Takdir Illahi

Takdir Illahi
#10


__ADS_3

Menjelang subuh azam terbangun dari tidurnya, melirik keatas ranjang,melihat Rahma masih terlelap damay dalam tidurnya.Membuat Azam tersenyum dalam tatapan sendunya, mereka tidak tidur seranjang kejadian semalam sangan membuat mereka canggung. Rahma tidur diatas kasur sedangkan Azam tidur di sofa semua itu permintaan Azam karna azam tau Rahma belum menerimanya.


Kejadian semalam membuat mereka benar-benar canggung.Azam mau membangunkan rasanya tak enak melihat Tahma yang tidur lelap sekali. Azam hanya menghidupkan alarem di hp nya tepat pukul lima subuh Rahma gak kesiangan lalu Azam beranjak pergi keluar menuju masjid.


Benar saja Rahma terbangun tepat pukul lima subuh karna mendengar alarm berdering.


Cring..cring......


"Huah.." Rahma menguap melirik ke arah sofa tempat Azam tidur Rahma tak mendapati Azam"kemana ka Azam apa sudah bangun"batin Rahma.


Rahma tersadar sudah jam lima lewat, buru-buru ke kamar mandi berwudhu taku-takut habis waktu subuh nya.Sesudah solat Rahma langsung ke bawah membantu bundanya masak.Sudah satu jam Rahma bergelut dengan alat dapur tapi tak mendapati Azam sama sekali mau bertanya takut di bilang aneh"masa suami sendiri gak tau "pikir Rahma. Jadi Rahma memilih diam saja selagi tak ada yang bertanya.


Pukul setengah tujuh Azam baru pulang


"Assalamualaikum....."


"Waalaikumsalam sini Nak "jawab bunda Fatimah sambil melambay kan tangan ke arah Azam mengisaratkan supaya menghadap. Azam melihat keluarga mertuanya sudah berkumpul di meja makan dengan tersenyum Azam menghampiri mereka.


"Kenapa lama pulang dari masjid nya "tanya Nenek Rahma dengan nada bisa.Sebenarnya nenek baik orang nya hanya saja kepada bunda Fatimah saja yang beda ada apakah dengan mereka, entahlah hanya mereka yang tau.Azam pun langsung duduk dekat Rahma.


" Dari rumah dulu nek ganti baju "sambil menggaruk leher yang tidak gatal.


"Oh.. "jawab nenek, tidak ada perbincangan lagi mereka semua makan dengan hidmah.Sesudah makan keluarga bersar ayah Rahma pamit pulang pagi-pagi . Mereka berangkat karna perjalanan lumayan jauh setelah kepergian keluarga ayah Rahma mereka berbicang-bincang di ruangan keluarga.


"Sekarang rencana kamu apa nak?" tanya bunda Fatimah .Azam melirik sekilas kepada Rahma yang tertunduk dan melihat lagi kearah kakak-kakak iparnya dan terakhir bunda Fatimah,Azam menarik nafas pelan.


"Emmmz kalau bunda ngijinin Azam akan bawa Rahma ke rumah Azam "ucap Azam hati-hati, takut bunda dan kakak ifarnya tak mengijin kan,"itu pun kalau Bunda dan Rahma setuju "lanjut Azam.


"Karna itu sudah seharus nya"ucap Farhan bersua di angguki Zam-zam abang pertama Rahma.


"Tapi bun.."sergah Rahma gugup sambil tertunduk takut-takut bunda nya marah,tak menuruti suami.


"Kamu harus ikut kata suami dhe,dosa kalau melawan "bantah Farhan.Rahma menatap bunda nya memohon yang di tatap malah tersenyum sambil menggelengkan kepala mengisyaratkan jangan menolak.

__ADS_1


"Ya sudah "ucap Tahma pasrah. Toh melawan juga tak bisa.Azam melihat raut muka Rahma yang sedih jadi tak enak. Mau bagai mana lagi


seorang istri sepatutnya menurut kepada suami selagi itu perintah yang tak melanggar agama.


Halnya Rahma harus rela jauh dari keluarganya walau dia harus meninggalkan bunda seorang diri di rumah. Rasanya Rahma berat sekali apalagi banyak kenangan didalamnya,tapi apalah daya mau tak mau ia harus rela berjauhan walau jarak rumah barunya belum tau apakah jauh atau dekat.


Semoga saja tak terlalu jauh dari keluarganya sehingga Rahma bisa mudah mengunjungi bundanya,sekarang Rahma dan Azam lagi beres-beres untuk perpindahan nya,semuah baju sudah di masukan kedalam koper tak lupa membawa poto keluarganya.Rahma memandang dengan tatapan sendu Rahma tak bisa menahan kesedihan nya. Cairan bening keluar dari pelupuk mata Rahma.


"Tok.."


"Tok.. "


Suara ketukan pintu membuat Rahma buru-buru menghapus air matanya.


"Nak sudah selesay belum persiapan nya" tanya bunda Fatimah melangkah mendekati anak bungsunya.


Azam dari tadi memang sudah keluar terlebih dahulu, membiarkan Rahma sendiri supaya hatinya tenang.


Bunda Fatimah tersenyum,mengelus puncak kepalaa Rahma.


" Bruk.."


Rahma memeluk bundanya, "hik..hik... bun Rahma gak mau jauh sama bunda,apalagi kan bunda entar tinggal sendiri,bunda tinggal sama Rahma saja ya"cerocos Rahma, di sela isak tangisnya, membuat sang bunda tersenyum,dan mencium puncak kepala Rahma.


"Anak bunda masih cengeng yah.. "goda bunda Fatimah.


"Ih bunda Rahma serius"


Bunda Fatimah tersenyum melihat tingkah anak nya yang merajuk, padahal jauh di lubuk hati bunda Fatimah sangat lah sedih tapi harus berusaha tabah dan ikhlas di depan anak manjanya.


"Sudah jangan nangis " bunda Fatimah menyeka air mata Rahma.


"Anak bunda kan sudah besar apalagi sudah bersuami jangan cengeng,ingat pesan bunda jadilah istri yang berbakti kepada suami,jangan pernak sekali-kali menyakiti hati nya kalo Rahma gak mau mendapat murka Allah"ucap bunda Fatimah menasehati. Rahma mengangguk tanda patuh dan kembali memeluk bundanya lagi semakin erat.

__ADS_1


"Sudah sekang kita ke bawah kasian suamimu menunggku"Rahma pun mengangguk.barang-barang sudah tersusun rapih di dalam bagasi dan siap pergi.


"Bun kami pamit dulu" ucap Azam sambil mencium tangan mertuanya dengan hidmat.


"Iya nak bunda titip anak bunda, jika Rahma salah ingatkan dia dengan kasih sayang tapi jangan sekali-kali kamu menggunakan otot tangan mu"pesan bunda sambil memeluk menantunya.Azam cuma menganguk sebagai jawaban. Rahma juga mengikuti jejak Azam mencium tangan bundanya dengan hidmah.


" Bun Rahma pamit nya...maaf selama Rahma belum jadi anak berbakti, suka merepotkan bunda dan belum bisa jadi anak yang penurut"


Bunda Fatimah tersenyum memeluk anak manjanya sayang.


"Tidak nak kamu anak bunda,kebagaan bunda dan satu lagi kamu sudah menjadi anak yang baik dan penurut "Rahma mengeratkan pelukan nya rasanya berat sekali, meninggalkan tempat yang penuh kenangan itu. Bunda Fatimah menyeka air mata Rahma dengan lembut.


"Sudah ingat kata bunda jangan cengeng" Rahma hanya mengangguk kedua kakinya begitu berat enggan untuk melangkah.


Sesudah pamit pada bunda dan ke dua abangnya Rahma langsung masuk kedalam mobil Azam entah sejak kapan sudah ada.


Dalam perjalanan mereka tak ada satupun yang bercakap, hanya isakan Rahma yang terdengar pilu. Azam yang mendengar itupun seperti orang jahat yang memisahkan putri dari ibunya apa yang harus Azam lakukan? menenangkan, menghibur, rasanya azam bingung, azam memilih diam saja, mungkin membiarkan Rahma menangis adalah jalan terbaik supaya sedikit tenang.


"Akan kah suatu saat nanti kamu bisa Menerima kehadiranku,supaya aku bisa dengan leluasa memelukmu, menenangkan dan membuat mu tersenyum” bantin Azam.


Begitu miris melihat Rahma yang sepanjang jalan terus terisak, lama kelamaan isakan itu mulai tak terdengar. Azam melirik menarik bibirnya membentuk senyuman meliahat Rahma tertidur mungkin karna lelah dari tadi menangis.Ada rasa tak tega dihati Azam. Namun mau bagai mana lagi.


_______


jangan lupa budidayakan like


komen


votenya yah....


kalau sudah membacanya...


tetimaksih.... he...

__ADS_1


__ADS_2