Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)

Takdir Cinta Kinan ( TAMAT)
060 : Boleh, Sayang. Boleh Istriku.


__ADS_3

"Cappadocia? Wow its my dream Kinan!!" pekik Nadia, teman Kinan yang baru saja dipindahkan lagi ke rumah sakit tempat Kinan bekerja. Nadia tadinya dipindahtugaskan ke luar kota.


Mereka sedang mengobrol tentang pernikahan Kinan dan Dude. Lalu obrolan mereka sampai ke arah bulan madu, dan Kinan mengatakan diajak suaminya ke Cappadocia liburan nanti.


"Lo sampai hafal tuh dialog, Nad." Kinan terkekeh. "Iya, itu kan baru rencana."


"Iiihhh seriusan Ki, keren banget your husband. Gue sih boro-boro laki gue sibuk mulu sekalinya pulang, malah tidur aja di rumah, boro-boro dah tuh yang namanya ngajak sekedar piknik gitu buat istrinya," gerutu Nadia. Kinan hanya menggeleng saja mendengar ocehan Nadia.


"Kangen banget gue sama ocehan lo Nad. Semenjak ngga ada lo tuh jadi sepi gimana gitu ni tempat," kata Kinan.


"Ah masa. Bukannya lo dapat teman baru, siapa tu namanya. Diana atau siapa?" ujar Nadia.


Kinan hanya tersenyum kecil. "Diana udah pindah sama suaminya, dokter Hamzah."


"What? Dokter Hamzah udah nikah, Ki? Nikah sama siapa tuh! Diana itu anak baru?"


"Hm, ya nggak lama lo pindah, Diana datang," jawab Kinan.


"Ya ampun, gue kira lo yang bakalan nikah sama dokter Hamzah dulu Ki. Astaga gue banyak ketinggalan info banget. Gue tuh belum Ngerumpi sana-sini. Begitu dateng, gue langsung nemuin lo," kata Nadia.


"Ternyata jodoh lo malah pengusaha, nggak nyangka gue, Kim Tapi gue ikut bahagia karena lo sekarang keliatan jauh lebih bahagia," tambah Nadia.


"Makasih ya, Nad. Nggak ada yang tau jodoh seseorang selain Allah, emang misteri banget," balas Kinan dijawab anggukan Nadia.


Kalau Kinan menceritakan semuanya pada Nadia, pasti temennya itu akan sangat terkejut. "Banyak banget yang lo lewatin, Nad. Kapan-kapan deh gue cerita ya. Sekarang udah waktunya gue balik."


"Iya iya tau deh yang bakalan ke Cappadocia mah beda. It's my dream Mas, not hers!" Nadia memeragakan persis seperti drama yang sedang viral.


"Astaghfirullah Nadia Nadia." Kinan hanya bisa tergelak melihat tingkah teman lamanya itu.


...***...


Di kantornya Dude bersiap untuk pulang. Hari itu dia berjanji akan menjemput Kinan dan pulang bersama. Tapi tiba-tiba saja seorang klien penting datang, membuat Dude mau tidak mau harus mengorbankan waktunya beberapa saat sebelum pulang.


"Maaf Pak, apa meeting ini bisa kita tunda besok? Kebetulan saya sudah ada janji dengan istri saya," kata Dude.


"Wah, Mas Dude ini sangat perhatian dengan istrinya ya. Baik-baik tidak masalah, tapi besok sepertinya Mas Dude harus ikut kita ke luar kota membicarakan project baru kita. Sekaligus survey lokasi, bagaimana kira-kira Mas?"


"Besok?" sahut Dude agak terkejut. "Apa saya boleh ajak istri saya? Kebetulan besok libur, seharusnya saya bersama dia," kata Dude.


"Luar biasa Mas Dude ya. Boleh dong, ajak saja tidak apa-apa, sekalian berlibur. Kalau begitu deal ya. Besok kita akan ke Bandung mungkin sekitar satu malam menginap di sana."


"Baiklah kalau gitu, Pak. Terima kasih atas waktunya. Saya permisi dulu ya untuk hari ini."


"Ya, sama-sama Mas Dude."

__ADS_1



"Sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Mas," jawab Kinan langsung memeluk Dude tanpa ragu.


"Maaf ya agak lama kamu nunggunya. Tadi biasalah di kantor," ujar Dude.


"Iya, nggak apa-apa. Aku juga tadi ditemenin sama temenku, dia baru dipindahkan lagi kerja di sini dari rumah sakit lain."


"Laki-laki?"


"Hm, laki-laki bukan ya?" kata Kinan mulai meledek Dude.


"Hei, jangan berteman dengan laki-laki lho, Ki." Dude menggeleng.


Kinan tertawa lalu mencubit pipi Dude. "Perempuan, Mas."


Dude menghela napas lega, hampir saja dia percaya kalau teman Kinan itu laki-laki. "Kamu nih ya, sekarang jadi senang sekali meledek saya."


Kinan memilih masuk ke mobil sambil menertawakan sikap suaminya yang terlalu kaku tapi juga lucu.


"Jangan marah ya, Mas. Aku kan cuman bercanda lho," kata Kinan melihat suaminya yang cemberut.


Mendadak wajah Dude serius, dia hendak menyalakan mesin mobil tapi Kinan mencegah dengan menyentuh tangannya. "Mas marah beneran?" tanya Kinan dengan nada suara cemas dan sedih. "Maafin aku ya. Aku beneran cuman bercanda aja kok tadi."


Dude lalu menatap mata Kinan, masih dengan wajah yang serius. Dia mendekati wajah Kinan dengan tatapan tajam. "Yeah. Akhirnya saya juga bisa ngerjain kamu, Ki." Dude tergelak.


"Ih ya Allah Mas mah!"


Akhirnya mereka sama-sama tertawa. Dude lupa menutup kaca jendela, sehingga pemandangan mereka yang sedang tertawa itu bisa dilihat dari luar. Tanpa mereka sadari, di dekat mobil mereka ada mobil Selina yang tadinya memang ingin menemui Kinan karena satu hal.


Selina memalingkan wajahnya, tanpa sadar bulir bening menetes dari ujung matanya.


"Mbak Selin jadi masuk ke dalam RS?" tanya supir Selina.


"Nggak jadi deh. Kita langsung ke rumah saja."


"Baik, Mbak."


Ternyata melupakan seorang Dude tidak semudah yang Selina bayangkan. Perasaan yang dia miliki terlalu dalam untuk Dude. Selina berpikir apakah dulu perasaan Dude hanya main-main saja dengannya? Sebab sekarang Dude terlihat sudah benar-benar melupakan Selina.


"Padahal dulu sewaktu kamu baru sampai Indo, kamu masih sering memberiku kabar, Dude. Aku kira itu pertanda kita masih bisa bersama di masa mendatang. Ternyata, malah ini yang terjadi di masa yang aku tunggu, ku harap bisa bersama kamu. Sakit juga rasanya, kukira ini mudah," ucap pelan Selina sambil menyentuh cincin yang melingkar di jari manisnya.


...***...

__ADS_1


Malam hari. Kinan sudah diberitahu oleh Dude bahwa besok mereka akan ke Bandung untuk urusan pekerjaan. Dia sedang menaruh beberapa pakaian untuk besok ke dalam koper kecil. Begitulah wanita, padahal hanya satu malam tapi bawaan sudah seperti akan pindah rumah. Untungnya Dude tidak terlalu memperhatikan dan mempermasalahkan hal itu.


"Mas aku bawa koper kecil nggak apa-apa kan?"


"Nggak apa-apa sayang, bawa yang menurut kamu perlu dibawa."


Merasa diizinkan akhirnya Kinan menaruh lagi beberapa jilbab dan juga pakaian cadangan, kalau-kalau pakaian mereka kotor nanti. "Ih nggak muat deh ini kopernya."


"Mas kalau aku ganti pakai koper yang sedang, boleh?"


Dude yang sedang fokus dengan ponselnya, lalu menoleh ke arah Kinan sebentar. "Boleh istriku."


Kinan menyengir. Dia lalu mengganti koper dengan yang berukuran medium. "Nah kalau ini muat deh."


Pergi satu hari dengan koper ukuran seperti akan berlibur selama satu pekan. Begitulah Kinan, untung saja suaminya tidak melarang, apapun yang ingin dilakukan Kinan, asal Kinan senang, Dude hanya mengiyakan saja.


"Udah kamu siapin semua Ki?" tanya Dude.


"Udah, aku bawa baju hangat untuk kamu, terus bawa handuk dua, sama baju-baju yang bisa di pake tidur, terus apalagi ya."


Dude hanya tersenyum sambil mengelus pipi Kinan. "Makasih ya. Kamu yakin segini udah cukup?" sambil menunjuk koper yang tadi Kinan bereskan.


"Udah kok Mas," jawab Kinan.


"Siap, kalau gitu kita sekarang hanya perlu istirahat. Yuk kita tidur," ajak Dude lalu berbaring. Kinan juga berbaring miring sambil memeluk Dude.


Kinan tidak berhenti tersenyum. Dia lupa, dulu ada keinginan konyol yang pernah dia ucapkan di depan ibunya. Kinan ingin kelak dia mendapatkan suami yang tidak melarangnya membawa bawaan banyak saat bepergian. Sebab ibunya selalu mengomeli dia kalau dia membawa bawaan terlalu banyak dengan alasan merepotkan. Ternyata sesederhana itu bahagia bagi Kinan, dan dia mendapatkan jodoh seperti yang dia inginkan, sampai ke hal-hal kecil seperti itu.


"Kenapa Ki?" tanya Dude saat tidak sengaja melihat Kinan menatapnya sambil senyum-senyum.


"Enggak, Kinan cuman mau bilang, kalau Kinan cinta sama Mas Dude."


Seketika pipi Dude memerah berikut juga dengan daun telinganya yang ikut memerah.


"Hm, kamu tiba-tiba ngomong gitu, bikin saya malu."


"Ya nggak apa-apa, kan aku ngomong jujur." Kinan tersenyum, masih merebahkan kepalanya ke dada suaminya.


"Saya juga cinta kamu, Kinan."


Dude mengecup kening Kinan, sembari mengusap rambutnya. "Selamat tidur ya, Ki."


"Iya, Mas. Selamat tidur," jawab Kinan.


Kemudian lampu kamar di matikan, dan mereka pun beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2