


"Oh, ini kok dipasang lagi ya sama Ibu. Padahal Kinan masih cupu banget, eh sekarang juga masih cupu sih," cengir Kinan. Dude menggeleng sambil mengusap puncak kepala Kinan yang ditutupi jilbab.


"Ini tuh pas Kinan baru pulang kuliah, Mas. Waktu itu Kinan habis beli apa gitu di warung, ketemu laki-laki nanya jalan dia pakai masker. Lucu deh, maskernya sama kayak Kinan."


Dude tertawa kecil sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Lalu?"


"Iya, terus anak kecil ini tetangga Kinan."


Kinan menunjuk pada foto anak perempuan di sampingnya, kira-kira umurnya delapan tahunan. "Dia abis nganterin laki-laki yang nggak tahu jalan, nggak tahu sih itu gabut aja makanya foto. Emangnya kenapa, Mas?" tanyanya heran, kenapa suaminya bertanya tentang foto, apakah karena dia terlihat culun di foto itu? Kinan mengenakan celana jeans dan tunik berwarna abu-abu, lalu hanya memakai pasmina biasa, ditambah wajah polosnya tanpa makeup. Untung saja dia mengenakan masker jadi wajah polosnya itu tidak kentara.


Dude baru mau menjelaskan, Halimah datang membawa kue buatannya.


"Wah kalian lagi apa berdiri di sana, ayo makan kue dulu. Ini sengaja lho ibu buatkan, begitu tadi Kinan bilang mau makan malam di rumah, ibu gercep tuh bikin," terang Halimah dengan semangat.


Dude tertawa ringan. "Wah, Ibu luar biasa, bisa buat kue kayak gini. Ini kalau nggak salah namanya bolu, kan?"


Halimah terkekeh, disusul juga oleh Kinan. "Kue bolu sederhana, bolu pandan, pasti Nak Dude belum pernah makan ya? Orang kaya tuh makannya apa ya, Ki? Cheesecake atau apa gitu ya?"


Kinan menggeleng. "Kinan suka bolu pandan buatan ibu," sela Kinan langsung duduk memotong bolu berwarna hijau buatan ibunya.


"Ibu bisa saja, saya memang jarang makan kue, Bu. Maklum saya terlalu sibuk, sampai saya lupa makanan apa yang saya sukai. Menurut saya makanan semuanya enak, asalkan halal dan baik," kata Dude.


"Mantu idaman deh!" Halimah menepuk pundak Dude, lalu mereka pun duduk bersama menikmati makan malam, dibuka dengan bolu pandan yang masih hangat sebab baru keluar dari panggangan.



"Ya Allah, apa aku pantas bersujud padamu dengan diri yang kotor?" Hana, wanita itu terlihat kurus dan pucat sebab selama bertahun-tahun tidak sadar siapa dirinya, bahkan menyadari dia masih bernapas pun rasanya Hana tidak ingat. Hana hanya menghirup oksigen sekadar untuk tetap hidup, tapi jiwanya seolah koma berkepanjangan.


Hingga suatu malam, Hana mendengar lantunan ayat-ayat yang bersuara di telinganya dengan cukup nyaring. Suara anak laki-laki yang setia mendampinginya di kamar sebuah rumah sakit jiwa, menunggui nya sampai ia tertidur.


Ya Allah sembuhkan Mama Rey. Ya Allah kasihani Mama Reyhan, dia sudah terlalu lama tidak sadar. Izinkan dia pulih agar bisa beribadah pada-Mu.

__ADS_1


Doa itu begitu jelas terdengar di telinga Hana bahkan sampai masuk ke relung hati yang paling dalam. "Siapa?"


Rey berbalik, dia berlari ke arah Hana. "Mama ngomong apa? Ini Rey, Ma."


Sejak itu setiap kali Rey datang, anak itu selalu membacakan ayat-ayat yang sama, dan juga berdoa. Sesekali anak itu bercerita tentang dirinya di sekolah, dan banyak hal lain. Hana dengar, dia mulai bisa merasakan kehidupan lagi.


Rey mengintip dari balik pintu kamar Hana. Ya, Hana sudah tidak lagi berada di rumah sakit jiwa. Setelah dokter menyatakan keadaan Hana sudah jauh lebih stabil, bahkan bisa dibilang ini adalah sebuah keajaiban.


Rasa syukur tidak henti-hentinya Rey haturkan pada Allah Subhanahu Wa ta'ala. Baginya ini adalah mukjizat yang luar biasa dahsyat yang Allah berikan pada mamanya, Raihana.


"Ya Allah, aku rindu sekali ingin memeluk kitab suci-Mu meski aku belum bisa membacanya." Hana menangis di atas sajadah sambil memeluk Al-Quran di tangannya.


Rey ikut menangis dari balik pintu. Dia bahkan sesenggukan dan gemetar melihat Hana.


"Ya Allah buatlah aku mengikhlaskan masa laluku yang sangat gelap, aku tidak mau kegelapan itu menghantui ku lagi. Cukuplah aku bersama Reyhan, putraku yang paling menyayangi ku. Jangan buat aku merasakan derita karna cinta yang membutakan lagi. Lindungi aku, Aamiin."


Malam itu Reyhan dari balik pintu jadi saksi taubatnya Raihana, beserta tekadnya untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi.


Di tempat yang berbeda, tapi sama-sama sedang duduk di atas sajadah, seorang pria berumur kira-kira tiga puluh lima tahun, dia duda tanpa anak bernama Bastian Rahardi Nata, tidak lain adalah guru BK Reyhan. Pria itu tiba-tiba saja terbayang wajah Raihana, wanita yang begitu kuat luar biasa, yang diam-diam menyentuh keingintahuan dalam dirinya.


"Bagaimana bisa ada wanita sekuat itu, dan dia sangat hebat dibalik kondisinya yang lemah."


Bastian sudah lima tahun hidup menduda setelah istrinya meninggal dunia bersama calon buah hatinya karena suatu penyakit. Sejak saat itu Bastian memutuskan untuk hidup menduda saja, dan tidak menikah lagi. Tapi, ketika dia bertemu Hana, dia merasakan hal yang berbeda pada diri Hana.


...***...


Kinan dan Dude pulang dari rumah ibunya sekitar pukul 22.00. Kinan tertidur saat perjalanan pulang. Dude masih teringat foto Kinan yang sengaja dia minta pada mertuanya untuk dibawa pulang. Halimah heran, kenapa Dude ingin foto Kinan yang itu, padahal ada banyak foto Kinan yang terlihat lebih anggun. Dude hanya tersenyum dan meminta Halimah merahasiakannya dari Kinan bahwa dia meminta foto tersebut.


"Udah sampai. Ya Allah, aku ketiduran," gumamnya dengan suara agak serak.


Tanpa menunggu Kinan keluar, Dude langsung menggendong Kinan, dia juga meminta tolong pada pelayan untuk membawa tas Kinan dan tasnya juga.


"Mas, turunin Kinan, ih. Kinan malu, mana ada Bibi," kata Kinan setengah memohon walau dia masih lemas karena tertidur kurang lebih setengah jam di mobil tadi.


"Kamu masih lemes baru bangun, lagi pula saya suka gendong kamu," jawab Dude dengan senyum ringan, sangat santai, itu adalah ciri khas suami Kinan.


Kinan melesakkan wajahnya ke bahu Dude karena merasa malu mendengar itu. Bibi saja sampai agak menahan tawa, walau akhirnya terlihat mesem-mesem juga menonton kemesraan Dude terhadap Kinan.


"Oke udah sampai di depan kamar, Mas. Turunin aku ih." Kinan akhirnya memaksa, baru Dude menurunkan istrinya.


"Bapak dan Mbak Kinan mau makan malam?" tawar Bibi.


"Kita sudah makan malam, Bi. Mau langsung istirahat," kata Dude diikuti anggukan Kinan. "Bibi juga istirahat, ya," kata Kinan.


"Baik, Pak, Mbak. Bibi permisi dulu ya."


Kinan dan Dude lalu masuk ke dalam kamar. Lalu mereka mandi dan berganti pakaian, lanjut berbaring di kasur setelah lelah seharian beraktivitas.


"Alhamdulillah. Kinan senang hari ini bisa mengalami banyak hal yang membahagiakan." Kinan menoleh sekilas pada suaminya yang sedang tersenyum menatap langit-langit kamar.


"Ada hal yang menarik memang nya?" sahut Dude.

__ADS_1


"Ya, siang ini Diana datang ke rumah sakit. Dia mengenakan hijab, sangat berbeda dengan Diana yang dulu. Dia juga berkata sudah menikah dengan, ah, Kinan tidak mau menyebut namanya," ujar Kinan menceritakan itu pada suaminya.


"Hm, syukurlah kalau mereka akhirnya menikah. Kamu masih sakit hati karena perbuatan laki-laki itu?" tanya Dude.


"Tidak, Kinan pikir tidak boleh menyimpan dendam. Hanya saja, sulit bagi Kinan melupakan kejadian yang menyakitkan itu, Mas. Bukan karena batal nikahnya, tapi dikecewakan dan di bohongi itu sangat menyakitkan."


Dude memiringkan tubuhnya menatap Kinan. "Hm, jangan dipikirkan, dia bukan lagi sesuatu yang penting untuk kamu pikirkan," ucapnya sembari mengelus pipi Kinan.


Kinan ikut miring menghadap Dude, sekarang mereka sama-sama saling memandang.


"Terus Kinan juga bahagia karena bertemu Ibu dan melihat Ibu sehat juga bahagia, Mas."


Dude mengangguk. "Itu juga membahagiakan saya, Ki."


"Kalau Mas, apakah ada sesuatu spesial yang terjadi hari ini?"


"Ada, Ki. Sangat spesial malah," jawab Dude lalu menarik tubuh Kinan, memeluk erat sambil menghirup aroma harum rambut Kinan.


"Apa itu?" tanya Kinan penasaran, dia memegang pipinya yang panas sambil senyum-senyum sendiri, hal yang belum lama ini sering terjadi pada pipinya saat berdekatan dengan Dude.


"Saya bertemu gadis yang saya kagumi di masa lalu, Ki."


Deg.


Kinan seperti tertampar oleh aja jawaban suaminya. "Ga-gadis?"


Senyuman Kinan memudar perlahan. "Gadis dari masa lalu itu siapa?"


"Kisi-kisi jodoh saya ternyata, Ki." Dude menjawabnya tanpa beban, tidak tahu bahwa Kinan ketar-ketir dalam hatinya sekarang.


"Mas kalau ngomong yang jelas." Kinan mendorong pelan tubuh Dude lalu membelakangi nya. "Kinan nggak paham. Siapa dia? Kisi-kisi apa maksudnya?"


Dude ingin tertawa, tapi dia sadar, tingkah Kinan itu malah menggemaskan. "Ki, saya tidak apa-apa ya kalau jujur sama kamu, saya menyukai gadis itu dulu, Ki. Tapi, saya heran, kenapa saya bisa suka, padahal gadis itu pakai masker. Saya tidak lihat wajah dia, saya hanya tahu dia membantu saya menemukan alamat yang saya tidak hafal rutenya."


Deg.


Jantung Kinan berdegup lebih kencang lagi. "Hah?"


Kenapa Kinan merasa tidak asing dengan yang dikatakan Dude itu?


Dude terkekeh, lalu dia memeluk Kinan dari belakang. "Sayang, saya itu laki-laki bertopi yang memakai masker hitam. Yang bertanya Jalan Kenangan nomor lima sama kamu lho. Lantas kamu meminta tetangga kamu menuntun saya ke alamat itu. Karena kamu bilang jalannya berkelok-kelok."


Kinan ingin menjerit, dia malu sekali sekaligus shock karena tidak menyangka bahwa laki-laki itu adalah Dude.


"Sayang, jadi kamu itu kisi-kisi jodoh saya."


...____...


...Komen dong kesan kalian pas baca bab kali ini. 😅 Maaf tapi aku pas nulis senyum2 mirip orgil yang suka ngukur jalan itu loh 😫...


...oiya btw maaf klo ada typo ya. aku ketar ketir ngetiknya wkwk...

__ADS_1


__ADS_2