
Seperti biasa rutinitas Azam akan mengantar jemput Rahma ke kampus, terkecuali kalau Azam sedang sibuk maka dia akan menelepon atau memberi pesan kalau dia gak bisa jemput, tapi Azam selalu berusaha menyempatkan waktu untuk bisa menjemput Rahma.
Semakin lama semakin besar rasa bersalah Rahma, sungguh ini bukan kemauannya.
"Ting.... "
Suara tanda pesan masuk mengagetkan Rahma yang sedang melamun sambil menyiram tanaman, Rahma langsung merogo benda pipih yang ada di saku celananya.
"Assalamualaikum Dek.. entar malam jam 19:00 akan ada orang yang menjemput Ade, bersiaplah"
Rahma mengerutkan keningnya bingung dilihat dari pesannya seperti ada sesuatu, yasudahlah Rahma tak terlalu ambil pusing dia akan bersiap saja menuruti apa kata suaminya.
"Insyaallah Mas"hanya itu balasan Rahma, dia langsung melanjutkan aktifitasnya menyiram tanaman, sudah beres dia langsung membersihkan badannya sebentar lagi waktu magrib datang.
Suara adzan magrib berkumandang membuat Rahma damai mendengarnya, dia langsung melaksanakan kewajibannya sesudah selesai Rahma melihat-lihat baju mana yang akan dia pakai, mata Rahma tertuju pada sebuah kotak yang ada dilemarinya, "sejakapan kotak ini ada disini"gumam Rahma pada diri sendiri.
Perlahan Rahma membukanya ada selembar kertas "pakailah baju itu, semoga Adek suka"Rahma langsung mengambil baju yang dilipat itu, baju gamis plus dengan kerudungnya seketika membuat bibir Rahma tertarik kesamping membentuk sabit.
"Cantik"satu kata yang Rahma ucapkan pada dirinya sendiri di depan cermin,Rahma memoles wajahnya sedikit tak lama terdengar suara derungan mobil, dia langsung keluar kamar ternyata benar seseorang yang Azam suruh sudah menunggu.
"Silahkan nona pak Azam sudah menunggu"ucap orang yang menjemputnya sambil membukakan pintu. Perlakuaan orang itu justru membuat Rahma bingung yang memperlakukan Rahma bagaikan ratu yang sangat istimewah, membuat Rahma tak nyaman.
"Jangan seperti itu pak, saya bisa sendiri"
"Gak papah nyonya itu sudah menjadi tugas saya"
"Peperti istri pengusaha yang ada di film-film saja"gumam Rahma masih terdengar oleh supir, sang supir menyerngit bingung "apa nona tidak tau seberapa kaya suaminya"batin sang supir tidak berani bicara.
Mobil yang membawa Rahma pun melaju dengan kecepatan sedang sampailah mereka di sebuah restoran dan supir yang mengantar Rahma mempersilahkan dirinya masuk.
"Silahkan nona masuk saja tuan ada didalam"Rahma hanya mengangguk berjalan pelan memasuki restoran bukannya melangkah maju tapi Rahma malah berhenti menyerngit bingung suasana restoran ini begitu hening, tiba-tiba lampu mati membuat dia terkejut tak lama rasa terkejut itu hilang mendengar suara suaminya dengan perlahan Rahma menghidupkan senter yang ada di ponsel nya tapi Rahma tak mendapati sosok laki-laki itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum istriku"Rahma masih mencari dimana suaminya berada, tapi tetap saja tak mendapatkannya, Azam kembali lagi bersua.
" Terimakasih kau telah hadir dihidupku memberiku satu kunci untuk membuka ruang hatimu, memberiku segudang harapan tetaplah di sisiku menyempurnakan separuh imanku,jangan kau pergi tetap temani Aku menuju ridho sang illahi"
Deg.....
Jantung Rahma berdetak lebih kencang, ungkapan Azam membuatnya tak bisa bernapas, apa yang Rahma lakukan memberikan harapan tapi itu adalah kepalsuan.Sungguh sakit hati Azam jika dia mengetahuinya namun sayang Azam tak menyadarinya.
Satu persatu lampupun menyala....
"Happy anniversary pernikahan ke satu tahun bidadariku"ucap Azam tepat di sisi telinga Rahma.
Seketika membuat Rahma mematung entah kenapa seluruh badannya kaku Azam tersenyum melihat keterkejutan istrinya.
Azam meraih tangan Rahma dan menuntunnya menuju salah satu meja yang sudah dihias, Azam mempersilahkan istrinya duduk.
"Happy anniversary pernikahan ke satu tahun bidadariku" ucap Azam lagi sambil berlutut memberikan sebuah kotak hijau.
Begitu romantisnya Azam pada Rahma, padahal Rahma tak mengingat sama sekali bahwa hari ini hari ulang tahun pernikahannya, dan Rahma tentunya tak menyiapkan apa-apa.
Merekapun makan malam romantis, rasa haru menyelimuti keduanya.
Fabiayiallairobikumatukadziban"nikmat tuhanmu yang mana yang kau dustakan"
Sudah acara makan malamnya Azam membawa kekasih halalnya pulang tibalah mereka di pekarangan rumahnya.
"Mas ko lampunya padam"ucap Rahma
"Mungkin lagi koslet"jawab Azam asal, Rahma sedikitpun tak menaruh curiga pada suaminya, di genggamnya tangan Rahma perlahan mereka masuk kedalam baru beberapa langkah Rahma mematung tak bisa bergerak sedikitpun.
Tangan besar azam melingkar sempurna di perut Rahma . Azam memeluk Rahma dari belakang ada rasa aneh yang Rahma rasakan ketika membusan nafas Azam terasa di pipinya.
__ADS_1
Ting....
Lampu seketika hidup kembali belum hilang rasa terkejut Rahma lagi-lagi dikejutkan oleh keadaan rumahnya yang berbeda banyak taburan bunga mawar di lantai dan banyak lilin-lilin berjejer membentuk jalan kearah kamarnya.
"Ade suka"ucap Azam,Rahma hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa Mas yang menyiapkan semua ini"bukannya menjawab Azam malah tersenyum.
"Terimakasih Mas"ucap Rahma haru tak kuasa menahan tangisnya sambil memeluk Azam, diusapnya lembuat punggung istrinya.
"Ahhh"teriak Rahma.
Azam menggendong Rahma menuju kamarnya dan memdudukannya di sisi ranjang begitupun dengan dirinya perlahan Azam menggenggam tangan Rahma dan mencuimnya ada aliran listrik mengalir dalam diri Rahma ketika suaminya mencium tangannya rasa gugup dan malu mulai menyelimutinya apalagi Azam menatapnya insten.
"Maukah Ade terus berjuang bersama Mas menuju ridho tuhan"entah ada angin dari mana Rahma langsung mengangguk.
"Jadikanlah Mas sebagai jembatan Ade munuju ridho illahi, begitupun sebalihnya. Terimakasih sundah menjadikan Mas sebagai bagian dari perjalanan Ade dan maukah Ade membangun rumah tangga yang sesungguhnya, menghadirkan anggota baru dirumah ini"
Lagi-lagi Rahma hanya mengangguk di setiap kata yang keluar dari bibir azam, entah kenapa setiap yang Azam ucapkan membuat hatinya damai dan nyamah haruskah Rahma sekarang memberikan sesuatu yang berharga dalam dirinya untuk dijadikan kado terindah.
Sudah banyak kejutan yang Azam berikan padanya membuat rasa haru dan bahagia menghampirinya sedangkan Rahma satupun belum ada.
Malam ini Rahma menyakinkan hatinya membuka lebar pintu hati yang lama tertutup, terbuka lebar untuk Azam memasukinya sudah banyak yang Rahma lewati bersama Azam dalam satu tahun pernikahannya dan kini Rahma yakin bahwa hatinya benar-benar untuk Azam kekasih halalnya.
"Bantu hamba ya robb"batin Rahma sambil meneteskan air mata tangan kekar milik Azam terulur menghapus cairan bening yang keluar.
"Jangan menangis"
"Terimakasih Mas hik.... untuk segalanya, kesabaran, pengorbanan Mas untuk Ade,hik.. ma'afkan Ade yang selama ini belum menjadi istri yang baik untuk Mas"ucap Rahma di sela tangisnya sambil memeluk erat Azam.
Malam yang indah mereka lalui, sepasang makhluk saling mengungkap perasaan di saksikan oleh sunyinya malam lantunan syukur, tasbeh tak henti-hentinya dua inshan itu lapalkan semoga ini bukan akhir dari kebahagiaan mereka.
__ADS_1