
Pasrah, Hamzah tertunduk lesu menatap wajah yang terlelap di depannya. Dia berdiri di depan wanita yang dinikahinya beberapa hari lalu. Ingatan kejadian yang sangat dikutuknya itu perlahan muncul kembali. Kalau saja Hamzah tidak menyimpan dendam dan memiliki hati yang lebih bersih lagi, mungkin nafsu tidak akan menutupi akal sehatnya.
Beberapa kali Diana melemparkan senyum ramah pada Hamzah setiap kali mereka berpapasan di lobi rumah sakit. Waktu itu Hamzah baru berencana akan melamar Kinan. Tapi satu waktu Hamzah mengetahui sebuah fakta bahwa Diana adalah Diana yang dulu pernah dia kenal saat kuliah. Ternyata gadis itu adalah Diana yang membuat masa depannya nyaris hancur karena sebuah fitnah keji yang dituduhkan padanya.
Niat buruk pun muncul untuk membalas semua perbuatan fitnah yang dilakukan Diana padanya dulu. Mereka cukup dekat di tempat kerja, bahkan saat Hamzah sudah mengantongi persetujuan dari Kinan yang menerima lamarannya, mereka dipindahkan ke rumah sakit yang sama. Saat itulah mereka makin dekat, bahkan Hamzah makin yakin untuk membalas perbuatan Diana di masa lalu. Sementara dia tahu, bahwa Diana belum menyadari siapa dirinya.
Awalnya Hamzah tidak berniat sampai menodai Diana, dia hanya ingin Diana tahu, bahwa fitnah yang dilakukan Diana dulu sempat membuat dirinya down. Hingga suatu malam Hamzah mengantar Diana pulang, kebetulan sekali mereka sedang sama-sama bertugas malam kala itu. Di waktu yang sama, Hamzah berniat jelek untuk membalaskan dendam pada Diana.
"Mas, ini hujan loh, apa nggak sebaiknya Mas Hamzah tunggu sampai hujan reda dulu?" ucap Diana berbasa-basi, dia tidak enak jika membiarkan Hamzah pulang begitu saja. Belum lagi waktu sudah cukup larut.
Hamzah pun mengiyakan untuk menunggu di dalam, di sebuah indekos tempat Diana tinggal.
"Mas duduk dulu, ya. Aku buatkan kopi panas dulu, lagi hujan enaknya minum yang panas-panas," kata Diana.
"Tidak usah, Di. Nanti merepotkan," tolak Hamzah secara halus.
"Tidak, kok. Hanya kopi saja tidak merepotkan. Tunggu sebentar ya, Mas."
Diana pun pergi ke belakang untuk membuatkan secangkir kopi. Hamzah menatap layar ponselnya, dia menghela napas panjang. Sejak lamarannya diterima oleh Kinan, gadis itu tetap tidak berubah, tetap saja Kinan dingin, bahkan di gombali lewat pesan singkat saja Kinan seolah keberatan dengan dalih mereka belum sah untuk melakukan hal seperti itu.
"Hanya sebuah pesan singkat saja kamu begitu pelit padaku, Ki." Hamzah bergumam.
Kemudian Diana datang membawa secangkir kopi panas, asapnya saja masih mengepul di udara, menguarkan aroma harum khas kopi yang berpadu dengan gula, sepertinya sangat nikmat jika melewati kerongkongannya, pikir Hamzah.
"Diminum, Mas." Diana duduk setelah menaruh secangkir kopi panas di hadapan Hamzah.
"Terima kasih, Di. Saya minum ya."
Diana mengangguk ramah. "Iya, Mas."
"Hm, kopi buatan mu enak, Di." Itu bukan sekedar pujian, tapi sebuah pengakuan, memang kopi buatan Diana itu diakui Hamzah cukup enak.
"Ah, biasa saja, Mas." Diana memang supel, dia terlihat ramah dengan siapa pun Diana juga tidak segan bercanda dengan lawan jenis berbeda halnya dengan Kinan.
"Kamu kan seorang gadis, kenapa memilih ngekost, Di?"
__ADS_1
"Ah itu karena aku lebih ingin mandiri, dan aku menyukai kebebasan, Mas."
Jawaban itu sudah diduga oleh Hamzah akan keluar dari mulut Diana. Tidak heran dulu Diana sampai dilecehkan oleh lawan jenis, kalau yang diagungkan saja sebuah kebebasan.
Suasana canggung pun mulai terasa saat kopi di cangkir Hamzah sudah habis tak bersisa.
"Hm, mau aku tambah kopinya, Mas?"
"Tidak, Di. Terima kasih," tolaknya halus.
Di luar hujan masih deras, mereka sama-sama melihat ke arah jendela, pun malam makin gelap saja.
"Mas, Diana tinggal ke kamar ya. Mau ganti baju sebentar," pamit Diana.
"Silakan, Di."
Hamzah membuka jaketnya, lalu udara dingin makin terasa lagi. Di sekitar ruang tamu berukuran kecil itu banyak terjejer foto-foto Diana. Gadis itu tidak banyak berubah, dia sangat bebas dalam berpakaian dan mengikuti mode. Di samping teman-temannya, Diana lah yang terlihat berpakaian paling terbuka, dengan tanktop dan celana pendek saja.
Diana yang barusan masuk ke kamar, keluar dengan pakaian tidur yang sangat minimalis. Stelan piama satin tanpa lengan, menampakkan bagian tubuhnya hingga sedikit menyembul keluar. Belum lagi celana yang super pendek, membuat paha mulusnya terbuka bebas.
Pertanyaan itu tentu sangat tidak boleh diajukan oleh seorang gadis. Tapi Diana sangat tidak waspada, dia tidak merasa cemas atau risih bahkan berpakaian terbuka di depan lawan jenis.
Diana duduk di samping Hamzah, mereka berdua sangat dekat sekarang. Aroma tubuh Diana membuat jiwa kelelakian Hamzah bangkit, dia mengutuk nafsu yang muncul itu dengan sekuat tenaga. Tapi hal itu makin menguatkan Hamzah tentang pendapatnya, bahwa gadis di dekatnya itu memang sengaja memancingnya.
...Aku tidak pernah berencana mengenalmu, Allah Maha merencanakan semua itu. Bertemu denganmu saja tidak pernah kurencanakan, apalagi saat aku menikahi mu? Siapa lagi kalau bukan Allah yang menyatukan kita berdua dalam ikatan. Takdir-Nya yang selalu mengejutkan, beruntung dirimu lah yang ditakdirkan menjadi pemilik hati ini. Duhai pria yang memiliki senyum menawan, kau adalah suamiku sekarang dan selamanya ~...
...***...
Allah telah mengirimkan laki-laki luar biasa dalam hidup Kinan, yang diyakininya bernama jodoh. Apakah jika dia bersama Hamzah hidupnya akan sebahagia sekarang? Ah, Kinan langsung menyingkirkan pikiran-pikiran yang tidak perlu itu. Dari pada berandai-andai, Kinan lebih senang memandangi wajah damai Dude yang terlelap di sampingnya.
"Seharian kamu bolak-balik menggendongku, tidak lelah?" tanya Kinan sambil menyingkirkan sulur-sulur anak rambut di kening suaminya. Dude tersenyum, dia hanya memejamkan mata, bukan tertidur.
"Mas nggak tidur?"
__ADS_1
"Tidak." Dude menggeleng.
Kinan menarik mundur tangannya dari kening suaminya, pipi merahnya kembali membuat Dude terkekeh, menurutnya itu seperti ciri khas saat Kinan mulai merasa malu.
"Ki, besok saya mulai kerja, dan biasanya saya akan sangat sibuk. Tidak apa-apa kalau kita jadi jarang mengobrol seperti sekarang?" tanya Dude sambil menatap mata Kinan yang sebentar-sebentar menghindari tatapannya.
"Hm, itu kan pekerjaan yang memang harus Mas lakukan, jadi Kinan tidak akan banyak menuntut. Mas ada hari libur, kan? Atau setiap hari bekerja? Aku rasa tidak," ujar Kinan tanpa sadar menjawab pertanyaannya sendiri.
Dude terkekeh lagi.
"Jangan tertawa, Mas. Kinan kan sedang bertanya," kata Kinan sambil mengerucutkan bibir.
Dude malah mendekat lalu mengecup bibir Kinan yang maju beberapa senti itu.
Kinan refleks menutup mulutnya lalu menghindari tatapan Dude lagi.
Dude makin gemas, dia meraih tubuh Kinan, menariknya lebih dekat hingga mereka saling memeluk.
Degup jantung Kinan masih menggema kuat setiap kali dia berdekatan dengan Dude. Pertama kali berpacaran, berdekatan dan disentuh oleh lawan jenis rupanya membuat Kinan lebih banyak diam dan terkejut mendapati semua itu. Pria di peluknya justru sebaliknya, Dude sangat santai mengutarakan ekspresi sayang pada Kinan yang cenderung kaku dalam hal bermesraan.
"Mas, Kinan boleh bertanya?"
"Tanya apa?" jawab Dude sambil menciumi hidung Kinan sesekali, hingga senyum Kinan refleks terulas manis bersama pipinya yang bersemu sejak tadi.
"Mas pernah memiliki kekasih sebelumnya?"
Dude lantas terdiam, dia agak tersentak dengan pertanyaan Kinan itu. Melihat reaksi itu, Kinan mulai menerka-nerka jawaban Dude. "Pasti pernah, ya?" tebaknya.
"Memangnya kamu belum pernah?" Dude malah balik bertanya.
"Lho 'kan Kinan yang tanya Mas, kenapa malah Mas yang balik bertanya?" sahut Kinan dengan gelengan kecilnya.
"Ki, menurut saya tidak penting ada siapa di masa lalu saya ataupun kamu. Yang terpenting adalah saat kamu menerima saya di masa sekarang, begitu pula sebaliknya. Masa lalu tidak bisa dihilangkan. Masa lalu akan tetap menjadi bagian dalam hidup kita, hanya bisa di biarkan tetap di tempatnya, tidak perlu mengungkitnya atau menguaknya lebih. Menurut kamu apakah kita perlu membahas hal ini?" tutur Dude membuat Kinan membisu seketika.
Namun keingintahuan Kinan masih begitu besar tentang wanita yang pernah mengirimkan sebuah pesan singkat pada suaminya. Bahkan Kinan masih ingat dengan jelas nama wanita itu dalam ingatnya.
__ADS_1
"Salahkah kalau Kinan ingin tahu, siapa wanita bernama Selina itu, Mas?"