
Banyak pasang mata yang melihat Azam menggandeng wanita cantik berpenampilan anggun.
Semua karyawan berbisik-bisik,siapa kah wanita yang di dandeng bosnya? Saudara kah, Adik kah, tapi itu semua tidak mungkin karna Azam adalah anak tunggal dari keluarga Khoer,atau dia istri sang bos tapi itu juga tidak mungkin pasalnya tidak ada berita Azam menikah, kalau pacar masih ragu soalanya big bos paling anti sama perempuan.
Begitu banyak bisikan-bisikan mengenai Azam tapi Azam tidak peduli terus berjalan dengan karismanya menuju lif semua setaf membungkuk hormat ketika berpapasan dengan Azam.
" Sayang kamu duduk aja di shofa Mas mau ngecek berkas-berkas" ucap Azam ketika memasuki ruangan kerjanya.
" Iya Mas" jawab Rahma dan langsung duduk di shofa yang Azam tunjuk.
Mata Azam terus pokus pada berkas di tangannya dan sesekali meririk ke arah layar komputer yang ada di depannya.
Rahma memotret Azam yang sedang pokus, mukanya serius banget tapi di mata Rahma Azam begitu gagah dengan sorot mata tajam dan rahang tegas.
Rahma melangkah ke arah jendela melihat kebawah gedung ada banyak kendaraan yang berlalu lalang seperti semut di bawah sana. Karna ruangan Azam tepat di lantai 35 .
Sesekali Rahma memotret dirinya sendiri dan Azam yang masih pokus dengan lembaran berkas yang masih menumpuk di tambah lagi mengecek file yang Ayahnya berikan dupaya Azam mempelajarinya.
"Mas boleh Ade keliling kantor Mas" ucap Rahma menghampiri Azam.
"Boleh sayang tapi ingat jangan jauh-jauh" jawab Azam tampa melihat ke arah Rahma karna matanya terus pokus ke layar leptop.
Dengan senang hati Rahma keluar dari ruangan Azam dan berkeliling, begitu banyak ruangan yang Rahma tidak tau apa di dalam nya.
Sudah satu Jam Rahma berkeliling hingga rasa lelah menyerangnya. Rahma memutuskan untuk balik lagi keruangan Azam. Lagi-lagi Rahma harus menghela nafas kasar Azam masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Tau bosan gini Aku gak bakalan ikut" batin Rahma sambil mendudukan kembali di atas shofa.Rasa lapar menyerangnya tapi Rahma tidak berani mengganggu Azam karna kelihatannya Azam masih sibuk dengan setumpuk berkas.
Perut Rahma sedikit membelit karna rasa lapar, Rahma hanya bisa minum air untuk sedikit menghilangkan rasa lapar dan berusaha memejamkan kedua matanya supaya rasa lapar tersebut hilang. Hingga Rahma terlelap ke alam mimpi.
Azam melirik jam tangannya sebentar lagi adzan dhuhur dan sesudah itu Azam harus miting. Azam melirik sang istri yang sedang tertidur pulas dan menghampirinya.
"Dek bangun" ucap Azam membangunkan Rahma ,tapi Rahma tidak bergeming karna kasiaan Azam menggendong sang istri membawanya ke kamar peribadi Azam. Dibaringkannya perlahan dan menyelimuti tubuh sang istri.
Azam berjalan ke arah kamar mandi guna mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya karna sudah memasuki waktu dhuhur. Sudah selesai Azam menyiapkan mukena untuk sang istri dan meninggalkan pesan tulisan di selembar kertas. Azam menyimpannya di atas ranjang sebelah sisi kasur yang kosong. Tidak lupa Azam mengaktifkan Alarm tepat jam satu supaya sang istri tidak kesiangan.
Azam langsung keluar kamar karna rapat sebentar lagi di mulai ,tepat Fandi memasuki ruangan Azam.
"Pak rapat akan segera di mulai" ucap Fandi.
__ADS_1
"Baik" jawab Azam sambil mengambil satu berkas di atas mejanya. Dan langsung keluar di iringi Fandi dari belakang.
Tring....
Tring...
Suara alarm memanggil Rahma dari alam mimpi supaya cepat pulang, dan benar saja Rahma membuka kedua matanya melihat ruangan yang nampak asing.
" Dimana Aku" gumam Rahma pada dirinya sendiri. Rahma menyapu seluruh ruangan yang begitu besar dan Rahma baru sadar dirinya berada di atas ranjang.
"Bukannya tadi tidur di shofa ruangan Mas Azam in... " Rahma langsung meluncat dari ranjang karna takut dan melihat penampilannya seketika membuat Rahma menghela nafas karna apa yang ditakutkan tidak terjadi,dirinya masih berpakayan utuh.
Tidak sengaja Rahma melihat lipatan mukena dan selembar kertas di atasnya. Tidak berpikir panjang Rahma langsung mengambilnya dan membaca tulisan tersebut.
"Maaf Dek Mas tinggal sebentar ada rapat, Ade istirahat aja di kamar ini, mukena udah Mas siapkan.Jangan kemana-mana sebelum Mas kembali"
Rahma membuang nafas kasar ternyata Azam sesibuk itu membuat Rahma cemberut. Karna sadar belum sholat dhuhur Rahma langsung mencari kamar mandi diruangan yang Rahma tidak tau, sudah ketemu Rahma langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya walau waktu hampir terlambat.
Rahma melipat mukena lagi sesudah beres dengan sholatnya, Rahma celingak-celinguk mencari makanan apa kah ada di kamar ini, tapi sayang Rahma tidak menemukannya. Rasa lapar kian menggerogoti Rahma.
"Kemana Aku harus mencari makanan sedangkan tempat ini Aku belum tau" batin Rahma pasrah.Lalu mendudukang bokongnya di atas shofa yang ada di kamar itu dan menyalakan Tv karna bosan. Sekuat tenaga Rahma menahan lapar, entah sampai kapan Azam menyelesaikan mitingnya.
Azam terkejut tidak mendapati sang istri " Sayang Adek.. " panggil Azam tapi tidak ada yang menyahut.
Hoek...
Huek...
Azam memberhentikan langkahnya ketika akan keluar kamar karna mendengar orang yang muntah. Dengan panik Azam menuju kamar mandi yang memang pintunya terbuka setengah, semakin dekat suara orang yang muntah terdengar jelas.
Hoek..
"Astagfirullah Dek" teriak Azam terkejut melihat sang istri sedang muntah -muntah. Azam langsung ke dalam menepuk-nepuk pundak sang istri pelan.Rahma sudah selesai muntahnya dan membasuh mulut yang masih tersisa lendir. Azam membantu sang istri keluar kamar mandi dan mendudukannya di sisi ranjang.
"Kemapa Ade bisa muntah-muntah, ini wajah Ade pucat lagi, kita kerumah sakit yah" ucap Azam bertubi-tubi karna kewatir.
"Tidak usah Mas mungkin masuk angin karna dingin Ac " ucap Rahma pelan sambil memegang perutnya yang terasa di aduk-aduk.
"Tapi tadi Ade.. "
__ADS_1
" Mungkin epek perut Ade lapar jadi asam lambung Ade naik di tambah Ac nya dingin banget jadi Ade mual"potong Rahma ,perutnya benar-benar kelaparan.
"Astagfirullah, Ma'afkan Mas Dek " ucap Azam terkejut.Azam lupa kalau istrinya belum makan siang dan tidak terlalu suka sama dingin nya suhu Ac yang berlebih.
"Gak papah Mas" cicit Rahma semakin pelan menahan gejolak di dalam perutnya.
"Kalau begitu Mas pesan makanan dulu yah, Ade mau makan apa ?" tawar Azam merasa kewatir melihat muka istrinya yang pucat menahan lapar sungguh Azam begitu ceroboh karna sibuk dengan pekerjaannya membuat dia lupa akan kondisi sang istri yang tidak boleh telat makan berbeda dengan Azam walau pun sekarang Azam juga sama melewatkan makan siangnya tapi badan Azam kuat.
" Mau mie Ayam Bakso Mas dan satu lagi Asinan" celoteh Rahma menginginkan kedua makanan itu.
"Tapi kan perut Ade sakit, kalau asinan jangan yah kan pedas " ucap Azam tidak setuju istrinya makan Asinan karna melihat kondisi perut sang istri.
" Gak mau Mas Ade pengen itu, soalnya kepala Ade sedikit pusing mungkin kalau makan itu pusingnya akan hilang " kekek Rahma membuat Azam pasrah walau dibantah yang ada istrinya akan menangis.
"Yasudah sekarang Ade istirahat dulu, Mas mau pesan makanan yang Ade mau" ucap Azam lembut. Rahma hanya menurut saja dan membaringkan tubuhnya lagi di atas ranjang Azam menyelimuti sang istri.
Azam merogoh saku jasnya mengambil benda pipih mengirim pasan pada Fandi lalu meletakan kembali ponselnya. Azam melihat sang istri yang tertidur tengkurap sesekali kedua alisnya bertautan seperti menahan sakit.
Ting..
Suara ponsel Azam berbunyi tanda pesan masuk, Azam langsung keluar kamar dan melihat Fandi sudah ada diruangnanya sambil menjing-jing pelastik.
"Ini pesanannya " ucap Fandi.
"Terimakasih " ucap Azam langsung masuk kekamar lagi sedangkan Fandi tersenyum penuh arti meninggalkan ruangan bos nya.
"Dek bangun pesanan Ade sudah datang " ucap Azam lembut mengelus pipi sang istri. Mendengar suara Azam kalau pesenannya sudah datang Rahma langsung terbangun .
"Makannya di sini Dek" ucap Azam lagi sambil meletakan kantung keresek di meja.
Rahma kemudiaan turun dari ranjang dan duduk di sebelah Azam yang sedang memindahkan mie Ayam Bakso ke dalam mangkuk dan tidak lupa Asinannya.
Dengan rakus Rahma langsung melahapnya seperti orang kelaparan.
" Dek pelan-pelan" tegur Azam tapi Rahma cuma tersenyum kikuk saja dan melanjutkan makannya.
Sudah selesai makan mie Ayam Bakso Rahma langsung menyantap Asinan miliknya. Azam hanya bisa melongo dengan tingkah sang istri yang sangat rakus, padahal Azam masih belum menghabiskan Bakso miliknya tapi kini istrinya sudah makan asinan mau hampir habis lagi.
"Ah... kenapa istriku akhir-akhir ini semakin aneh" batin Azam sambil geleng-geleng kepala melihat cara makan Rahma seperti orang yang kena busung lapar.
__ADS_1