
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Dude baru saja selesai dari acara meeting nya. Dia juga baru selesai menunaikan salat dan makan malam. Dude sampai tidak ingat saking sibuknya, dia lupa memberikan kabar pada Kinan.
Dude menyalakan ponselnya, karena ternyata baterainya habis. Untung saja dia membawa pengisi daya. Saat benda pipih itu menyala, dia kaget melihat panggilan dari Kinan yang cukup banyak. Pesan beruntun Kinan juga membuat Dude tidak kalah terkejut.
"Ya ampun, Kinan. Maaf sayang."
Dude langsung menelepon balik Kinan.
"Mas Dude." Kinan baru saja selesai mengikuti acara pertemuan di malam hari, selepas itu dia langsung makan malam.
Dia segera mengangkat telepon dari suaminya. Tanpa diduga Hamzah muncul membuat Kinan terkejut.
"Ki, apa kita bisa bicara sebentar?"
Saat Hamzah mengatakan itu pada Kinan, dia sudah menekan terima panggilan dari Dude.
"Suara siapa itu? Kenapa sepertinya saya kenal suara itu. Dia laki-laki, apa mungkin teman kerja Kinan?" ucap Dude.
"Hallo sayang."
Suara Dude membuat Kinan kaget.
"Mas Hamzah maaf tapi Kinan harus terima telepon suami Kinan ya, permisi."
"Hamzah?" Dude langsung mematikan ponselnya, tanpa menunggu Kinan berbicara dulu, dia langsung memutuskan untuk menyusul Kinan ke tempat itu.
"Halo Mas? Ya Allah kok di matikan?" ucap Kinan sambil melihat layar ponsel.
Kinan berpikir positif, mungkin baterai ponsel suaminya habis tadi. Lalu Kinan menelepon balik. Tapi tidak diangkat oleh Dude.
"Pantes perasaan saya nggak enak. Rupanya laki-laki itu, Hamzah. Ya, dia ada di sana karena dia dokter. Saya sama sekali tidak kepikiran," kata Dude lalu mulai melajukan mobilnya menuju ke tempat Kinan.
Seharian dia tidak melihat ponsel. Dude juga tidak mengira kalau di kantor hari ini banyak sekali yang harus dia urus. Padahal dia sendiri yang mengatakan pada Kinan agar selalu memberi kabar. Karena itu Dude merasa bersalah dan bermaksud segera menyusul Kinan. Apalagi Kinan bilang boleh membawa serta pasangan untuk menginap di hotel itu.
Hamzah mengikuti Kinan. Tentu saja Kinan tidak menyadari bahwa Hamzah sedang membuntutinya. Kinan masih berusaha menghubungi Dude, tapi memang benar ponsel Dude mati karena baterainya yang belum sempat diisi, tapi Dude keburu datang menyusul Kinan ke hotel.
"Kamu di mana sih, Mas? Tadi kamu sempat telepon aku, kenapa sekarang malah nggak aktif sih?"
Dude hampir sampai di hotel tempat Kinan menginap. Dengan kecepatan penuh Dude segera melaju, dia berharap tidak terjadi sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
"Sial! Kenapa lampu merah sih!"
Kinan menghentikan langkah kakinya. Dia mulai mendengar suara langkah kaki lain yang berada di belakangnya. "Ada yang ngikutin aku?"
Kinan berbalik. Dia tepat berada di koridor yang cukup sepi. Pikir Kinan tadi dia ingin menelepon suaminya, jadi dia mencari tempat yang sepi menjauhi keramaian agar tidak berisik.
Namun ternyata Hamzah yang mengikutinya. "Mas Hamzah? Mas ngikutin aku?" tanya Kinan, dia mulai ketakutan lagi, padahal tadinya Kinan mencoba untuk tidak takut pada Hamzah.
"Ki, saya bukan mau menakuti kamu, saya cuman ingin berbicara dengan kamu. Boleh, ya, Ki?"
"Nggak Mas. Sejak kejadian tadi saya berpikir sebaiknya kita tidak saling bicara, maaf." Kinan lalu berjalan meninggalkan Hamzah tapi laki-laki itu malah menarik tangan Kinan membuat Kinan refleks menjerit.
Saat itulah Diana yang sengaja mengikuti suaminya terkaget lalu berlari ke arah suara itu.
"Mas Hamzah ngapain sama perempuan? Astaga, itu kan Kinan?" decak nya.
"Lepasin saya Mas!"
"Kinan saya mohon, saya cuman ingin berbicara dengan kamu."
"Lepas Mas! Iya, tapi jangan begini, kenapa Mas pegang tangan saya kuat sekali!" pekik Kinan.
Hamzah masih belum mau melepaskan tangan Kinan. Diana yang masih shock hanya bisa melihat suaminya terus memegang tangan Kinan.
"Apa?" Kinan menyentak Hamzah. "Mas udah gila! Lepaskan saya! Saya sudah menikah dan Mas juga sudah menikah!"
"Saya tahu tapi bagaimana Kinan. Kenapa saya harus bertemu lagi dengan kamu. Kenapa parfum kamu menempel di baju saya, lalu saya membayangkan kamu, apa saya bisa bertahan tanpa kamu?"
Kinan nyaris muntah mendengarkan ucapan Hamzah. "Kamu gila Mas! Lepaskan saya! Kamu terobsesi, kamu sakit jiwa!" teriak Kinan.
Teriakan Kinan memicu orang-orang datang. Diana lemas, dia menangis sampai tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jadi benar wangi parfum tadi adalah parfum Kinan?
"Mbak Kinan ada apa?" tanya teman Kinan, Jessica.
"Dokter Hamzah? Lepaskan Mbak Kinan, Dok." Jessica tahu hubungan antara Kinan dan Hamzah dulu, karena mereka pernah bekerja di rumah sakit yang sama. "Lepaskan dia atau saya panggil sekuriti?" ancam Jessy. Lalu Hamzah melepaskan tangan Kinan dengan terpaksa.
Kinan benar-benar pucat dia ketakutan, dia langsung memeluk Jessy. "Mbak Kinan nggak apa-apa?"
Kinan menggeleng. "Saya mau ke kamar Jess."
__ADS_1
"Saya antar ya, Mbak."
Hamzah mengusap kasar wajahnya. Dia benar-benar kalut dan tidak karuan saat itu. "Argh!"
Diana masih menangis, tapi dia tidak boleh lemah. Dia memang sudah tahu bahwa Hamzah masih menyukai Kinan, meski Kinan tidak merespon. Diana harus tetap tegar, dia tidak boleh menunjukkan bahwa dia marah. Diana yakin suaminya akan kembali padanya apapun yang terjadi.
Karena tidak mau suaminya tahu, Diana segera kembali ke kamarnya.
"Mbak Kinan apa yang terjadi? Kenapa dokter Hamzah memegang kuat tangan mbak Kinan?" tanya Jessy.
Kinan masih shock dia hanya diam, dia belum sanggup berkata-kata.
"Minum dulu ya, Mbak." Jessy memberikan segelas air pada Kinan.
Kinan menyentuh dadanya, jantungnya seperti dipukul kuat saat tangan Hamzah mencengkeram nya seolah tidak akan melepaskan dia.
"Makasih ya Jess. Kalau nggak ada kamu, nggak tahu deh tadi. Saya juga nggak tau kenapa dia gitu, Jessy," kata Kinan.
Jessy menggeleng. "Pasti dia masih suka sama Mbak Kinan. Gila ya. Padahal dia datang bareng istrinya loh. Saya tahu soalnya tadi tidak sengaja berpapasan sewaktu di lobi. Cuman saya kira dia memang sudah tidak ada masalah dengan Mbak Kinan."
"Saya tidak ada masalah lagi, Jessy. Saya kira juga dia sama. Ternyata dia malah seperti psikopat. Saya takut Jessy."
"Tenang Mbak. Dia nggak bisa macem-macem di sini. Apa perlu saya adukan ke pimpinan? Tapi pasti posisi dokter Hamzah akan terancam nantinya."
Kinan tidak mau itu terjadi. Kinan kasihan dengan Diana. Kalau dokter Hamzah kehilangan pekerjaan bagaimana nanti kehidupan mereka kalau tidak ada yang mencari uang.
"Nggak Jessy, saya udah lebih baik kok."
"Beneran Mbak?"
"Iya. Kamu boleh keluar Jessy. Makasih ya sekali lagi."
"Iya Mbak. Ya udah kalau gitu saya keluar dulu ya. Kalau ada apa-apa, Mbak jangan segan hubungi saya, oke?"
"Iya Jessy, makasih ya."
Jessy pun keluar dari kamar Kinan. Saat itu perasaan Kinan masih tidak tenang. Dia mencoba menelepon Dude tapi tetap saja nomor Dude masih tidak aktif. Kinan benar-benar ketakutan, tapi kenapa suaminya malah susah dihubungi di saat seperti itu?
Jessy sudah keluar dari kamarnya. Tapi bel berbunyi lagi. Kinan makin takut, bagaimana kalau itu Hamzah?
__ADS_1
Kinan memutuskan untuk tidak membuka pintu kamarnya karena dia takut. Sejak dia tahu Hamzah menghamili Diana, Kinan memang langsung paranoid dengan sosok Hamzah. Kinan sangat takut dengan laki-laki yang suka bertindak asusila. Menurutnya Hamzah termasuk dalam kategori itu.
"Ya Allah kenapa belum pergi juga. Siapa yang mencet bel. Ya Allah lindungi hamba."