
Sedangkan di dalam kamar Rahma enggan untuk keluar hatinya begitu sakit tak terima dengan kedaan ini.
Troma rasa kehilangan masih membekas dalam dirinya sehingga membuat Rahma tak bisa berpikir dengan jernih.
Semarah itu kah Rahma hingga tak mau mendengarkan penjelasan Azam bukan kah itu yang mau Rahma adalah sebuah penjelasan tapi kenapa sekarang seolah dia membentengi hati dan telinganya apa karna belum sanggup untuk mengetahui pakta sebenarnya karna rahma benar-benar takut.
Justru sikap itulah yang membuat Rahma terbelenggu di jurang kesalahan.
Di dalam hati nurani Rahma dia juga meklaim bahwa yang dia lakukan adalah dosa besar sudah mendiamkan, cuek dan marah pada sang suami.
Tapi apalah daya Rahma juga manusia yang imannya selalu di uji dalam kesakitan membuat Rahma tertutup oleh ketakutan membuat dia menyakiti dirinya sendiri tampa Rahma sadar.
Membayangkan sang suami tersenyum bahagia dengan wanita lain membuat dada Rahma kian sakit apakah sekarang Rahma baru sadar bahwa sekarang cintanya kepada Azam begitu besar hingga tak rela jika Azam benar-benar menduakannya.
Sebenarnya Rahma ingin membuka pintu mengijinkan Azam untuk masuk tapi lagi-lagi bisikan syetan mencegahnya hingga egonya mendominasi dari pada rasa cintanya.
Semalaman menangis membuat Rahma melewatkan ibadah malamnya dia terbangun tepat adzan berkumandang buru-buru Rahma kekamar mandi menbersihkan dirinya sesudah selesai rahma mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya.
Dia termenung apa yang hari ini dia lakukan Rahma melirik ranjang yang tergeletak jas dan tas kantor Azam ingin sekali Rahma menyiapkan baju untuk Azam berangkat kerja hari ini tapi lagi-lagi egonya berkata tidak mengingat Azam membohonginya padahal Rahma tau bahwa Azam dari kemaren pasti belum ganti baju tapi Rahma gak peduli.
Rahma mengunci dirinya kembali hanya sekedar untuk menenangkan belum siap bertemu Azam perlahan Rahma berjalan kearah naskah menarik gagang laci mengeluarkan album potho pernikahannya walau awal pernikahannya dawali kesedihan tapi terlihat jelas di poto itu seakan Rahma bahagia padahal hatinya tidak siapa yang tau dan sekarang apa pungkin pernikahan diawali dengan keterpaksaan dan harus diakhiri dengan keterpaksaan pula.
Rahma terperanjat kaget dari lamunannya oleh ketrokan pintu tak lama Rahma menetralkan dirinya lagi Rahma tau pasti dia adalah Azam.
Rahma memandang kearah pintu apa yang harus dia lakukan membuka atau membiarkan saja, Rahma terus bergelut dengan pikirannya hingga suara Azam terdengar.
"Dek... Mas mohon jangan marah pada Mas... soal pekerjaan Mas bisa jelasin semuanya.... tapi kalau tuduhan Ade mengatakan kalau Mas selingkuh... itu tidak benar... Mas sungguh kecewa Dek... ketika Ade mengatakan itu.... "
"Apa yang harus Ade lakukan jika semuanya adalah kebohongan Mas... Ade akan jauh lebih kecewa... "batin Rahma masih enggan untuk beranjak hingga suara Azam terdengar lagi.
" Ingat... Dek... apa yang kita lihat atau dengar tentang keburukan seseorang... itu belum tentu kebenarannya.... Tabayyun lah.... "
Deg....
Hati Rahma mulai goyah mendengar kata "Tabayyun" Rahma sendiri pun bingung.
" Sekali lagi Mas minta maaf... sungguh Mas tidak melakukan perbuatan keji itu... Mas.. pamit kekantor dulu..Mas mencintai Ade karna Allah... Assalamualaikum.. " teriak Azam hingga hening tak ada suara lagi dari luar.
" Jika yang Mas ucapkan adalah kebenarannya Adek mohon buktikanlah supaya hati Ade yakin... Ade juga mencintai Mas karna Allah... " lagi-lagi Rahma hanya membatin tak bisa mengucap rasanya tenggorokannya kering.
__ADS_1
Lama Rahma termenung hingga suara drung mobil Azam terdengar meninggalkan halaman rumah hingga tak terdengar lagi.
Rahma perlahan keluar kamar
Deg.....
Hati Rahma terenyuh melihat ruangan yang sudah rapih semua" apa kamu yang beresin Mas" gumam Rahma yang terus berjalan melihat ruangan Tv dan ruangan tamu bersih semua lagi-lagi Rahma diam melihat di Meja makan sudah tersedia sarapan perlahan Rahma mendekat disitu ada Notta yang menempel disebelah gelas Rahma mengambilnya Rahma tau itu adalah tulisan sang suami.
" Makanlah... Mas gak mau Adek sakit... Mas tau dari siang kemaren Ade belum makan "
Ada sedikit getaran di hati Rahma melihat perhatian sang suami memang benar dirinya dari siang kemarin belum makan karna ada Dinda.
Tapi tunggu kenapa Azam bisa tau kalau Rahma dari kemaren siang belum makan ? Rahma terus berpikir.
Kruk....
Bunyi dari perut Rahma terdengar tampa berpikir lagi Rahma langsung duduk dan menyamtap sarapannya.
"Apa Aku terlalu keterlaluan yah sama Aas Azam" gumam Rahma pada diririnya sendiri.
"Ah... tidak... " gumam Rahma lagi hingga Rahma gak sadar sarapannya sudah dia habiskan.
Ego dan hati nurani Rahma masih terus saja bertengkar membuat Rahma selalu timbul ketakutan, ketakutan yang entah apa tapi rasanya sesak sekali.
Deg....
Kenapa dada Rahma begitu sakit dan sesak ada apa ? kenapa pikirannya tertuju kepada Azam ada rasa cemas, kewatir dan takut bercampur menjadi satu ada apa ini! .
Apa ada yang terjadi pada Azam atau ada hal lain kenapa rasanya hati Rahma semakin gelisah apalagi Azam belum pulang ketakutan Rahma semakin menjadi kalau-kalau sang suami benar-benar berselingkuh.
Apalagi ponselnya tak bisa dihubungi membuat ketakutan Rahma kian menjadi .
Dret.... dret.....
Ponsel Rahma berdering hampir saja jatuh dari genggaman nya karna saking gelisahnya kan sayang kalau jatuh ponsel baru.
Rahma menyerngit yang Meneleponnya bukan Azam melainkan No baru dengan ragu Rahma mengangkatnya karna dari tadi terus berdering.
"Assalamualaikum dengan siapa yah?" tanya Rahma hati-hati ketika sudah mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Rah ini aku Dinda... "suara di serbang sana.
"Oh... Din itu kamu.. kirain Aku siapa" ucap Rahma lega ternyata sahabatnya bukan penjahat.
"*Emmmmz Rah Aku cuma mau bilang tadi aku lihat ada ka Azam di rumah sakit*"
"Rumah sakit"batin Rahma menyerngit bingung.
"*R*ah... Rahma... kamu masih di situ" teriak Dinda.
"Oh iya Din.... rumah sakit... perasaan ka Azam gak mempunyai riwayat sakit"
"*Gak tau sih... soalnya Aku lihat ka A*zam mukanya cemas banget.. kaya orang yang kewatir atau apalah"
Perkataan Dinda membuat ketakutan Rahma semakin menjadi kalau-kalau suaminya" ah... Din bisa kasih tau rumah sakit mana? "
"RS Merlinda Hospital "
" Oh iya posisi kamu di mana Din?.. "
"*D*i lestoran depan rumah sakit"
"Tunggu aku di situ.... "
Tut... tut.....
Rahma langsung mematikan ponselnya dari tadi dadanya bergemuruh banyak pertanyaan yang Rahma tanyakan kenapa Azam ada di rumah sakit itu kalaupun sakit pasti Azam gak mungkin pergi kerumah sakit yang jauh karna setahu Rahma rumah sakit yang dekat bukan RS Merlinda Hospital.
Tidak menenunggu lama Rahma langsung pergi tak lupa untuk mengunci pintu hari ini adalah hari keberuntungannya taxi langsung terlihat Rahma langsung melambaikan tangan taxi langsung berhenti tepat di hadapan Rahma.
"Antarkan saya ke RS Melinda Hospital pak"
"Baik nyonya" jawab supir taxi itu.
Mobil taxi langsung melaju dengan cepat tapi perasaan Rahma yang tak karuan membuat Rahma merasa laju mobil begitu lambat sekali.
"Semoga apa yang Ade pikirkan salah Mas "batin Rahma.
...********...
__ADS_1
bersambung.......