
Hari yang begitu bahagia Azam lalui bersama Rahma apalagi saat tau bahwa istrinya sedang hamil Azam kian menunjukan perhatiannya tingkat tinggi mungkin bisa dibilang sangat fosesif banget tapi Rahma tak mempermasalahkannya justru Rahma menyukai sifat fosesif suaminya.
Tak terasa sudah memasuki minggu ke lima belas kehamilan Rahma dan rasa mual yang Azam alami jadi berkurang sebentar lagi dirumah Azam akan mengadakan acara empat bulanan.
Sesudah wisuda Rahma benar-benar menjadi Ibu rumah tangga karna Rahma hanya ingin pokus pada keluarganya kalau kerja gak kepikiran sama sekali.
Rahma belajar dan belajar sampai kebangku kuliah bukan untuk mengejar karir tapi Rahma hanya ingin mencerdaskan diri dengan luasnya pengalaman karna ingin menjadi guru pertama bagi anak-anaknya kelak.
Peroses pertumbuhan anak menjadi diri lebih baik lagi tergantung kedua orang tuanya yang mendidik seorang anak akan banyak cendrung menuruni sipat ibunya jadi peran perempuan harus benar-benar cerdas dalam menjalani sebagai istri plus seorang ibu.
Persiapan empat bulanan pun sudah Azam persiapkan tidak banyak yang diundang hanya tetangga dan dua keluarga besar saja.
Rahma teringat sahabatnya Dinda sejak wisuda dia jarang kelihatan dan kumunikasi juga sangat jarang apa lagi Dinda sudah bekerja tapi Rahma tidak tau pekerjaan apa yang sahabatnya itu kerjakan.
Terbesit senyuman di bibir Rahma ingin menghubungi Dinda dan mengundang sahabatnya untuk hadir keacara empat bulanannya.
Rahma berjalan kearah naskah menganbil ponselnya dan mencari no Dinda sudah ketemu Rahma langsung menekan tombol Cholling tapi tak ada jawaban hanya suara oprator yang terdengar"No yang anda tuju sedang sibuk"berulang kali Rahma terus menghubungi tapi No sahabatnya tetap tak bisa di hubungi.
"Apa Dinda sudah ganti kartu"gumam Rahma terlihat jelas raut kesedihan padahal Rahma begitu kangen banget sama sahabatnya itu.
Canda tawa telah mereka lalui bersama kelebatan masa-masa kuliah terbayang di pikiran Rahma.
Drung suara mobil Azam terdengar tapi Rahma masih tetap tak beranjak dari duduknya.
Azam memasuki rumah dengan senyuman yang lebar"Assalamualikum"ucap Azam tapi Azam menyerngit bingung suasana rumah begitu sepi dan ucapan salamnya tak ada jawaban.
"Kemana dia"gumam Azam karna tak mendapati istrinya biasanya Rahma akan menyambut kedatangan dirinya.
"Mungkin di kamar"gumam Azam lagi.
Azam langsung pergi kekamarnya dan benar istrinya ada didalam kamar sedang duduk .
"Assalamualaikum Dek"lagi-lagi Azam menyerngit bingung istrinya tak menjawab salamnya, Azam berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Cup"
Satu kecupan Azam berikan di pipi kanan Rahma membuat sang empu terperanjat kaget "Astahfirullah"spontan Rahma berdiri dan berbalik mendapati Azam berdiri di belakangnya dengan bibir yang tersenyum.
"Adek kenapa? "ucap Azam lembut sambil mengelus pipi istrinya.
"Maaf"cicit Rahma menunduk merasa bersalah karna tak menyambuat kedatangan suaminya.
Azam mengerti istrinya pasti merasa bersalah karna tak menyambut dirinya perlahan Azam menarik pinggang istrinya supaya mendekat dipeluknya dengan lembut.
"Mas tanya Ade kenapa hemmm?"tanya Azam lagi dengan lembut sambil memegang dagu istrinya supaya menatap dirinya.
"Ade kangen sama Dinda"cicit Rahma membuat Azam ngenghela nafas berat mendengar penuturan istrinya tapi Azam berusaha tenang.
__ADS_1
"Kenapa gak di telepon aja"
"Sudah Adek coba tapi gak nyambung"
"Yasudah gak papah mungkin Dinda lagi sibuk "
"Mas tau Dinda lagi sibuk? "
"Bukan tau dek mas hanya menebak"
Rahma hanya mengangguk mengiyahkan dan memeluk tubuh Azam membenamkan kepalanya di dada bidang Azam membuat Azam tersenyum ternyata istrinya moodnya sedang gak bagus.
Azam dengan sayang terus mengelus-elus punggung Rahma menyalurkan ketenangan dan benar saja perlakuan Azam membuat Rahma tenang.
"Gimana bunda sudah di kasih tau belum untuk acara empat bulanan baby" ucap Azam mengalihkan pikiran sang istri.
"Udah Mas"
"Alhamdulilah kalu begitu"
"Sayang"
Deg.....
jantung Rahma berdetak lebih cepat dari biasanya mendengar kata sayang dari sang suami selama menikah walau Azam romantis tapi belum pernah Azam memanggil kata sayang padanya.
Suaminya benar-benar membuat Rahma jantungan "Emmmz iya Mas"ucap Rahma gugup kedua pipinya memanas mungkin sudah memerah bak tomat matang.
Karna tak mau kelihatan gugup Rahma melepas pelukannya dan berlari kearah kamar mandi"Ade ke kamar mandi dulu"teriak Rahma.
"Dek hati-hati"Azam tersenyum melihat tingkah malu-malu istrinya.
Sebentar lagi memasuki waktu magrib Azam melepas jas yang dari tadi belum dilepasnya membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Nas airnya udah Ade siapkan"ucap Rahma yang baru kelur dari kamar mandi Azam mengambil handuk dan berjalan kearah kamar mandi.
"Cup"
Satu kecupan Azam berikan di pipi kiri Rahma"Terimakasih sayang"ucap Azam lalu menyelonong masuk kedalam kamar mandi.
Membuat Rahma diam mematung dan memegang dadanya jantungnya berdetak lagi baru selesai Rahma mengontrol jantungnya suaminya malah membuat Rahma jantungan lagi.
Sungguh indah setiap hari jatuh cinta pada kekasih halal tak ada yang melarang berbuat apapun jadi pahala asal tetap dalam syariat islam.
Itulah membangun rumah tangga harus mengerti satu sama lain disaat yang satu sedih maka yang satunya lagi harus bisa membuatnya tersenyum lagi dan melupakan kesedihannya.
Hingga rumah tangga yang kita bangun akan terus harmonis dan bahagia didalamnya.
__ADS_1
Tapi kita harus ingat bahwa ujian rumah tangga juga akan datang silih berganti menguji kesetiaan, kepercayaan masing-masing.
Karna ujian itu adalah bumbu sebenarnya dari rumah tangga yang bahagia tinggal kita yang menjalaninya harus langkah mana yang kita ambil supaya berbuah manis bukan kepahitan.
"Sayang ayo ambil wudhu"ucap Azam lembut ketika sudah beres dengan ritual mandinya.
"Iya Mas"jawab Rahma sambil berbirit masuk kekamar mandi jantungnya masih berdisko ria tak mau berhenti.
Tak lama Rahma keluar dengan nafas yang sedikit lebih baik melihat sang suami sudah siap dengan rasung, baju koko dan pecinya berdiri diatas sajadah Rahma langsung memakai mukunanya dan berdiri di belakang Azam.
Sholat magri pun dimulai "Allahuakbar....."lantunan ayat Azam lantunkan suaranya yang merdu menambah kekhusuan sang makmum.
"Assalamualaiku warahmatullah...... Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatu"
Sholat magrib pun sudah selesai Azam bedzikir sambil memejamkan mata Rahma pun melakukan hal yang sama seperti yang Azam lakukan.
"Sayang kita ngaji yah... Mas duluan Ade dengarin kalau ada bacaan Mas yang salah entar Ade koreksi "Rahma hanya mengangguk.
Sungguh indah dua insyan yang sedang mengaji saling mengoreksi satu sama lain sambil di bumbui canda'an membuat siapa saja akan iri bahkan para bidadaripun akan ikut iri dan surga sudah sangat rindu menantikan sepasang manusia yang sedang berjalan meraih ridho sang illahi.
"Shadakallahuladzim.... "
Azam dan Rahma pun mengakhiri ngajinya dan meletakan Al-quraan ketempat semula.
Perlahan Rahma beranjak keluar kamar tak lupa membuka mukenanya menyiapkan makanan untuk makan malam belum sempat Rahma memegang alat dapur tangannya di cekal sama Azam.
"Biar Mas yang masak Adek duduk aja"ucap Azam lembut.
"Tapi Mas"protes Rahma.
"Sayang"Azam malah mengoda membuat Rahma menurut saja.
Sungguh indah sepasang manusia yang berbagi kasih Rahma hanya tersenyum melihat sang suami dengan cekatan bergelut dengan alat dapur.
Fabiayyiallairabikumatukadziban"Nikmat tuhanmu yang mana yang engkau dustakan"
___________
**kalau sudah baca budidayakan
like
komen
vote ok
biar athor tambah semangat nambah prat selanjutnya... jhe.. he**...
__ADS_1