
Jam empat subuh Azam baru sampai Bandung perjalanan Jakarta-Bandung memakai waktu tiga jam tiga puluh menit tapi perjalanan singkat itu menjadi lama karna insiden hampir kecelakaan.
Seorang pengemudi dibawah umur ampir saja tabrakan dengan mobil yang dikendarai Fandi hingga Fandi membanting setir supaya tidak jadi kecelakaan parah membuat Azam yang memejamkan matanya langsung terbuka karna kaget oleh suara benturan tapi bukan benturan milik mobil Azam melainkan mobil yang hampir menabrak mobil Azam .
"Asstagfirullah"ucap Azam beristigfar.
Azam tidak mendapat luka apa-apa karna memang posisi jok yang Azam duduki di rentangkan sedangkan Fandi karna jago dalam mengatasi hal berbahaya sedikit bisa melindungi dirinya walau kepalanya sedikit terbentur.
"Ka tidak apa-apakan? "tanya Azam cemas melihat Fandi menggeleng-gelengkan kepalanya semoga dengan itu rasa pusingnya hilang.
"Alhamdulilah gak apa-apa Zam... tapi Aku gak tau orang yang ada di dalam mobil itu"ucap f
Fandi sambil melihat kebelakang melihat mobil yang ampir tabrakan denganya.
Azam dan Fandi bergegas keluar memastikan siapa yang berani menghadang mobilnya Fandi langsung membuka pintu mobil kemudi walau kesusahan tapi tetap berhasil dan membantu mengeluarkan orang yang mengendarai mobil itu.
"Hey... bangun.... hey.. "ucap Fandi sambil menepuk-nepuk pipi orang itu tapi tak kunjung bangun.
"Ka kita bawa kerumah sakit aja"ucap Azam.
"Tapi"
"Kita harus membantunya ka lihat darah dikepalanya semakin keluar"Fandi yang mendengar penuturan Azam sedikit kaget karna sendari tadi tidak menyadari ada darah mungkin epek masih sedikit pusing.
Tak pikir panjang lagi Azam dan Fandi langsung membopong orang itu masuk kedalam mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sesampai dirumah sakit terdekat Fandi dan Azam langsung membawanya kedalam kebetulan dokter langsung memeriksanya.
Sesudah mengurus semuanya dari mula biyaya pengobatan orang itu Azam dan Fandi langsung pamit pada suster dan memberikan barang-barang orang itu kepada salah satu suster.
"Sus ini barang-barang orang itu suster bisa memberi tau keluarganya saya dan teman saya hanya menolong dan kami harus segera pergi lagi.. "ucap Azam.
"Iya mas "jawab suster karna sedikit bingung hanya kata itu yang dia kelaurkan.
Fandi dan Azam langsung meneruskan perjalanan pulangnya tapi gantian menyetir karna Fandi sedikit masih pusing takut terjadi apa-apa di jalan.
Tibalah Azam dan Fandi di Bandung tepat di rumah sakit dimana Rahma berada.
"Ka terimakasih... sebaiknya Kakak pulang dan istirahat dan bawa aja mobilnya "ucap Azam Fandi langsung menganguk karna memang benar badannya sangat lelah butuh istirahat dan pelukan istrinya .
__ADS_1
Azam langsung bergegas masuk menelusuri kolidor rumah sakit guna mencari kamar sang istri karna bunda Fatimah sudah memberitau dirinya letak dan No kamar Rahma lewat pesan.
Sebenarnya badan Azam sedikit ngilu tapi demi sang istri dia terus memaksa badannya untuk tetap kuat tibalah Azam di depan kamar Rahma ruangan No.110 perlahan Azam membuka knop pintu.
"Cklek... "
"Assalamualaikum "ucap Azam masuk langkah kan kakinya perlahan mendekati sang istri ada bunda Fatimah juga yang sedang terlelap di atas kursi dekat ranjang Rahma tangan bunda Fatimah masih tetap memegang tangan Rahma.
Sungguh tersayat hati Azam melihat kondisi sang istri yang begitu pucat tak ada wajah ceria yang terpancar .
Tidur bunda Fatimah sedikit terusik mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat.
"Azam"ucap bunda Fatimah serak khas orang baru bangun tidur mendongkak sambil menarik genggaman tangannya.
"Iya ...Assalamualaikum Bunda"ucap Azam lembut dan tersenyum kepada ibu mertuanya sambil mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam Nak.. kapan sampai? "
"Alhamdulilah baru bun...bagai mana keadaan Rahma bun? "ucap Azam sedikit gemetar bunda Fatimah yang melihat gelagat Azam langsung mengerti membawa Azam dalam pelukannya.
"Yang sabar yah Nak... ini adalah cobaan..buat kalian Rahma pas malam sempat sadar tapi dia pingsan lagi karna syok "tutur bunda Fatimah lembut sambil mengusap-usap punggung Azam.
Tubuh Azam gemetar di pelukan bunda Fatimah karna isakan, Azam tak peduli di bilang cengeng karna ini sungguh menyakitkan.
"Emmmz" gumaman kecil terdengar di bibir mungil Rahma kedua matanya perlahan terbuka tapi ada sesuatu yang berat menimpa tangannya Rahma langsung melirik dilihatnya suaminya sedang tertidur pulas kedua matanya sedikit membengkak mungkin akibat menangis.
Gerakan pelan, Rahma menarik lengannya agar tak membangunkan sang suami perlahan Rahma mendudukan dirinya Rahma tak melihat keberadaan bundanya dan manik mata Rahma mengarah kearah suaminya lagi lengan kanannya telurur mengusap pelan rambut suaminya dengan tangan gemetar.
Isakan tangis mulai terdengar lagi semakin lama semakin menyayat.
Azam terbangun memdengar isakan yang sangat pilu perlahan Azam menggenggam tangan istrinya erat yang masih diatas kepalanya.
Azam mendongkak berdiri dari duduknya berpindah kesisi ranjang Rahma ditariknya dengan lembut tubuh istrinya yang bergetar hebat oleh isakan kedalam pelukannya.
"Sabar sayang"ucap Azam lembut berusaha tegar di depan istrinya padahal jauh dari lerung hatinya begitu sesak.
"Maaf kan Ade Mas....hik..Ade.. gak bisa jagain dede babynya.. "ucap Rahma tersedat-sedat karna sesak.
"Jangan minta maaf sayang... harusnya Mas yang minta maaf gak bisa jagain Ade"
__ADS_1
"Hik.... Mas juga gak salah yang salah Allah.. kenapa Allah ambil anak kita"
Deg....
"Astagfirullah sayang istigfar.... ini sudah takdir... kita harus sabar"
"Tapi.. "
Ucapan rahma tertahan karna bibirnya di bekam oleh bibir Azam membuat Rahma terdiam tak lama Azam menjauhkan bibirnya lagi.
"Jangan marah sama Allah sayang... semua ini adalah ujian... sabar dan ikhlaskan.. insyaallah akan ada kebaikan di balik ini semua.. "
"Maafkan Adek Mas"ucap Rahma memeluk erat kembali tubuh Azam,Azam membalas pelukan istrinya tahkalah erat sambil mengusap-usap punggung Rahma.
"Jangan minta maaf pada Mas minta ampunlah pada Allah Dek... mungkin ini belum rezeki untuk kita...bersabarlah.. "ucap Azam memberi pengertian.
Rahma tidak membalas ucapan suaminya dia hanya terdiam mengingat apa yang dia ucapkan dan tangannya terus memeluk erat tubuh Azam.
"Maafkan hambamu ini ya Allah yang telah menghakimi mu... sungguh lemahnya iman hambamu ini. ...maafkan hambamu ini ya Allah... Astagfirullah... "jerit batin Rahma.
Tidak ada yang lebih indah ketika kita sedang terpuruk ada sesosok kekasih halal yang menjadi tangan untuk kita raih,menjadi benteng untuk kita kuat, menjadi pahlawan untuk kita bangkit .
Setiap ujian akan ada hikmah dibaliknya seperti ada pintu pasti ada sebuah ruangan di dalamnya tinggal bagai mana kita sendiri yang menghadapinya dan mencari kunci untuk membuka gerbang kebahagiaan.
Semuanya sudah digaris takdirkan tidak ada yang bisa membentenginya kalau kematian sudah menjemput hari ini anaknya Rahma yang belum melihat dunia mungkin besok adalah aku,kamu,dia dan kalian semua itu kita tak akan ada yang tau.
Sebelum kematiaan menjemput tinggal kita persiapkan diri kita siap tak siap harus siap dan bekal apa yang harus kita bawa menghadap sang pencipta bukan harta atau apapun yang ada di sunia ini tapi amal perbuatan kita yang sholeh dan sholehah itu adalah tiket amalan yang paling bagus menuju sang illahi rabby.
bersambung......
...*********...
**so.... gimana udah bacanya jangan lupa jarinya tinggalkan dulu
komen
like
vote
__ADS_1
ok
dan terimakasih**