
Tok...
Tok..
Rahma mengetok pintu yang sudah lama Rahma tidak berkunjung. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat kearah pintu.
Cklek...
Pintu terbuka nampaklah sesosok wanita yang sangat cantik walau sudah dimakan usia.
"Assalamualaikum " ucap Rahma tersenyum sambil mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkan pangeran yang sangat perfect.
"Waalaikumsalam sayang" balas wanita cantik itu. Lalu Rahma memeluk wanita cantik itu dengan erat seperti tidak mau berpisah.
"Rahma kangen" ucap Rahma manja, membuat wanita cantik itu terkekeh dengan kelakuaan Rahma yang manja tidak lupa membalas pelukan Rahma.
"Assalamualaikum " ucap Azam yang baru datang karna membawa berbagai macam cemilan dengan muka yang di tekuk.
"Waalaikumsalam Nak" ucap Zenab melihat aneh ke arah Azam .Dimana muka anaknya berbeda dengan raut menantunya yang ceria.
Sesudah mencium punggung tangan Mamahnya Azam langsung menerobos masuk karna sedikit kesal pada sang istri.
Bagai mana Azam tidak kesal dari tadi tingkah Rahma sangat aneh membuat Azam pusing sendiri.Sudah makan di kantor Rahma malah ingin pergi ke restoran bukan untuk makan hanya ingin melihat bagai mana para Chef memasak, terus ingin ketempat bermain Anak-anak, belum lagi ingin pergi ke Danau dan seterusnya kalau satu Azam menolak pasti Rahma akan menangis dan tidak mau bicara.
Dan sekarang ingin pergi kerumah kedua orang tua Azam.Awalnya Azam menolak karna sudah lelah palagi sudah malam tapi Rahma malah menangis kencang membuat Azam terpaksa menyetujui perintah sang istri.
Lagi-lagi Azam harus menghela nafas Rahma menyuruh Azam memberkentikan mobilnya menyuruhnya mampir ke Indomart guna membeli cemilan.
Dan sekarang mereka sudah berada di kediaman Mamah Azam.
Azam menceritakan semuanya kepada Mamahnya membuat Zenab malah tertawa sedangkan Raham malah mengerucutkan bibirnya kedua matanya mulai mengembun.
Ha.. ha... ha....
"Mah udah jangan ketawaain Azam mulu" potong Azam kesal.
"Hua... hik.. hik.." sedangkan Rahma malah menangis membuat mamah Zenab seketika berhenti tertawa, dan mendekat pada menantunya,begitupun Azam walau kesal tapi tidak mau melihat sang istri menangis.
" Kamu kenapa Nak.. " ucap mamah Zenab memeluk menantunya.
"Hik... Mas Azam tidak ikhlas hik... dia ngaduin Rahma ke Mamah hik.. " ucap Rahma di sela tangisannya.
" Aduh Dek..bukan Mas tidak ikhlas Mas ikhlas ko ,jangan nangis yah.. " ucap Azam berusaha menenangkan sang istri yang ada di pelukan Mamahnya.
"Bohong.. kalau Mas ikhlas kenapa Mas aduin kelakuaan Ade ke Mamah.. "
Deg...
Azam mematung sudah sangat pusing dengan tingkah laku sang istri dan sekarang malah menangis lagi.
" Sudah Nak jangan menangis suami kamu bukan ngaduin tapi lagi curhat.. " celetuk mamah Zenab.
"Curhat" cicit Rahma.
"Iya.. lagi curhat emang suka begitu tapi bukan tidak ikhlas "
"Oh gitu"
Lagi-lagi Azam hanya di buat melogo " cepat amat berubahnya " batin Azam. Melihat Rahma langsung berhenti menangis dan tersenyum lagi seperti biasa.
__ADS_1
"Mas ke kamar yuk Ade ngantuk" celoteh Rahma ketika sudah mengendurkan pelukannya di pelukan mamah Zenab.
"I....ya.. " ucap Azam jadi gagap sendiri.
Sedangkan mamah Zenab hanya tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya yang sedang merajuk.
Azam langsung membawa sang istri ke lantai atas dimana kamar Azam berada. Sedangkan kamar kedua orang tuanya ada di bawah.
"Assalamualaikum "ucap Ayah Azam yang baru pulang.
"Waalaikumsalam " jawab Zenab dan menghampiri sang suami lalu mencium punggung tangan Ilham.
"Di luar ada mobil Azam" ucap Ilham berjalan ke arah shofa dan duduk.
" Iya dari tadi sama istrinya sekarang mereka sedang istirahat"
" Oh "
Zenab sedikit melihat ada sesuatu yang berbeda dari cara bicara suaminya, Zenab mendekat dan mengambil tangan keker suaminya yang sedang menggulungkan lengan baju kemejanya dan meletakan di belakang leher Zenab sendiri lalu dia menempelkan kepalanya di dada bidang Ilham. Walau sudah berkepala empat Ilham masih terlihat gagah.
Detak jantung Ilham yang sedikit tidak beraturan Zenab merasakannya karna telinganya tepat menempel di bagiaan jantung Ilham. Zenab memainkan tangannya di dada bidang Ilham membentuk lukisan abstrak.
"Ada apa" ucap Zenab mendongkak sedikit guna melihat raut wajah sang suami.
Ilham menghela nafas pelan istrinya selalu saja tau kalau dirinya sedikit punya masalah, Ilham memeluk tubuh molek sang istri yang masih tetap cantik walau usianya sudah menginjak empat pulih tahun tapi mukanya seperti wanita usia tiga puluhan.
" Bayu berbuat ulah di penjara" ucap Ilham berat.
"Jangan terlalu keras Mas"
"Mas tau, kamu jangan kewatir semua nya sudah beres ko"
Zenab malah ter kekeh geli suaminya selalu begitu ,bilang jangan kewatir padahal yang harus di kewatirkan adalah dirinya sendiri.
"Kenapa tetawa sayang" ucap Ilham merasa aneh perasaan tidak ada yang lucu.
"Gak, Mas udah makan belum ?"
" Udah tadi "
"Yasudah sekarang kita kekamar Mas kan harus istirahat"
"Yasudah ayo"
"Mas.. " ucap Zenab sambil berjalan beriringan dengan Illham.
" Apa"
"Kayanya sebentar lagi kita bakal dapat cucu"
" Masa sih " ucap Ilham sambil duduk di sisi ranjang begitupun Zenab.
" Benar soalnya tadi tingkah Rahma aneh banget kaya Aku pas hamil Azam" ujar Zenab antusias.
"Mudah-mudahan saja"
"Amin"
"Mau nambah " ucap Ilham sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nambah apa Mas"
" Adik untuk Azam"
Pletak...
Zenab memukul paha sang suami membuat Ilham meringis " Ingat umur Mas" ucap Zenab melotot. Bukannya takut Ilham malah semakin gemas istrinya tidak berubah sama sekali walau sudah tidak muda lagi.
Sedangkan di kamar atas Azam semakin heran dengan tingkah sang istri yang terus menempel kepadanya, kemanpun Azam melangkah Rahma terus mengikutinya seperti anak Ayam.
"Dek" ucap Azam memegang kedua bahu Rahma menatap manik mata sang istri yang berbinar.
" Kenapa hemmm" Rahma hanya menggeleng saja sambil tersenyum.Membuat Azam menyerngit bingung.
Bruk....
Rahma memeluk erat tubuh Azam, membuat Azam menghela nafas. Tidak lama terdengar suara isakan kecil lama kelamaan menjadi tangisan membuat tubuh Rahma gemetar membuat Azam terkejut.
"Dek kenapa nangis" ucap Azam mengusap-usap punggung Rahma karna Rahma terus mempererat pelukannya sesekali Azam mencium puncak kepala Rahma.
" Mas jangan tinggalakn Ade yah hik.. hik.. " ucap Rahma di sela tangisannya.
" Mas disini.. gak bakalan kemana-mana" ucap Azam.
Perlahan Rahma membuka pelukannya dan menatap manik Azam.
"Janji" cicit Rahma sambil menghapus cairan bening yang terus meleleh.Azam mengangguk tanda mengiyah kan. " Sudah jangan nangis " ucap Azam sambil menghapus cairan bening yang masih keluar.
" Sekarang tidur yah.. " bujuk Azam Rahma hanya menggeleng.
"Mau apalagi coba" batin Azam .
"Kan belum ganti baju Mas, ini Mas juga harus ganti baju" ucap Rahma membuat Azam melihat kepada dirinya sendiri ternyata benar dia belum ganti baju.
Jlep....
Azam menelan air liurnya dengan kasar kedua matanya melotot melihat sang istri membuka baju tepat dihadapan Azam seperti yang tadi pagi lakukan. Sejak kapan istri manjanya barusan berubah dengan sekejap jadi nakal membuat Azam tidak habis pikir. Otaknya benar-benar di buat meledak.
" Kenapa Mas belum buka baju.. Sini Ade bantuin " ucap Rahma tersenyum nakal membuka kancing kemeja Azam membuat Azam yang tadinya melongo di buat salah tingkah sendiri. Biasanya Azam yang nakal dengan istri malu-malunya tapi sekarang istri malu-malunya jadi pemberani membuat Azam salah tingkah sendiri.
Ternyata benar kalau wanita sudah nakal pada suami akan lebih ganas dari pada macan tutul.
" Ehh.. Dek bagiaan ini biar Mas saja " ucap Azam langsung berlari kearah kamar mandi tidak lupa membawa baju ganti.
Brak..
Azam menutup pintu sedikit keras dan bersandar di pintu sambil memegang dadanya yang naik turun. " Ya Allah ada apa dengan istri hamba" batin Azam.
Sedangkan diluar Rahma hanya terkekeh gemas melihat tingkah Azam seperti perempuaan malu-malu kucing. Rahma berhasil mengerjai suami nakalnya menjadi pemalu yang luar biasa.
Azam menarik nafas pelan dan membuka pintu di lihatnya istrinya sudah tidur.Parlahan Azam merangkak naik ke atas ranjang melihat posisi sang istri membelakanginya.Azam menarik selimut guna menyelimuti sang istri dan dirinya, tangan Azam membelit erat pinggang Rahma dari belakang membuat Azam dengan leluasa menghirup aroma shampo yang di pakai sang istri.
Cup...
" Selamat malam bidadariku" ucap Azam pelan sambil memejamkan kedua matanya.
Perlahan Rahma membuka kedua matanya karna memang dari tadi sengaja pura-pura tidur membuat Rahma tersenyum mendengar kata yang Azam ucapkan.
"Selamat tidur juga pelindungku" batin Rahma dan segera menyusul Azam kealam mimpi.
__ADS_1